I'M Your Wife

I'M Your Wife
Alze Marah



Bita dibuat pusing oleh adik iparnya yang daritadi mondar-mandir didepan aneka kosmetik tersebut tetapi tidak kunjung memilih. "Za,Lo mau beli apa emangnya? fondation? make up? sabun cuci muka? atau masker?"


Azza menggeleng pelan,terus berkeliling setiap rak. Lalu ia menarik tangan Bita mendekat kearahnya. "kak,Lo biasanya pakai apa untuk ngilangin komedo?"


"pakai sabun cuci muka doang." jawabnya sambil melirik masker yang terpajang disana.


"Bita?" sapa seseorang membuat tangannya yang hendak mengambil masker terhenti, lalu menoleh kearah orang itu. "eh,Lo...Mezza yaa?" ucap Bita mengingat-ingat nama gadis didepannya ini.


Mezza tersenyum lebar, "untung Lo ingat gue,Lo sama siapa kesini? sendiri?"


"nggak gue sama—" Bita menyerngit,tidak menemukan keberadaan Azza disekitarnya.


Mezza merangkul bahu Bita, "yok, mumpung kita ketemu disini,gue mau nunjukin kosmetik yang bagus buat kulit Lo." serunya langsung membawa Bita menuju rak sebelahnya.


Sedangkan Azza yang dari tadi diam ditempat,sambil memperhatikan jauh kakak iparnya bersama wanita itu,hanya menghendus pelan. "gue harus jagain kak Bita dari wanita licik sialan itu." gumamnya pelan, tetapi ia tidak ingin gegabah mendekatinya tanpa rencana. Ia ingin melihat kemana wanita itu membawa kakak iparnya pergi.


Setelah membeli barang-barang pilihan Mezza,mereka berdua keluar dari tempat kosmetik menuju tempat baju-baju. Bita sambil melotot melihat harganya yang cukup fantastis,padahal baju itu terlihat pendek dan terawang.


"Lo kayaknya cocok deh pakai yang ini." seru Mezza mengambil baju itu dan mengarah Bita.


Bita sedikit risih, "gue kurang suka Za,terlalu tipis."


"ya ampun Bit,jangan jadi pemalu dong. Kita sebagai cewek harus berani nunjukin aura kita. Ayolah,Lo cantik pakai baju nih."


"terimakasih,tapi gue tetap nggak bisa makai Za." tolaknya halus,ia sebenarnya sangat marah mendengar Mezza terus-menerus memaksanya memakai baju itu.


"ih,Lo nggak asik banget. Atau gini aja,gue yang beli bajunya untuk Lo."


"terimakasih,gue bisa beli sendiri." ucap Bita dingin,lalu ia melirik jam tangannya. "maaf,gue harus pergi. Adik gue dah nungguin gue dari tadi." lanjutnya meninggalkan Mezza berdiri diam.


Mezza begitu kesal dan mengepal tangannya, "yakin Lo bisa beli baju nih? Lo kan kerja di cafe,mana sanggup beli yang beginian." ledeknya tersenyum miring,bahkan suaranya sengaja ia besarkan agar orang-orang disekitar mereka melirik kearah mereka.


Bita menghela napas pelan,lalu berjalan mendekati Mezza. "gue nggak nyangka,Lo itu pura-pura polos. Ingat baik-baik Mezza,jauhi gue jangan dekatin gue lagi. Kayaknya kita nggak bisa berteman dengan baik." ucap Bita menatap tajam,lalu berjalan keluar dari kerumunan yang mulai mengerumuni mereka.


"buktikan pada gue kalau Lo bisa beli!!" tantangnya membuat Bita menghentikan langkahnya dan berbalik. Tanpa berbasa-basi,ia mengambil baju tadi lalu berjalan ke kasir. Bita mengeluarkan ponselnya dan menscan belanjaannya.


"terimakasih pembayaran anda sudah masuk." ucap pelayan toko membuat Mezza ternganga. Bita mengambil baju itu dan memberikannya pada Mezza. "kayaknya Lo yang lebih cocok pakai baju beginian." serunya lalu keluar dari toko itu.


Bita menghela napas pelan,lalu menghampiri Azza yang sedang bersandar didinding sambil memainkan ponselnya. "thanks." seru Bita five high dengan Azza.


"lain kali jangan diladeni kak,untung kita gercep tadi." serunya sambil memasukkan ponselnya didalam tas.


"ntar gue ganti transfer uang Lo."


"nggak perlu,gue masih banyak kok stok dibank. Kasian nggak dipakai trus."


"sialan,anak orang kaya memang beda yaa.btw,gue mau nanya Lo kenal sama tuh cewek tadi?" ledek Bita,Azza cengegesan pelan.


"nggak kenal sih,cuma gue pernah liat dia jalan bareng bapak-bapak gitu masuk club."


"anjiir,serius?"


"gue saranin Lo jangan dekat-dekat sama dia kak,gue jamin tuh cewek ada niat iblis sama Lo kak." lanjut lagi memberikan wejangan untuk kakak iparnya agar tidak masuk perangkap dengan orang-orang seperti itu.


Ia tahu karena ia sendiri pernah mengalami hal seperti itu,dituduh lalu dijebak oleh temannya sendiri. Azza masih ingat dengan jelas kejadian itu,beruntung kedua kakaknya datang disaat waktu yang tepat dan menghajar habis-habisan pria brengsek yang hampir melecehkannya.


Alze dan Sam saat itu tidak seperti yang ia kenal,pertama kalinya ia melihat Alze semarah itu dan menghajar pria itu tanpa ampun,begitu juga dengan Sam yang ceria dan selalu mengganggunya,menatap bengis kearah pria itu dan hampir ingin membunuhnya. Beruntung,petugas keamanan langsung menghentikan mereka dan membawa pria itu masuk penjara.


"Azza!" seru Bita menepuk pelan bahu adik iparnya,Azza tersentak lalu menoleh kearah Bita. "eh ya?"


"Lo melamun?" tanya Bita khawatir. Sejak ia mengetahui cerita kelam Azza,kini ia bertekad untuk selalu ada buat Azza sebagai teman curhatnya. Walaupun tidak bisa membantu banyak,tetapi ia membantu meringankan beban pikiran gadis itu. Azza anak yang kuat,kejadian itu sama sekali tidak diketahui oleh orang tuanya. Hanya mereka bertiga yang tau kisah pilu itu ditambah Bita saat ini.


"ah,nggak kok kak. Yok kita balik!" ajak Azza menarik tangan Bita menuju tempat Alze dan Sam saat ini.


Sam asyik bervideo call dengan seorang wanita membuat Azza melihatnya geram langsung merampas ponsel kakaknya itu. "maaf ya,dia pacar gue. Jadi Lo jangan hubungin dia lagi." ketusnya langsung mematikan sepihak. "ini cewek yang Lo temuin di bioskop tadi kak?"


"ck,Lo nggak asik banget Za. Iyaa dia emang cewek tadi, rupanya dah ada laki." serunya langsung dipukul Azza.


"sialan,Lo jangan jadi pebinor juga brengsek,cari yang lain!" cercanya kesal sambil memukul lengan kakaknya biar sadar dengan kelakuannya.


"ish! Lo nih plin-plan kali,kemarin suruh gue jangan cari cewek,nah pas bini orang Lo juga komplein!!" gerutu Sam kesal.


"huft,luar biasa!! gue baru nemuin manusia brengsek kayak Lo Sam!" timpal Bita ikut geram juga dengan kelakuan adik iparnya yang satu itu.


"hehehehe,gue ingin buat sejarah yang beda dari yang lain. Jadi anak gue pasti bangga pada gue besoknya!!" serunya lagi membuat yang lain menggeleng-geleng kepala.


***


Bita dibuat bingung dengan kelakuan anak kampusnya yang tampak berbeda memandangnya. Seolah-olah mereka menatap lain kearah Bita dengan tatapan sinis. Jika selama ini mereka tidak memperdulikan keberadaan Bita,itu sudah terbiasa. Namun,hari ini ia merasa risih dipelototi setiap langkahnya.


Baru saja hendak masuk kedalam kelas,ada seseorang yang mencekal tangannya. "wanita kayak Lo nggak boleh masuk sini!!" cercanya membuat Bita bingung.


"iyaa,Lo penyakitan bisa-bisa nular!"


"sana jauh-jauh!!"


"Lo harusnya mati sih Bit! Lo positif HIV!"


Deg.


Bita menoleh kearah mereka yang kini menatap jijik,matanya membesar menatap satu persatu ekspresi sinis mereka. "ada bukti? kalian tau dari siapa?"


"alah,Lo nggak usah mengalihkan topik! kami minta Lo keluar dari kampus ini,kalau perlu mati aja!!"


"kalian pikir diri kalian siapa hah?! gue nggak ada punya penyakit yang kalian bilang!" bentak Bita,cukup dituduh terus-menerus.


Salah satu tangan mereka hendak menampar Bita,namun belum sempat mengenai pipi Bita. Mata Bita melebar saat suaminya menahan tangan gadis yang hendak menamparnya.


Alze menatap dingin sambil mencekal kuat tangan gadis didepannya tanpa perasaan.


"mau gue patahin tangan Lo?!"