
Alze memberengut sambil menyantap sarapannya menatap istrinya. Bita cuek bebek tidak peduli dengan tatapan suaminya itu, tetap menikmati makanan dengan tenang. Mereka terlambat sarapan daripada yang lainnya, karena kelalaian suaminya itu. Tidak mungkin kan, ia makan terlebih dahulu sebelum suaminya.
Ngomong-ngomong soal masakan mama yang dulunya tidak layak dimakan kini masakan beliau sangat lezat. Bahkan sudah tidak ada drama-drama sarapan diluar seperti yang biasanya mereka lakukan demi mengisi perut mereka. Ini semua berkat Bita yang langsung memberitahu kepada Haura tentang masakan mertuanya. Semuanya juga begitu terkejut, mamanya tidak seperti dulu yang harus dipuji masakannya walaupun tidak enak, kini wanita cantik itu menerima masukan dari siapapun.
Hal itu justru membuat kedekatan keluarga semakin erat, tetapi ada satu hal yang tidak berubah sampai sekarang. Anak kedua dari keluarga itu masih dengan hobi lamanya, mengencani semua wanita lalu memutuskan sesukanya. Entah berapa banyak perempuan diluar sana yang menjadi korbannya.
Usai mereka makan, Bita langsung membereskan bekas makan mereka. Namun, saat hendak berjalan ke dapur. Alze langsung mengambil alih piring kotor ditangan Bita dan membawanya ketempat wastafel.
"Ibu hamil nggak boleh terlalu capek." ucapnya sambil menyalakan keran. Dengan lihai, pria itu mencuci piring. Bita terkekeh pelan, membiarkan suaminya melakukan tugasnya. Ia pun mengambil buah yang ada didalam kulkas.
"Al, mau mangga nggak?" tawar Bita menoleh kearah suaminya.
"Mau." sahutnya tanpa menoleh kearah istrinya.
Bita langsung mengupas mangga tersebut, tiba-tiba ia meringis terkejut saat tangannya tergores pisau.
"Aw." ringisnya pelan sambil memegang jarinya yang terluka.
Alze yang mendengar ringisan Bita, cepat-cepat menghampiri istrinya. "Kena— Bita, kenapa bisa berdarah?" paniknya langsung mengambil kotak P3K dan membasuh tangan istrinya dengan air.
Bita hanya diam, perasaannya tiba-tiba tidak enak. Ia tidak suka dengan perasaan seperti ini, lalu ia memandang kearah Alze. "Al, apa kita nggak usah ke kampus aja?"
Alze yang sibuk mengobati tangan Bita, langsung mendongak menatap bingung kearah istrinya. "Kenapa?"
"Entahlah, tiba-tiba perasaanku tidak enak. Aku nggak suka itu." keluhnya mengeluarkan apa yang ia pikirkan saat ini.
Alze menangkup pipi Bita, "Kamu tenang aja, aku ada disini kok. Jadi, kamu tidak boleh overthinking apapun nanti, oke?" ucap Alze penuh perhatian.
Bita mengangguk pelan, "Semoga nggak ada hal buruk yang menimpa kita lagi."
"Aaamiin."
***
Alze dan Bita pada akhirnya tetap ke kampus, mereka saling berpegangan tangan mesra di koridor kampus. Banyak pasang mata yang menatap iri kearah mereka, apalagi Bita saat ini mengandung anak Alze. Perihal kehamilan Bita tidak dipermasalahkan dikampus, malah mereka menyambut suka cita bumil itu.
Apalagi aura Bita makin terpancar membuat kaum adam pun terpesona dengan kecantikannya. Tetapi, Bita sama sekali tidak menghiraukan tatapan mereka. Dulu saat wanita itu terkucilkan kini banyak yang merangkulnya. Baik Alze maupun Bita tahu siapa saja yang tulus berteman dengannya.
"Duduk sini!" seru Alze membawa Bita ketempat duduknya. Setelah itu barulah pria itu duduk disamping Bita.
"Haloo Bumil!" sorak beberapa gerombolan dibelakang kantin. Bita hanya tersenyum menatap mereka sambil mengangguk. Datanglah Faza sambil bergandengan dengan Varrel berjalan kearahnya. "Lo udah ngerjain tugas nih nggak bumil?" tanya Faza duduk disamping Bita.
"Udah dong, gue kan anak rajin. Walaupun gue suka ngemil tapi tugas nomor satu." serunya.
"Yalah...yalah, nah ini ada eskrim buat Lo." ucapnya sambil menyodorkan eskrim didalam kantong kresek yang ia bawa tadi. Dengan sumringah Bita mengambil eskrim itu.
"Baik banget lo, makasih banyak."
"Hm, ponakan gue harus sehat-sehat didalam."
Ck, Faza menatap kesal kearah suami dari sahabatnya ini. Pria itu tidak ada manis-manisnya berbicara dengannya, kecuali jika berbicara dengan istrinya baru selembut sutra.
Tak lama dosen pun datang memasuki kelas mereka, "Kumpulkan tugasnya sekarang, lalu presentasi ke saya hasil kerja kelompok kalian. Selama presentasi satu kelompok hanya diperbolehkan sepuluh menit untuk menjelaskan, paham?"
"Paham ,Bu." kompak mereka. Bita dan Faza pun mempersiapkan bahan materi untuk presentasi kelompok mereka nanti. Sedangkan Alze dan Varrel, merekalah yang akan menjelaskan didepan nanti.
Satu persatu masing-masing kelompok menjelaskan hasil diskusi mereka, kini giliran kelompok Bita yang maju. "Sayang, kamu nggak usah ikutan maju juga. Kamu duduk aja disini," pinta Alze saat pria itu hendak berdiri dari tempatnya.
"Iyaa, perut lo udah segentong itu. Ntar kenapa-kenapa lagi." timpal Faza setuju dengan Alze.
Bita hanya bisa menghela napas pasrah, dirinya pun hanya mengangguk pelan. "Tapi, Ibunya bolehin nggak gue disini?"
"Ya jelaslah boleh, ada-ada aja!" gemas Faza mencubit pipi tembam bumil itu. "Dia juga pernah hamil, pasti paham lah." bisiknya pelan. Ketiga orang itu melangkah maju ke depan.
Mereka pun mulai menjelaskan hasil kerja mereka dengan jelas. Sedangkan Bita dari tempat duduknya sebagai notulen bagi kelompok lain yang tanya jawab dengan kelompoknya.
Ugh!
Perut Bita mendadak mulas, rasanya sakit. Tetapi, Bita tidak ingin membuat suaminya khawatir, ia pun menahannya sendiri sambil menulis.
Makin sakit, tahan Bit. Lo nggak boleh manja, ayo semangat. gumamnya seraya menyemangati diri sendiri. Sayangnya, harapan itu tidak sesuai yang ia harapkan. Melainkan rasa sakit itu semakin menjadi-jadi. Alze dan yang lainnya belum menyadari raut wajah Bita, mereka sibuk menjelaskan power poin didepan kelas.
"Astaga Bita, lo-lo mau melahirkan!" pekik salah satu mahasiswi yang duduk tak jauh dari Bita. Mendengar pekikan itu sontak perhatiannya langsung mengarah pada Bita.
Alze langsung berlari menghampiri istrinya, "Bit, kamu nggak papa?"
"Heh si Alze kampret malah nanya dia, itu dah mau melahirkan woi! Cepat bawa kerumah sakit!!" gemas Varrel memukul kepala Alze.
"Cepat Al, bawa ke rumah sakit!" seru yang lainnya.
"Alze, cepatan Bita mau brojol. Nggak mungkin kan dia brojol disini?"
"Ayoo gas angkat dia!"
"Cepat-cepat!"
"Hais diamlah semuanya!" sentak Alze membuat semuanya diam, lalu ia menghela napas panjang. "Maaf, tapi jangan buat gue panik." sesalnya pelan, lalu menggedong Bita.
Bukannya tetap hening, mereka malah menghebohkan satu kampus. Mereka segerombolan berlari bersama dengan Alze, bukannya membantu tetapi malah hanya menyemangati Alze yang sedang menggedong istrinya.
"Ni...nu...ni...nu minggir semua! Darurat...darurat!!" sorak mereka menggeser orang-orang yang menghadang jalan Alze ke mobil. Alze mengumpat pelan saat Anggi menghadang jalannya dengan memajukan tangannya didepan Alze.
"Minggir Nggi, Bita mau melahirkan!" kesalnya menahan beban Bita, bagaimanapun pria itu kesusahan menggendong istrinya.
"Ya ampun Nggi, minggir woi!" seru mereka dibelakang Alze ikutan kesal, bahkan ada juga yang menarik Anggi agar Alze bisa menuju mobilnya.
"Ih, lepasin woi. Eh, Bita, Alze tungguin gue!!" serunya menepis tangan orang yang menahannya, lalu berlari menyusul mereka.