I'M Your Wife

I'M Your Wife
Asuransi



Bita merasa lega karena perutnya kini sudah tidak terasa nyeri lagi seperti beberapa hari sebelumnya. Ia berjalan menuju kelasnya yang akan dimulai sebentar lagi. Baru saja ia hendak masuk, tiba-tiba ada seseorang yang menabrak dirinya ketika ingin keluar kelas. Sialnya,bokong Bita malah bertemu dengan lantai membuatnya mendongak tajam kearah orang itu.


"sssh,apa Lo jalan nggak pakai ma—" Mata Bita membulat sempurna,orang yang ia tabrak tak lain dan bukan lain adalah pria pembawa sialnya waktu itu.


Bukannya berniat untuk membantu gadis itu berdiri ataupun meminta maaf,Alze malah mengumpat kasar menatap tajam kearah Bita dan meninggalkan gadis itu. Suasana hatinya kini sangatlah buruk mengingat pesan sang mama yang baru masuk tentang perjodohannya.


Bita menyorot tajam menatap punggung pria yang kian makin menjauh itu, entah sudah berapa banyak binatang yang absen pada sore ini yang keluar dari mulutnya.


"ah sial,itu cowok ngeselin amat. Udahlah salah malah ngumpat gue,ck gue sumpahin Lo nikah sama orang yang nyebelin,biar Lo tau rasa tuh ngurus bini nyebelin!" cercanya sambil mengibas ujung bajunya yang terlihat kotor. Suasana hatinya mendadak buruk karena bertemu pria itu,ia pun melenggang masuk kedalam kelasnya.


Sore ini pastinya semangat sudah hilang menguap,banyak mahasiswa yang tidak konsentrasi mendengar penjelasan dosen didepan. Ada macam-macam kegiatan yang dilakukan untuk menghilangkan jenuh dan kantuk yang dirasakan. Begitu juga dengan Bita yang asyik mencoret-coret indah dibuku sketch booknya.


Tetap mendengarkan sang dosen tetapi matanya sibuk menggambar doodle yang bertema perkotaan. Suara yang tiba-tiba berisik membuat perhatian Bita tertuju pada sosok pria yang tengah berdiri didepan pintu.


Dosen itu menyorot tajam padanya karena membuat kegaduhan kelas. Sama halnya dengan Bita terkejut sekaligus baru tersadar jika pria pembawa sial itu ternyata adalah teman sekelasnya.


Oh come on,kemana saja selama ini Lo Bita? udah semester empat dan Lo baru nyadar jika pria tiang listrik itu sekelas dengan Lo?? astaga. gerutunya dalam hati.


Alze mengedarkan pandangannya kearah kelas,lalu berjalan mendekati dosen. Entah apa yang dibicarakan oleh pria itu hingga diperbolehkan masuk dan mengikuti kelas beliau.


What the—,bagaimana dengan mudahnya dia masuk?! ini sungguh tidak adil! apa dia pemilik kampus ini hah?! umpat Bita pelan. Pria itu seenaknya datang dan seenaknya pergi tanpa merasa beban. Sedangkan dirinya harus mati-matian datang tepat waktu agar bisa masuk kelas dengan selamat.


Tidak hanya sampai disitu saja Bita terkejut, lagi-lagi pria pembawa sial itu sepertinya ingin mencari masalah dengannya. Memang mulutnya diam terkunci tetapi tindakannya membuat semua orang yang melihatnya terngaga tidak percaya,seorang pangeran kampus yang didamba-dambakan kaum hawa kini duduk disamping Bita seorang gadis sebatang kara.


Lihat? entah sudah berapa banyak ekspresi yang ditunjukkan satu persatu teman kelasnya memandang dirinya. Entahlah,tetapi ia mengedik bahu seolah tidak peduli akan hal itu.


"gue minta asuransi." ucapnya tiba-tiba spontan membuat Bita menoleh. "Lo ngomong sama gue?" tanya Bita memastikan. Tidak ada angin,tidak ada hujan, tiba-tiba pria itu berbicara asuransi tentu membuatnya bingung.


Alze mengangguk, "asuransi atas minuman latte kemarin." lanjutnya lagi tetapi semakin membuat gadis itu bingung.


"maksudnya? minuman latte yang mana?"


Alze menghela napas,apakah gadis itu pura-pura amnesia? ia ingat sekali wajah gadis yang membuatkan pesanan untuknya dicafe waktu itu.


"Lo nggak usah pura-pura,Lo Birgitta kan? yang kerja dicafe waktu itu?" tebaknya lagi membuat mata gadis itu membesar.


"Lo kok bisa tau gue kerja di cafe? Lo mata-matain gue ya??" tanya Bita menyelidik. Alze langsung menjentik kening gadis itu.


"hah? asuransi apa? selama gue kerja nggak ada ya komplein kayak Lo! Lo yang aneh deh,orang gue udah dua tahun kerja disana." protes Bita yang ikut berbisik juga.


Alze menghela napas, "cih,latte buatan Lo buat gue bolak-balik kamar mandi. Lo mau racuni gue hah?"


Braaak


Bita spontan menggebrak meja,amarahnya menggebu-gebu langsung menciut melihat sorotan semua mata tertuju padanya. Bahkan dosen sekalipun terkejut mendengar gebrakan meja yang dilakukan Bita.


"kenapa kamu?" tanya Dosen menatap Bita. Bita menggaruk tengkuknya tidak gatal,sembari tersenyum kikuk pada dosen. "maaf pak,tadi kaki saya tidak sengaja terbentur meja."


"oh,jangan buat keributan lagi. Kita lanjut materi ini..."lanjut sang dosen yang tidak memperpanjang masalah.


Bita menghela napas lega lalu melirik Alze dengan tatapan tajam. "cih,ini semua gara-gara Lo!" bisiknya kesal.


"Lo yang gebrak kenapa gue yang disalahin? dah gue pokoknya minta asuransi,gue nggak mau tau." ucapnya tidak memperdulikan ocehan Bita lagi. Ia pun lansung memakai headsetnya,tidak ingin mendengar suara cempreng gadis disampingnya.


Usai kelas berakhir,Bita masih kesal dengan ucapan Alze tadi. Jangan tanya pria itu ada dimana,pria itu sudah menghilang sejak dosen keluar dari kelas. Sudahlah datang terlambat,pulang paling cepat membuat Bita ingin melemparnya ke Segitiga Bermuda.


Tetapi pikirannya masih bingung,terngiang dengan ucapan Alze soal minuman yang ia buat waktu itu. Saat itu sangat tidak kondusif untuknya fokus bekerja lantaran perut tidak bisa diajak kompromi.


Apa gue salah masuin bubuknya? atau gue salah masuin yang lain? tapi perasaan gue baik-baik aja deh,hmm emangnya apa yang buat dia sakit perut setelah minum lattenya? apa dia ngada-ngada aja? tapi nggak mungkin sih,liat dia dengan wajah serius tadi,gue jadi penasaran apa iya latte yang gue buat itu ada yang kadaluarsa? gumamnya berkutat pada pikirannya.


Disaat Bita sibuk dengan pikirannya, tiba-tiba ada tangan laknat yang menjitak kepalanya dari belakang.


"woi,Lo nggak usah kegenitan deh jadi cewek. Cari yang lain,jangan ganggu pangeran kami."


"apa sih?! nggak jelas banget. Kalau Lo mau tuh cowok ambillah,gue juga nggak ada hubungan apa tuh sama orang pembawa sial." ketusnya kesal menahan emosinya.


"jangan pernah nyebutin Alze pembawa sial,harusnya Lo yang ngaca! Lo pembawa sial disini,udahlah miskin,sebatang kara,nggak tau diri lagi. Auh ah,yuk cabut guys!!" serunya mencerca Bita,mereka pun berjalan keluar kelas meninggalkan Bita yang masih berdiam diri menatap tajam kearah mereka.


"brengsek, dasar cupu, kekanakan! hanya bisa mencaci orang sialan!" umpatnya kesal. Haruskah dia diam mendengar cacian yang terus menggerogotinya? hidup sebatang kara apa menurut mereka itu kemauannya?


Bita menyeka air matanya kasar,menyambar tasnya lalu berjalan keluar dengan tergesa-gesa. Tetapi,berkat cacian para kaum wanita laknat itu,setidaknya ia tahu nama pria pembawa sialnya.


"Alze,gue tandain Lo,gue benci Lo!" geramnya mengepalkan tangannya. Hatinya yang tadi nurani ingin bertanggu jawab tentang asuransi yang dibilang pria itu, tiba-tiba menguap lantaran cacian para fans gilanya itu.