
Alze memandang diam istrinya tengah masak sarapan untuk mereka. Ia hanya memperhatikan gadis itu dari jauh tanpa berniat mendekatinya. Untuk yang semalam,ia masih ingat dengan jelas apa yang diucapkan Bita. Gadis itu masih belum menyukainya karena masih menyukai orang lain.
Ck,siapa sih pria bodoh itu? perlu gue samperin biar hilang aja dari muka bumi nih. gerutunya kesal.
"Alhambra!!" ucap gadis itu membuatnya mendongak kearah Bita.
"ish,baru nyaut,dari tadi gue manggil Lo nggak nyaut-nyaut. Lo lagi mikir apa sih sampai melamun kayak gitu?" oceh gadis itu sambil menghidangkan makanan diatas meja.
"Lo napa manggil gue?" tanya Alze balik tanpa berniat menjawab pertanyaan Bita.
"nih,gue udah buatin nasi goreng. Telurnya nyusul." seru gadis itu sambil menuangkan air putih kedalam gelas.
Alze tersenyum samar,ia pun mengambil tempatnya. Bita duduk dihadapan Alze. "Al,gue izin yaa nanti pulang telat."
Alze menghentikan kegiatan makannya lalu mendongak menatap istrinya. "kenapa pulang telat?"
"gue ada kegiatan lain." ucap Bita pelan. Ia tidak bisa memberitahu pada Alze tujuannya hari ini bersama Anggi. Yap,anak sialan itu ingin menunjukkan sesuatu yang penting padanya,tetapi dengan syarat Alze tidak boleh tahu.
Alze semakin menyipitkan matanya,masih mencari gelagat curiga yang timbul dari wajah Bita. "jelaskan secara spesifik Lo pergi kemana? dengan siapa? apa tujuan Lo pulang telat?"
Bita menggerutu pelan, "yaaah,masa gitu sih. Ini namanya mengekang Al,ayolah please!!" mohon Bita menunjukkan puppy eyesnya.
Alze tetap juga kukuh dengan pendapatnya membuat Bita menghela napas kasar meninggalkan suaminya sendirian disana. Gadis itu melangkah masuk sambil mendobrak pintu kuat.
Alze mengusap wajahnya kasar,ia mengumpat kesal dalam hatinya. Ia pun cepat-cepat memakan sarapannya dan pergi keluar tanpa menghiraukan Bita yang sedang marah saat ini.
Bita melirik kearah jendela,melihat kepergian suaminya melesat laju tanpa menoleh kearahnya. Air mata Bita menetes begitu saja,dengan cepat ia menyeka.
"sejak kapan gue selemah ini? sialan Lo Al!" umpatnya kesal menyambar tasnya dan melenggang keluar tanpa memperdulikan makanan yang sudah ia buat tadi dibiarkan begitu saja.
***
Anggi mengetuk keningnya pelan sambil menyeruput soda miliknya. Menatap jengah orang-orang sebayanya mondar-mandir didepannya. "bosan."
"ya udah pacaran yok,biar nggak bosan!" seru seseorang dari belakang membuat Anggi menyerngit aneh menatapnya. "Lo udah gila ya?" ketusnya malah disambut cengiran oleh pria itu.
"nggak kok." sahutnya,tanpa permisi ia duduk dihadapan Anggi. Anggi memutar bola matanya malas,kenapa ia baru menyadari jika pria ini adalah adik dari Alze.
"mau ngapain Lo? nggak ad—pfft buahahaha." Anggi tiba-tiba tergelak membuat Sam kebingungan dengan gadis didepannya ini.
"apa yang Lo tertawakan?"
Anggi mengusap sudut matanya yang berair,berusaha mengatur napas agar berhenti tertawa melihat kearah pria itu. "anjiir kenapa bonyok gitu muka Lo,Lo abis digebukin warga yaa??" ledeknya puas.
Sam mengumpat kesal,padahal luka diwajahnya sudah lebih baik dari sebelumnya, sepertinya ia menyesal membuat rencana konyol itu pada sang kakak. Kakaknya bukannya berantam pura-pura malah benaran dihajar. Apalagi saat ia masuk kedalam rumah kemarin, ekspresi Alze susah ditebak dan mukanya tampak kesal dan hasilnya Sam menjadi sasaran empuk pria itu. Padahal tujuannya tulus menyadarkan sang kakak tentang perasaannya,namun ia salah waktu sehingga ia juga ikut tersulut emosi.
"diamlah,ini namanya lelaki! kalau nggak berantam nggak jagoan." seru Sam tetapi tetap diacuhkan Anggi.
Kenapa gadis ini spesies berbeda dari yang lain huh?! selalu buat naik darah aja!
"Lo kalau ghibain gue ngomong langsung,nggak usah dalam hati!" sindir Anggi membuat Sam terkejut.
"eh,Lo bisa baca pikiran gue?!"
"sialan,padahal gue cuma nebak aja. Ternyata Lo emang ngomongin gue yaa,kurang ajar banget!" gerutunya,lalu ia memasukkan ponselnya kedalam tas dan beranjak dari tempatnya. "mending Lo cari gadis lugu,biar banyak jejeran mantan Lo." ucap gadis itu sebelum berlalu.
Sam mengumpat kesal dalam hati. Kemarin ia diceramahi habis-habisan oleh kakak iparnya itu,nah sekarang gadis berambut gelombang sialan itu. Sam tersenyum miring,ia bertekad akan membuat gadis itu bertekuk lutut padanya.
"kita liat saja nanti,gue jamin Lo bakalan bertekuk lutut pada gu— eh cantik mau duduk sini yaa??" seru Sam yang awalnya dongkol langsung menguap begitu saja melihat ada gadis cantik yang kebingungan mencari tempat duduk.
Sedangkan Anggi, celingak-celinguk mencari keberadaan Bita. Ia terkekeh pelan mengingat bagaimana kejadian saat itu malah menyeret Bita menjadi pengantin mendadak. Sungguh,ia tidak berniat mengorbankan Bita,namun setelah mendengar alasan Alze sebelum itu membuatnya langsung mendukung pria itu berhasil menikah dengan Bita.
"kemana sih dia? kok nggak ada muncul-muncul tuh anak?" gerutunya pelan,ia pun berniat menuju perpustakaan,barang kali ada gadis itu disana. Ia berjalan masuk kedalam perpustakaan,namun tidak menemukan gadis itu juga.
"huft,kemana dia?" tanya Anggi bingung. Baru ia melangkah keluar dari perpustakaan,matanya menyipit melihat orang yang cari kini sedang menatap seseorang dengan tatapan yang susah diartikan. Ia melangkah secara perlahan mendekati Bita.
Bita menatap Brian,orang yang ia sukai diam-diam kini berada dihalaman kampusnya. Entah ia harus senang atau tidak,ia pun tidak tau. Mungkin,Brian tidak mengetahui jika Bita sangat menyukainya,karena gadis itu jatuh cinta padanya secara diam-diam. Hanya melirik tanpa berniat mendekati, tersenyum dari jauh tanpa orang yang ia sukai itu tahu. Begitulah Bita selama bertahun-tahun menyukainya.
Jantung Bita seolah-olah mendadak berhenti melihat pria yang ia kagumi itu berjalan kearahnya. Brian dengan senyum hangat menyapa orang disekitarnya sambil berjalan kearah perpustakaan,mencari sosok kekasih barunya yang katanya kuliah disini.
Matanya menyipit heran melihat gadis cantik terdiam menatapnya. Tetapi,rasa penasarannya membuat ia menghampiri gadis itu. "hai!" sapanya saat berada didepan gadis itu.
Bita terkejut,untuk pertama kalinya Brian menyapa dirinya. Dengan canggung disertai gugup ia tersenyum kikuk pada Brian. "hai juga."
"apa Lo sedang lagi nunggu orang?" tanyanya,ia tertegun saat melihat dari dekat wajah Bita sungguh mempesona.
Bita menggeleng pelan, "ng-nggak kok." Buta menggerutuki dirinya yang begitu kaku didepan Brian.
Ish,Bit kenapa Lo kayak gini sih?! santai aja dong.
Brian tersenyum tipis,entah ia lupa janji dengan kekasihnya dan terpana dengan kecantikan Bita. "btw,nama Lo siapa? kayaknya muka Lo nggak asing gue liat."
"gue Bita,kita waktu itu satu sekolah." ucap Bita semangat. Senyuman pria itu membuat Bita yang awalnya ingin melupakan cintanya sekarang malah goyah. Perasaan menyukai itu kembali bersarang dihatinya.
Brian tertegun, "oh gue Brian,salam kenal." ucapnya sambil mengulurkan tangannya pada Bita. Tanpa berpikir panjang Bita pun menyambut uluran tangan itu dan tangan mereka saling berpegangan cukup lama.
"Bita!" seru Anggi berjalan mendekati Bita,membuat mereka tersadar dan langsung melepaskan jabatan itu. "disini Lo rupanya." serunya lagi sambil merangkul Bita.
"yok Bit,tadi katanya mau kesitu kan? cepatlah gue antarin."
"hah? eh,gue duluan dulu ya." pamitnya buru-buru karena tangannya kini ditarik Anggi menuju mobilnya. Brian tersenyum samar menatap kepergian Bita,ia melirik kearah tangannya yang barusan memegang tangan Bita.
"cantik." gumamnya sambil melangkah masuk menuju perpustakaan.