
Bita tersenyum bahagia menatap ketiga orang didepannya sudah memakai celemek dan bersiap untuk membuatkan batagor untuknya.
"yuhuu,keren!!" serunya menatap mantap ketiganya. Bahkan bahan sudah tersedia diatas meja. Bita antusias duduk dihadapan mereka semua, "kalian siap?"
"cih,kenapa Lo buat nyusahin orang sih?!"
"Heh,ini bukan gue yang minta,tapi keponakan kalian." Cerocos Bita sambil mengelus perutnya,mereka bertiga hanya bisa menghela napas pelan.
"Kalian bertiga buat batagor masing-masing yaa,gue bakalan nyicip satu-satu nanti!" Serunya lagi.
Semuanya langsung berkutat dengan masakannya saat bumil itu menghitung mundur. Mereka tampak bersemangat sesekali bercanda. Lupa jika awalnya mereka melakukan ini karena paksaan.
Bumil itu bolak-balik melihat satu persatu proses memasak mereka. "Aromanya wangi,lanjutkan!" Seru Bita layaknya juri. Keributan didapur membuat orang tua mereka yang baru saja pulang langsung berjalan kearah mereka.
"Ya ampun nak,ngapain?" Tanya Haura terkejut melihat ketiga anaknya memegang alat-alat masak.
"Oh mama,sudah pulang?" Bita langsung menghampiri mama mertuanya itu. Haura mengelus kepala menantunya sayang, "apa ini Karna ulah mu nak?" Tanya Haura menebak kelakuan mereka yang tiba-tiba kompak.
Bita mengangguk mantap, "iyaa maa,ini permintaan cucu mama."
"Aduh sayang,belum lahir aja kamu menggemaskan yaa,udah pandai nyuruh Tante sama oom kamu."gemasnya mengelus perut Bita dengan sayang. Bagaimanapun juga,ia sangat antusias menunggu kelahiran cucu pertamanya itu.
"Mama mau batagor juga nggak?" Tanya Bita lagi.
Haura menggeleng pelan, "mama udah kenyang tadi,makan diluar. Kalian aja yang makan,ya sudah mama ke kamar dulu yaa,mau istirahat." Ucap Haura melenggang ke kamarnya.
"Waktunya empat puluh menit lagi!" Seru Bita justru membuat ketiganya panik. Tidak peduli apa saja bumbu yang mereka masukkan kedalam batagor mereka yang penting jadi.
"Yap,sepuluh menit lagi!!"
"Anjiir Bit,nggak usah buat kami panik lah!!" Protes Sam terburu-buru menyiapkan batagor buatannya. Berkali-kali ia mengumpat kesal karena batagornya bisa dibilang tidak sesuai ekspektasinya.
Sampai waktunya habis,barulah mereka berhenti memasak. Bita terkekeh pelan melihat penyajian yang diberikan diluar ekspektasinya,ada yang kuah batagornya berantakan,letak sendoknya terbalik-balik,dan ada juga batagornya masih didalam panci karena belum sempat dipindahkan kedalam piringnya.
"Wow amazing!" Seru Bita menepuk tangannya semangat memberikan apresiasi atas kerja keras mereka. Bita berjalan mendekati meja Sam,yang berada dipaling ujung.
"Buahahaha,nggak sempat pindahkan?" Tanya Bita melihat panci tersaji disana.
"Cih,terima ajalah,nggak perlu gue pindahin juga!" Ketusnya mengambil sendok nasi.
"Nih,makan sekaligus,biar keponakan gue nggak memekak lagi." Gerutunya menyodorkan sendok nasi padanya.
"Woi,yang benarlah ngasih istri gue makan,Lo kira dia hewan apa,yang disuap sekaligus?!" Cerca Alze memukul kepala Sam.
"Haiiis,masih untung gue buatin. Udah yaa,gue mau pergi lagi nih,jangan nelpon gue!" Serunya melepaskan celemek dan meletakkan asal,lalu ia melenggang keluar.
Alze langsung mengambil sendok kecil,ia berikan pada istrinya. "Sayang, pakai ini aja."
"Makasih Al." Bita mulai menyicipi batagor buatan Sam. "Hmm lumayan bisa dimakan." Gumamnya pelan.
Setelah ia mencicipi masakan Sam,kini ia beralih mencicipi masakan adik iparnya, Azza.
"Ops maaf kak,gue lupa ngasih garpu tadi." Ucapnya menyadari kesalahannya.
"It's oke." Bita tersenyum sambil mencicipi masakan Azza. "Wow,enak Za,ini dari mana Lo belajar?"
"Skill darurat kak, kadang-kadang bisa efektif disaat terdesak kayak gini." Jawab Azza asal.
Bita terkekeh pelan,lalu mengangguk "ngakak,nanti kakak mau yaaa." Pintanya lalu berjalan menuju tempat suaminya.
"Sayang,maaf berantakan." Lirih Alze menatap sajian batagor hidangannya. Bita tersenyum haru, "nggak papa sayang,yang penting rasanya. Aku coba yaa."
"Hmm gimana yaa..." Gumam Bita meletakkan sendok didagunya,ia mendongak menatap suaminya yang masih penasaran dengan jawabannya.
"Kalau nggak enak,bilang aja Bit. Kamu bisa makan punya Azza." Ucapnya cepat,tetapi Bita menggeleng cepat. "Jangan! Anakmu ini mau makan buatan ayahnya juga." Serunya menarik piring yang hampir dibuang oleh Alze.
"Nggak,aku yakin ini nggak enak." Elak Alze tetap tidak ingin memberikan masakannya pada Bita.
"Aku mau makan!" Seru Bita tidak ingin menyia-nyiakan hasil kerja keras suaminya. Kapan lagi,bisa merasakan makanan buatan suaminya sendiri.
"Bawa sini!" Bita langsung membawa piring Alze ketempat meja makan,bumil cantik itu langsung melahap masakan suaminya.
Bita langsung memasukkan batagornya lagi dalam mulut,dan tetap sama rasanya yang begitu lezat dimulut.
Gilaa,batagor Azza aja masih kalah.
Melihat istrinya makan dengan lahap membuatnya penasaran,ingin rasanya ia mencicipi batagornya.
Apa enak buatan gue?
"Enak?" Tanya Alze ragu,Bita menjawabnya dengan semangat sambil melahap batagornya. "Iyaa enak kaliii Al, besok-besok buatin lagi yaa sayang!" Serunya semangat.
Alze terkekeh pelan,syukurlah istrinya itu menyukai masakannya,padahal saat masak tadi ia begitu kacau berkutat dengan alat masakannya tadi. Ingin rasanya ia mengumpat kasar karena alat masakannya tidak bisa mengajak kerja sama dengannya.
"Assalammualaikum, Alhambra! Alhambra!" Teriak Hazig dari luar. Alze berdecak kesal langsung menghampiri Hazig yang terus teriak-teriak tidak jelas dari luar rumah.
"Anjiir jangan teriak juga bodoh!"
"Hehehe,gue suka-suka lah."
"Apa mau Lo huh?"
"Cih,nggak disambut ramah gue disini,padahalkan gue tamu." Gerutunya melenggang masuk tanpa memperdulikan tatapan pemilik rumah. Ia mencium aroma batagor dari dapur,langsung menghampiri kedua wanita yang ada disana.
"Haloo!"
"Oh,kak Zig-zag. Mau batagor juga nggak kak?"
"Nama gue bukan zig-zag Azza, jangan seenaknya ganti nama gue." Gerutunya lagi.
"Lah kan bagus gue ngasih nama Lo zig-zag kak,biar beda dari yang lain. Soalnya nama kawan gue juga ada yang namanya Hazig,nggak mungkinkan gue manggilnya sama."
"Yaa Lo bisa bedain kan,gue disini kawan Lo disana. Jadi Lo bisa manggil gue kayak biasa."
"Nggak,nanti kalau kalian disatu tempat,gue yang pusing manggilnya." Gerutunya pelan sambil meneguk air mineral ditangannya.
"Kak,gue mau les dulu yaaa, keponakan gue jangan ngidam dulu. Gue mau fokus ujian masuk kampus,doain gue lulus yaa kak!" Serunya mengambil tasnya,Bita mengangguk semangat.
"Aaamiin,mogaa Lo lolos disana!" Teriaknya langsung dilambaikan tangan Azza yang sudah melenggang keluar rumah.
"Dia mau jurusan apa?" Tanya Hazig menoleh kearah Bita yang asyik makan.
"Rahasia dong,gue soalnya udah janji nggak bakalan kasih tau siapa-siapa,yang penting bantu doa aja dia biar lulus dikampus impiannya."
Hazig mengangguk pelan,lalu mengamini dalam hati tanpa berniat mengeluarkan suara. Ia masih fokus berkutat dengan pikirannya saat ini.
Alze menghampiri mereka sambil membawa kotak yang baru saja diantar oleh kurir paket,membuat Bita penasaran dengan kotak tersebut.
"Itu apa?"