
Haura tersenyum tipis memandang menantunya sudah tertidur pulas,walaupun badan gadis sedikit panas,setidaknya ia sudah lebih tenang dari tadi. "kasihan sekali dia,harus menanggung semua ini." lirih Haura mengelus kepala Bita sayang. Baginya,buta seperti anak kandungnya sendiri,walaupun kesan pertama gadis itu terlihat buruk dimatanya. Namun,ketika melihat kesehariannya membuat persepsi Haura berubah menatap Bita.
"maa dia udah tenang?" tanya Alze menatap lekat istrinya. Sungguh,ia tidak tega melihat gadis itu terus mengingat kejadian kelam tadi. Haura menatap anak sulungnya sambil tersenyum. "kamu sudah banyak berubah nak sejak bersama Bita. Kamu dulu cuek banget sampai-sampai mama kira kamu belok." ucap mama membuat Alze menghela napas panjang.
"aku nggak ingin dekat siapapun maa."
"kalau gitu,Bita sejak kapan kamu menyukainya?" tanya Haura penasaran dengan kisah cinta anak sulungnya yang kolot itu. Syukur-syukur anaknya tidak belok seperti yang selama ini ia pikirkan.
Alze melirik kearah Bita. "sejak aku pertama kali bertemu dengannya saat masuk kampus."
"ooo, sekarang perasaan kamu gimana? kamu cinta nggak sama dia?"
"mamaa,jangan nanya trus. Dah mending mama bobok lagi tuh mama nggak nyadar kalau ada bodyguard mama yang ngintilin trus datitadi." keluh Alze mendorong Haura pelan menuju pintu kamar. Deon yang daritadi hanya diam diri menatap jengah kedua manusia yang asyik bercengkrama itu,hanya bisa menghela napas pelan.
Haura melirik kearah suaminya,ia berdecak pelan. "ish ganggu aja sih papa nih." gerutunya berjalan mendahului suaminya. Deon langsung mengejar istrinya.
***
Paginya,mata Bita terbuka perlahan. Yang ia lihat pertama kali adalah tangannya digenggam oleh seseorang yang sedang tertidur pulas dibelakangnya saat ini,Bita langsung berbalik menatap pria yang memeluknya semalaman. Ia tertawa kecil mendengar dengkuran pria itu.
"ya ampun Lo pasti capek banget yaa." gumamnya pelan,Bita menatap lama wajah tampan suaminya,Alze selalu ada untuknya dimanapun dia berada. Bita menatap tangan kanannya yang terbalut dengan perban. "okee kita perbaiki semua kesalahan ini. Gue nggak mau lagi buat orang disekitar gue kecewa." lirihnya menatap langit kamarnya, perasaannya kini sudah lebih membaik. Ia tertegun saat merasakan tangan suaminya semakin mengerat.
"baguslah." sahut pria itu masih memejamkan matanya sambil tersenyum tipis membuat Bita terpana dengan senyumannya.
"Al,gue haus. Minggir bentar." serunya memegang lengan suaminya,bukannya menuruti malah pria itu semakin mengeratkan pelukannya. "nanti aja."
"heh,gue haus woi. Dehidrasi,nanti kalau gue mati karna dehidrasi kan nggak lucu."
"hush,Lo jangan ngomong kek gitu!!" ucap Alze tidak suka. Bita menghela napas lalu mengangguk pelan, "iyaa...iyaa,nah sekarang lepasin gue. Gue mau kedapur."
"suruh Sam atau Azza ajalah."
"nggak bisa Al,kita udah nyusahin mereka terutama Sam. Hehehe Lo tau ekspresi dia kemarim liat gue kayak mau nendang gue jauh-jauh. Udah ah,ini juga dah jam delapan pagi." oceh gadis itu menatap jam dinding kamar.
Alze berdecak pelan,lalu membiarkan gadis itu berjalan keluar. "huft,pegal kali tangan gue." gerutunya sambil merenggangkan otot lengannya. Alze menyibak selimutnya dan terkejut melihat ada darah banyak dikasur.
"what?? Bita lagi datang bulan?!" serunya. Ia langsung berlari sambil membawa jaket miliknya menuju dapur. Ia berlari kencang sampai-sampai tidak melihat Sam ada didepannya.
Bruuuk.
"aduuuh,kak Lo apa-apaan sih sampai lari-lari gitu huh?!" kesal Sam mendorong Alze dari atas tubuhnya. Ia menggerutu sakit sambil memegang bokongnya.
Alze berdecak kasar, "Lo ngalangin jalan gue." kesalnya lalu berjalan cepat menuju dapur.
Sam mengumpat pelan, "sialan,bukannya minta maaf malah kabur tuh orang."
"Bitaaa,Bitaa." panggilnya membuat istrinya menoleh kearahnya sambil memasang apron. "kenapa?" tanya Bita heran.
"ituuuu." tunjuk Alze kearah bawah Bita. Bita yang kebingungan melihat kebawah. "apa yang sedang Lo liat Al?" tanyanya lagi.
"ck." Alze langsung mengikat jaketnya dipinggang Bita. "cepat Lo pergi ke kamar,itu celana Lo tembus." bisik Alze lalu berjalan masuk ke dapur. Mata Bita membulat sempurna dan berlari kecil ke kamar Alze.
"sial." lagi-lagi ada saja yang menabrak Sam. Tadi Alze sekarang Bita yang tidak sengaja menyenggol lengan Sam. Beruntung kali ini ia tidak jatuh seperti tadi. "wih kalian bisa nggak sih kalau jalan liat-liat??" gemasnya. Tetapi karena Bita buru-buru,gadis itu hanya berteriak minta maaf dan langsung masuk kedalam kamar Alze.
"cih,dua pasutri tuh pagi-pagi buat gue udah nggak mood aja." gerutunya kesal berjalan ke dapur.
"mana mama?" tanyanya melihat Alze tengah mengeluarkan bahan-bahan masak. Sam mendekati kakaknya yang tampak kesusahan membuka kantong plastik. "Lo mau ngapain sih??"
"jangan remehin gue."
Sam meledeknya,namun mata membulat sempurna melihat irisan sayur yang dibuat Alze. "oh my God,tidak seperti itu motongnya bro. Kalau kayak gini sapi pun nggak akan bisa ngunyah woi!!" serunya menatap wortel dipotong tebal.
"sini biar gue aja." ucapnya langsung mengambil alih pekerjaan kakaknya. Alze menghela napas kasar lalu membiarkan adiknya memotong sayuran itu. "begini caranya,potong tipis-tipis. Biar pas direbus lembut rasanya seperti hati cewek." serunya diiringi dengan gombalan.
"jangan gombal ke gue,gue masih normal."
"anjiir,bukan gitu woi. Gue lagi mempraktekkan cara menggombal didepan mantan tunangan Lo tuh hah,yang dingin lebih dari yang lain." oceh Sam sambil memasukkan sayuran yang sudah dipotongnya kedalam panci.
"sejak kapan gue punya mantan tunangan huh?" protesnya.
"ituu si Anggi,dia kan mantan tunangan Lo sebelum nikahi Bita."
"cih,gue sama dia nggak ada hubungan apa-apa. Dia hanya ngikutin kemauan orangtuanya aja waktu itu,jangan buat salah paham Sam."
"idih,sensi amat bos. Santai,gue bukannya membuka lembaran masa lalu hanya aja gue penasaran tuh sama bocah. Kok nggak salting yaa saat gue gombalin??"
"tandanya dia kuat iman ngadapin setan kayak Lo." ledek Alze langsung ditatap tajam oleh Sam.
"heh,enak aja gue setannya!" gerutunya,namun saat kakaknya hendak memprotes,ia langsung menutup mulut Alze dan fokus mendengar sesuatu. Alze menatap heran kearah Sam yang menutup mulutnya.
"diam Lo,kayaknya ada yang manggil." ucapnya,ia samar-samar mendengar suara kakak iparnya dari kamar. "itu kak Bita manggil kak." serunya membuat suami dari Bita itu menaikkan alisnya satu.
"Bita? darikamar?"
"nggak,dari selokan. Ya iya lah dari kamar bego,Lo nggak dengar yaa suara dia???" ucap Sam gemas.
"ck," desisnya berjalan menuju kamarnya. Ia melihat sekeliling ruangan kamarnya tidak menemukan Bita.
"Alze." seru Bita dari dalam kamar mandi. Alze mendekati pintu kamar mandi, "huh,kenapa?"
"itu...hmm tolong belikan pembalut hehehe,maap." seru Bita canggung meminta dibelikan barang pribadinya dengan Alze.
"hmm tunggu sebentar." ucap Alze langsung berjalan keluar kamar,ia pun menghampiri Sam yang tengah memasak sup untuk sarapan pagi mereka.
"kenapa dia?" tanya Sam sambil mengibas sesendok kuah masakannya untuk ia cicipi rasanya menatap kearah Alze.
"katanya dia mau belikan pembalut." jawab Alze singkat sontak membuat Sam tersedak.
"uhuk...uhuk,sialan Lo ngomong kok nggak ada sensornya woi!" kesalnya sambil mengambil air putih.
"trus apa lagi yang Lo tunggu,beli lah." serunya menatap sang kakak belum juga beranjak dari tempatnya. Alze menunjukkan tangan kananya yang terbalut dengan perban sama seperti istrinya. "Lo nggak liat tangan gue terluka gini??"
"apa hubungan tangan Lo sama beli pembalut??" tanya Sam heran.
"gue nggak bisa bawa mobil sama motor sekarang,jadi gue minta tolong sama Lo yaa belikannya. Ini uangnya..." ucap Alze sambil mengeluarkan uang lima lembar warna merah diatas meja. "sisanya Lo aja yang ambil sebagai ongkir,makasih." ucap Alze tersenyum miring lalu berjalan cepat menuju kamarnya. "cepat yaa gue tungguin Lo!" serunya sebelum menutup pintu.
"anjiir anak sialan,nyusahin aja kalian woii!!!" gerutunya kesal melempar serbet ke sembarangan arah. Ia mematikan kompornya dan mengambil uang yang dikasih Alze tadi. "terserah gue yaa merek pembalutnya,gue nggak nerima penolakan!!" teriaknya didepan pintu kamar Alze lalu berjalan keluar rumah.
"uhuuy kak,mau kemana tuh?" tanya Azza saat hendak berangkat sekolah menggunakan motornya. Sam menoleh sekilas sambil memasang helmnya, "Lo nggak sarapan dulu?"
"di kantin nanti,gue sarapan. Mama sama papa tadi keluar kota subuh-subuh,paling mereka nginap disana tiga hari...jadi yaa nggak ada yang masak dirumah. Nanti kita makan malam diluar ya kak." serunya sebelum menancapkan gas meninggalkan perkarangan rumah.
"buset dah, capek-capek gue buat sarapan nggak ada yang makan. Apes banget gue." gerutunya kesal,ia pun meninggalkan perkarangan rumah untuk pergi membeli barang pribadi kakak iparnya.