
Brian menghirup banyak udara segar setelah keluar dari penjara. Ia sepertinya meremehkan ucapan wanita itu semalam. "sebenarnya apa yang direncanakannya? kenapa dia ingin pria sialan itu??" gumamnya penasaran. Namun,lamunannya buyar saat melihat mobil hitam berhenti didepannya.
"gimana rasanya setelah keluar?" tanya wanita itu membuka jendela mobilnya. Brian tersenyum miring, "biasa aja,apa yang harus gue lakuin?"
"masuk dulu." seru wanita itu menyuruh Brian masuk kedalam mobilnya. Brian langsung mengambil tempat duduk disamping wanita itu. Setelah Brian masuk,Mezza melajukan mobilnya menuju suatu tempat.
"kita mau kemana?"
"tidak perlu banyak tanya." jawab Mezza dingin. Brian mengedik bahu pelan,lalu tanpa sengaja ia melirik paha Mezza yang terlihat mulus membuatnya menelan saliva.
"Lo emang pria buaya banget ya." ucap Mezza sekilas melirik kearah Brian. Brian menatap tajam kearah wanita disebelahnya ini, "huh,apa Lo sadar kalau baju Lo bisa membuat Lo bahaya??"
"justru itu,baru diliatin kayak gini aja Lo udah traveling kemana-mana, memang brengsek sih Lo." ketusnya lagi.
Brian rasanya ingin mengumpat kasar dihina,namun mengingat jasa wanita disebelahnya,membuatnya mengurungkan niatnya itu. "penampilan Lo juga hampir sama dengan wanita murahan diluar sana."
"ck, suka-suka gue lah."
Mezza semakin mempercepat kan kecepatan mobilnya,sampai mereka akhirnya masuk ke daerah perbukitan yang dimana terlihat tidak ada penghuninya.
"nah kita bicara disini." ucap wanita itu memberhentikan mobilnya didepan rumah gubuk yang sudah tua.
"gila Lo ya,cuma ngomong doang
tapi jauhnya kepelosok. Emangnya apa yang mau Lo bicarakan huh?"
Mezza tersenyum miring menatap Brian yang terus penasaran dengannya.
***
cekrek.
"ckckck,pasangan kurang ajar. Udah diberi kamar malah mesraaan disini." gerutu Sam sambil menjepret kakak dan kakak iparnya itu yang sedang tertidur pulas disofa. Entah sejak kapan mereka tertidur diluar, sempit-sempit pula lagi. Padahal kasur selebar itu tidak digunakan oleh kedua manusia aneh ini.
"kamu kenapa nak? pagi-pagi dah badmood?" tanya Haura baru saja keluar dari kamarnya. Sam menoleh kearah mamanya lalu menunjuk kearah pasangan yang sedang tidur itu. "tuh liat anak mama,dikasih kasur malah tidur disofa."
Haura berjalan mendekati pasangan itu dan tertawa pelan. "mama nggak nyangka,kakak kamu seromantis ini." gumam Haura pelan,lalu berjalan menuju dapur. Sam menyerngit lalu menyusul mamanya.
"kenapa nggak dibangunin maa?"
"nggak usah sirik Lo ya,makanya nikah!" sorak Azza tiba-tiba datang sambil mengikat rambutnya asal. Sam berdecak kasar menatap tajam kearah adiknya.
"sialan Lo." umpatnya,malah disambut tertawa oleh Azza. Gadis itu berjalan menuju kakak pertamanya yang sedang tertidur bersama kakak iparnya,ia pun dengan hati-hati menyelimuti mereka berdua.
"romantis banget Lo kak Al." gumamnya tersenyum lebar,ia juga berharap suatu saat ia ingin diperlakukan seperti ini oleh suaminya kelak. Ia berjalan menuju dapur untuk membantu mamanya.
"ngomong-ngomong siapa yaa yang jadi suami gue? penasaran." gumamnya pelan,Sam langsung menyentil kening gadis itu.
"nggak usah banyak halu Lo. Mending belajar sana!" cerca Sam. Azza menginjak kaki Sam kuat, "terserah guelah." ketusnya.
"maa,kita masak apa?" tanya Azza melihat mamanya hanya memotong beberapa buah.
Semoga mama nggak buat makanan aneh lagi,tapi...kenapa bahan-bahannya cuma buah doang? firasat gue nggak enak nih. gumamnya dalam hati.
"kita makan diluar." ucap mama menikmati potongan buah yang sudah ia potong,bahkan ia menyuapi anak gadisnya potongan mangga tersebut.
"haah?" Azza menganga tidak percaya,sejak kapan keluarga mereka sarapan diluar? ada apa ini?
Sam yang mendengar ucapan mamanya pun terkejut menoleh kearah mereka. Ia juga tidak menyangka mendengar jawaban dari mamanya. "yok siap-siap,kita cari sarapan diluar."
"ikut juga,tapi sebentar lagi bangunkan." ucap Haura lagi sambil membawa piring berisi potongan buah tadi ditangannya,tak lupa ia menyuapi anak tampannya makan buah itu. "makan nih,biar sehat."
Sam hanya diam menurut menyambut suapan mamanya, sambil menggaruk tengkuknya tidak gatal. Ia masih bingung dengan suasana keluarganya pagi hari ini. Tidak ingin ambil pusing,ia pun langsung pergi ke kamarnya untuk bersiap-siap.
Setelah satu jam menunggu,akhirnya mereka pun berangkat bersama. Kebetulan hari Minggu,membuat satu keluarga itu mendadak memutuskan untuk jalan-jalan. Padahal selama ini,mereka tidak pernah melakukan kegiatan itu.
"kita mau kemana pa?" tanya Sam bingung,apalagi mereka hanya menggunakan satu kendaraan. Bita dan Alze duduk paling belakang,sedangkan dirinya dan Azza duduk dibagian tengah.
"tengok ajalah nanti." seru Deon sambil mengendarai mobilnya. Dalam hati Deon,ia cukup menyesal tidak meluangkan waktu untuk anak-anaknya saat usia mereka masih kecil,namun tidak ada salahnya mengganti hari-hari yang sudah berlalu itu sekarang. Walaupun anak-anaknya sudah besar semua,tidak menutup kemungkinan mereka bahagia jalan-jalannya bersama keluarganya.
Haura tersenyum tipis melihat wajah anak-anaknya sumringah menikmati perjalanan mereka lewat kaca spion. Ia menoleh kearah suaminya sambil tersenyum senang.
Lain hal dengan Alze,ia tampak malu-malu memegang tangan istrinya,awalnya ia sedikit ragu menggapai tangan istrinya,namun saat itu tiba-tiba Bita menggenggam tangannya sambil tersenyum tipis kearahnya,membuat Alze salah tingkah.
"gue senang banget." bisik Bita ditelinga Alze,ia sudah lama tidak merasakan jalan-jalan bersama keluarganya. Terlihat dari wajahnya sumringah begitu antusias menikmati perjalanan mereka.
Alze gemas sendiri melihat istrinya,ia pun langsung mengecup bibir Bita cepat,membuat gadis itu terkejut malu.
"woi,ada mama sama papa loh." bisik Bita memperingati. Bisa gila kalau suaminya terus melakukan itu, dipastikan jantungnya tidak akan baik-baik saja.
"mereka nggak bakalan liat." bisik Alze tersenyum smirk,Bita merinding menatap suaminya seketika. "ya ampun Al—"
Alze kembali mencium bibirnya,kali ini lebih lama dari sebelumnya.
ciiiit.
Mobil tiba-tiba berhenti membuat kening mereka berbenturan. Alze dan Bita bingung kenapa mobil tiba-tiba berhenti,lalu menoleh kedepan.
"Bagus kalian yaa,mantap!!" seru Sam menggeleng-geleng kepala melihat tingkah kakaknya dibelakang.
"astaga kak,mata gue nggak suci lagi woi!!" pekik Azza dramatis. Ingin rasanya melempar barang untuk menggetok kepala Kakaknya satu persatu.
Begitu juga dengan Haura dan Deon syok terapi melihat anaknya dari kaca spion tengah yang dulu kaku dan terlihat introvert itu sangat lihai berciuman.
"ya ampun nak,kalian memanglah." gemas Haura melirik kebelakang kedua pasangan suami istri itu.
"udah sah maa." ucap Alze santai,sedangkan Bita tertunduk malu dipergoki satu keluarga.
"iyaa udah sah,tapi ya jangan didepan kami juga lah." ketus Deon gemas menatap anaknya.
"iyaa tau nih,udah tau gue jomblo kak. Sialan banget Lo!" timpal Azza berdecak pelan.
"nasib...nasib orang jomblo kek gue yaa." lirih Sam pelan mendramatis. Azza langsung memukul kepalanya pelan.
"apa tadi? Lo jomblo? darimananya woi?? enak banget Lo bilangin diri Lo jomblo. Ituu mantan Lo berserak diluar tuh apa emangnya???" cerca Azza kesal.
"itu siapa nama cewek Lo yang tinggi tuh,aduh siapa yaa...ah,itu Bubu!" seru Azza mengingat-ingat nama mantan kakaknya.
"woi,sejak kapan nama mantan gue ada yang namanya Bubu?!" kesalnya menatap adiknya,sedangkan yang lain tertawa melihat tingkah mereka. Gadis itu mengedik bahu,lalu menoleh kearah kakak pertamanya.
"woi kak,daripada mata gue tercemar lagi,mending kak Bita pindah kedepan biar pria buaya nih kebelakang!" seru Azza sambil tersenyum miring langsung ditatap tajam oleh Alze.
"nah iyaa,mending pindah kedepan aja Bita!" seru Haura. Mau tak mau Bita pun tukar tempat duduk dengan Sam.
"kak,Lo nggak mau lakuin itu sama gue yang tadi huh?" ledek Sam sambil menunjuk bibirnya. Alze mengumpat kasar.
"ba-bi,gue masih normal sialan!" kesalnya memalingkan wajah sambil memukul kepala adiknya agar kembali normal seperti semula,ia pun mendadak badmood. Padahal ia tadi ingin sayang-sayang dengan istrinya,sekarang buyar sudah. Sedangkan Sam tertawa keras melihat reaksi kakaknya.