I'M Your Wife

I'M Your Wife
Terlalu Obsesi



Mezza mengumpat kasar mencari sesuatu untuk meredamkan rasa gejolak dalam tubuhnya. Ia bersumpah akan membuat Bita menderita sampai akhir hayatnya nanti. Sedangkan Anggi dan Bita cekikikan melihatnya.


"sumpah ngakak." seru Anggi tertawa terbahak-bahak melihat betapa tersiksanya wanita itu dalam pengaruh obat. Bita hanya terkekeh pelan sambil memutar-mutar gelas ditangannya.


"bagus Lo cepat nyadar Bit."


"hm,gue nggak mau lagi terjebak didalam lubang yang sama. White bear gue udah lindungi gue,masa gue nggak bisa lindungi diri gue sendiri??"


Anggi menganga,mendengar panggilan kesayangan konyol Bita. "jangan bilang white bear Lo Alze??"


Bita mengangguk lalu tersenyum malu,sontak Anggi kembali tertawa terpingkal-pingkal. "ya ampun, apa-apaan itu panggilannya!"


"sialan Lo,besok gue doain Lo manggil panggilan konyol dengan suami Lo besok!" ledek Bita.


Anggi menberengut, "ih jangan ingatin gue lagi dengan kata-kata suami. Agak trauma gue dengarnya." gerutunya pelan lalu dengan cepat ia menutup mulutnya saat menyadari jika perkataan itu sedikit sensitif.


Bita menatapnya curiga,gadis itu seperti ingun mendnegar penjelasan lebih dengan apa yang dibilang Anggi tadi. "apa maksud Lo tadi?"


"ah bukan apa-apa Bit,lupakan aj—"


"Lo dijodohkan lagi?" tebak Bita menatap lurus kearah Anggi. Anggi menghela napas pelan sambil bersandar kebelakang, "hm,sejak gue batal nikah sama Alze,orang tua gue malah semakin gencar mau menjodohkan gue dengan anak teman perusahaannya. Tapi gue belum mau dengan itu semua." lirihnya yang akhirnya menceritakan semua masalah yang mengganggu pikirannya pada Bita.


"gue bukan teman baik Lo Nggi,tapi gue mau ngasih saran buat Lo." ucap Bita tulus.


"Lo itu teman baik gue Bit,Lo aja yang menghindar terus dari orang-orang. Gue tau Lo masih trauma dengan kejadian waktu kita SMA dan maaf waktu itu gue nggak bisa bantu Lo. Dulu,gue masih takut untuk bertindak Bit,gue takut kalau gue bela Lo semuanya menjauh dari gue. Dan saat mendengar Lo hampir berniat mati,disitu gue menyesal kenapa gue nggak bantu Lo saat terpuruk itu..."


"sudahlah,itu sudah berlalu juga. Gue juga nggak mau ingat lagi tentang kejadian itu. Maaf,sampai sekarang gue masih ngambang bersosialisasi dengan semuanya. Padahal nggak semuanya berniat jahat sama gue." lirih Bita pelan.


"benar,gue akan selalu ada buat Lo deh,jadi jangan merasa sendiri lagi yaa." sahut Anggi tersenyum tipis.


"ck,kenapa pembicaraan kita melenceng sih?? harusnya kita bahas masalah Lo bukan masalah gue."


"baguslah,biar gue juga tau masalah yang Lo pikirkan Bit. Nggak enak loh memendam semuanya sendirian,kita butuh teman curhat." seru Anggi,Bita tersenyum tipis.


"makasih udah mau berteman dengan gue Nggi,Lo sama baiknya dengan keluarga Alze."


"huh,keluarganya? semuanya maksud Lo?"


Bita menatap bingung kearah Anggi, "iyaa,emangnya kenapa?"


"semuanya baik kecuali satu orang yang buat gue ngeselin banget!!" geramnya ingin menghajar pria itu.


"siapa emangnya?" tanya Bita penasaran.


"tuh si Asam sialan,liat mukanya aja gue ingin nonjok trus rasanya!!" gerutunya menggebu-gebu. Bita langsung tertawa pelan,membayangkan Anggi menumbuk wajah tampan Sam,pasti pria itu akan marah lagi seperti waktu saat dihajar Alze kemarin.


"janganlah Lo hajar tuh orang,ntar orang rumah yang repot menghadapinya."


"emangnya dia apa yang dilakuinnya?"


Bita menahan tawanya sebelum menjawab pertanyaan Anggi. "merengek minta ke klinik kecantikan kulit."


***


uhuk...uhuk.


"uhu—" Sam cepat-cepat menutup mulutnya sebelum suara batuknya menggema.


Sial,gue jadinya nahan batuk gini. gerutunya merasa tidak nyaman dengan batuk yang terus menyerang tenggorokannya.


"Hazig gimana? ada yang mencurigakan nggak?"


Hazig mengangguk, "iya,dia bawa satu koper berisi emas."


"woaah gilaa,emas dong satu koper." oceh Sam menganga,mendengar emas dalam satu koper sudah pasti jiwanya meronta-ronta.


"gue yakin itu dari orang yang nyogok pengacaranya." serunya lagi melirik kearah penjaga rumah pengacara itu semakin ketat. Hazig mengangguk menyetujui ucapan Alze.


"apalagi yang kita tunggu,ikuti pengacara itu sekarang!" serunya saat melihat mobil pengacara itu keluar dari perkarangan rumahnya. Disaat itulah,Hazig langsung melajukan kecepatan mobilnya mengikuti mobil itu dari belakang.


Sampai akhirnya mobil itu berhenti tepat dirumah yang begitu mewah dan besar. Pengacara itu berjalan masuk kedalam rumah itu. "tunggu gue seperti kenal nih rumah." gumam Sam mengamati rumah mewah itu,seketika ia teringat dengan mantannya yang entah keberapa tinggal dirumah ini.


"ini kalau nggak salah rumah mantan gue deh. Terakhir kali gue kesini kayaknya dah lama." gumam Sam.


"siapa nama mantan Lo?" tanya Alze menatap Sam dari kaca spion tengah.


"ya mana gue ingat anjiir,itu mantan gue buanyak banget. Nggak hapal gue." gerutunya sambil mengeluarkan buku hitam mantannya.


"gilaa Sam,mantan pun dicatat kayak dokumen dong." seru Hazig menggeleng-geleng kepalanya dengan tingkah laku adik dari sahabatnya itu.


"iya dong,setiap momen harus didokumentasikan,biar kalau ada keadaan darurat kayak gini,bisa digunakan."


"gue nggak paham lagi dengan pikiran Lo." ucap Hazig lagi. Semakin dipikirkan semakin membingungkan, suka-suka pria itu sajalah.


"oi dah dapat??" tanya Alze daritadi menunggu dengan kesal. Sam terkekeh terus mencari nama pemilik rumah besar itu.


"nah ini dia!!" serunya menunjukkan foto mantan pacarnya, Alze menyerngit pelan. Ia seperti pernah melihat gadis itu entah dimana.


"wajahnya nggak asing."


"iyakan?? cantik nggak menurut Lo?"


"biar gue balikan lagi dengan mantan." serunya langsung buku hitam ditangan Alze mendarat keras dikepalanya.


"nggak kapok-kapoknya nih bocah." gerutunya Alze tak habis pikir.


"kita terlalu lamban bertindak Al,kenapa nggak labrak aja semuanya biar selesai dan pria brengsek itu masuk lagi penjara." seru Hazig gemas.


"tenang,kita nggak boleh gegabah atau kita yang rugi nanti. Nanti yang ada kita nggak dapat apa-apa tentang semuanya."


"iyaa juga yaa." gumam Hazig sambil melirik lagi kearah rumah itu.


Sementara ditempat lain,Mezza berendam ditempat pemandian air panas yang tidak jauh dari sana untuk menghilangkan rasa panas ditubuhnya. Ia bukan wanita bodoh yang harus menyerahkan dirinya percuma untuk menghilangkan rasa panas ditubuhnya pada orang lain,termasuk Brian. Pria yang boleh menyentuhnya harus berkualitas dan memiliki saham yang besar untuknya.


Pria itu berbahaya,tetapi entah kenapa terobsesi dengan Bita. Mezza tidak memperdulikan hal itu yang penting Bita menjauh dari kehidupan Alze. Kesempatan itu tidak akan ia hancurkan sia-sia,ia harus berhasil bagaimanapun caranya.


"Bita brengsek,gue nggak akan maafin Lo!!!" geramnya kesal.