I'M Your Wife

I'M Your Wife
Belanja



Algha tertawa pelan mengingat Azza bertingkah laku aneh hari ini. Tidak terbayang olehnya jika Azza memiliki sifat yang unik seperti itu. "Menggemaskan." gumamnya pelan.


"Siapa yang Lo bilang menggemaskan?" tanya seseorang membuat langkah kaki Algha berhenti. Ia berbalik badan sambil menunjukkan raut cerianya. "Lo!"


"Cih." Gadis itu melenggang kesal melewati Algha. Dirinya terus mengumpat, bagaimana bisa ia uring-uringan hanya karena cowok itu bilang berhenti mengejarnya. Tetapi, saat melihat wajah Algha seperti sebelumnya membuatnya menyesal telah bertindak aneh tadi.


"Bodo amatlah gue." serunya menancap gas menuju rumahnya.


"Assalammualaikum, Azza pulang!!" serunya melangkah lebar menuju dapur. Tujuan utama setelah pulang adalah dapur, dimana tempat itu menyimpan beranekaragam makanan yang enak disana.


"Kemana semua orang?" tanyanya bingung menatap rumah tampak hening. Ia pun langsung mengecek kamar satu persatu, namun tidak ada siapapun dirumah.


"Astaga mereka pergi kemana?"


"Ya diluarlah mereka bego." jawab seseorang yang baru saja tiba dirumah. Azza mengumpat kasar pada Sam.


"Nggak usah ngegas jugalah jawabnya woi, Eh kak, tumben Lo cepat pulang. Biasanya Lo nongki sama cewek-cewek disana."


Sam menghela napas panjang, ia mengambil minuman kaleng dikulkas. "Gue tadi abis digeplak tas branded." sahutnya pelan.


Azza langsung tertawa terbahak-bahak mendengar kesialan kakak keduanya itu. "Hahahaha,tulah kena karma kan? Udah gue bilanh, tobat lagi kak. Jangan mainin hati cewek trus, tuh jadinya kenak geplak tas branded." ocehnya, Sam memberengut kesal lalu melangkah lebar ke kamarnya.


Gadis itu masih tertawa cekikikan, langsung terdiam saat melihat seseorang berdasar dipintu sambil melipat tangannya didada. Ia tersenyum tipis melihat Azza menyadari keberadaannya.


"Lo-lo kok bisa ada disini??" Siapa yang tidak terkejut melihat Algha, berdiri diam didepan pintu seperti jelangkung, apalagi apa yang membuat gerangan pria itu datang kerumahnya.


"Ya bisalah, kan gue punya kaki." jawabnya sambil menunjuk kearah kakinya.


Azza berdesis kesal, "Bukan itu maksud gue, Lo kok bisa ada disini? Darimana Lo tau alamat gue?"


"Ada deh, pokoknya Lo senang kan gue disini?" tanyanya percaya diri, bahkan pria itu sudah duduk disofa tanpa Azza persilahkan duduk.


"Pulang aja lo sana!" usirnya menarik Algha untuk beranjak dari tempatnya. Namun, pria itu tidak mau berdiri. Ia menarik tangan Azza kencang membuat gadis itu terduduk di pangkuannya.


"Astaga, lepasin gue!!!" pekik Azza panik, nanti jika ada yang melihatnya dengan posisi seperti ini bisa-bisa orang salah paham. Azza tidak ingin terlibat dalam masalah apapun, Algha tersenyum tipis lalu membiarkan gadis itu berdiri. Ia mengumpat kesal menjauh dari Algha.


"Cepat pulang sana!"


"Ish, dasar waketos tidak ramah. Gue kesini untuk bahas acara besok sama lo."


"Bisa lewat video call, lo nggak usah cari alasan kesini." ketusnya. padahal gadis itu tadi uring-uringan karena pria didepannya ini berhenti mengejarnya.


Tapi, tunggu...kenapa gue merasa kesal ya?! Harusnya gue senang dong, apasih plin-plan banget jadi orang. gerutunya kesal dalam hati.


"Boleh nih lewat vc? Ntar gue digebukin dua kakak Lo lagi." ucapnya.


"Tunggu, darimana Lo tau gue punya dua kakak?"


"Tuh!" tunjuknya kearah foto keluarga yang terpajang besar diruangan rumahnya itu.


"Cih."


"Gue kan harus jaim biar keterima jadi menantu dirumah ini. Eh salah deng, gue kayaknya udah nggak suka sama Lo lagi. Maaf, perasaan gue kayaknya ganggu Lo banget." ucap Algha pelan sambil menatapnya intens, entah kenapa Azza tidak suka dengan nada bicaranya yang terdengar sendu, apalagi kata-kata 'nggak suka sama Lo lagi' membuat Azza jadi melamun.


"Azza?" serunya menepuk pundak gadis itu. Azza tersentak lalu menoleh kearah Algha. "Nanti malam." ucapnya berlalu masuk kedalam kamar, ia bahkan tidak menyaut Sam yang kebetulan baru saja keluar dari kamarnya setelah mengganti baju.


Sam menyerngit bingung menatap pria yang duduk disofa lalu menghampirinya. "Ada keperluan apa bro?" tanya Sam, ia memang akrab dengan siapapun termasuk orang yang belum pernah ia kenal seperti pria didepannya ini.


Algha mendongak, lalu tersenyum canggung kearah Sam. "Gue Algha kak, gue temannya Azza. Maaf udah lancang masuk tanpa izin."


"Gue Sam, Lo yakin cuma teman doang? Gue aja nggak percaya Lo hanya sekedar teman dengan Azza."


"Gilaa, serius?! Apa jawaban Azza?" Sam terkejut ada yang berani melamar adik bungsunya.


Anjiir tuh bocah dah mau nikah aja, gue aja belum dapat lagi. Nggak bisa dibiarin nih, gue harus duluan nikah! tekad Sam dalam hati, namun ia kembali bingung. Dengan siapa ia akan menikah?


Algha mengedik bahu, "Adik Lo agak sensitif kak, jadi dia agak susah didekatin." bisiknya pelan.


Sam menyerngit, "Adek gue kenapa emangnya?"


"Lo nggak tau kak, kalau disekolah...." Algha menceritakan kegiatan Azza selama disekolah. Bahkan Sam membelalak, ia tidak menyangka Azza yang ia kenal ceria dan baik hati itu ternyata terkenal pemarah dan sangat ditakuti.


Gila nih bocah muka dua banget ya. gumamnya berdecak pelan.


"Lah kalau tau adik gue kayak gitu, ngapain Lo mau sama adik gue?" tanya Sam heran.


"Karna adik Lo gemasin kak."


***


Alze menatap istrinya cengo, kali ini gadis itu berjalan sana-sini tanpa henti melihat pakaian bayi. Kalau Alze mungkin, ia sudah memborong semua itu tanpa perlu payah memikirkan bentuk,warna bajunya. Baginya yang penting bisa dipakai dan tidak banyak gaya. Tetapi, lain hal dengan istrinya begitu antusias melihat baju-baju yang menurutnya sangat menggemaskan itu.


"Bit, kamu belum ada milih apa-apa loh." gemasnya melihat istrinya daritadi tidak memutuskan pilihannya. Wanita itu hanya menyengir pelan, lalu menarik tangan Alze mendekat kearahnya. "Kamu capek?"


Alze menggeleng pelan, walaupun dalam hatinya menjerit ingin pulang. Ia tidak ingin merusak mood istrinya hari ini, cukup kemarin saja yang membuatnya pusing tujuh kali keliling.


Biasanya istrinya itu jika merajuk pasti hanya sekedar memberengut biasa, namun semakin hari semakin merepotkan. Bahkan Bita merajuk enggan tidur bersamanya jika ia membuat satu kesalahan kecil.


"Kamu ikhlas kan sayang?" tanya Bita melihat ekspresi suaminya. Alze tersenyum tipis lalu mengambil salah satu baju bayi yang terpajang. Entahlah, setiap melihat wajah Bita, ia selalu tidak bisa marah dengan wanita itu. "Kamu sukanya model kayak mana?"


"Hmm entahlah, aku juga bingung daritadi. Banyak yang cantik-cantik modelnya."


"Huft, kalau yang ini suka nggak?" tanya Alze menunjuk baju yang dipegangnya, bukan hanya satu stelan melainkan beberapa stelan yang ia ambil dipajangan tadi.


Bita tampak berpikir sejenak, lalu melirik kearah perutnya. "Anak kita benaran laki-laki kan?" tanya Bita lagi.


"Iya, Insyallah laki-laki, kita juga belum bisa memastikan dia cowok atau cewek. Bisa jadi pas USG dibilang cowok eh ternyata lahir cewek."


"Iya juga ya, hmm apa kita beli dua pasang aja? Satu untuk cowok satunya lagi untuk cewek."


"Terserah kamu aja." ucap Alze pasrah, yang penting bisa cepat-cepat pulang.


"Udah kan? Yok pulang!" ajaknya setelah melihat istrinya sudah memilih apa yang disukainya. Mereka pun langsung membayar ke kasir.


"Kalian disini?" tanya Anggi begitu melihat mereka di toko baju, ia langsung menghampiri mereka berdua.


"Lo disini? Sama siapa?" tanya Bita.


"Sendiri, gue lagi bosen aja. Mana Sam?" tanyanya celingak-celinguk mencari keberadaan pria itu.


"Sam? Dia mungkin lagi dikampus."


"Ooo."


"Kenapa lo nyari dia?"


"Gue ada perjanjian sama dia. Tapi, belum selesai gue ngomong tuh anak udah menghilang. Tadi, gue nelpon tuh anak nggak diangkat-angkat terus."


"Ya udah, kalau emang ada perlu sama dia, mending lo kerumah aja."


"Ide bagus!" serunya sumringah, ia pun setuju untuk ikut kerumah Alze.