
...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...selamat membaca....
...__________________...
...M i r i p...
...__________________...
...________...
...___...
..._...
Keluarga.
Hanya sebuah omong kosong belaka.
"Ayah?"
Degh!
"Argh! Hosh... Hosh..." Napas William tampak terengah-engah, dia baru saja membuka kedua kelopak matanya cepat. Terdengar debar jantung tak beraturan berbarengan dengan keringat dingin yang bercucuran, mimpi apa itu barusan?
William tidak pernah mengira bisa mendapatkan mimpi buruk. Setelah semua yang ia lakukan, kejahatan, penculikan, pemerasan, penganiayaan, hingga pemerkosaan; dia tak pernah peduli tentang semua itu. William adalah sosok perusak sejati. Benar-benar yang paling rusak hingga dia bangga dengan dirinya sendiri, tidak ada yang dapat membuat lelaki itu menyesal. Kecuali satu hal—
Dan itu adalah Maki.
Sudah lewat berapa tahun? Lima? Atau enam tahun yah? Ah~ William lupa, kapan terakhir kali dia melihat wajah cantik milik Maki yang sayangnya pucat tak bernyawa tepat dilayar besar televisi. Anak tertua dari keluarga asia.
Lintah darat itu ternyata ayahnya. |
"Ha-ha..." terdengar kekehan hambar. William bersandar dikepala ranjang, sekilas ingatan muncul dalam benaknya—saat ketika dia kesetanan menyerbu suatu tempat penuh dengan orang-orang yang menghadiri sebuah pemakaman. Sekadar ingin melihat wajah Maki untuk terakhir kalinya, lalu menghilang meninggalkan bekas mengerikan.
William menurunkan kedua kaki menuju lantai, sensasi dingin yang menyengat muncul. Dia perlu bekerja; mengkontrol anak buahnya supaya tidak bergerak membabi buta, saat ini kelompok William sedang diendus oleh pihak kepolisian. Jika mama mengetahuinya William akan mendapat teguran keras karena sikap sembrono seluruh anggotanya. Mau tak mau, William nanti harus turun tangan mengeksekusi mereka langsung; Argh! Membuat kesal saja. Dia malas. William tidak berminat untuk mengotori tangannya dengan tumpahan darah.
Drtt! Drtt!
Getar telepon genggam menghentikan pergerakan langkah William. Lelaki bermanik emerald itu berbalik, menatap penasaran kearah benda yang bergetar diatas permukaan nakas. Dengan malas William berjalan kesana, mengecek siapa yang menghubunginya pagi ini. Nama Lohan terpampang jelas dilayar penuh benda tersebut.
William mendesis.
"Untuk apa dia menelpon?!"
Kenapa Lohan selalu mengganggu William. Ini benar-benar memuakkan.
William merotasi kedua bola matanya jenuh lalu memilih untuk mengabaikan panggilan tersebut.
Biarkan saja saudara tiri gilanya itu, mari kekamar mandi.
...***...
"Tch!"
Lohan menantap jengkel kearah telepon genggam. Dimatikan cepat benda tersebut sebelum masuk kedalam saku celana yang tengah ia kenakan.
"Bajingan itu mengabaikan panggilan ku lagi!" rutuk Lohan kesal, sambil merapatkan jaket pada tubuhnya. Saat ini lelaki bermanik kelam tersebut tengah berdiri disudut toko yang masih tutup, terlalu pagi untuk beraktifitas lantas kenapa Lohan berada disana? Jawabannya sederhana, dia mendapatkan misi pembunuhan dari mama. Kali ini targetnya seorang reporter yang membuat khalayak jagat panas, dia menyinggung salah seorang anak pejabat—karena ditelan murka orang tua dari anak tersebut menyewa jasa organisasi. Mama bilang misi ini paling cocok untuk Lohan; melatih kesabaran dan itu benar masalahnya cuma satu—selama 3 tahun terakhir kelompok Lohan benar-benar zero anggota; tidak ada yang berani mengajukan diri untuk masuk kesana karena insiden yang pernah Lohan lakukan. Hal ini membuat dirinya menjadi solo player. Itu kenapa Lohan memerlukan bantuan William; satu-satunya saudara tiri yang paling dekat dengannya. Dia perlu meminjam satu atau dua anggota milik William untuk mencari informasi, bergerak sendirian cukup melelahkan ditambah para pelanggan memuakkan yang mendesak Lohan agar cepat membunuh sang target. Lohan bekerja tidak sesabar William yang hati-hati, lama-lama ia bisa mengubah targetnya kalau dia merasa kesal dan terganggu dengan para pelanggan tersebut.
"Huh!" uap panas muncul disela bibir ketika bernapas, padahal Lohan benar-benar ingin meminjam beberapa antek tapi William malah mengabaikannya. Kenapa juga tidak ada satu orangpun dari bagian organisasi yang lewat untuk berpatroli?!
Bahkan anggota kelompok William.
Hah—
Ya jelas tidak ada, apa yang kau harapkan Lohan? William dan anggotanya sendiri merupakan spesialis penculikan jelas tidak mungkin dia berkeliaran sembarangan. Lohan juga dengar pergerakan kelompok William sedang diendus oleh pihak kepolisian ditambah lagi ini adalah zona netral—bukan daerah kekuasaan milik siapapun.
Ruang gerak Lohan terlalu luas, sulit mempersempit hal tersebut agar bisa menjalankan rencananya. Dia jadi lelah sendiri. Mulai dari mencari tahu hingga membuat skenario yang pas untuk membunuh reporter tersebut.
Membuat kesal saja.
Lebih baik pulang.
Dengan raut jengkel Lohan berbalik, siap angkat kaki dari sana tapi—
Bugh!
Tiba-tiba terdengar suara benda jatuh.
Lohan terkejut, dia menatap sekitar dengan tatapan heran. Tidak ada siapapun disana, membuat lelaki bermanik kelam itu mengerutkan alis kebingungan sampai suara ringisan masuk kedalam gendang telinganya; berasal dari arah bawah. Lohan spontan menunduk, seorang anak kecil laki-laki tengah tersungkur jatuh diatas permukaan tanah
Lohan lantas berjongkok, membantu sang bocah yang ia perkirakan berumur 4 atau 5 tahun untuk bangun dari posisi jatuh.
"Are you okay boy?" tanya lelaki bermanik kelam tersebut, sang bocah mengangguk. Dia tidak menangis, hanya meringis kecil merasakan kedua lututnya sakit. Lohan menunduk, menatap dalam-dalam lecet dilutut bocah itu sambil menenangkan dia dengan kata-kata—
"Tak apa, itu akan segera sembuh." tutur Lohan, dia lantas mendongak tapi ketika manik mata mereka bersinggungan; Lohan seketika membeku.
Dia menggapai cepat pipi dari bocah lelaki tersebut, membawa wajahnya semakin dekat dengan penglihatan Lohan. Rona mata bocah ini? Sama persis dengan milik William.
DEGH!
Lohan merasakan perasaan merinding luar biasa, dia spontan berdiri—membalikkan badan dengan posisi siaga. Siap mengambil belati yang selalu ia sembunyikan dibalik jaket longgarnya tapi gerakan tersebut tertahan ketika manik mata lelaki itu hanya menangkap sosok wanita berparas cantik yang tengah menatap datar.
Kapan wanita ini berada dibelakangnya? Lohan bertanya-tanya, dia sama sekali tidak merasakan kehadiran seseorang sebelumnya.
Glek—
Tanpa sadar lelaki itu menelan saliva kasar. Seperti berhadapan dengan sesama pembunuh saja, sensasi yang sama persis ketika dia bertemu dengan para big brothers.
"Mamah?!" seru sang bocah, berlari menuju kaki wanita itu lalu memeluknya erat. Raut muka yang semula dingin berubah menjadi hangat, benar-benar 180 derajat berbeda dari sebelumnya. Lohan terkejut, seakan-akan dia pandai berekspresif.
"Mamah bilang tunggu, kenapa Langa malah berlari sendirian? Jadi menabrak seseorang 'kan..." tegur wanita itu ramah, Lohan memilih menurunkan penjagaan. Tidak mungkin Madam ini seorang pembunuh persis seperti Lohan hanya karena dia tidak menyadari kedatangan wanita tersebut.
Ha-ha |
Sang ibu yang baru saja menegur anaknya itu menoleh, dia membungkuk malu sambil berucap kata maaf.
"Maafkan saya sir... saya lalai dalam menjaganya..."
Lohan menggeleng, salah dia juga karena berbalik tiba-tiba. Setelah percakapan singkat mereka selesai; basa-basi. Akhirnya dua orang tersebut memutuskan untuk berpisah, tapi Lohan seperti menyayangkan sesuatu. Dia berputar, mengejar kembali sosok Madam yang tadi—
"Permisi madam?"
"Ya?"
Lohan sedikit gugup, dia menunjukan telepon genggam miliknya pada wanita itu sambil berkata.
"Boleh kita bertukar nomor telepon?"
Terjadi jeda diantara percakapan mereka sebelum wanita itu menjawab.
"Tentu..."
"Ah! Dan apa boleh saya mengambil gambar putra anda? Dia memiliki manik mata yang unik. Jika tidak keberatan tentunya..."
...***...
...Tbc...
...Jangan lupa like, vote, dan comments...
...Terima kasih...
...Ketemu lagi nanti...
...Bye...
...:3...