
Sampai dirumah, Bita menghempaskan tubuhnya disofa. Sedangkan Anggi, gadis itu langsung melesat mencari Sam karena ada suatu urusan.
"Tidur dikamar aja sayang." ucap Alze ikut duduk disamping istrinya. Kakinya sangat pegal seharian berkeliling di Mall, ditambah lagi ia harus menggantung kopling mobil selama diperjalanan karena macet panjang sungguh melelahkan.
"Azza lo mau kemana?" tanya Alze menyerngit menatap adiknya sudah berpakaian rapi. Azza hanya tersenyum tipis sambil menyalami punggung tangan kakak-kakaknya. "Gue ada urusan sebentar untuk acara besok." serunya melenggang keluar rumah.
Bita dan Alze saling lirik pandang, lalu Alze menyusul adiknya. "Lo udah bilang sama mama?"
Azza mengangguk sambil memakai helmnya. "Udah, gue abis magrib pulang. Gue pergi dulu ya kak."
"Kenapa Lo nggak bawa mobil? Mending Lo bawa mobil." usul Alze, ia merasa tidak yakin jika membiarkan Azza membawa motor terlebih ini sudah petang.
"Nggak papa kak, pakai ini aja gue. Biar cepat pulang. Dah!" Azza langsung menancapkan gas meninggalkan perkarangan rumah. Alze hanya menghela napas panjang dan berharap adiknya akan baik-baik saja diluar sana.
***
Azza memakirkan motornya disebuah cafe, tempat perjanjiannya dengan Algha. Pria itu membuat ia frustasi sendiri, bahkan pria itu belum menampakkan batang hidungnya sekarang. Azza langsung mengambil tempat didekat pojok jendela agar bisa melihat pemandangan jalan disore hari menjelang malam.
"Akhirnya datang juga!" serunya duduk dihadapan Azza. Azza dibuat tidak berkedip dengan penampilannya saat ini, gadis itu langsung tersadar dan memalingkan mukanya.
"Cepat, waktu gue nggak banyak. Lo mau bahas apa?"
"Bahas pernikahan kita." selorohnya membuat Azza menatapnya tajam.
"Baik-baik ajalah Al, gue serius!" tegasnya.
"Iyaa, kan gue serius juga nih, gue mau nikah sama lo."
"Tapi gue nggak suka nikah sama Lo!" sentaknya membuat seisi cafe terdiam menoleh kearahnya. Algha hanya menatapnya dengan tatapan yang susah diartikan, bisa dilihat rautnya sedikit menahan kecewanya.
"Lo mau kopi? Biar gue traktir." ucapnya beranjak dari tempatnya, ia pergi menuju tempat pemesanan kopi disana.
Azza mengusap wajahnya kasar, ia jadi semakin tidak mengontrol dirinya. Entahlah, raut sendu pria itu lagi-lagi kembali terlihat olehnya. Walaupun pria itu terlihat menyebalkan tetapi yang ia rasakan, pria itu banyak menyimpan luka. Mungkin salah satunya luka itu disebabkan oleh dirinya sendiri.
Azza terhanyut dalam pikirannya, sekarang ia menjadi bingung dengan perasaannya sendiri. Apakah dirinya sudah menyukai Algha? Lalu kenapa dirinya masih ragu menerima lamaran pria itu? Apa yang membuat Azza semakin ragu melangkah kedepan? Apa pria itu serius dengan ucapannya?
"Nih." ucap pria itu sambil menyodorkan kopi didepan Azza. Azza mendongak lalu mengambil kopi tersebut.
"Makasih." lirihnya langsung dianggukan Algha. Mereka sama-sama diam karena sibuk dengan pikiran masing-masing.
Azza kembali lega saat Algha tidak lagi membahas pernikahan yang membuatnya tidak bisa berkosentrasi. Azza mendengar seksama pria itu menjelaskan detail untuk acara besok. Satu hal kelebihan dari Algha yang ia kagumi adalah cara penyampaiannya yang begitu jelas dan keren.
"Lo paham kan?" tanya Algha memastikan, karena daritadi ia melihat gadis itu terlihat melamun menatapnya. Ia jadi penasaran apa yang sedang dipikirkan gadis itu? Kenapa Azza tidak menyukainya?
Azza tersadar, lalu mengangguk pelan. "Berarti dekorasinya seadanya aja kan? Subuh-subuh kita persiapkan semuanya?" tanyanya lagi.
Algha mengangguk, "Iyaa, kepala sekolah tadi mendadak banget bilangnya. Jadinya kita yang kacau balau." keluhnya sambil meneguk kopi miliknya.
"Al, besok kita kerjakan semuanya, minta anggota lain untuk datang lebih cepat besok. Gue harus cepat-cepat pulang sekarang." ucap gadis itu buru-buru mengambil tasnya, lalu melenggang sambil melambaikan tangan pada Algha.
Algha hanya tersenyum samar, lalu matanya melirik kearah sebuah kartu yang ada dibawa kursi. Dengan segera ia mengambilnya dan terkekeh pelan melihat kartu pengenal itu milik Azza.
"Lucu." gemasnya memandang foto Azza dalam kartu itu, dan ia memasukkan kartu itu kedalam dompetnya.
***
Azza mengamati ruangan yang akan digunakan untuk acara nanti. Ia dengan anggota OSIS yang lain menyiapkan semuanya. "Hmm apa lagi yaa yang harus ditambah? Kursi udah lengkap semua kan untuk yang kita-kita?" tanyanya pada salah satu anggotanya.
"Kayaknya masih kurang deh, ada dua lagi."
"Oh ya udah, biar gue ambil. Kalian bereskan sampah-sampah yang dekat sini yaa." ucapnya melenggang mencari kursi dikelas. Azza berdecak pelan, melihat tidak ada satupun kursi dikelasnya karena sudah dikeluarkan semua, begitu juga dengan kelas lain. Ia terus berkeliling mencari kursi, namun saat hendak memasuki kelas diujung sana. Ia melihat bayangan orang di dekat tangga rooftop sekolahnya.
"Perasaan baru jam setengah tujuhlah, kok udah ada orang?" gumamnya pelan sambil melirik jam tangannya. Ia melangkah perlahan mendekati bayangan itu. "Tunggu, kok..." Azza semakin penasaran dengan orang yang terlihat dibayangan akibat terpantul sinar matahari. Ia berjalan menaiki satu persatu anak tangga tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.
Matanya membulat sempurna melihat orang yang tengah berdiri di balkon membelakanginya. Dan lebih mengejutkannya lagi, jika pria yang tengah berdiri itu adalah Algha.
Perasaan Azza terguncang, apa jangan-jangan pria itu memilih mengakhiri hidup karena ditolak olehnya? Azza menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak mungkin kan Algha berpikir pendek. Pria itu jenius, tidak mungkin melakukan hal itu. Ia yakin, pria itu hanya menikmati udara segar pagi hari. Azza berbalik, namun ia ragu meninggalkan pria itu disitu, bisa jadi memang benar pria itu loncat dari sana dan Azza akan menyesal telah meninggalkannya begitu saja.
"Ngapain lo diam disana Azza?" tanya Algha masih membelakanginya. Azza terkejut lalu berjalan perlahan mendekati Algha. "Lo ngapain tegak disana huh?!" teriaknya, namun hanya dijawab cengiran oleh pria itu.
"Gue kalau loncat dari sini, mati nggak ya?" tanyanya abstrud.
Deg.
"Lo jangan gila ya!" sarkas Azza tidak suka dengan omongan Algha.
"Kan gue nanya doang, kenapa Lo yang ngegas sih?" tanyanya terkekeh pelan.
"Lebih baik Lo turun dari sana Al, ngapain juga Lo buat atraksi disana huh? Nggak lucu." ketusnya.
"Ngapain juga gue buat atraksi disini, kan gue mau berdiri aja." jawabnya.
"Turun Al dari situ!" teriak Azza menatap tajam kearah pria itu. Namun, Algha tetap tidak mendengarkan gadis itu.
"Lo siapanya gue? Kita kan nggak ada hubungan apa-apa. Jadi terserah gue dong, gue mau loncat dari sini kek atau gue mau duduk-duduk si—"
Algha terkejut, gadis itu memeluk kakinya erat. Dapat ia rasakan jika gadis ini menggigil memeluknya.
"Gue mohon turun..." lirihnya membuat Algha langsung memegang bahu gadis itu. Ia memegang kedua tangan gadis itu dan turun dari sana, ia tertegun melihat Azza serapuh ini. Apa candaannya keterlaluan ya? Dirinya pun juga tidak berniat mati, ia hanya menenangkan pikirannya saja tadi. Tidak disangka jika Azza datang kesini dan memeluknya sambil menatapnya sendu. Ini bukan Azza yang seperti ia kenal selama ini.
"Kenapa lo ka—"
"Jangan bercanda kayak gitu!!! Gue nggak suka!" bentaknya kesal sambil menangis. Ia memukul dada bidang pria itu berkali-kali, "Gu-gue masih takut memulai hubungan dengan pria manapun karena kejadian yang pernah gue alami dulu. Gue masih takut Al, tolong jangan paksa gue membuat keputusan. Gue emang ada rasa sama lo, tapi gue nggak yakin hubungan ini bertahan lama. Tolong hargai keputusan gue Al..." lirihnya menangkup wajahnya sambil menangis meluapkan semua yang sesak dalam hatinya.