
Bita membuka pintu kamarnya perlahan,menatap suaminya yang masih menangkupkan wajahnya bersandar di pinggir kasur. Bita mendekat kearah Alze dan menangkup wajah pria itu. Dapat dilihat wajah pria tampan itu kini banyak luka yang muncul.
Alze menepis tangan Bita, "jangan disentuh,sakit." ucapnya dingin memalingkan wajahnya dari Bita. Bita tersenyum tipis lalu mengambil kotak obat yang ada dikamar pria itu. "Lo kayak bocil." gumamnya membuat Alze menatap tajam kearahnya. Disaat itulah Bita langsung menatap lekat wajah suaminya.
"huft,tidak semua masalah bisa diselesaikan dengan adu fisik Al,gue nggak mau liat Lo gini lagi." lirihnya sendu sambil mengelus pipi Alze yang sedikit membiru.
"sssh,sakit Bit." ringisnya pelan masih tetap memperhatikan wajah Bita.
"makanya jangan berkelahi,lagian masalah apa sih sampai kalian berkelahi gini?" tanya Bita sambil menuangkan obat merah dikapas.
Alze hanya diam,ia terus menatap lekat wajah istrinya yang begitu fokus mengobati lukanya. Bita merasa salah tingkah,dengan sengaja ia menekan luka Alze.
"aw sakit Bit!!" sentaknya membuat Bita terkekeh pelan. "jangan liatin gue gitu kali lah." selorohnya lanjut mengobati luka Alze.
Alze tersenyum tipis lalu merangkul pinggang Bita hingga gadis itu jatuh kedalam pangkuannya. Bita terkejut dengan tindakan Alze yang tiba-tiba mendekat.
"gue bodoh suka sama Lo!" ungkap Alze menatap lekat kearah Bita. Bita mengerjap matanya pelan,lalu meletakkan tangannya kearah kening suaminya itu.
"tidak panas,Lo masih oke kan?" Alze berdecak pelan lalu menghempaskan istrinya ke kasur dan berjalan keluar kamar meninggalkan gadis itu dengan raut kebingungan.
"eh,Al luka Lo belum gue obatin semua woi!!" teriaknya tetapi diacuhkan pria itu. Bita hanya menatap diam punggung suaminya yang sudah mulai hilang dari pandangannya.
"bentar yaa,gue masih belum siap buka hati lagi." lirihnya sendu. Berusaha sekuat apapun,masih tidak terlupakan cintanya bertepuk sebelah tangan itu, bodoh? Yap memang benar. Ia menyadari hal itu,ia terus berusaha menyukai suaminya.
***
Alze meringis pelan saat memegang sudut bibirnya. Ia mengambil minuman kaleng yang ada dikulkas mini market dan meminumnya langsung disana.
"kak,minumannya belum dibayar." ucap gadis itu sopan menatap Alze.
"nanti gue bayar!" ketus Alze berjalan menjauhi gadis itu. Ia berjalan menuju kasir untuk membayar minuman yang sudah diminumnya.
"kak,hmm itu ada darah di bibir kakak,biar gue obatin." seru gadis itu membuat Alze menatapnya tajam. "nggak perlu." ucapnya dingin lagi,setelah menerima kembalian uangnya,ia pun melenggang keluar dari mini market tersebut.
"tunggu!"
ck. Alze mengumpat pelan lalu menoleh kearah orang yang terus menganggunya. Namun,amarahnya yang tadi tinggi meluap begitu saja melihat istrinya terengah-engah menghampirinya.
"tu-tunggu!" serunya mencoba untuk mengambil napas,berlari kencang dari rumah menuju mini market bukanlah mudah. Mendengar penjelasan dari Sam kenapa mereka sampai berkelahi,membuat Bita terkejut bukan main. Ia pun langsung bergegas menyusul Alze setelah mengetahui keberadaan suaminya itu lewat GPS ponselnya.
"ngapain Lo lari huh? ada yang nge—" Alze terdiam melihat Bita memeluknya erat.
"bodoh!" sentak gadis itu membuat Alze menyerngit bingung.
"dasar bodoh!" serunya lagi,lalu mendongak kearah Alze. "Lo nggak usah kayak gini lagi!" cercanya kesal.
"apanya?"
"gue udah tau kenapa kalian kelahi tadi."
"Sam yang ngasih tau Lo?" tanya Alze.
"iyaa,ih pokoknya gue kesal liat kalian berdua!!"
Alze tersenyum tipis,lalu memegang dagu istrinya. "gue suka liat ekspresi Lo yang lagi kesal gini."
Bita semakin memberengut kesal, "sialanlah kalian!" sentaknya kesal. Rasanya ia ingin menghajar kembali kedua pria laknat itu,namun melihat mereka berdua terlihat babak belur membuat niatnya itu ia urung.
Alze tertawa pelan,ia begitu gemas melihat ekspresi Bita yang selalu berubah-ubah setiap moodnya. Entah sejak kapan perasaan itu muncul,nama gadis yang kini sudah tertulis dihatinya itu. "yok pulang!" ajaknya menggandeng tangan istrinya.
Alze menatap remeh kearah Bita, "yakin? Lo aja abis lari-lari dari rumah,manalagi nggak pakai sendal." ucapnya menatap kaki Bita tanpa alas. Bita menepuk jidatnya pelan, menggerutuki kebodohannya.
Alze kembali masuk kedalam mini market sambil menarik Bita untuk ikut bersamanya. Ia mendudukkan Bita disalah satu kursi yang ada disana,lalu ia berjalan mengambil air dan beberapa obat antiseptik dirak dekat kasir. Setelah itu ia menghampiri istrinya, "angkat kaki Lo!"
"Lo-lo mau ngapain?" tanya Bita canggung. Untuk pertama kalinya ada orang yang menyentuh kakinya,masih merasa asing.
"ck,kaki Lo luka gini nggak terasa sakit apa?" tanya Alze gemas,perlahan ia membersihkan luka istrinya.
Bita baru menyadari ada luka,spontan mulai merasakan nyeri dibagian luka itu,bahkan tanpa sengaja ia malah memukul kepala suaminya.
"woi Al sakit!"
Alze lagi-lagi menghela napas kasar. "nggak usah juga tangan Lo ikut andil protes!"
"hehehe maap,sakit soalnya." lirih Bita tersenyum kikuk.
Untung sayang,coba nggak dah gue lempar Lo ke sungai Amazon sana. gemasnya dalam hati.
"selesai." ucapnya pelan sambil membereskan sampah-sampahnya.
"eh? selesai? kok cepat?" tanya Bita tidak percaya,padahal tadi ia masih melihat pria itu mengobati lukanya.
"iyalah bisa,ngapain lama-lama coba." ketus Alze,sedangkan Bita hanya memutar bola matanya.
Bita menatap kearah Alze,ia menunggu sesuatu kalimat yang ia dengar dari mulut suami ketusnya ini. Namun,eskpektasi tetaplah ekspektasi selama diperjalanan pria itu malah membahas tugas kelompok yang akan dikumpul satu minggu lagi.
"ck,masih lama lagi Al,entar lagi aja kita kerjainnya." ucap Bita pelan.
"nggak ada,gue nggak mau numpuk tugas. Gue mau ngerjain yang lain lagi." tolak Alze.
Bita menyerngit, "emangnya tugas kita ada berapa banyak?"
"nggak ada,cuma itu doang. guenya aja yang banyak." jawab Alze asal sambil mengendarai motornya. tangannya yang sebelah kiri menggenggam erat tangan Bita yang melingkar di pinggangnya.
Bita tersenyum tipis memeluk suaminya erat dari belakang sambil menikmati angin sepoi-sepoi yang menerpa wajahnya.
"pulang juga akhrinya kalian!" cibir Sam duduk diteras rumah sambil mengompres luka lebam di dahinya menatap jengah kearah Bita dan Alze.
Bita menggerutu kesal, "besok-besok nggak usah gini lagi,kalian ada aja tingkahnya!" Ia begitu kesal karena mereka bertengkar karena rencana konyol Sam. Salah besar mempercayai rencana yang dibuat oleh pria itu.
"bukan gue yang mulai duluan,tapi dia!" seru Alze membela dirinya. Sedangkan Sam memutar matanya jengah, "terserahlah. Jadi gimana kak,udah yakin dengan perasaan Lo huh?"
"dah,tapi orang yang gue suka nggak peka." ketusnya berjalan masuk terlebih dahulu meninggalkan Bita lagi-lagi bingung dengan sikap Alze. Lalu matanya melirik kearah adik iparnya yang kini meledek dirinya.
"ckckck,gue kira cowok doang yang nggak peka. Rupanya cewek pun nggak peka."
"gue peka yaa,cuma gue belum siap buka hati!" jawan Bita spontan,tersadar dengan ucapannya ia pun langsung menutup mulut.
Sam tersenyum miring, "wah kakak gue jadi sadboy dong. Tapi sayang sekali sesuka apa Lo sama orang lain,Lo nggak akan bisa lepas dari kak Al,karena Lo istrinya. Jadi mau tak mau Lo harus suka sama dia dong."
"idih pemaksaan banget,kayak Lo aja yang paling benar. Tobat sama diri sendiri dulu." ketus Bita melenggang masuk kedalam rumah.
"anjiir dalem banget! sialan Lo kak!" gerutunya namun siempunya nama sudah menghilang dari pandangannya.
maaf nggak up kemarin🙏
selamat berpuasa,semoga lancar puasanya sampai buka nanti 🤗