I'M Your Wife

I'M Your Wife
Trauma



Alze mengelus kepala Bita lembut,agar gadis itu bisa tenang. Ia melirik kearah Anggi dan Sam yang daritadi memandang mereka.


"hmm apa tidak apa-apa membiarkan darah mereka mengucur terus??" tanya Anggi pada Sam bergidik ngeri melihat luka ditangan pasangan suami istri itu dari jauh sana. Sam menyipit matanya dan terkejut,


"eh,baru nyadar gue kalau mereka terluka,kenapa nggak bilang daritadi bego!!" gerutu Sam langsung berlari kearah mereka. Anggi mengumpat kasar memandang tajam kearah punggung pria buaya itu.


"woi kak,sadar woi,itu tangan kalian luka!" cercanya langsung membawa kedua kakaknya itu ke mobilnya. Beruntung peralatan praktek kampusnya ada didalam bisa digunakan untuk mengobati kakaknya.


"Sa-sam Lo-lo anak kedokteran??" tanya Bita masih sesunggukan,memang tangisannya sudah berhenti hanya saja masih sesunggukan yang dirasakannya.


"baik Lo minum dulu kak,baru ngomong." ucap Sam menyodorkan mineral kearah kakak iparnya,dan mendudukkan kakak iparnya di jok kursi kemudi.


"Al,itu..." seru Anggi menunjuk kearah polisi yang tengah menatap kearah mereka,Alze mengangguk lalu mengelus kepala Bita sebelum dirinya menemui polisi itu.


Sam dengan cekatan mengobati luka ditangan Bita,Bita hanya diam membisu membiarkan adik iparnya mengobati lukanya,tatapannya melirik kearah suaminya yang tengah bercengkrama dengan polisi itu.


"dah selesai,tapi lukanya jangan kena air dulu. Ini hanya sementara aja biar nggak infeksi, kita nanti kerumah sakit buat jahit lukanya." ucap Sam mendongak kearah Bita.


"gue kira selesai di Lo!" cibir Anggi meremehkan kemampuan Sam. Sam berdecak pelan menatap tajam kearah gadis itu. "gue nggak ada alat jahitnya,cih nyesel gue pernah gombalin Lo waktu itu di rasanya kek sia-sia,atau jangan-jangan Lo belok yaa??"


Anggi memukul kepala pria itu kuat, "kampret,gue nggak belok yaa. Gue masih normal."


"yalah normal." cibir Sam lagi lalu melirik kearah Bita yang tampak melamun. "kak Bit!" seru Sam menepuk pundak Bita membuat Bita terkejut lalu menoleh kearah Sam. "ha iya,Lo ngomong apa tadi?"


Sam menghela napas pelan, "nggak ada,ya sudah Lo mending istirahat di mobil suami Lo kak,gue ada urusan sebentar sama suami Lo." ucap Sam membereskan peralatan prakteknya.


"gue nggak nyangka kalau Lo anak kedokteran,padahal Lo tuh santai banget harinya,manalagi sempat ke kampus kami. Lo banyak bolos yaa??" cerca Anggi lagi.


"idih suka-suka guelah,Lo remehin gue,gue itu udah jenius dari zigot. Makanya gue bisa jadi mahasiswa kedokteran sekarang." sombongnya tersenyum remeh kearah Anggi.


"terserahlah,gue juga nggak peduli." ucap Anggi lagi lalu menghampiri Bita, "Lo baik-baik aja kan Bit?"


Bita mengangguk pelan, "baik kok,makasih udah nolongin gue." lirih Bita pelan.


"Sama-sama,sekarang Lo udah tau kan kenapa gue larang Lo dekat dengan Brian kan." ucap Anggi lagi.


Bita mendongak kearah Anggi, "darimana Lo tau dia sebrengsek itu?"


"dari korban-korban dia Bit. Untung Lo nggak di apa-apain tadi." ucap Anggi langsung dianggukan oleh mereka.


***


"Al." panggil Bita duduk ditepi jendela menatap hujan deras diluar rumah. Saat ini mereka berada dirumah keluarga Alze. Haura dan Deon yang mendengar kabar itu langsung menindak tegas pelaku yang membuat menantunya dalam bahaya. Bita sangat bersyukur memiliki mertua seperti mereka walaupun setelah itu ia dan Alze diceramahi panjang lebar oleh Haura.


"hm." sahut Alze mendekati istrinya,daritadi ia terus melihat tingkah Bita sangat aneh setelah kejadian itu. Gadis itu tampak lebih murung dan hanya irit bicara.


Bita menoleh kearah Alze dan menatap lekat mata pria itu, "gimana cara Lo nemuin gue ada disana?" tanya Bita sendu. Ia masih tidak percaya,dirinya selamat dari jeratan Brian. Harapan kecilnya yang terus berharap suaminya datang,terkabulkan.


"sudah lupakan saja apa yang terjadi hari ini Bit,Lo harus banyak-banyak istirahat sekarang." ucap Alze mengalihkan topik,ia tidak ingin membahas yang bersangkutan dengan pria brengsek itu lagi.


"sudah jangan nangis lagi sayang,tuh nggak liat mata Lo udah bengkak kayak gitu." ledek Alze membuat Bita menggerutu pelan sambil memukul dada bidang pria itu.


"ish,Lo nyebalin banget Al. Tapi gue masih penasaran,kenapa Lo bisa tau gue ada disana?" tanya Bita lagi.


Alze tersenyum tipis lalu mengeluarkan ikat rambut white bear milik istrinya, "Karna ini,makasih Lo udah ngasih tunjuk dimana lokasi Lo Bit,gue bangga sama Lo." puji Alze mencium kening istrinya.


Bita tersipu malu,lalu mengambil ikat rambut itu yang ada ditangan Alze. "terimakasih udah nyelematin gue Al." ucapnya tulus memandang ikat rambutnya.


Detik itu juga,ia akan menutup rapat-rapat nama Brian dari hatinya,ia tidak ingin lagi mendengar nama pria itu. Pria yang ia sukai dulu kini ia sangat membencinya.


"sudahlah,ayok kita tidur." ajak Alze menarik tangan istrinya menuju tempt tidur. Ia baringkan istrinya dengan nyaman dan menyelimuti gadis itu. "tidurlah dengan nyenyak yaa." ucapnya setelah itu ia mematikan lampu kamarnya. Setelah itu ia keluar dari kamar sambil mengambil rokoknya untuk menenangkan dirinya.


Deg.


Napas Bita seperti tercekat,ia kembali mendengar suara pria brengsek itu memanggil namanya. Cengkraman pria itu kembali teringat jelas dikepalanya,apalagi pria itu menyayat tangannya.


Keringat Bita terus bercucuran,bibirnya menggigil seraya ingin meminta tolong siapapun untuk lepas dari jeratan pria itu,pria itu melemparnya ke kasur dan mengukung paksa. Tenaga Bita tidak sanggup melawan Brian yang terus membuka paksa bajunya.


"LEPAS!!!" teriak Bita menjerit,ia berusaha menendang apapun didepannya,tetapi kakinya seolah-olah mati rasa. "Hiks...tolong...tolong jangan sentuh gue..." lirih Bita pelan. Wajah seringai pria itu semakin membuatnya takut dan berteriak sekeras yang ia bisa.


"Alze..." lirihnya seketika pasrah dengan apa yang terjadi,sekujur tubuhnya kaku tidak bergerak melawan Brian.


"Bita!" sentak Alze mengguncang tubuh Bita agar bangun.


Deg. Mata Bita langsung terbuka lebar sambil napas tersengal-sengal. Alze langsung menenangkan gadis itu. "tenang Bita,gue disini,Lo jangan khawatir." lirihnya pelan. Rasanya ia ingin menghajar kembali pria itu yang membuat istrinya trauma.


"Alze..." Bita memeluk erat suaminya,keringat dingin terus mengucur membasahi keningnya ditambah badannya menggigil.


"Bita,lihat gue...gue ada disini." bujuk Alze agar gadis itu tenang.


"Al,gue takut."


"Lo sekarang aman Bita,ada gue disini." ucapnya lagi menenangkan istrinya.


"kak,kak Bita kenapa??" tanya Azza panik saat mendnegar teriakan Bita,bukan hanya gadis itu saja yang terbangun melainkan satu keluarga tergopoh-gopoh menghampirinya.


"Al,biar mama aja yang nenangin dia. Kamu ambil air hangat sekarang!" pinta Haura langsung menghampiri menantunya. Alze mengangguk cepat,ia pun bergegas mengambil minum di dapur.


Azza langsung menyenggol lengan Sam yang baru saja tiba disana. "kak,tolongin kak Bita,gimana caranya biar dia tenang??" seru Azza menatap kasihan kearah Bita.


"nggak tau,gue masih semester awal woi. Belum pro kali sama dengan kasus begituan,jangan tanya gue." tolak Sam.


"ah,percuma punya orang medis disini,nggak becus!" ledek Azza geram langsung menghampiri kakak iparnya.


"sialan Lo!" kesalnya pelan,memang benar ia masih belum bisa menangani kasus seperti Bita,karena dirinya masih belum terjun kerja langsung di lapangan praktek.