
Bita merenggangkan ototnya setelah banyak mencuci piring didapur itu. Ia mengumpat pelan,tidak menemukan suaminya berada disana bersamanya.
"cih, menyusahkan saja!"
"siapa yang Lo maksud?" tanya Alze dari belakang Bita,membuat gadis itu terkejut dan langsung berbalik kearahnya.
"nah,baru nongol Lo! kemana aja tadi?"
"duduk." jawabnya santai sambil menunjuk kearah kursi yang berada dipojok ruangan sana. Memang benar ia duduk disana,duduk sambil memperhatikan istrinya yang sibuk kerja rodi tanpa berniat membantu gadis itu.
"kampret! Lo duduk doang?! serius?? wah nih anak mau gue hajar enak kayaknya nih!" geram Buta mengepal tangannya kedepan wajah Alze. Emosinya seketika meningkat tajam mendengar jawaban dari suami sialannya itu.
Alze terkekeh pelan,ia begitu gemas melihat raut kesal istrinya. Entah sejak kapan,melihat wajah kesal istrinya itu serasa hal yang menyenangkan untuknya.
"nah,buat Lo!" seru Alze sambil menempelkan minuman kaleng dingin ke pipi Bita. "biar nggak mendidih tuh emosi,mending Lo minum dulu." sahutnya lalu meninggalkan Bita sendirian di dapur.
Bita yang masih kesal dengan suaminya itu,terus mengumpat panjang lebar kali keliling,apapun itulah disebutnya semua satu persatu dari mulut cantiknya. Ia berjalan mendekati pelayan tadi,dan meminta maaf karena tidak bisa membayar tagihan mereka.
"hmm maaf mbak,semua piring sudah saya cuci." ucao Bita sopan,Pelayan tadi tersentak lalu buru-buru mengambil kursi untuk Bita. "maafkan saya nona!" serunya panik lalu menarik Bita untuk duduk dikursi itu .
"yang lain,tolong buatkan minuman untuk nona sekarang!" ucap pelayan tadi meminta bantuan pada temannya. Bita dibuat bingung,ia ingin berbicara namun terkejut saat pelayan itu menyentuh kakinya.
"eh mbak,apa yang mbak lakukan?" tanyanya sambil menarik pelayan itu untuk berdiri. Rasanya tidak sopan diperlakukan seperti itu.
"nona,anda duduk aja. Kami akan melayani anda sebisa kami." ucapnya tunduk.
"tunggu...tunggu,sepertinya kalian salah orang." seru Bita namun pelayan itu menggeleng cepat.
"nona Bita,anda tenang aja. Kami akan pastikan nona nyaman."
Mata Bita membulat sempurna,bagaimana pelayan ini tau namanya?
"darimana mbak tau namaku?"
"itu...ah nanti saya akan jawab nona. Yang penting,kita rendam kaki nona dulu. Kasian kaki nona udah merah-merah gini." ucap Pelayan tadi berlari kedapur. Bita menggaruk tengkuknya tidak gatal,bingung dengan situasi dihadapannya itu.
"aduh,kenapa lagi sekarang??" gerutu Bita pelan.
Usai dengan tingkah abstrud pelayan direstoran itu,kini ia berdiri didepan Alze. Pria itu baru saja membuang puntung rokoknya. "gimana? udah lebih baik nggak?" tanyanya menatap Bita.
"Lo merokok lagi? nggak kapok-kapoknya ya." bukannya menjawab pertanyaan Alze,gadis itu menyerocos kesal menatap kearah suaminya.
"mana bungkus rokok Lo yang lain? bawa sini." seru Bita sambil mengadakan tangannya dihadapan Alze.
"untuk apa? Lo mau ngerokok juga?"
"iyaa." jawabnya ketus,namun ditatap tajam oleh Alze. "nggak,cewek nggak boleh merokok."
"ck,gue nggak peduli,bawa sini rokok Lo sekarang!"
"apa sih? terserah gue!" cerca Alze. Bita langsung mengambil rokok disaku jaket Alze lalu menginjak-injak bungkus rokok itu dengan sekuat tenaganya.
Alze berdecak pelan,tetapi ia menangkap ada raut yang aneh dari Bita. Ia pun langsung mencengkram bahu gadis itu. "Lo kenapa?" tanya Alze menatap mata coklat yang mulai berair.
Tangis Bita pecah,tanpa permisi ia memeluk erat suaminya itu membuat pria itu kebingungan dengan tingkahnya.
Bita menggeleng pelan,kalau itu ia sudah tau dari pelayan didalam restoran itu jika Alze adalah pemilik restorannya,tentu ia sangat marah merasa dikerjai oleh suaminya itu. Namun,karena hal yang lain,diseberang tempat mereka berdiri ada seseorang yang membuatnya sakit hati. Tidak pernah terlintas dipikirannya orang itu melakukan ciuman mesra itu didepannya.
Bita terdiam,hatinya berdenyut nyeri melihat orang yang ia sukai diam-diam kini tengah bermesraan dengan wanita lain. Jadi ini resiko mencintai orang diam-diam tetapi orang itu tidak tau perasaaannya. Pria itu tidak salah hanya Bita saja yang enggan mengungkapkan perasaannya lebih cepat,karena dirinya masih belum yakin akan diterima.
Bita hanya manusia biasa,yang pernah menyukai seorang pria. Tetapi,tidak berani mengungkapkan perasaannya. Apakah dirinya harus menghapus nama pria itu dari hatinya? apakah dia sanggup melupakan orang yang ia sukai diam-diam selama lima tahun ini?
Alze hanya membiarkan gadis itu menangis didalam pelukannya, matanya melirik kearah kaca yang menampakkan bayangan orang diseberang sana bermesraan didepan umum. "ck,nggak tau adab banget." gumamnya pelan.
"siapa? gue? iyaaa gue nggak ada adab nangis dalam pelukan Lo!!" lirih Bita masih sesunggukan.
"nih,lihat ingus gue aja nempel dibaju Lo."
"ish! Lo jorok banget Bit!" kesal Alze tetapi ia tetap mengelus punggung gadis itu, "Lo nangis karna apa sih?"
***
"makasih Al," ucap Bita sambil menikmati eskrim yang mereka beli dipinggir jalan. Suasana hati gadis itu sekarang terlihat lebih baik daripada tadi. Entah karena apa gadis itu menangis,ia pun tidak tau.
Daripada mendengar isakan gadis itu terus,mending ia membelikan sesuatu yang membuat perasaan gadis itu lebih baik. "udah lebih baik perasaan Lo sekarang?"
Bita mengangguk pelan,lalu menoleh kearah Alze. "Lo mau?" tawarnya sambil menyodorkan eskrim ditangannya. Alze tidak menjawab,melainkan langsung memakan eskrim milik gadis itu.
"enak." ucapnya sambil mengusap bibirnya pelan. Sedangkan Bita dibuat cengo oleh pria itu,tindakan pria itu selalu membuatnya tidak konsentrasi dengan benar.
"kenapa Lo nggak bilang kalau restoran itu punya Lo?!" cerca Bita mengalihkan topik agar pikirannya tetap tidak memikirkan tidak-tidak.
"Lo nggak nanya." jawab Alze santai sambil menyibak rambut tebalnya.
"ish,gue mana ada kepikiran kesana woi,tapi tunggu!!" seru Bita menyadari sesuatu.
"sialan,kenapa gue baru nyadar maksud pelayan tadi. Ish,Lo ngerjain gue ya?!" kesalnya memukul bahu suaminya itu.
"woi sakit!"
"biarin,gue nggak peduli."
"Lo iyaa enak nggak peduli,tapi ini kan badan gue bego!" gerutu Alze lalu beranjak dari tempatnya berjalan menjauh dari Bita. Bita terkekeh pelan melihat suaminya gemas,ia pun menoleh kearah kucing berwarna oren terlihat tertatih-tatih.
"owh,kasian sekali." lirih Bita menggedong kucing oren itu,ia gemas dengan bulu lebatnya. "ya ampun,kaki Lo luka yaa? Lo tinggal dimana?" tanyanya menatap kucing itu. Tidak melihat ada gelang pemilik yang melingkar dileher kucing itu,ia pun memutuskan untuk membawa pulang kucing imut itu.
"Bita,ngapain Lo bawa kucing tuh?" tanya Alze yang duduk diatas motornya. Bita tersenyum tipis, "Al,kita bawa pulang yok,kasian sekali dia."
"nggak boleh." tolak Alze.
"boleh lah Al? please..." bujuk Bita sambil menatap Alze dengan puppy eyesnya. Alze menghela napas pelan, "ck,terserah Lo aja."
"yey,makasih sayang!!" ucap Bita spontan membuat Alze terdiam. Sepertinya gadis itu tidak sadar dengan ucapannya tadi,yang membuat jantung Alze berdetak lebih cepat dari normalnya.
Deg.
Damn! gue suka dia?