
Aku merasa lega. Karena, Mak Lampir telah enyah dari rumah ini. Kini tinggalah Bang Ray bersama kedua temannya. Aku kembali menaiki anak tangga menuju kamar.
Tak lama, Bi Ijahenyusulku.
"Non, Bibi mau mau ngasih ini tadi, Den Ray yang menyuruhnya. Waktu Bibi ke supermarket tadi."
Bi ijah sambil menyodorkan kantong plastik putih yang berisi Es Cream kesukaanku.
"Terima kasih Bi, sini Bibi duduk dulu aku mau ngobrol-ngobrol sama Bibi. Oya Bibi mau Es Creamnya enggak?"
Aku dan Bi Ijah duduk di depan studio musik Bang Ray. Yang tepat berada di dekat balkon.
Sambil menikmati Es Cream bersama Bi Ijah.
Aku sesekali memandangi kaktus yang tadi aku jatuhkan nyaris patah.
Kini sama Bi Ijah sudah dipindahkan ke meja dekat balkon. Biar nanti kalau kapan saja aku ingin melihatnya tak harus turun ke lantai bawah lagi.
"Oh iya Non, katanya mau ngajakin Bi Ijah ngobrol." Tampak Bi Ijah menunjukan muka seriusnya. Sambil menjilati sendok Es Cream.
"Iya Bi. Itu memang Bang Ray sudah lama pacaran sama Mak Lampir ya Bi?"
"Oh, belum Non. Baru tiga bulanan kayaknya, Itu karena Den Ray terpaksa"
"Terpaksa kenapa Bi, kok bisa?"
"Oh waktu itu, di kampusnya ada cowok yang gangguin terus menerus. Akhirnya Den Ray enggak tega melihatnya, jadi ya berpura-pura jadi pacarnya."
Begitu penjelasan Bi Ijah membuat kepuasan tersendiri bagi Ochi.
"Terima kasih ya Bi, penjelasannya."
"Ya sudah Non, Terima kasih juga Es Creamnya. Bi Ijah balik lagi ke dapur ya."
"Iya Bi."
Aku masih duduk di balkon sambil menikmati semilirnya angin malam di tabah redupnya cahaya membuatku nyaman duduk sendirian.
Tak lama kemudian, Bang Ray bersama kedua temannya menuju ke studio musik.
Sepertinya, mereka mau melepaskan jenuh setelah belajar dengan bermain musik. Karena, aku melihat mereka bertiga masuk kedalam studio musik Bang Ray. Hingga mereka tak menyadari aku duduk disini tanpa di sapanya. Tak, lama Bang Ray keluar lagi dan sepertinya menuju ke kamarku.
Aku masih berdiam saja. Biarkan saja sampai nanti Bang Ray menemukanku. Netraku masih tertuju ke Bang Ray. Sepertinya aku juga tak menyadarinya kalau aku dari tadi disini duduk di balkon.
Sepertinya Bang Ray sudah memasuki kamarku. Aku rasa juga mulai jenuh duduk sendiri disini. Aku ingin bermain-main bersama Bang Ray sebentar ah.
Aku mulai beranjak dari tempat duduk. Dengan jalan mengendap-endap aku menyelinap masuk ke studio musik Bang Ray. Sepertinya Kak Rizqi dan Kak Valentino juga lagi asyik mereka memainkan senar gitar. Tanpa mereka sadari aku menyelinap di balik kursi yang berdekatan dengan Drum.
"Dek...Dek..Dek..kamu dimana?" suara Bang Ray terdengar hingga keseluruh penjuru rumah. Hingga membuat kedua teman Bang Ray sontak terkaget.
"Ada apa Ray?" Kak Rizqi berjalan melewatiku dan hampir saja kakinya menginjak kakiku. Aku masih bersembunyi di bawah kursi.
"Ini Riz, Ade gue kok enggak ada di kamarnya. padahal tadi Bibi bilang habis makan Es Cream bersama."
Sepertinya Bang Ray mulai panik, hingga Bi Ijah mendengarnya dan turut mencarinya.
"Den tadi sama Bibi duduk di balkon sini makan Es Cream. Habis itu Bibi turun, mungkin ada di kamarnya Den."
Kepanikan mereka tampaknya semakin memuncak. Kak Valentino pun ikut keluar dari ruang studio dan ikut mencarinya. Sementara aku menahan tawa dan aku mulai mengintip dari pintu ruamg studio. Namun, ketika aku hampir saja ketahuan tanganku menyenggol Drum dan menimbulkan suara. Hingga mereka semua menuju ke arahku.
Terutama Bi Ijah berlari lebih dulu ke arahku.
"Eyalah Non..Non, dari tadi semua bingung nyariin kok malah ngumpet disini."
Bi Ijah tertawa tertawa terpingkal-pingkal sampai mengeluarkan air mata. Sementara, Bang Ray dan kedua temanya menghampirinya.
Kak Rizqi dan Kak Valentino menggeleng-gelengkan kepala. Bang Ray menepuk jidatnya sendiri.
"Maaf Bang, tadi aku cuma becanda saja habisnya jenuh sendirian."
"Lain kali jangan seperti ini lagi ya Dek, Abang udah panik tadi!"
"Oke, tapi ada syaratnya."
"Syarat apa lagi sih Dek?"
"Aku ingin melihat Bang Ray bermain musik sama teman Abang."
"Ya sudah ayok, tapi habis itu bobo ya, besok kan kamu sekolah."
Bang Ray pun bersama keduanya temannya mulai mengambil alat musiknya masing-masimg. Bang Ray mengambil gitar sekaligus sebagai Vocalnya. Sedangkan Kak Rizqi memainkan gitar bas. Kak Valen bagian Key Board.
Aku duduk di kursi bersama Bi Ijah menjadi penontonnya.
"Bang, aku juga mau nyanyi dong."
Sontak mereka berhenti memainkan musiknya. Menatapku dengan tersenyum.
"Ya sini De, Kak Valentino menghampiriku. Memang mau nyanyi apa Dedek?"
"Bunda, Kak. Aku kangen sama Mama di Lampung"
Bang Ray, menggernyitkan dahinya. Sementara Bi Ijah bertepuk tangan memberiku semangat.
Aku pun mulai melantunkan lagu Bunda dengan iringan musik aukustik.
Hingga membuat Bi Ijah menitihkan air matanya. Teman-teman Bang Ray tampak tercengang mendengar merdu suaraku.
"Ya ampun Non, Bibi samapi terharu mendengarnya."
Bi Ijah mengusap-usap rambutku. Sementara Kak Valen memberi ciuman di pipi.
"Eh..Eh.., Ini adek gue enak aja main cium-cium."
"Idih Ray masih kecil ini emang enggak boleh, lagian gue gemes lihatnya Ray suaranya bagus banget lagi Ray."
"Oh iya dong, sapa dulu abangnya aja juga keren."
Mereka semua tertawa bahagia malam itu.
Sepertinya mereka pun harus pulang ke rumahnya masing-masing karena waktu sudah hampir jam sepuluh malam.