I'M Your Wife

I'M Your Wife
Bisa Tidak Kalian Menjauh?!



Keringat Bita mulai bercucuran menahan rasa gugup dan takut berada disini sendirian. Sialnya, ponselnya habis baterai karena tadi lupa ia cas. Ia pun mencari sesuatu yang mungkin bisa ia gunakan untuk mengecas ponselnya seperti kabel data yang biasanya Alze letak dalam dasbor.


"Astagfirullah, gue lupa kalau cas ponsel itu gue pinjem semalam. Manalagi tinggal dirumah." sesalnya pelan. Berusaha menganggap angin lalu, orang yang mengetuk jendela mobilnya tiba-tiba pria itu mengambil besi dan mulai menghancurkan kaca jendela mobilnya.


Praaang.


"Alzee!!" pekiknya situasinya saat ini berbahaya,ia pun tidak bisa bergerak dengan tubuhnya yang saat ini sedang berbadan dua. "tenang sayang,kamu aman sama mama." gumamnya sambil mengelus perutnya, ia pun langsung mengambil benda yang ada didepan matanya dan melempar kearah pria itu.


"TOLONG!!!"


Pria itu berusaha membuka kunci mobil Bita sambil menarik rambut wanita itu agar tetap diam dan tidak menimbulkan keributan. Bita meringis kesakitan dan terus menepiskan tangan pria itu.


"Diam lo!" sentak pria itu.


"Lo yang diam ba-bi!!" umpat Bita tidak tinggal diam, ia bahkan mengambil kopi panas yang ada di cup holder lalu menyirami kearah pria itu.


"Damn, panas!!" ringisnya menjauh dari Bita, kesempatan itu ia gunakan langsung membuka pintu dan keluar. Namun, pria tadi mencengkram tangannya dan membuatnya terhuyung kearah mobilnya.


"Aw." lirih Bita saat merasakan tangannya terkena serpihan kaca tadi. Ia mengumpat kesal,mengapa disaat seperti ini orang-orang tidak ada yang lalu lalang disekitarnya?!


Saat pria itu menahan Bita agar tidak bergerak, ia mengimpit badan wanita itu ke mobil tanpa memperdulikan anak yang ada dalam kandungan wanita itu.


"Sakiiit!!!" rintih Bita berusaha menyingkir dari jeratan pria itu.


Bugh.


Pria tadi terhuyung jatuh ke lantai,sedangkan Bita memegang perutnya sambil menahan luka ditangannya. Ia meringis kesakitan sambil duduk dilantai.


"Aw, sakit Al!" pekiknya memegang perutnya. Alze sangat marah dan tidak segan-segan menghajar pria itu sampai tidak berdaya. Padahal pria itu sudah menghajar Alze, namun malah ia menjadi samsak pria yang seperti iblis itu.


Beberapa penjaga yang melihat itu, langsung meleraikan keduanya. Beruntung, saat itu tidak banyak orang yang melintas di sana jadi tidak menimbulkan kehebohan yang bisa jadi membuat mereka viral di sosial media. Alze menepis tangan satpam itu dan menghampiri istrinya, "Sayang, kamu nggak papa?" tanya Alze cemas.


Bita hanya menatap suaminya lalu tidak sadarkan diri. Alze mengumpat kasar, lalu membawa istrinya kerumah sakit.


"Pak, kirim mereka ke kantor polisi! Satu lagi ada didalam kamar mandi dilantai tiga, jangan biarkan mereka berkeliaran, mereka sudah mencelakai istri saya!!" ucap Alze dingin, lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh.


***


Bita sayup-sayup mendengar suara keributan didekatnya. Ia bahkan membuka matanya secara perlahan memandang area disekitarnya yang tampak serba putih. Lirikan matanya tertuju pada pria yang tengah marah-marah dengan dua orang berseragam lengkap menandakan mereka adalah polisi.


"Mana ada suami yang diam aja liat istrinya celaka?!" sarkas Alze menatap tajam kearah petugas itu.


Deg.


Bita langsung meraba perutnya dan bernapas lega karena anaknya masih selamat dalam kandungannya, "Alhamdulillah kamu kuat nak." lirihnya hampir menangis. Ia tidak bisa membayangkan kejadian mengerikan itu merenggut nyawa buah hatinya.


Mendengar lirihan istrinya, Alze langsung berbalik dan menghampiri Bita. "Sayang, kamu ada yang sakit? masih pusing? ada yang terluka?"


"Tangan aku yang terluka." ucap Bita pelan sambil menunjukkan perban ditangannya lalu menunjuk kearah dadanya. "Dan hati aku terluka karena hampir membahayakan nyawa anak kita Al." lirihnya menangis. Alze yang tak tahan menahan tangisannya langsung memeluk istrinya.


"Sudah, aku ada disini. Kamu jangan takut lagi." ucapnya mengecup kening dan perut istrinya. Setelah Bita merasa tenang dan istirahat, Alze berjalan pelan keluar ruangan. Alze dihadapkan oleh kedua petugas yang masih belum selesai urusan dengannya.


"Dia mantan narapidana yang pernah dibebaskan oleh wanita sialan itu, saya harap anda menidaklanjuti kasus ini!"


"Baik, tapi anda juga harus diselidiki karna melakukan kekerasan di tempat umum. Saya harap anda mau bekerja sama dengan kami." ucap polisi itu.


"Apa yang sebenarnya terjadi Al? Kenapa Bita?" tanya Haura cemas.


"Ceritanya panjang ma, nanti aku ceritakan. Aku harus ke kantor polisi sekarang."


"Gue ikut kak!"


"Nggak usah, lo jagain Bita aja disini. Gue nggak mau kejadian tadi terulang lagi." ucapnya berlalu meninggalkan ruangan. Sam hanya menghela napas pelan dan menuruti perintah Alze.


"Seharusnya kita bersama mereka tadi Sam." ucap Ameer merasa menyesal, seandainya mereka tadi tidak meninggalkan Bita dan Alze disana, mungkin kejadian ini tidak akan terjadi.


"Bukan salah kita juga, lagian kita bakalan jadi nyamuk pun." gerutunya pelan, lalu memandang kearah Bita yang tengah tertidur pulas.


"Ya Ampun Bit, lo sukses membuat suami lo kayak kesetanan. Baru kali ini gue liat raut kak Al sangat tidak ramah."


"Dari dulu kan emang kakak lo mukanya kayak gitu, Diam mengheningkan. Gue aja sering merinding liat tatapannya selalu dingin."


"cih, lo benar juga. Tapi, kalau didepan kak Bita berubah drastis anjiir, bucin kali emang tuh orang."


"Sialan lo berdua." umpat Alze berdiri dibelakang mereka.


Deg.


Sam dan Ameer langsung berbalik dan terkejut melihat Alze berada dibelakang mereka, padahal tadi pria itu pamit untuk mengurus masalahnya di kantor polisi.


"Lo kok bisa disini?" tanya Sam bingung.


"Urusan gue udah selesai, gue nggak jadi kesana."


"Ooo begitu."


"Alze, apa yang terjadi Sebenarnya?" tanya Haura masih penasaran dengan kejadian yang menimpa anak dan menantunya.


"Ada yang ingin mencelakai aku dan Bita ma." jelasnya sambil meneguk air mineral ditangannya.


Haura terkejut, "Apa penjahat itu sudah diamankan?"


Alze mengangguk lalu menghempaskan badannya disofa yang tak jauh dari istrinya.


Tok...tok.


"Permisi," ucap Perawat itu memasuki ruangan Bita. Ia membawa beberapa obat yang akan diminum oleh pasiennya itu. "Mohon maaf semuanya, peraturan dirumah sakit hanya memperbolehkan menjaga pasien maksimal dua orang. Jadi, kami mohon kerja samanya kepada keluarga semua agar pasien tetap bisa istirahat dengan tenang." ucapnya dengan sopan.


"Baik, maaf kami membuat kerumunan seperti ini. Ya sudah, mama pulang dulu nak. Kamu jaga Bita dengan baik." ucap Haura mengelus kepala Alze dan membawa semua keluarganya keluar dari ruang Bita termasuk Sam dan Ameer sekalipun.


"Mohon maaf pak, nanti jika nyonya Birgitta sudah bangun, tolong berikan obat ini padanya setelah makan," jelasnya pada Alze.


Alze hanya mengangguk pelan. Cukup lelah hari ini menguras seluruh energinya, apalagi nyawa istri dan anaknya hampir saja melayang akibat pria brengsek itu.


Setelah perawat itu pamit keluar, Alze menyandarkan badannya. Menatap langit kamar dengan tatapan kosong.


Bisa tidak kalian menjauh dari hidup gue dan Bita?! Gue udah muak dengan kalian brengsek!