FreeDom

FreeDom
Buruk



"Fush~" kepulan asap putih muncul dari sela bibir Maki, gadis itu mendongak. Langit tepat diatas kepalanya benar-benar gelap; tertutupi oleh awan hitam.


Sebentar lagi akan turun hujan, batin gadis remaja itu.


Dia menegakkan tubuh, sudahi acara bersandar pada pagar rumah seseorang dipinggir jalan. Mari kembali ke flat, tempat ia tinggal sendirian. Perlu usaha serta tenaga agar bisa lepas dari belanggu kedua orang tua gilanya. Dan itu tidak berakhir sia-sia, saat Maki duduk di sekolah menengah atas—gadis ini akhirnya benar-benar bisa merasakan apa itu kebebasan.


Meski rasanya sedikit kesepian. Tapi tak apa.


Inilah momen yang paling kau tunggu, Maki. |


...____________________...


...B u r u k...


..._____________________...


..._________...


...____...


..._...


"Dasar miskin!" Maki mendengus, lagi-lagi dia mendapat mangsa yang tidak sepadan. Padahal gadis itu sudah membiarkan mereka menyentuh tubuh Maki; sebatas menyentuh, bukan dalam artian khusus tapi lihat isi dompet mereka—benar-benar kosong.


Tidak berguna.


Dasar segerombolan lelaki berotak udang!


Maki melempar dompet berbahan kulit itu kedalam tong sampah, waktunya pergi dari sini sebelum si empunya dompet menyadari.


Omong-omong? Sisa berapa tabungan didalam rekening ku? Batin gadis remaja ini, penasaran. Beberapa waktu terakhir bisa dibilang Maki mengalami nasip buruk karena tidak menemukan lelaki berdompet tebal untuk diperas.


Benar-benar sikap yang menjijikan, dia bahkan tidak lebih baik dari ibunya yang suka bersenang-senang.


Huh!


Walau begitu, hanya ini cara satu-satunya; untuk Maki agar bisa bertahan hidup. Sendirian.


Lebih baik begini, dari pada harus kembali kedalam neraka yang orang-orang sebut sebagai keluarga.


Mereka hanya tidak lebih dari kumpulan manusia munafik yang saling memanfaatkan satu sama lain. Maki heran, bagaimana bisa kedua orang bertolak belakang tersebut terikat bersama—dalam satu ikatan pernikahan.


Benar-benar aneh, tapi lupakan?! Untuk apa Maki mengingat kembali kedua orang yang selalu memperlakukan dia lebih rendah dari pada sampah?!


Memuakkan. |


Lebih baik Maki mencari club terdekat lagi, setidaknya dia tidak akan pulang dengan tangan yang kosong. Gadis remaja itu berbalik, melenggangkan kaki. Pergi dari sana meninggalkan seseorang yang tampak lemas dibawah pengaruh alkohol.


"Bye~ bye~ honey, semoga kita tidak akan bertemu lagi." terdengar manis meski maksudnya sadis. Maki harap dia tidak bertemu dengan lelaki miskin itu lagi.


Dasar tidak berguna?!


...***...


Degh!


Maki mematung, spontan gadis remaja itu menyembunyikan tubuhnya diantara dinding dalam ruangan; berkamuflase dengan sekitar. Kerlap-kerlip cahaya lampu serta bisingnya suasana tidak menurunkan penjagaan gadis tersebut.


Dia sudah cukup terlatih, peka terhadap semua situasi. Ini berkat orang tua gilanya—Maki jadi punya intuisi kuat dengan sesuatu yang mungkin saja membahayakan nyawa. Dan benar, segerombolan orang berpakaian formal baru saja masuk kedalam club. Dari pakaian yang mereka kenakan terdapat bordiran khusus melambangkan sesuatu. Itu adalah logo dari kelompok sang ayah, lelaki tua yang terobsesi ingin masuk kedalam dunia hitam meski tahu kalau dia hanya setingkatan kelas kakap.


"Untuk apa mereka kemari?" Maki mendesis, benar-benar hari yang buruk. Tidak lucu kalau sang ayah mengirim orang-orang bertampang preman tersebut untuk menangkap sosok Maki.


Mungkin akan lebih bagus jika Maki ditangkap dengan maksud yang baik, seperti membujuk agar gadis itu kembali. Berhenti kabur atau semacamnya, tapi Maki tahu—ayah-nya bukan manusia selembut itu. Dia pasti menaruh dendam pada Maki; atas kekacauan yang gadis itu lakukan sebelum kabur.


HAHA!


RASAKAN ITU!


Maki membakar habis pabrik ilegal milik sang ayah. Lucu, mengingat kembali wajah lelaki tua bangka tersebut—lemas ketika menghitung kerugian yang ia dapatkan. Pasti sang ibu juga ikut kabur karena tidak ingin jadi bahan bulan-bulanan dari sang ayah. Tak heran dia mulai mencari Maki, gadis itu bisa membayangkan jikalau dirinya tertangkap.


Jelas, sang ayah pasti akan membunuhnya.


"Makia! Mau kemana?!"


Maki meringis, orang bodoh mana yang menyerukan nama gadis itu dengan lantang? Akan ku cekik nanti. Mengindahkan panggilan tersebut; tanpa menoleh kebelakang Maki langsung mengambil langkah seribu. Persetan dengan orang-orang yang menantap dirinya aneh?!


Fokus pada suara langkah kaki tepat dibelakang sosok Maki, gadis tersebut 100% yakin kalau dia tengah diikuti. Atau tepatnya dikejar?


PERSETAN!


Beberapa kali menabrak tubuh seseorang, Maki memanfaatkan ukuran badan kecilnya untuk menyelinap diantara khalayak banyak. Meski sesekali gadis tersebut mendapat umpatan kesal dari orang-orang yang ia tabrak. Utamakan keselamatan, keluar dari club ini atau dia akan benar-benar tamat.


...***...


"Hosh! Hosh! Hosh!" napas Maki tersengal, lutut wanita tersebut lemas. Sedikit senggolan saja gadis remaja itu bisa-bisa jatuh diatas permukaan tanah. Sialan kalian semua?!


Dasar bajingan.


Sudah berapa lama Maki berlari? Andai saja jika dia tidak menemukan gang sempit dengan area yang sulit dijangkau oleh sebagian orang mungkin Maki tidak akan pernah lepas dari mereka.


Beruntung, baru kali ini dia bisa bernapas lega karena berhasil kabur dengan kedua kaki kecilnya.


Maki menunjukan jari tengah, sambil mengumpat—gadis remaja tersebut melayangkan tatapan remeh.


"Kau pikir kau bisa menangkap ku lagi?! Jangan harap! Lelaki tua bangka!" ucapnya sarkas sebelum mengetahui kalau semua miliknya menjadi sirna.


Maki membeku, buku-buku tangannya memutih. Banyak orang berkumpul sambil berteriak membantu mengevakuasi, tubuh Maki terdorong.


Apa yang baru saja ia saksikan? Kobaran api melahap habis seisi bangunan.


Rasanya ingin jatuh, Maki menggeram. Tidak mungkin bangunan itu bisa terbakar tiba-tiba; begitu saja? Siapa yang percaya. Jelas ada seseorang yang dengan sengaja menyulut bangunan tersebut.


Tawa remeh terdengar dari kejauhan, Maki menilik—dari balik ekor matanya. Orang-orang yang mengejar Maki barusan berada tak jauh dari sana. Gadis remaja tersebut mengepalkan kedua tangan.


Dia terkekeh hambar. Lagi-lagi mengutuk sang ayah, beraninya bajingan gila itu mengganggu ku.


"Nona akan muncul kepermukaan dengan sendirinya..."


Benarkah begitu?


Maki mendesis. Melepaskan semua luaran yang ia kenakan dan mulai berbaur diantara orang-orang, mengenakan seragam tipis sambil berjalan mendekat. Kearah mereka.


Kalian bahkan tidak tahu wajah dari orang yang kalian cari, batin gadis remaja itu sambil memberikan tatap tajam. Saat jarak mereka cukup dekat Maki kemudian mengangkat kedua tangannya lalu—


Bugh~


Mendorong salah satu dari orang tersebut. Hingga membuatnya jatuh, masuk tepat kedalam kobaran api.


"ARGHHH!!!!!!" jeritan mengerikan hadir.


"Rasakan itu, kau pikir aku takut membunuh seseorang?"


Tidak-tidak sama sekali. Jika memang perlu dilakukan, kenapa tidak?


DEGH!


...***...


...T b c...


...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....


...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....


...Terima kasih...


...Ketemu lagi nanti...


...Bye...


...:3...