
"kak Bit!" seru Azza mengguncang tubuh Bita membuat gadis itu tersentak menoleh kearah adik iparnya.
"Lo baik-baik aja kan kak?" tanya Azza sedikit khawatir dengan kakaknya itu,sejak kejadian di tempat mie ayam tadi,kakak iparnya itu banyak melamun.
"kak,kita beli eskrim sama coklat yok!" ajak Azza kearah Sam yang sedang mengendarai mobil saat ini.
"idih,nggak takut gendut Lo makan malam-malam huh?" ledek Sam melirik adik bungsunya dari kaca spion.
"diamlah! ikuti aja apa yang gue bilang kak!" serunya lagi,Sam lagi-lagi hanya bisa menghela napas pasrah memutarkan stir mobilnya menuju mini market.
"yok turun kak!" ajak Azza lagi sambil menarik tangan Bita masuk kedalam mini market. Sam dan Alze menyusul dari belakang,
"eh,Sam?" sapa seseorang terkejut melihat mantan pacarnya ada disini.
Mampus gue.
"siapa ya?" tanya Sam pura-pura tidak kenal,
"brengsek,gue kekasih Lo yang Lo campakkan waktu itu,nggak ingat huh??" wanita tadi langsung memberengut kesal sambil melempar tas selempang miliknya kearah Sam. "dasar jahat!!" sentaknya kasar,lalu ia kembali memungut tasnya dan melenggang pergi begitu saja.
"ckckck, tulah mainin juga lagi perasaan cewek." ledek Alze menepuk pelan bahu Sam. Sam berdecak pelan sambil mengusap wajahnya.
"apa liat-liat huh?!" kesalnya melihat para pengunjung mini market menoleh kearahnya. Ia pun mempercepat langkahnya mendekati adiknya.
"lama." desisnya memandang adik dan kakak iparnya termenung lama didepan kulkas.
"sabarlah dulu,orang kami lagi dilema mau ngambil yang mana."
"ambil ajalah semua,beres kan??"
"nggak segampang itu loh. Lo kira uang datang dari langit huh?"
"cih,untuk apa sebanyak itu uang kalau nggak Lo pakai??"
"ya ampun nih anak,kan dari kemarin gue dah bilang. Bukan gue yang kaya tapi nyokap kita. Masa gue harus ngulang-ngulang lagi sih kak?!" jengkelnya mengambil asal minuman apa yang ia dapat,lalu melenggang pergi menuju tempat makanan ringan. Sedangkan Bita masih setia memilih beberapa minuman yang ada dihadapannya.
"Lo mau yang mana sih kak?" tanya Sam jengah,Bita menoleh sekilas kearah Sam. "nggak ada yaa,gue suruh tungguin." jengah Bita,setelah memutuskan dengan berbagai banyak pertimbangan dikepalanya,akhirnya ia memilih isotonik.
"astaga Birgitta,dari tadi Lo ngapa nggak ambil aja isotonik,nggak payah gue nyari kopi kaleng buat Lo!" gerutunya gemas,namun terdiam saat merasakan jitakan dikeningnya.
"jangan ngatain istri gue!" seru Alze tidak suka,ia pun membantu Bita membawa beberapa belanjaannya ke kasir.
"Sam bayar!" seru Alze meninggalkan adiknya dikasir. Sam mengumpat pelan lalu dengan terpaksa ia membayar belanjaan mereka.
"kalian abis dari mana?" tanya Haura terkejut melihta anak-anaknya baru pulang. Mereka semua langsung mencium punggung tangan wanita cantik itu bergantian. "abis makan diluar."
"ooo."
Alze dan Bita langsung masuk ke kamar mereka. Bita yang kelelahan merebahkan dirinya dikasur.
"Bit,ganti baju dulu!" serunya menggeleng-geleng melihat tingkah istrinya yang begitu menggemaskan itu. Bita membuka matanya malas sambil menggeleng-geleng pelan. "nggak,lagi capek."
Alze berdecak pelan,lalu menghampiri istrinya sambil mencium bibir merah itu. "ganti baju atau gue terkam?" ancamnya membuat mata Bita membuka lebar.
Ia pun langsung beranjak dari tempatnya dan berlari kecil ke kamar mandi,Alze hanya tergelak pelan melihat istrinya. Ia pun melirik ponsel istrinya,terlihat jelas satu pesan baru saja masuk.
Ia menyerngit menoleh kearah kamar mandi yang masih tertutup lalu beralih menatap ponsel Bita. Penasaran,ia pun langsung membuka pesan itu.
Unknown
Bita ini gue Brian,gue minta maaf apa yang gue lakuin ke Lo kemarin. Tapi biarkan gue nemuin Lo secara langsung,please.
Bita
Gue datang,kita ketemu di gedung belakang kampus jam delapan pagi.
Usai membalas pesan itu,Alze langsung menghapus dan memblokir nomor itu sebelum Bita keluar dari kamar mandi.
Bita keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya,ia menyerngit bingung melihat ekspresi kesal suaminya. "ada apa?"
Alze langsung mendekat kearah Bita dan menyatukan kening mereka, "boleh gue minta hak gue?" tanya Alze menatap lekat dengan penuh harap.
Deg.
Bita menggangguk ragu menatap wajah suaminya.
***
Brian memainkan koin ditangannya sambil bersandar menunggu wanita yang akan ia kelabui nanti.
"gue nggak akan menyia-nyiakan Lo lagi,akan gue pastikan Lo bakalan menjadi milik gue!" tekadnya sambil tersenyum seringai.
Brian mengabaikan nada dering ponselnya yang terus berdering,ia tahu siapa yang menelpon itu kalau tak lain adalah Mezza. Memang pria itu berterimakasih padanya karena membantu keluar dari penjara,namun ia tidak sebaik yang orang lain kira. Memanfaatkan situasi dalam kesempitan adalah ahlinya.
Suara derap sepatu membuatnya menoleh kearah suara itu dan terkejut melihat Alze berjalan kearahnya.
Alze tersenyum smirk melihat ekspresi terkejut yang ditunjukkan Brian,sambil memasukkan tangannya kedalam saku berjalan kearah Brian.
"kecewa yaa?" ejeknya membuat Brian tersulut emosi sambil mencengkram kerah kaos Alze. "brengsek,gue nggak ada urusan sama Lo sialan!!" sentaknya ingin melayangkan pukulan pada Alze,namun tangannya langsung dicekal Alze.
Alze menatap dingin pria itu lalu menendang kuat hinggal terpental cukup jauh. "Lo nggak ada kapok-kapoknya." Alze berjalan mendekati Brian,lalu menginjak tangan Brian hingga pria itu menjerit kesakitan.
"aaaakhhh!,lepas brengsek!!!" rintih Brian langsung mencekal kaki Alze membuat pria itu terhuyung jatuh. Kesempatan itu Brian langsung gunakan,menghajar pria itu dengan babi buta.
Alze menepis tangan Brian lalu kembali menghajar Brian hingga kembali terbaring tidak berdaya. Alze menyeka darah yang mengalir dihidungnya akibat pukulan Brian yang sempat mengenai hidungnya.
Alze berdiri lalu menarik Brian hingga pria itu berdiri, dapat dilihat wajah Brian dipenuhi babak beluar karena pukulan yang ia layangkan tadi. Walaupun begitu,Alze tersenyum puas,karena merasa sepadan dengan apa yang pria brengsek itu lakukan pada istrinya. Saat ini ia harus tahu,siapa yang membantu pria itu keluar dari penjara.
"a-apa mau Lo huh?".
"cih,dasar lemah. Dasar mata keranjang,taunya jajan mulu. Cepat katakan,siapa yang bantu Lo keluar?"
Brian terkekeh pelan sambil tersenyum sinis kearahnya. "kenapa? Lo penasaran huh?"
"cepat ngomong brengsek! gue nggak ada waktu ngeladenin Lo disini!!" Alze semakin kuat mencengkram kerah baju Brian. Pria itu menatap nyalang musuhnya seolah-olah ingin membakar Brian hidup-hidup.
"gue nggak tau." jawab Brian asal,jika ia memberitahu nama Mezza, bisa-bisa ia kembali lagi masuk kedalam kandang sialan itu.
Alze menggertak giginya lalu menghempaskan Brian hingga pria itu kembali jatuh. Alze mengambil ponsel Brian dan mengetik sesuatu didalamnya.
"brengsek,apa yang Lo lakuin huh?!"
Alze tidak menghiraukan rintihan Brian,setelah selesai mengetik dalam ponsel pria itu,ia pun melemparnya kearah Brian dan meninggalkan pria itu yang masih tersungkur menahan rasa sakitnya.
Alze berjalan menuju kelasnya,suasana seketika hening saat dirinya masuk kedalam kelas itu. Alze tidak terlalu memperdulikan mereka dan duduk ditempatnya. Ia merasa ada kurang disini,seketika terkekeh mengingat sesuatu yang hilang itu. Tak lain adalah istrinya sendiri yang kini terbaring dirumah karena perbuatannya semalam.
Hehehe,maaf sayang. gumamnya merasa bersalah tetapi sekaligus bahagia,akhirnya memiliki Bita seutuhnya. Ia mengeluarkan ponselnya dan melacak apa yang dia sudah ia retas dari ponsel Brian.
"ck, ternyata dia." gumamnya menatap datar layar ponselnya.