FreeDom

FreeDom
Short Story - Anak



...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....


...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....


...Terima kasih,...


...selamat membaca....


...___________________...


...A n a k...


...___________________...


...___________...


..._____...


..._...


Aku tidak pernah menyangka akan menangani orang gila ini lagi, maksudku—! Banyak rumah sakit jiwa diluar sana tapi kenapa?! Kenapa bajingan gila tersebut harus terlempar kemari, parahnya lagi aku yang menjadi dokter pribadinya.


Persetan soal uang!


Aku lelah berurusan dengan orang yang memiliki jiwa psychopath bengis! ARGHHH! Mengeluh pun percuma.


"Hah~" Ku pijit kening sambil menutup map berisi berkas yang didalamnya terdapat biodata sang pasien yang akan aku tangani tidak lain adalah Yolan.


Tuan muda yang malang, sekarang memiliki luka jahit parah diwajahnya. Nonya Maki benar-benar kejam, tak heran—kembali lagi ketika melihat kelakuan laki-laki ini; aku bahkan sebagai orang asing tidak bisa memaafkannya apa lagi wanita itu. Ya, meski tuan William juga bukan pilihan yang bagus.


Halah! Percuma memikirkan kehidupan orang lain, mari kita lihat apa yang terjadi pada lelaki naas separuh gila didepan sana.


Dia meringkuk diujung dinding, bergetar ketakutan seakan trauma. Salah mu sendiri, dari berkas yang ku baca—dia mengalami perubahan kepribadian akibat shock.


Mungkin karena tindakan yang nonya Maki lakukan atau juga dia kaget karena mendapat penolakan besar. Dipikir-pikir, bukannya untuk ukuran laki-laki mental tuan muda ini terlalu lemah?


Ah?!


Aku lupa, dia baru mau jadi laki-laki 4 tahun kebelakang. Sisa dari kehidupan makhluk itu hanya diisi oleh kepura-puraan serta berbaur diantara perempuan. Tak heran mentalnya terguncang, sedikit dorongan saja bisa membuat dia kembali menjadi belok.


Merepotkan; sekaligus menyedihkan.


"Sir Yolan?" aku berusaha memanggil, setidaknya duduk dikursi yang berada tepat diseberang meja ku. Atau orang-orang akan beranggapan kalau aku ini adalah dokter jiwa yang kejam.


Dia kembali bergetar, seandainya ini adalah dunia novel dan laki-laki itu adalah protagonis didalamnya; mungkin dia tidak akan berakhir menyedihkan seperti ini. Lain cerita kalau dia adalah sang antagonis—bukankah akhir seperti itu cocok untuknya?


Srett—!


Aku berdiri dari bangku, sudah cukup. Lebih baik mengantarnya ke-kamar, melakukan sesi konsultasi apa 'lah itu nanti saja setelah kondisi dari lelaki ini menjadi sedikit lebih stabil. Selain shock mental mungkin dia merasa dibuang karena orang tua dari tuan ini yang mengirimnya secara paksa.


"Huh!" Hari pertama saja sudah merepotkan, semoga tidak ada kejadian bodoh dikemudian hari. Ya~ meski harapan itu sepertinya terdengar sia-sia.


...***...


"Bagaimana kondisi anda dalam beberapa hari ini?" tanya ku. Sudah lewat 8 bulan perawatan, diluar dugaan tuan bernama Yolan ini membaik dengan cepat—walau diawal-awal aku benar-benar merasa kerepotan. Tapi syukurlah.


Dia sedikit terlihat bisa menjalani kehidupan normal.


Lelaki yang memiliki surai rambut silver itu melirik, lingkar hitam dibawah matanya terlihat diantara kulit pucat. Dia terkekeh. biar ku tebak.


"Mimpi buruk?" momok menakutkan yang biasanya sering terjadi pada manusia. Yolan mengangguk, aneh—kenapa baru sekarang?


"Apa ada sesuatu yang mengganggu anda sir Yolan?" tanyaku lagi. Mungkin dia mengingat kembali sosok dari nyonya Maki sehingga tidak bisa mendapatkan tidur berkualitas, perlukah ku berikan resep obat baru atau semacam lilin aroma terapi supaya dia bisa menjadi sedikit rileks?


Dia kembali mengangguk, sedikit ada jeda sebelum kemudian Yolan memilih untuk membuka celah bibir miliknya. Untaian kata terdengar.


"Yeah~" sederhana dengan nada yang lumayan lemah. Sial, ini membuatku kepikiran.


"Bisa anda bisa sedikit bercerita sir Yolan?"


Dia terdiam, respon yang lucu ketika aku tiba-tiba mengajukan pertanyaan padanya. Yolan melontarkan tatapan yang sulit diartikan, aku menunggu janis jawaban apa yang akan lelaki ini ucapkan.


"Dokter Neli?"


Ya?


"—Kapan kau ada waktu untuk bermain dengan ku?"


"Hah?"


Tunggu? Apa maksudnya?


.


.


.


.


.


"Hehe..." Kenapa dia terkekeh?


Aku mendesis, melayangkan tatapan tajam kearah Yolan yang memeluk perutku diatas ranjang. Ku pikir bermain yang dia maksud itu adalah jenis permainan dalam konteks sebenarnya—ternyata dia meminta untuk ditemani sepanjang malam sambil bercerita. Tidur bersama didalam bilik pasien miliknya, bukankah ini termasuk kedalam kategori lembur. Bahkan petinggi secara khusus memintaku untuk memenuhi keinginan dari sang tuan muda manja ini, hanya karena nominal besar yang dikirimkan kedalam rekening rumah sakit.


Menyebalkan.


Lama-lama berbaring membuatku—sedikit mengantuk. Sial, ternyata rasa nyaman dari kegelapan berhasil menjerat ku untuk pergi bersamanya.


"Selamat malam dokter~"


Ehm?


...***...


"Hoekk! Hoek!" Rasanya bagian dalam dari perut terbakar, aku memuntahkan semua sarapanku pagi ini. Sayang sekali—siapa yang menyemprotkan aroma aneh kedalam ruanganku. Baru beberapa detik disana rasanya perut ini bergejolak, alhasil seperti orang gila aku berlari ke-kamar mandi.


"Anda tidak apa-apa dok?" tanya salah seorang perawat yang tampak iba terhadap diriku. Kepalaku menoleh, sambil berusaha terlihat baik-baik saja aku menjawabnya.


"Yeah~ tapi saya sedikit merasa sensitif dengan aroma hari ini..."


"Benarkah?" beo dia. Aku mengangguk, berusaha berdiri serta membenahi jas putih milikku yang terlihat kumal. Dia memberikan tatapan meneliti dari ujung kaki hingga ujung kepala ketika aku berjalan menuju arahnya; keluar dari kamar mandi umum rumah sakit jiwa.


"Saya bukannya ingin bicara yang tidak-tidak dok, hanya saja... apa anda merasa kalau perut anda sedikit berisi?"


Degh!


Aku terdiam, spontan mengangkat tangan menuju perut lalu menyentuhnya. Perawat itu benar.


Dengan wajah horor aku menunduk.


"Sepertinya lebih baik dokter Neli ke-departemen umum untuk melakukan pemeriksaan medis," Aku yang membatu menyetujui ide dari perawat wanita ini.


Lebih baik aku kesana nanti, tidak salahnya mencoba untuk bertanya.


"Yups... anda positif hamil 4 bulan..."


APA?


Pernyataan tersebut terngiang-rngiang dalam benakku. Jelas tidak mungkin, aku bahkan sudah lama tidak berkencan dengan laki-laki apalagi berhubungan ranjang dengan mereka karena kesibukan pekerjaanku.


Lalu Neli? Dari mana datangnya kecebong yang ada didalam perutmu? Hingga dia membengkak seperti ini.


AKU TIDAK TAHU!


Sial! Apa yang terjadi?!


"Dokter?" panggilan tersebut menarik perhatianku, sosok Yolan yang duduk tepat didepan sana melayangkan tatapan lugu. Apa aku terlalu fokus berpikir, sampai-sampai mengabaikan sosoknya?


"Kau baik-baik saja?" Berat hati aku mengangguk.


Dia tiba-tiba mengangkat tangan lalu menautkan benda tersebut dengan tangan milikku, sambil bertanya.


"Yakin?"


Lagi-lagi aku menaik turunkan dagu.


"Jika ada masalah, aku siap mendengarkan ceritamu dok... seperti kau yang selalu mendengar ceritaku."


Ah~


Ini sedikit menyentuh. Perawatan selama 1 tahun setengah lebih ternyata tidak sia-sia.


Ku rasa tidak masalah jika aku bercerita. Dengan bermodalkan keyakinan itu aku mulai menceritakan masalah makhluk yang tumbuh didalam rahimku.


Dia tampak senang mendengarnya, sampai dititik aku bercerita kebagian selanjutnya soal rencana yang telah aku pikirkan.


Yaitu, menggugurkannya.


"Jangan berpikir kau bisa menyingkirkan anakku dari perutmu dokter,"


DEGH!


Apa?


...***...


...End...


...Jika kalian suka, tinggalkan jejak....


...(Like, vote, atau comments)...


...Terima kasih...


...Bye......


...:3...