
Bita menyiram bunga di taman depan rumahnya, karena belakangan ini ia jarang pulang kerumah kecilnya. Ia pun merengek meminta Alze untuk menginap sehari semalam dirumah lamanya.
"Mbak Bitaa!!" seru Lila berlari kecil menghampiri Bita. Ia terkejut melihat Bita dengan perut besarnya.
"Lila sayang!" sambut Bita merentangkan tangannya. Ia dengan semangat menyambut gadis kecil yang ia sudah lama tidak ia temui.
"Mbak, kenapa perut mbak besar?" tanya Lila bingung, apalagi ia merasakan pergerakan sesuatu didalam perut Bita saat memeluk kakaknya itu.
"Ada adek didalamnya."
"adek?" ulang Lila bingung, ia tidak paham maksud Bita. Bita menghela napas lalu mengajak gadis cilik itu duduk diteras rumah. "Ada bayi dalam perut mbak, bentar lagi dia lahir." jelas Bita sambil mengelus perutnya.
"Serius mbak? Berarti bentar lagi Lila bisa liat bayinya?" serunya antusias, Bita mengangguk pelan sambil mengelus kepala Lila. "Wah, Lila udah tambah tinggi yaa, padahal kita baru berpisah beberapa bulan."
"Hehehehe, Lila kan terus dikasih asupan gizi kak sama mama. Makanya tambah tinggi terus."
Bita tergelak pelan, "Bagus, jangan nyusahin mama kamu ya, harus nurut pokoknya."
"Okeey siap!"
"Bita? Itu kamu?" tanya bibi yang baru saja pulang dari pasar, ia begitu terkejut melihat gadis yang dulu tinggal disebelah rumahnya, kini sudah berbadan dua. Ia tersenyum lega menatap Bita terlihat bahagia dengan pernikahannya.
"Sudah berapa bulan?"
"Ini mau masuk depalan bulan bi, bibi gimana keadaan nya? Sehat?"
"Alhamdulillah sehat, kamu gimana? Pasti bahagia yaa, terlihat dari wajah kamu." serunya.
"Hehehe, sepertinya begitu bi. Aku sangat bahagia, bibi doain persalinan aku lancar yaa."
"Itu sudah pasti sayang, kamu jangan cemas. Jangan stres dan rileks aja yaa. Pokoknya jangan banyak pikiranlah."
"Iyaa bi siaap!"
"Sayang!" panggil Alze dari dalam rumah, Bita pun menoleh, " Sebentar!" serunya, ia pun berpamitan kepada keduanya sebelum berjalan masuk kedalam rumah.
"Ini pintu kamar memang terkunci?" tanya Alze berusaha membuka pintu kamar Bita. Padahal dulu, pria itu mudah mendapatkan kunci didalam laci, namun saat ini, kunci itu tidak ada. "Hehehe, kayaknya tinggal dirumah mama deh, kemarin aku bawa semua."
"Ya ampun, lalu kita tidur dimana?" tanya Alze setelah selesai membersihkan debu-debu yang bertebaran dirumah itu. Bita berjalan menuju kamar orang tuanya, lalu membuka secara perlahan. "Al, sini." Alze berjalan ke kamar mertuanya.
"Kita tidur disini aja." seru Bita menepuk kasur yang ia duduki saat ini. Alze mengangguk, lalu mengganti alas kasur itu yang sudah berdebu. Sedangkan istrinya, membantu mengganti alas bantal dan meletakkan didalam keranjang kotor. Ia hanya diperbolehkan mengerjakan pekerjaan yang ringan-ringan saja sedangkan suaminya barulah mengerjakan pekerjaan yang berat.
"Capek?" tanya Alze menghampiri Bita yang terlihat memejam mata setelah berjalan bolak-balik daritadi. Bita menggangguk, "Aku cepat lelah banget, ini mungkin karna bawa si kecil." keluhnya sambil mengelus perut buncitnya.
Alze terkekeh lalu mengecup perut Bita dengan sayang. "Dah, kamu istirahat aja. Nanti makan malam, kita pesan aja."
"Oke." jawab Bita, tak lama istrinya itu sudah tertidur pulas. Alze merapikan selimut yang dikenakan istrinya, ia mengecup bibir dan kening Bita. "Cantiknya gue." gemasnya menatap wajah istrinya lalu merapikan barang-barang yang berserakan diatas meja. Lalu, berjalan keluar kamar.
***
Algha mengemut permen tangkainya sambil duduk dipinggir balkon menatap datar siswa-siswa kelas lain yang sedang pelajaran olah raga. Jika mengira pria itu menatap orang-orang yang ada disana, salah besar! Pria itu menatap kosong dengan pikiran entah kemana-mana.
"Mau apa lo?" tanya Algha menatapnya tajam saat gadis itu mulai mendekat kearahnya, ia tidak suka ketenangannya terusik. Gita menelan saliva, "Gu-gue khawatir dengan lo." ucap Gita pelan, ia menggigit bibirnya sambil menunduk takut menatap mata elang Algha yang begitu tajam.
"Kenapa Lo khawatirin gue? Khawatirkan ajalah hidup lo." ketusnya.
"Gue nggak bisa tenang kalau Lo terlihat sedih Al.".
"Pfft, buahahahahaha. Dasar bodoh!" ucap Algha tertawa renyah lalu menatap Gita dingin, ia membuang tangkai permennya yang sudah habis kedalam tong sampah. Algha melewati Gita tanpa berkata sedikit pun.
"Cih, apa gue kurang cantik dimata Lo huh? Kenapa harus Azza yang lo suka?"
Langkah kaki Algha berhenti, lalu berbalik menatap Gita dengan tatapan datar. "Siapa yang bilang gue suka sama Azza?" tanya Algha balik, tanpa menunggu jawaban gadis itu, ia melenggang pergi menjauh.
Gita dibuat bingung dengan ucapan Algha, ia tidak mengerti dengan situasi sekarang.
Tunggu, apa gue harus senang sekarang? Gue harus rebut hati Algha. gumamnya senang lalu berjalan riang menuju kelasnya. Tanpa mereka berdua sadari, jika Azza mendengar semua percakapan mereka.
"Cih, kenapa juga gue nguping disini." ketusnya, namun ucapan Algha cukup mengganggu konsentrasinya saat ini. Ia yang awalnya ingin pergi ke kamar mandi, langsung ia urung kembali kedalam kelas.
Azza duduk di bangkunya, ia menatap buku yang ada diatas meja. Lalu ia merasa ada yang berbeda dengan pria yang sudah duduk dibangkunya. Pria itu tampak lebih diam sambil menelungkupkan kepalanya, sepertinya pria itu mengenakan headset ditelinganya.
Kenapa dia diam? Biasanya dia gangguin gue terus setiap detik. gumam Azza pelan, ia mengedik bahu dan tidak memperdulikan pria itu.
Baguslah, dengan kayak gini hidup gue tenang. gumam Azza lagi, namun hatinya merasa janggal seperti ada yang berbeda dan sangat menyesakkan.
Ia mengalihkan perhatiannya dengan membaca novel ditangannya, namun lagi-lagi pikirannya tidak bisa konsentrasi dan membuatnya muak.
Braaak.
Semua terkejut langsung menoleh kearah Azza yang tiba-tiba menggebrak mejanya termasuk dengan Algha yang tersentak mendongak kearah gadis yang duduk disebelahnya itu. Ia menatap heran kearah Azza.
"Damn!" umpat Azza memijat keningnya. Semuanya tidak berani mendekat kearah Azza jika gadis itu dalam emosi.
"Sial, kenapa gue merasa sesak sialan?!" gumamnya kesal, tetapi terdengar oleh Algha.
Algha semakin bingung, "Lo udah gila huh?" tanyanya heran.
Azza menatap tajam kearah Algha, tanpa mengeluarkan suara menatap pria itu dengan tatapan lekat. Algha terdiam dan salah tingkah dilihat lekat oleh gadis itu.
"Ada sesuatu yang aneh di wajah gue?" tanya Algha pelan memecahkan kecanggungan diantara mereka berdua. Ini pertama kalinya Azza menatapnya intens seperti itu.
Azza tersentak dari lamunannya, ia memalingkan wajahnya sambil menelungkupkan kepalanya. Sepertinya ada sesuatu yang salah pada dirinya sekarang.
Algha hanya menatap Azza dengan tatapan yang susah diartikan, tetapi saat ini ia sepertinya sudah menyerah untuk mengejar seorang Azza yang sulit digapai.
"Huft, lebih baik gue nyerah aja." gumamnya membuat Azza langsung mendongak kearahnya. "Apa lo bilang?!" sentaknya menatap tajam kearah Algha.
"Hah?"