I'M Your Wife

I'M Your Wife
Pemakaman Orang Tua Bita



Azza merenggangkan otot tangannya setelah selesai mengerjakan ulangannya tadi. Ia tampak puas dengan jawaban yang ia tulis tadi. "Semoga aja nilainya bagus." gumamnya pelan.


"Udah selesai?" tanya Algha tanpa menoleh kearah Azza, pria itu sibuk memainkan ponselnya. Azza menatap malas kearah Algha, ia sedikit iri dengan pria itu. Bagaimana tidak iri, satu jam sebelum waktunya habis, pria itu dengan santainya menyelesaikan jawabannya dan mengumpulkan ke meja guru.


"Hm, makasih." ucap Azza pelan, lalu ia memasukkan bukunya kedalam ransel dan berjalan keluar kelas.


"Azza!!" teriak Dita berlari kearah sahabatnya. Azza melirik kearah Dita, "ada apa?"


"Gawat, nama lo disebut-sebut sama Gita."


"Ck, apa lagi sih? Kan gue udah bilang gue sama Algha nggak ada hubungan apa-apa. Emangnya tuh orang pacarnya apa? Posesif nggak jelas!" ketus Azza berjalan kesal ke kelas Gita. Gadis itu sama aja dengan Algha yang selalu mengganggunya setiap saat. Entah apa masalah mereka dengannya, ia pun tidak tahu.


"Gita!" sentaknya menerobos masuk kedalam kelas Gita, Semuanya tampak terkejut melihat kedatangan wakil ketua OSIS sekolah mereka.


"Nah, nih orangnya!" cibir Gita menatap sinis kearah Azza. Azza berdecak kasar, lalu menggebrak meja Gita. "Apa lagi sekarang? Lo mau bilang gue apa lagi huh?!"


"Lihat guys, dia mar—"


Azza mencengkram dagu Gita kuat, kesabarannya habis. "Lo kalau mau nyari masalah sama gue, langsung ngomong sama gue. Nggak usah pakai embel-embel gosip nggak jelas!" cercanya lalu melenggang keluar kelas Gita. Semuanya tampak syok melihat sisi Azza yang belum pernah mereka lihat sebelumnya, sisi yang begitu menakutkan.


"Gi-gila, Azza marah besar woi!" heboh penghuni kelas itu. Bukan hanya mereka saja yang takut, melainkan Gita yang biasanya selalu mengusik kehidupan Azza hanya diam tidak berkutik.


"Sial, dia udah berani dengan gue!" geramnya kesal.


"Udahlah Git, itu orang udah marah kali. Lo bisa-bisa dihajar olehnya."


"Nggak usah ikut campur lo, sialan!" ketus Gita berjalan keluar, ia mencari Azza karena perbuatan gadis itu membuat dirinya dipermalukan.


***


"Wow, Za gue nggak kenak semprot juga kan?" tanya Dita hati-hati, mood gadis disebelahnya ini sangatlah buruk hari ini. Tadi saja anak-anak yang terlambat habis disemprot Azza, tak tanggung-tanggung gadis itu memberikan hukuman yang berat dan susah diajak kerja sama. Rasanya ketua OSIS seperti Algha jadi tidak berguna berkat kehadiran Azza. Algha hanya mengurus masalah sekolah yang paling berat saja, sedangkan Azza baru yang mengurus masalah ringan seperti menghukum siswa yang terlambat.


"Auh ah, gue lagi bete." jawabnya tidak ramah. Rasanya ia ingin makan eskrim untuk menenangkan hatinya yang saat ini sedang kesal, apalagi Gita yang tidak ada kapok-kapoknya mengusiknya. Dita hanya diam, ia merasa bersyukur jika dirinya tidak dimarahi juga. Lebih baik dirinya diam daripada cari masalah dengan Azza.


Azza mengumpat kasar saat melihat Algha lagi-lagi menghalangi jalannya menuju kantin. Padahal stok kesabarannya sudah habis setelah mencaci Gita. "Apa lagi?!" ketusnya menatap tajam kearah Algha.


"Yok nikah!" ajaknya membuat Dita terkejut, sedangkan Azza hanya menatap tajam kearah pria itu. "Ngigau nih orang."


Azza tidak terlalu memperdulikan ucapan Algha dengan serius, baginya urusan cinta-cintaan bukanlah dirinya saat ini. Ia harus fokus mengejar cita-citanya dulu.


Dita yang bingung harus berbuat apa, hanya diam memperhatikan keduanya. Sebenarnya satu sekolah sudah mengetahui jika Algha sangat menyukai Azza, namun mereka juga tahu kalau Azza susah ditaklukkan hatinya.


Contohnya, banyak dulu yang ingin menyatakan perasaannya pada Azza, tetapi langsung ditolak didetik itu juga tanpa berpikir panjang. Azza sangat cantik, dirinya juga termasuk primadona seperti Gita. Hanya saja Gita lebih mudah didekati dibandingkan Azza.


Azza tidak menjawab, ia berjalan meninggalkan pria itu yang hanya menatapnya sambil tersenyum seringai. "Imutnya, ini yang gue suka dari lo Za."


Algha sudah tau akhirnya akan seperti ini, gadis itu sangat sulit didekati. Tetapi, dirinya juga tidak berniat mendekati gadis itu. Ia hanya membiarkan takdir yang menuntunnya nanti, akankah mereka berdua ditakdirkan atau tidak?


***


Bita dan Alze kini berdiri dihadapan dua makam orang tua Bita. Wanita itu tersenyum sendu menatap nisan keduanya. "Assalammualaikum ibu, ayah kami mampir." ucapnya sendu. Ia tidak bisa jongkok lantaran perutnya sudah membesar, hanya Alze yang membersihkan dan mencabut rumput liar yang tumbuh dimakam mertuanya.


"Maaf yah, bu kami baru sempat kesini." ucap Alze pelan, ia dapat melihat jika Bita sedang menahan tangisannya. Istrinya itu sangat tegar seperti biasanya.


Setelah membereskan rumput-rumput yang berserakan dimakam keduanya, Bita menuangkan air diatas tanah mereka lalu menaburkan bunga diatasnya.


"Ibu, aku mau bilang. Kalau ibu sama ayah bentar lagi jadi kakek nenek hehehe..." ucapnya pelan sedikit sesunggukan. "Aku yang anak manja ini sebentar lagi jadi ibu." lirihnya.


Alze mengelus punggung Bita, seraya menguatkan istrinya. Ia paham dengan perasaan Bita, bagaimana dirinya dulu ditimpah musibah dan harus mandiri demi kehidupannya sehari-hari.


"Dua bulan lagi aku wisuda yah, bu... dan pas pula dengan kelahiran cucu kalian. Doain kami tetap sehat-sehat aja bu dan lancar saat persalinan nanti."


Tangisan Bita pecah, ia tidak sanggup menahan air matanya agar tidak jatuh. Alze membiarkan istrinya itu meluapkan isi hatinya, lalu ia melirik kearah belakang saat menyadari langkah kaki seseorang yang datang menghampirinya.


Alze meletakkan jari telunjuknya dibibirnya mengisyaratkan agar Sam tidak menganggu Bita yang saat ini sedang menangis. Sam paham membiarkan dan berdiri diam dibelakang mereka, ia pun ikut berdoa juga sama seperti kakak-kakaknya lakukan sekarang.


Suasana sendu itu buyar seketika saat mendengar nada dering ponsel Sam yang begitu nyaring. Sam tergopoh-gopoh mematikan ponselnya dan tersenyum kaku kearah Bita. "Sorry kak." sesalnya pelan.


Alze hanya menatap datar kearah Sam, sedangkan Bita tergelak pelan menatapnya. Baginya jika berada dekat Sam, pasti akan ada kejadian konyol dilakukan pria itu, contohnya eperti hari ini.


"Ya ampun Sam." gemasnya. Sedangkan Alze hanya bisa menghela napas. "Lo nggak bisa liat situasi banget ya Sam." gerutunya pelan.


"Ya sorry, gue lupa silentkan tadi. Manalagi mantan gue nih yang nelpon, dia kirim banyak pesan biar balikan lagi." jelasnya.


"Astaga nih anak."


"Terserah lo lah Sam, gue makin bingung sama Lo. Sekarang dah berapa banyak mantan lo huh?" tanya Bita lagi. Kini rautnya kembali ceria tidak seperti tadi.


"Hmm kayaknya udah empat puluh lah. Bentar lagi rekor lima puluh. Doain yaa supaya gue cepat sampai target."


"Anjiirlah, nggak usah diaminkan sayang. Sesat nih bocah." ucap Alze jengah dengan adiknya yang satu itu.


"Nanti, kena karma loh mainin perasaan cewek." ucap Bita memperingati adik iparnya itu.


"Iya...iya." Sam mengangguk pelan, namun ucapan Bita seperti masuk telinga kanan keluar telinga kiri, hanya numpang lewat tanpa diterapkannyq.