I'M Your Wife

I'M Your Wife
Adu Mulut



Bita masih berdiri diam memandangi mereka semua. Merasa aneh,ia pun langsung duduk ditempatnya dan tidak lagi memperdulikan bisikan mereka semua. Sampai Alze menghampirinya dan duduk lagi disamping Bita.


Bita berdecak kesal,menatap Alze dengan tatapan tajam. "Lo bisa nggak sih menjauh sana? kenapa harus duduk disini?"


"heh,yang punya hutang jangan songong yaa." ketus Alze membuat Bita berdecak pelan.


Sungguh,pernyataan keras itu memang sangat menampar batinnya,ingin rasanya menjambak habis rambut pria disampingnya itu. Tetapi,ia tidak ingin mengambil resiko yang bisa saja mengancam nyawanya. Para fans gilanya itu pasti akan mengeroyokinya ramai-ramai jika nekat menganggu pangeran mereka.


"oh." singkat,padat,dan jelas mengakhiri obrolan tidak penting itu. Ia hanya ingin hidup damai tanpa diusik oleh siapapun termasuk Alze. Walaupun pria itu sudah membantunya tetapi ia tidak ingin terlibat apapun,cukup dulu ia dituduh merebut pacar sahabatnya,sampai ia hampir saja bunuh diri jika ayahnya tidak datang menyelamatkannya tepat waktu.


Ya,waktu itu adalah hari terberatnya menjalani hidup di dunia ini. Sahabatnya yang paling ia sayangi itu,malah menuduhnya merebut pacarnya. Sampai-sampai orang banyak membenci bahkan membulinya dengan cara yang tidak wajar. Bita sudah berulang kali menjelaskan bahwa dia tidak ada bermaksud apa-apa dengan pacar sahabatnya itu,tetapi kesalahpahaman itu terus berlanjut membuat hubungan sahabatnya menjadi retak.


Ternyata Lo busuk dibelakang!


"Bit."


Lo nggak sadar diri yaa,udah baik dia mau jadi sahabat Lo,Lo malah rebut pacar dia!


"Bita."


Dasar muka dua!


"Bitaa."


Lo emang parasit sih,dari dulu gue udah curiga Lo dekatin dia. ckckckck munafik banget jadi orang.


"Birgitta." panggil Alze pelan sambil memukul kuat tangan gadis itu.


Plaaak


Bita berdesis lalu melotot tajam kearah Alze sambil mengelus tangannya yang habis dipukul oleh pria itu. "Lo udah gila hah?! ngapain Lo mukul gue?!" cercanya sambil berbisik-bisik. Untung saja ia masih sadar jika saat ini ada dosen yang tengah menjelaskan materi pada mereka semua.


Alze berdecak pelan, "Lo dipanggil dari tadi nggak nyaut...nyaut. Gue kira Lo kesurupan tadi." ucap Alze santai.


Kenapa dia selalu membuat gue dalam kesialan trus sih? siapa sih nyokapnya? perlu gue samperin buat ngomong nih anaknya suka banget gangguin orang. batinnya kesal,ia membuang napas kasar sambil memukul tangan Alze.


Plaaak.


"kita impas." serunya puas,namun senyumannya yang melengkung keatas kembali menurun saat melihat dosen berjalan kearahnya. Sudah bisa dipastikan wajah dosen itu tampak tidak ramah tamah siap memarahinya karena membuat keributan.


"kenapa kamu membuat keributan hah? tolong diam!" sentak Dosen itu lalu meninggalkan meja Bita. Sedangkan Alze tampak menahan tawa melihat ekspresi Bita yang hampir panik tadi.


"sialan Lo." kesalnya lagi. Ia pun membuang muka dan fokus mendengar penjelasan dosen didepannya itu.


***


Sam berjalan menyusuri lorong kampus,sambil menebarkan pesona sekaligus mencari mangsa baru untuk dijadikannya koleksi buku para mantan-mantan yang pernah menjabat menjadi pacarnya.


"ngapain Lo disini?" tanya Alze menatap adiknya yang masih menebar pesona di kampusnya. Sam menyengir pelan,lalu menghampiri sang kakak. "nggak senang gue kesini? eh ternyata banyak yang cantik-cantik ya anak angkatan Lo kak. Nggak comot satu kak?" tanyanya sambil menaikkan satu alisnya nakal.


Alze memukul kepala adiknya itu dengan buku tebal ditangannya. "Lo kira barang apa main comot. Udah lah,mending lo balik,nggak ada bakalan yang suka sama Lo. Lo jelek." ketus Alze berjalan melewati Sam.


"idih,mata Lo yang salah kak. Masa gue ganteng gini dibilang jel—Hai cantik..." Sam yang tadi ingin protes karena ucapan kakaknya, tiba-tiba ia melihat ada seorang gadis cantik lewat didepannya. Sontak jiwa playboynya bekerja.


Alze berdecak kasar melihat kelakuan adik keduanya itu sangat abnormal. Daripada buang tenaga meladeni sang adik,lebih baik ia pergi kesuatu tempat untuk merilekskan otaknya yang hampir terbakar akibat meladeni ocehan Bita didalam kelas tadi.


"kak Al." panggil Sam berlari kearahnya. Beruntung Alze. belum terlalu jauh berjalan. Alze berbalik menatap heran kearah adiknya.


"kenapa?" tanyanya malas.


"Lo megang ponsel nggak?" tanya Sam sambil mengatur napasnya.


"adaa,kenapa?"


"mama nelpon Lo." ucap Sam membuat Alze langsung merogoh ponselnya. Dan benar saja,banyak panggilan yang tidak terjawab dari Haura. Ia lupa tadi saat dikelas,ia sengaja mensilentkan ponselnya.


Dengan segera ia menelpon Haura kembali. Ia akhir-akhir ini sangat malas menerima telepon dari sang mama,karena pembahasannya pasti seputar pernikahannya. Sesuai dugaannya ternyata Haura memang menelponnya untuk mempertemukan dengan seorang gadis di cafe.


"maa,aku tidak ingin kesana."


"tapi,kamu udah janji sama mama sayang,kenapa kamu nolak lagi? yang kemarin kamu kabur,kali ini jangan kabur nak. Putuskan cepat menikah juga!" seru Haura dari seberang sana langsung mematikan teleponnya sepihak.


Alze menyergit bingung,tidak tau harus berkata apa lagi pada Haura,agar mengerti dengan perasaannya untuk tidak dipaksa menikah saat ini. Sam yang melihat raut kesal Alze mundur perlahan,dan pergi dari kakaknya sebelum Alze melampiaskan amarahnya pada Sam.


Alze mengacak-acak rambutnya kesal,namun berkesan keren bagi yang melihatnya. Buktinya mahasiswi yang lewat didekatnya menjerit histeris melihat Alze. Sontak amarah Alze memuncak langsung membentaknya sampai gadis itu menangis sesunggukan dan pergi dari pandangannya.


"Sam sialan,dia malah pergi! awas Lo." kesal Alze lagi,berjalan cepat menuju parkiran. Bukan sampai disitu saja masalah yang dihadapi Alze,tanpa sengaja ia menabrak seseorang didepannya sampai jatuh.


"aw." rintih gadis itu,namun Alze seperti kenal suaranya dan menatap kebawah. "Lo lagi...Lo lagi!!" kesal gadis itu mendongak menatap tajam kearah Alze.


"apasih masalah Lo sekarang hah?! Lo yang nabrak gue,kenapa Lo yang sewot?!" cerca Alze membuat Bita mendadak naik pitam.


"Lo yang nggak liat...liat kalau jalan,jalan selebar lapangan,Lo aja ngalangin jalan gue!"


Alze berdecak kesal. "ya kalau tau jalan selebar lapangan,ngapa nggak lo aja yang menggeser hah?!"


"Lo yang minggir Bit,ngapain juga harus gue yang minggir!"


"dahlah,ya udah...udah...gue yang ngalah. Gue udah dewasa disini,gue orang penyabar nan baik hati. Gue ngalah sama adik." ucap Bita menepuk lengan Alze pelan. Sebenarnya ia mau mengelus kepala pria itu,namun mengingat tinggi pria itu tidak lazim membuatnya hanya bisa menepuk lengan pria itu.


Setelah itu,ia berjalan meninggalkan Alze berdiri diam dengan raut wajah menahan amarah menatap punggung gadis yang baru saja berdebat dengannya. "awas Lo."


Tanpa mereka sadari jika dari tadi Sam merekam kejadian yang heboh antara kakaknya dan gadis yang sempat ia sukai itu. "bagus...bagus,belum apa-apa udah adu mulut. Memang cocok." serunya puas sambil mengirim video itu kedalam grup ghibah yang berisi Deon dan Azza.