I'M Your Wife

I'M Your Wife
Salah Beli



Bita terbangun dan melirik kearah suaminya yang terlihat tertidur pulas disofa. Ia tersenyum sendu menatap suaminya tidur dengan posisi yang tidak nyaman. Ia perlahan bangun dari tidurnya, namun ia kembali meringis saat tidak sengaja menekan tangannya yang masih terbalut perban.


"Sssh."


Alze terbangun karena mendengar suara rintihan Bita, dan ia langsung menghampiri Bita walaupun sempoyongan.


"Kenapa sayang?" tanyanya menatap khawatir kearah istrinya. Bita tersenyum kaku menggeleng pelan. "Ti-tidak apa-apa kok, tadi aku nggak sengaja menekan lukaku."


Alze langsung melihat tangan Bita, "Kamu bagak juga." gelaknya pelan lalu ia mengecup tangan Bita yang diperban. Sontak wanita itu tersipu malu dengan tindakannya.


"Anak kita mau apa? Dia nggak buat ulah kan?" tanyanya sambil mengelus perut Bita.


"Nggak kok, dia tenang aja. Aku lega anak kita baik-baik aja Al."


"Iyalah, dia didalam perut mamanya yang kuat. Dia nggak selemah itu sayang."


Bita tersenyum tipis, lalu memeluk suaminya erat. "Makasih kamu nyelamatin aku lagi.".


Alze memberengut, ia mencubit hidung istrinya gemas. "Apa maksudmu? Itu udah jadi tanggung jawabku lindungi kalian."


"Ya kan, aku ngucapin makasih doang Al. Ibu dulu ngajarin aku kalau ada yang nolongin kita, kita harus berterimakasih sama orang itu."


Alze tertawa pelan, "benar, ibu berhasil mendidik kamu." gemasnya.


Bita tersenyum tipis, teringat dengan kedua orang tuanya, apalagi ia sudah lama tidak mengunjungi makam mereka berdua. "Al, besok temani aku ke makam." pintanya pada Alze.


Alze menghela napas, lalu mengangguk pelan. "Okee, lagian kita udah lama nggak kesana." ucapnya smabil membaringkan badannya dikasur Bita.


"Eh, Al."


"Bagi dua kita, kamu tidur sini, aku meluk kamu biar nggak jatuh." ucapnya menyakinkan istrinya. Pasalnya, kasur yang mereka tempati sangat sempit dan biasanya dipakai satu orang. Terpaksa Alze mengalah sempit-sempitan, apalagi mereka bukan berdua melainkan bertiga dengan perut Bita yang besar.


Bita pun menuruti suaminya dan tidur sambil memiringkan badannya kearah Alze. Alze tersenyum tipis sambil mengelus kepala Bita.


"Love you."


"Love you too, dah tidur lagi Bit. Aku nggak mau khilaf sama kamu, kamu masih sakit."


Bita memukul dada bidang pelan, lalu mencari kenyaman menjadikan lengan Alze sebagai bantal kepalanya lalu memeluk suaminya. "Dasar." keluhnya memejamkan matanya. Alze mengelus kepalanya hingga ia pun ikut terhanyut dalam mimpinya.


***


Azza menggenggam kantong kresek miliknya, menatap datar orang didepannya yang menghalanginya keluar dari supermarket itu. "Minggir!" serunya dingin, tidak terlihat senyum ramah tamah terpancar dari gadis itu.


Pria itu tersenyum miring menatap gadis imut didepannya ini, ia sangat suka menganggu gadis ini dimanapun ia berada, termasuk tidak sengaja berpapasan di supermarket membuat moodnya yang tadi jelek langsung sumringah hanya menatap Azza. Azza seperti mood boosternya.


"Bisa menyingkir?! Punya telinga kan??" geramnya kesal, tidak disekolah, tidak disini pria itu selalu menghantuinya.


"Punya, nih!" serunya cengegesan sambil memegang kedua telinganya.


"Bagus, minggir! Kakak ipar gue udah nungguin jajanannya!" kesalnya menunjukkan kantong kresek ditangannya agar pria itu percaya. Ia tidak peduli jadi bahan sorotan oleh orang-orang yang berada di tempat yang sama, yang penting dirinya segera keluar dari pria sialan ini dan menemui Bita.


"Oh, mau gue antarin? Sekalian mau minta restu biar gue bisa halalin lo." serunya percaya diri membuat Azza memutar bola matanya jengah.


"Astaga, mending lo balik pulang, berkaca dulu sebelum lo ngomong!"


"Ngapain gue berkaca, kalau guenya udah ganteng dari lahir. Udah deh, mending lo nurut sama gue. Lagian diluar bahaya, ada maling. Entar cantik Lo diculik, gue yang repot." cerocosnya.


"Iyaa, calon istri gue harus banyak sabar. Biar anak-anak gue besok nggak kena semprot trus sama emaknya."


"Nggak usah banyak halu, minggir!" Azza langsung mendorong pria itu dan berjalan keluar cepat. Ia tidak memperdulikan panggilan pria itu yang terus memanggil namanya, ia sengaja memakai earphone agar tidak mendengar rentetan ocehan pria itu.


Matanya membulat saat tubuhnya tiba-tiba terhuyung ditarik oleh seseorang dan berakhir dalam pelukan pria menyebalkan itu. Pria itu berdecak kesal melepaskan earphone Azza. "Lo udah gila?!" sentaknya pada Azza.


Azza menyerngit kesal, harusnya ia marah disini kenapa pria itu yang marah dengannya?


"Apa sih, lo duluan yang narik gue. Ngapain juga Lo narik gue tadi huh?!" teriaknya pada pria itu.


"Lo hampir ketabrak mobilAzza. Jangan sia-siain nyawa Lo disini!" sentaknya tak kalah tajam menatap Azza. Azza langsung melihat mobil yang sudah melintas jauh darinya.


Pria itu memungut jaketnya yang tadi sempat terjatuh saat menyelamatkan Azza, lalu pergi dengan perasaan kesal meninggalkan gadis itu sendirian.


"Ish, Alghaishan sialan!" umpatnya lalu melenggang pergi menuju halte bus. "Sial, kenapa gue jadi merasa bersalah disini?! Aaarghh harusnya gue bawa mobil aja tadi, ngapa pula embel-embel mau coba pakai angkutan umum?!" gerutunya mengacak-acak rambutnya, perasaannya tiba-tiba bercampur aduk tidak jelas. Pokoknya sulit diungkapkan dengan kata-kata apa yang ia rasakan saat ini.


Setelah melihat busnya tiba, Azza langsung menaiki bus tersebut. Dan saat ia melirik kearah jendela lebih tepatnya melihat kearah tempat ia berdiri tadi saat Algha menolongnya. "Apa omongan gue keterlaluan? Auh ah, bodo amat." gumamnya menepis rasa bersalahnya.


"Assalammualaikum, aku pulang!" serunya melenggang masuk saat tiba di rumah. Alze menatapnya tajam berjalan kearah adiknya. "Lama." ketusnya merampas kantong kresek yang ada ditangan adiknya lalu melenggang ke dapur.


"Ish, gue ada kendala tadi kak, syukur-syukur gue mau beli." ketusnya berjalan masuk kedalam kamarnya. Hari ini cukup lelah menguras energinya. Belum lagi, kerja kelompok yang terus menghantui dirinya membuatnya semakin badmood.


Tok...tok.


Ck. Azza berjalan malas membukakan pintu. "Apa lagi kak?" tanyanya kesal, Alze menaikkan alisnya bingung menatap adiknya sedang badmood.


"Harusnya gue yang marah disini. Lo ngapain beli susu untuk orang tua sih?! Gue kan titip beli susu ibu hamil." protesnya sambil menunjukkan kotak susu ditangannya.


Rasanya Azza ingin berteriak keras untuk melampiaskan kekesalannya saat ini. Ini semua gara-gara pria bernama Alghaishan, ia jadi salah ambil barang. Azza menghela napas kasar lalu merampas kotak susu ditangan kakaknya, "Bentar gue tukar!" ketusnya menutup pintu keras.


Braak.


"Anak itu ngapa sih emosi mulu??" gerutu Alze heran, tidak memperdulikan hal itu ia pun kembali ke kamarnya.


Tak lama Azza memakai hoodie dan mengikat rambutnya cepol asal. Ia mengambil kunci mobil dan melenggang keluar.


"Azza, lo mau kemana?" tanya Bita yang tidak sengaja melihat adik iparnya hendak keluar. Azza menoleh kearah Bita, "Gue mau ke swalayan bentar kak, gue pergi ya."


"Ooo okee, hati-hati." Azza mengangguk lalu berjalan kearah mobilnya.


"Hehehe, sudah gue duga Lo balik lagi sini Azza!" serunya sumringah menatap gadis itu. Azza yang tadi sedikit merasa bersalah karena tadi, langsung menguap begitu saja melihat pria itu seperti biasanya cengar-cengir nggak jelas dihadapannya. "Lo kenapa masih disini? Tinggal disini Lo?"


"Hmm ide bagus juga, biar kalo Lo jajan disini, gue gratisin deh semuanya."


"ck, Mbak tadi susu yang ini salah. Masih bisa ditukar kan?" tanyanya pada pelayan kasir. Pelayan kasir tadi melirik kearah Algha tanpa disadari Azza, pria itu mengangguk pelan lalu pelayan kasir itu melirik kearah Azza lagi. "Bisa mbak, mbak mau tukar susu apa?"


"Susu ibu hamil." jawabnya datar.


Algha melotot, dirinya langsung membalikkan tubuh Azza. "Lo hamil?!"


Azza menatapnya horor kearah Algha sambil menepis tangan pria itu. "Nggak bego. Bukan gue, tapi kakak ipar gue!" ketusnya. Algha bernapas lega. "Syukurlah."


Azza memutar bola matanya malas, setelah menggantikan susu untuk orang tua itu dengan ibu hamil, ia pun melenggang keluar tanpa memperdulikan kearah Algha yang senyam-senyum tidak jelas padanya.