FreeDom

FreeDom
Mamah!



...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....


...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....


...Terima kasih,...


...selamat membaca....


...__________________...


...M a m a h !...


...__________________...


..._________...


...____...


..._...


"Eh?"


Kenapa itu terbuka?


Maki berjalan, langkahnya seringan kapas. Tangan dari wanita ini terangkat menuju arah kenop pintu. Didorongnya pelan benda tersebut.


Kreet~


Sampai menimbulkan suara. Tidak ada apapun disana, Maki yakin dia sudah menutupnya dengan rapat; meski tidak menguncinya. Demi Tuhan dia hanya keluar beberapa menit saja, datang dari mana tekanan asing ini? Kenapa berhasil membuat Maki jadi gelisah.


Ragu, Maki masuk kedalam apartemen miliknya sendiri. Mata wanita itu mengintai, menantap liar kesana-kemari. Meyakinkan diri kalau memang tidak ada apapun disana.


Meneruskan apa yang tengah ia lakukan, Maki berjalan semakin dalam—menuju kamar sang anak. Sejauh ini masih bisa dikatakan aman hanya saja ketika wanita bermanik kecoklatan tersebut sampai didepan pintu kamar anaknya; Langa, wanita itu malah dikejutkan dengan ketiadaan bocah tersebut.


DIMANA DIA?


"Langa?"


Maki melotot, dia berbalik. Wajahnya benar-benar gugup, menahan takut dan marah. Tidak, tidak mungkin, hanya selisih beberapa menit saja. TIDAK MUNGKIN ANAKNYA DICULIK.


Tidak.


"ARGH!!"


Cepat—Maki menoleh, matanya sungguh tajam. Sesuatu baru saja masuk kedalam gendang telinganya. Mengambil langkah seribu wanita itu berlari, menuju arah sumber suara. Kamar mandi!


Lagi-lagi wanita dengan manik mata kecoklatan ini dibuat terbelalak, tubuhnya bergetar. Menyaksikan sesuatu yang tidak harus dia saksikan. Tanpa sadar tangan Maki mengepal, celah bibirnya terbuka—siap berteriak.


"...!"


Deg!


Wanita itu tersentak, dia mengangkat tangannya cepat menuju arah tenggorokan. Tidak ada yang salah, tapi kenapa? Tak ada satupun ucapan yang dapat keluar dari sana.


"...!"


Maki menggeleng, dia mendekat. Menyaksikan sosok sang anak yang perlahan tenggelam, bajingan gila ini mencekiknya dengan kuat. Tidak! SIALAN! MENJAUH DARI ANAKKU! Langa meronta.


Tangan Maki terangkat, saat jarak diantara mereka cukup dekat dia berusaha mendorongnya meski sayang wanita itu terlihat tidak bisa menyentuh apapun. Maki mematung, dia menantap kedua jemari tangan miliknya yang berubah transparan. Apa yang terjadi!


Apa?


"MAMAH?!"


Dirundung ketakutan, manik coklat itu bereaksi. Dia mendongak mendengar sang anak memanggil. Langa menangis, dia ketakutan. Mencoba menggapai sosok sang mamah. Tubuh Maki gemetar, apa yang terjadi!


APA!


Kenapa dia tidak bisa menyentuh Langa? Suarapun tidak keluar! Dengan penuh rasa kengerian, Maki membatu—menyaksikan satu-satunya sang putra kehilangan napasnya.


Tidak?


Tidak!


TIDAK!


Degh!


"HUH! HOSH! HOSH!" Maki membuka matanya cepat, napas wanita itu tampak terengah. Keringat dingin banjir diarea tengkuk juga kening wanita tersebut. Huh?


Dimana aku?


Tanya dewi batinnya penasaran. Langit-langit ruangan yang terlihat sedikit asing, dengan interior mewah dibeberapa area. Maki mencengkeram selimut dibawahnya kuat, wanita itu mulai mengubah posisi menjadi setengah berbaring. Dia bersandar, tepat dikepala ranjang. Pikiran Maki linglung; rasanya sakit. Wanita itu mendesis, ingatan tentang mimpi serta informasi situasi saling tumpang tindih.


"Ergh?"


Bisa-bisanya aku tertidur disituasi seperti ini! Rutuk Maki dalam hati. Tangannya terangkat, memijit kecil area kening. Dia ingat—beberapa saat lalu wanita itu melabrak Willuam lalu menangis tepat dihadapan lelaki tersebut. Menyuarakan kekesalan, kenapa William hanya datang disaat waktu yang tidak diperlukan?! Kenapa!


Ini membuat geram.


Berapa lama Maki terlelap, wanita itu mendongak. Mencari satu-satunya sumber informasi berisi angka yang dapat menunjukkan waktu. Jam dinding menggantung disudut ruangan sana, wanita itu bernapas lega. Dia hanya tertidur selama 30 menit saja, Maki putuskan menurunkan kedua kaki menuju melantai. Sambaran dingin dari ubin menyengat permukaan telapak kaki, Maki tersentak. Kepalanya menoleh. Dimana alas kaki dari wanita itu.


Setelah berhasil menemukannya, Maki berjalan—mendekati benda tersebut. Beberapa kali ia tampak terpejam, Maki menggeleng. Sial! Kepalanya pusing. Ini efek samping dari bangun mendadak, gara-gara mimpi buruk tersebut Maki jadi semakin gelisah.


Sepertinya lebih baik wanita itu berada di rumah sakit, menemani sosok Langa dari pada kemari. Hanya sekadar menumpahkan emosi, sungguh hal yang tidak berguna. Maki pikir dia sudah cukup dewasa tapi ternyata tidak.


Satu hal kecil saja, dapat menyentil kewarasan seseorang—akan membuat orang tersebut menjadi sosok yang gila juga kekanak-kanakan dalam satu waktu. Ha-ha fakta yang lucu. |


Dengan bantuan dinding, Maki berjalan perlahan sambil meraba. Pintu keluar berada diujung sana. Dia perlu mencari tahu sedang berada dimana dirinya saat ini. Meski tidak perlu banyak usaha, Maki sudah bisa menebaknya. Belum lama keluar dari ruangan tidur tersebut, tepat dihilir lorong terdapat pintu besar yang sempat ia dobrak. Tanpa menunggu lama, wanita itu langsung kesana.


Dia berharap mereka semua masih berkumpul disana, baik itu Lohan ataupun William.


Aku ingin muntah, kepala Maki berputar. Perutnya mual, apa yang terjadi? Dia hanya melewatkan satu kali sarapan pagi. Yang benar saja! Lord!


Perlu usaha serta kerja keras yang ekstra, lulut Maki gemetar. Napas dia terengah, setidaknya wanita itu sudah berhasil sampai ditujuan. Tinggal mendorong sedikit Maki sudah bisa masuk kedalam, bahkan benda tersebut tidak tertutup rapat. Beberapa orang seperti big three dan Lohan terlihat dicelah kecil pintu itu, apa yang mereka bicarakan? Kenapa tampak serius?


Dimana William?


Tangan Maki terangkat, mendorong halus daun pintu hingga memperlebar celah yang ada. Dari kejauhan manik kecoklatan itu menilik, sosok William ada ditengah sana. Berdiri berhadapan dengan laptop sambil fokus memperhatikannya.


Suasana agak tegang, Maki mengintip. Apa yang mereka lihat?


Awalnya Maki ingin terkejut, dari aman benda itu berasal—sebuah tayangan kamera pengawas. Sejak kapan ada CCTV didalam ruangan apartemen milik Maki?! Tapi sayang rasa kagetnya sirna ketika mendapati sosok sang penyusup dengan pakaian tertutup masuk. Persis seperti dalam ingatan. Sama halnya dengan yang lain, Maki fokus memperhatikan dari kejauhan. Tidak ada yang menyadari keberadaan dirinya. Maki hebat dalam menyamarkan aura seakan-akan dia menyatu dengan udara.


"Yolan!" Tiba-tiba William menggeram. Wajahnya tampak meradang, tanpa Maki sadari dia menelan saliva kasar. Sudah lama tidak melihat penampakan wajah tersebut.


Sial, sekilas membuat takut. Maki menarik kecil kenop pintu. Dia rasa dia tidak perlu masuk.


"Banci itu! Apa dia gila? Kenapa dia berulah dengan cara menyakiti anakku."


Deg!


Terdengar dari ucapan William barusan, membulatkan tekat milik Maki untuk tidak masuk. Lelaki emerald itu agaknya mengenal siapa pelaku penyerangan tersebut, besar kemungkinan kalau sosok itu bagian dari musuh William.


Sepertinya—lebih baik Maki kembali ke-rumah sakit menjaga bocah itu. Wanita ini rasa, nyawa Langa tengah terancam.


Dia tidak ingin, bunga mimpi berwarna gelap tadi menjadi kenyataan.


Seakan sirna, seluruh rasa sakit hilang. Maki berbalik, angkat kaki dari sana. Bergegas pergi dengan satu tujuan.


"Langa, tunggu mamah!"


Mamah akan kesana. |


...***...


...Tbc...


...Jangan lupa like, vote, dan comments...


...Terima kasih...


...Ketemu lagi nanti...


...Bye...


...:3...