
...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...selamat membaca....
...__________________...
...P e r t e m u a n...
...__________________...
..._________...
...____...
..._...
Tap...
Tap...
Tap...
William berhenti tepat didepan pintu sebuah Apartement, bentuknya tidak besar berada diujung jalan setelah melewati lorong panjang. Lantai kelima, lelaki itu mengangkat pelan tangannya menuju kenop.
Kret—!
Terkunci.
Dia kembali menurunkan tangan, menilik dilubang kunci. Tidak ada siapapun dibalik pintu tersebut.
William mengeluarkan telepon genggam miliknya, menghubungi seseorang untuk dimintai pertolongan.
"Bisa kau datang kemari? Aku ingin kau membuat kunci cadangan untuk pintu apartement istri ku."
...***...
"Mah?" Maki menoleh, dia baru saja menjemput bocah tersebut ditempat penitipan anak setelah selesai bekerja paruh waktu. Mereka dalam perjalanan pulang, tapi tertahan dipinggir jalan berkat hujan lebat yang mendera; tepatnya diteras sebuah ruko kosong yang sudah lama tutup.
"Ya?" sahut sang mama terhadap anaknya. Maki menggenggam erat tangan kecil yang berada ditelapaknya. Menyalurkan rasa hangat untuk sang putra karena udara disekitar area mereka mulai terasa lembap.
Bocah lelaki dengan manik serupa William itu terdiam sejenak. Kepala kecilnya sedang merangkai kata-kata, Maki tahu. Putranya ini terlalu pintar untuk anak seusianya, jadi Maki selalu memaklumi Langa ketika dia berbicara dengan bahasa sulit. Padahal umurnya baru 5 tahun dan belum merasakan duduk di taman kanak-kanak apa lagi sekolah dasar, dari mana dia belajar berbagai frasa kata tersebut. Entahlah.
"Ada yang ingin Langa tanyakan ke mamah?" ucap Maki bernada tanya diakhir kalimat. Tumben sekali anaknya terlalu lama berpikir, Maki dibuat menunggu. Wanita itu lalu melihat celah bibir anaknya terbuka. Maski tampak ragu-ragu Langa berucap;
"Mah... kenapa Langa tidak punya ayah?"
Kalimat itu meninggalkan tanda tanya besar diakhir katanya. Maki terkejut, lidahnya sedikit kelu. Beberapa saat dia merasa membeku, tak tahu harus menjawab apa.
Pada putra satu-satunya itu.
Manik Langa tampak mengharapkan sesuatu. Dia perlu jawaban, hal itu membuat Maki menghela napas panjang lalu menunduk. Meletakkan telapak tangan tepat diatas pucuk kepala anaknya. Dielus Maki pelan sambil berkata—
"Dia sudah lama pergi, Langa tidak perlu seorang ayah. Ada mamah disini."
.
.
.
.
.
"Langa baik-baik dirumah, mamah sebentar lagi pulang. Okay?"
Bocah lelaki itu mengangguk. Dia menyahuti sebentar sang ibu sebelum menutup sambungan telepon sepihak. Maki menghela napas panjang, dia kembali menyimpan telepon genggam miliknya kedalam saku pakaian yang dia kenakan. Seorang teman menoleh, tertarik dengan percakapan Maki bersama putranya.
"Kau tidak menitipkan anak mu Hanna? Ke-penitipan anak biasa?" tanya dia. Diana. Maki melirik sejenak kearah Diana sebelum kembali menghela napas pasrah. Suasana cafe tempat Maki bekerja sedang sepi, tak masalah jika ingin bercerita dengan teman kerjanya bukan?
"Beberapa hari yang lalu Langa bertanya soal ayahnya pada ku, aku kebingungan menjawabnya Diana. Dia berubah murung setelah aku menjawab kalau ayahnya pergi meninggal kami sampai aku tahu kalau dia diejek oleh teman-temannya di tempat penitipan anak soal tidak memilik ayah atau sejenisnya." keluh Maki. Wanita itu memijat keningnya sakit, kepalanya pusing.
Diana mengganggu, Hanna (Maki) pernah bercerita kalau dirinya dibuang oleh sang suami demi mengejar wanita lain. Sungguh kasian, Maki harus bekerja banting tulang seorang diri demi menghidupi anaknya. Wanita itu menepuk pelan punggung Maki, mencoba menyalurkan sedikit semangat kepada temannya itu.
"Jadi kau membiarkan dia tinggal di Apartement seorang diri?" tanya Diana, Maki dengan berat hati mengangguk. Dia tidak ingin Langa merasa sakit hati karena diejek. Wanita itu juga mencoba mencari seorang pengasuh yang mau menjaga Langa diparuh waktu tapi Maki belum menemukannya. Sulit juga mencari seorang pengasuh.
"Tak apa, Langa itu anak yang pintar. Kau juga sudah mengajari dia untuk menghubungi mu jika terjadi sesuatu..."
Maki mengangguk, tersenyum simpul. Semoga saja, ucap dewi batinnya menenangkan.
...***...
Krett~
Daun pintu terbuka lebar dengan gerakan pelan. Seseorang baru saja masuk, menatap tenang keadaan sekitar. Tanpa ragu William melenggangkan kaki, masuk semakin dalam. Menjelajah setiap inci ruangan tanpa rasa bosan.
Sudah berapa kali dia menyelinap masuk kedalam apartement milik Maki? Entahlah, William lupa. Dia masih menimang-nimang waktu yang pas agar bisa muncul kepermukaan. Tepat kehadapan Maki, agar wanita itu tak bisa perpikir kabur lagi. William rasa dia perlu membuat sebuah rencana yang benar-benar matang.
Supaya Maki betah tidur dalam sang emas yang William ciptakan.
"Siapa kau?"
Deg!
Tiba-tiba sebuah pertanyaan muncul. Mengejutkan sosok William yang tengah mengkhayal soal hidup bersama selamanya menjadi keluarga bahagia. Lelaki bermanik emerald itu berbalik, menoleh kearah sumber suara. Terdapat anak kecil berusia 5 tahun yang tengah menantap nyalang dirinya. Dipikir William takut, dia yang mewariskan manik emerald tersebut kepada bocah ini.
Ingin berjongkok, William malah dikejutkan dengan sebuah pisau yang Langa todongkan tepat kearah lehernya. Lelaki dewasa itu melotot, dia tengah diancam oleh putra satu-satunya.
"Turunkan pisau itu nak." ucap William datar. Maniknya dingin, menatap tajam sosok Langa sambil mengeluarkan aura intimidasi yang kuat. Langa tersentak, sedikit merasa takut tapi—ketika manik mata mereka ketersinggungan bocah lelaki itu menurunkan penjagaan; dengan patuh begitu saja.
"Good boy..." puji William, dia berjongkok—memberikan tepukan pelan diatas kepala bocah lelaki itu.
Sudut bibir William terangkat. Perasaan senang memuncak, hatinya berbunga-bunga. Ini pertemuan perdana antara dirinya dengan sang putra.
"Aku ini ayah mu nak..." gumamnya jelas, mengejutkan sosok Langa.
...***...
"Mamah pulang... Langa?" tutur Maki lantang, dia menantap sekitar. Kenapa tampak sepi? Dimana putranya? Dimana anaknya?
DEGH!
Manik mata kecoklatan tersebut membola, dia berlari cepat—masuk kebagian dalam apartement. Tidak ada siapapun disana. Jantung Maki seperti melompat, dimana? Dimana! Jerit dewi batinnya ketakutan. Pandangan Maki menjadi liar, kesana-kemari mencari keberadaan sang anak.
Tidak.
TIDAK!
Pikiran negatif bermunculan, memenuhi isi dalam otak wanita tersebut sampai lengan kecil menarik sudut bajunya. Maki menunduk, dia bernapas lega ketika mendapati sosok Langa berdiri tepat disamping tubuhnya.
Maki mendekap erat tubuh itu.
"Dari mana saja? Mamah sibuk mencari mu Langa..." gumam Maki. Bocah lelaki itu membalas dekapan sang ibunda, membawanya kedalam kehangatan tiada tara.
"Apa terjadi sesuatu?" tanya Maki kemudian. Dia ingin tahu 'kenapa putranya tidak menyambut langsung kepulangannya?' kenapa?
Terlihat Langa terdiam, dia tampak berpikir. Maki menunggu jawaban apa yang akan anaknya lontarkan. Langa menggeleng, celah bibirnya terbuka.
Terdengar untaian kata setelah itu—
"Tidak ada mah..." dari arah mulut kecilnya.
Maki bernapas lega, dia melepas dekapan dari tubuh anaknya lalu mengajak Langa berjalan menuju area dapur. Mari buat makan malam untuk mereka.
Tanpa menyadari kalau pergerakan mereka tengah diawasi.
"Ma~ Kii~"
...***...
...T b c...
...Jangan lupa like, vote dan comment...
...Terima kasih...
...Ketemu lagi nanti...
...Bye...
...:3...