I'M Your Wife

I'M Your Wife
Hadiah Fisik dan Batin



Bita terbangun saat merasakan tangan seseorang menyentuh kepalanya, ia mengerjap pelan melihat Alze ada disampingnya. "hm kapan kamu pulang?" tanya Bita perlahan-lahan duduk sambil bersandar di sandaran kasur. Ia heran menatap wajah kusut suaminya, "ada apa?"


Alze tersentak lalu menggeleng pelan, "nggak ada,gue lagi capek." jawabnya pelan. Dahi Bita mengerut,sejak kapan Alze mengubah cara bicaranya apalagi dengan dirinya,pasti ada yang tidak beres dengan pria itu.


"jujur Al,ada apa?" tanya Bita lagi, Alze menggeleng pelan. "nanti setelah tenang aku cerita yaa,kamu istirahat aja dulu." ucapnya sambil mengecup kening istrinya dan pergi keluar kamar.


Bita hanya diam menatap punggung suaminya yang sudah hilang dari pandangannya. Bahkan,ia masih penasaran dengan suaminya. "semoga bukan berita yang buruk."


***


Alze menyesap batang rokok untuk menenangkan pikirannya. Ia kira masalah ini akan selesai,namun nyatanya tidak. Sudah sepuluh bulan ia menikah dengan Bita,namun tidak membuat mamanya menerima istrinya itu.


"mama nggak lagi bercanda kan?" gumamnya tak habis pikir,ia berharap mamanya berubah pikiran tentang hal itu.


"Lo lagi mikir apa?" tanya Sam berjalan kearah kakaknya. Tidak biasanya pria itu merokok disiang bolong seperti ini,terlebih di rumah.


Alze tidak menjawab,moodnya sedang tidak saat ini,ia mengibas tangannya pada Sam agar membiarkan dirinya sendiri dulu.


"pasti yang dibilang mama kan?" tebak Sam membuat Alze mendongak kearahnya.


"santai ajalah,nggak usah dipikirkan kali. Lo bisa bawa Bita keluar dari sini,kalau memang mama maksa kalian cerai." ucap Sam membuang rokok kedalam tong sampah.


"kenapa Lo buang?"


"nggak baik buat kesehatan." ucapnya lalu mengeluarkan Vape dari sakunya. Alse berdecak kesal menatap adiknya. "nggak ada bedanya dengan Vape bodoh!"


"hahaha,beda dong. Yang ini lebih ringan dibandingkan tembakau kak,nah gimana sekarang?"


"apanya?"


"yang gue bilang tadi,gue juga kaget pas mama bilang kayak gitu. Gue yakin ada yang hasut mama." ucapnya pelan. Ia juga tidak suka dengan keputusan mamanya yang tiba-tiba berubah, padahal semuanya menerima Bita sebagai keluarga mereka.


"entahlah,gue nggak tau lagi." ucapnya frustrasi,bagaimana pun juga ia tidak ingin menyakiti mamanya dan juga meninggalkan Bita.


Sam bersandar dipinggir balkon,menikmati udara yang menerpa wajahnya. "apa karna gue,mama kayak gitu?"


"maksud Lo?"


"huh,itu karna Maisya waktu itu." gumamnya pelan.


"bukan,kalau masalah itu,mama nggak mungkin nyuruh gue menikah cepat. Gue kan dikira belok waktu tuh."


"hehehehe iya juga yaa,Lo nggak pernah dekat dengan cewek,sekali dapat langsung nikah. Manalagi baik orangnya,gue dukung Lo pertahanan Bita kak,jangan sampai Lo lepas dia. Ingat,kesempatan hanya sekali dan tidak akan ada kesempatan kedua." titahnya bijak.


"gue bakalan tetap mempertahankan Bita,bagaimana pun caranya. Tetapi,tidak menyakiti mama." gumamnya berkutat dengan pikirannya,mencari cara untuk keluar dari masalah yang tumbuh mendadak itu.


***


Makan malam yang harusnya diisi dengan ceria,kini mendadak tegang dan kaku sambil menyantap makanan masing-masing. Semua ini karena Haura yang tiba-tiba membicarakan sesuatu yang harusnya tidak dibahas saat ini.


"mama mau ngomong sesuatu." ucap Haura membuat Alze menatap kearah Haura. Napasnya tercekat menunggu apa yang akan dikatakan Haura selanjutnya. Beruntung Bita tidak ikut makan malam karena merasa perutnya sedang kram.


Baik Sam dan Azza yang sudah tau apa yang akan dibicarakan Haura,hanya diam menatapnya. Mereka membiarkan Alze yang berbicara terlebih dahulu,baru mereka.


"ada apa? kenapa terlihat serius?" tanya Deon menatap istrinya dan juga anak-anaknya. Sejak ia pulang dari kantornya,ia dapat merasakan hawa-hawa dingin yang muncul dari mereka.


"mama ingin Al—"


"maa,aku mohon tolong jangan minta hal yang sulit." lirihnya. Deon semakin bingung,lalu melirik kearah Alze, "ada apa? permintaan apa yang sulit?"


"mama mau Alze dan Bita pisah!" ucap Haura tegas membuat semuanya tersentak menoleh kearah Haura. Deon menyerngit bingung, "kenapa? apa kamu tau menantu kita sedang hamil?"


"iyaa,siap melahirkan,Alze dan Bita pisah.".


Braaak.


"mama!"


"papa,mama jangan buat kak Al dalam situasi yang sulit." ucap Sam membuka suara.


"kamu tidak perlu ikut campur,biarkan mama sama Alze yang menyelesaikan masalah ini!" ucap Haura tegas. Sam hanya menghela napas kasar lalu duduk kembali ditempatnya, ia mengepal tangannya kuat menahan amarah yang mulai bergejolak.


Alze menghela napas kasar,ia mengusap wajahnya pelan mencoba untuk tidak marah dengan mamanya. "mama,tolong pikirkan baik-baik lagi."


"iya maa,kami sangat sayang sama kak Bita. Jangan buat kak Al pisah dengan kak Bita." lirih Azza sambil menahan tangisannya.


Haura menghela napas,kenapa anak-anaknya yang lain pada ikutan membela kakak mereka?


"maa kalau Bita tetap berpisah dengan kak Al, mending kakak keluar aja dari rumah!" seru Sam mengompori,membuat situasi semakin memanas.


Haura menatap tajam kearah Sam,anak yang satu itu malah memberikan ide konyol yang mungkin diterima Alze nanti. Bisa jadi,anaknya itu bakalan mengikuti saran Sam.


"nggak usah dengarin Sam,kamu harus dengarin mama!"


"maa,bukannya aku sudah menjadi anak baik selama ini?! kenapa mama tidak membiarkan aku hidup dengan tenang?"


"Alze!!" sentak Deon,pria itu hendak menampar Alze jika saja Haura tidak menahan lengannya.


"udah cukup!!" Azza menutup telinganya sambil menangis,ia tidak ingin mendengar keributan lagi. Azza langsung berlari kearah kamarnya tanpa menghiraukan panggilan Deon yang terus memanggil namanya.


"Azza,sini kamu! kalau kamu tetap ke kamar,jangan harap kamu bisa sekolah!" ancam Haura membuat langkah Azza terhenti. Ia berbalik badan menatap nanar orang yang selama ini ia sayangi.


"maaf maa." lirihnya tetap masuk kedalam kamarnya. Haura hanya menatap sendu kearah pintu kamar putrinya lalu menatap kearah Alze.


"pokoknya apapun itu,keputusan mama tetap bulat Al. Jangan membantah!" ucap Haura meninggalkan mereka bertiga. Deon menghela napas menyusul istrinya,ia menatap tajam kearah anaknya sebelum pergi.


Alze memukul kuat dinding untuk melampiaskan emosinya. Matanya memerah menahan nangis,ia pun terduduk dilantai sambil menangkupkan wajahnya.


Suara langkah kaki mendekati kearah Alze,Alze sangat mengeenal wangi dari orang itu, ia langsung mendongak cepat dan terkejut melihat Bita tersenyum menatapnya.


"happy birthday sayang!" lirihnya sambil memegang kue capuccino kesukaan suaminya. Ia terkekeh pelan melihat wajah sembab Alze.


Alze menyergit bingung,apalagi semua keluarganya datang menghampirinya dengan senyuman merekah. "cieee kenak prank!!"


"foto dulu dong!" seru Sam memotret wajah Alze yang terlihat menyedihkan itu,sedangkan Alze masih bingung dengan semua ini menoleh kearah Haura.


"apa maksudnya maa?"


"hahahaha,maaf sayang. Ini semua ide istri kamu, sebenarnya mama nggak tega ngerjain kamu kayak gini. Tapi,Bita ingin melihat ekspresi kamu."


"nggak lucu sayang." rengeknya kesal, bagaimanapun juga jantungnya hampir copot memikirkan masalah ini.


"kalau nggak prank,nggak seru dong. Aku juga sekalian ngetes kamu,kalau kamu dikasih pilihan kayak gitu,kamu bakalan milih siapa. Tapi,kamu tetap ingin mempertahankan keduanya,aku bangga."


"mama juga bangga sama kamu nak."


"jadi,kalian semua udah sekongkol dari awal?" tanyanya menyelidik,mereka hanya cengegesan menatap Alze.


"mau gimana lagi,ini semua permintaan kakak ipar kesayangan kita. Kami hanya ngikutin arahannya aja." seru Azza,tidak sia-sia ia harus mengeluarkan air matanya untuk mengeprank kakaknya.


Alze bersyukur,semua itu tidak lah benar. Tidak menyangka semuanya hanya bualan belaka, mereka langsung merayakan ulang tahun Alze dan berfoto-foto sampai memori penuh.


Malamnya,Bita senyam-senyum sibuk menatap foto-foto tadi. Banyak ekspresi yang unik dan lucu ia ambil tadi. Sampai ia terkejut melihat tangan yang melingkar pinggangnya sambil mengelus perut Bita.


"udah puas ngerjain aku huh?" gerutu Alze pelan. Alze menarik tangan Bita menuju kasur.


"Aku mau hadiah!" ucapnya mengadakan tangannya kearah Bita.


"lah,bukannya tadi udah? kan aku kasih kamu jam tangan." jawab Bita heran.


"iyaa itu hadiah fisik,aku mau hadiah batin juga!" serunya tanpa basa-basi mengukung Bita seperti biasanya.


"dasar." gerutu Bita cemberut karena tahu permintaan Alze yang satu ini tidak bisa diganggu gugat.