
...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...selamat membaca....
...___________________...
...H u j a n...
...___________________...
...__________...
...____...
..._...
"Tch!" Maki berdecih kesal, sekilas bayangan seseorang yang berlari dibelakangnya terlihat semakin mendekat. Pelayan itu masih mengejar.
Kemana lagi wanita ini harus lari? Dia tak ingin tertangkap lagi, apa lebih baik ke-jalanan ramai saja? Maki mungkin bisa berbaur diantara orang-orang, setidaknya sebelum pelayan tersebut menggunakan akalnya untuk menelepon bantuan.
Tidak lucu kalau Maki dikepung bagai buronan, ha-ha! Tidak sama sekali.
Beralih dari lorong-lorong gang sempit, Maki melangkahkan kaki menuju area luar—dekat jalan utama. Kota kecil didalam pulau ini tidak terlalu besar, jadi satu-satunya tempat dengan penduduk banyak adalah tepat dibagian tengahnya.
Maki mempercepat langkah, persetan soal telapak kakinya yang berhadapan langsung dengan tanah. Saat jalanan aspal terlihat, harapan akan lepas dari jeratan muncul.
"Nona!" jerit sosok pelayan itu.
Untuk apa kau memanggilku?! Aku tidak mengenalmu! Ejek wanita ini dalam hatinya. Bersorak sorai ketika manik mata wanita tersebut menjumpai aktivitas padat ditengah kota.
Berbaur!
Maki yang larinya lebih cepat beberapa meter dari sang pelayan mulai masuk kedalam keramaian. Dari yang pertamanya mengutamakan kecepatan berpindah menjadi kelincahan, meski begitu bukan berarti Maki tidak menabrak bahu seseorang.
Gerutuan serta cacian terdengar, Maki hanya mampu bergumam maaf secara singkat lalu meninggalkan mereka.
Sungguh tidak sopan.
Maafkan wanita itu!
Setelah cukup lama berlari, langkah Maki melambat. Dia menoleh kebelakang sejenak—
Fyuh~
Sosok pelayan tadi tidak lagi mengejarnya, Maki menghela napas lega. Wanita dengan manik kecoklatan ini kembali melanjutkan langkah, berbeda dengan sebelumnya—wanita itu lebih memilih untuk berjalan dengan santai. Napasnya juga terengah, beberapa pasang mata mulai tertarik memperhatikan sosok berantakan dari Maki tersebut.
Benar-benar menyedihkan.
Mereka pasti bertanya-tanya, ada apa dengan wanita itu? Meski dari wajahnya sudah kelihatan kalau mereka enggan untuk bertanya. Malas untuk terlibat, makanya hanya melihat. Persetan kalian semua!
Lama-lama melangkah rasa perih dikaki bekas gesekan tanah, batu, semen, dan aspal segala macam mulai terasa.
Ish!
"Sakit..." ringis Maki. Walau begitu dia tidak bisa yang namanya berhenti disini, akan jadi masalah kalau dia bertemu seseorang secara tidak sengaja. Syukur-syukur kalau itu William, bagaimana kalau kejadian persis seperti yang tadi?
Hah—!
Merepotkan.
Karena dirundung kepanikan Maki jadi salah langkah. Seharusnya dia berlari keluar menuju jalan datangnya sang anak, kemungkinan presentase Maki bertemu William akan semakin besar.
Bodoh!
Lagi pula kenapa lelaki dungu tersebut malah membawa Langa kemari! Kalau ingin melakukan pencarian, cukup dirinya saja yang turun tangan—jangan libatkan anak mereka.
Argh!
Untuk apa Maki membuat perjanjian?! Kalau William saja tidak dapat menjaga sang anak dengan aman, HUH!
Salah apa coba Maki, sampai dia harus mengalami semua ini kembali. Menyebalkan, wanita bermanik kecoklatan tersebut seperti merasa memiliki banyak musuh dimana-mana.
Tidak sang ayah, tidak juga William ataupun sosok Yolan.
Masuk akal kalau Maki seorang mafia, tapi lihat saja dia—wanita ini hanya ibu rumah tangga yang memiliki satu orang anak dengan suami tak berguna.
Menyedihkan bukan?!
Maki men-stopkan kakinya, sama seperti beberapa orang lainnya. Wanita itu mendongak, menantap dalam lampu lalulintas yang menunjukan dominasi warna merah. Bangunan lain tepat diseberang jalan. Maki menunggu, matanya sejenak terpejam. Dia lelah.
Rasa sakit ditelapak kaki semakin kentara, selain itu Maki mulai merasa pusing. Tubuhnya lemas, sampai sekarang selain istirahat singkat Maki belum memasukan sesuatu kedalam mulutnya. Sial, ketika membuka mata pandangan manik wanita kecoklatan tersebut mulai berkunang-kunang.
Maki harus cepat-cepat pergi dari sini, sebelum dia pingsan dijalan karena kelelahan.
Tanpa sadar Maki melangkahkan kakinya, berjalan dengan pelan untuk menyeberangi jalanan tepat didepan sana. Dengungan janggal mengusik gendang telinga milik Maki. Apa yang terjadi? Susah payah wanita tersebut memfokuskan semua panca indra. Dia mendongak.
"Miss! Apa yang kau lakukan?!"
"KEMBALI KEMARI MADAM?!"
Ucap orang lainnya. Apa yang mereka bicarakan? tanya dewi batin Maki; sebelum suara dentuman keras terdengar, disusul pemandangan yang berubah menjadi langit kehitaman.
CITT!
BRUAAAK!
Maki terempas, cukup keras. Perlu waktu beberapa detik sebelum tubuh wanita itu kembali mencium tanah.
Bugh!
Maki melihat, langit hitam yang perlahan menitikkan air hujan; berganti sudah menjadi lautan merah.
"Aa... argh..." dari celah bibir terdengar gumaman, dinginnya tetesan hujan merajami tubuh Maki. Wanita itu perlahan kehilangan kesadaran, sebelum benar-benar terlelap; jatuh dalam kegelapan dia sekilas melihat.
Sosok pelaku yang telah menabraknya.
"Ka... ka‐!"
Degh!
Bajingan. |
...***...
Suara sirine ambulan terdengar dari kejauhan, beradu bising dengan bunyinya para hujan. Lohan menepikan mobil sewaannya kesisi lain jalan, roda ban benda tersebut berhenti. Bersamaan dengan hal ini, mereka menoleh—kearah luar kaca jendela.
Lohan maupun William, lelaki yang duduk tepat dibangku penumpang.
Sang anak terlelap disampingnya, kelopak dari bocah tersebut membengkak. Dia menangis dengan kuat.
"Apa yang terjadi?" gumam Lohan.
Mobil-mobil bersuara bising berlalu-an dengan cepat. Mungkin ada semacam kecelakaan, tepat didepan sana. Perlu 'kah mereka mencari tahu?
"Bagaimana ka?" tanya Lohan kemudian, William melirik. Tatapan miliknya begitu tajam, celah bibir dari lelaki tersebut terkunci dengan rapat. Keheningan datang sejenak, kira-kira apa yang tengah lelaki ini pikirkan sebelum memilih untuk buka suara.
"Jalan..."
Lohan mengangguk, dia langsung banting setir menuju arah tujuan. Mari tuntaskan rasa penasaran ini ditengah hujan, setidaknya itu yang mereka pikiran sebelum menyaksikan dari kejauhan.
Padatnya lautan manusia.
"Darah..." bisik William. Kerumunan orang menghalangi pandangan, meski begitu dua lelaki ini dapat menyadari—kalau tepat didepan sana ada seseorang yang terkapar dengan simbahan darah dimana-mana.
"Tidak mungkin lagi maju, mereka meminta mobil untuk putar balik..." ucap Lohan pada William. Langa tampak menggeliat, tidurnya terganggu dengan bisingnya keadaan.
Bocah lelaki itu bangkit, mengucek pelan kelopak matanya sambil bertanya—
"Pah? Apa yang terjadi?" dengan suara yang serak. William menoleh, dia mengelus pelan pucuk kepala milik Langa—lelaki itu siap berkata-kata.
"Ar... argg..." Namun; sayang kalimat tersebut tertahan, bola matanya membulat. Dengan tampang horor, William menoleh.
Dari balik kaca jendela.
Dia mencoba menajamkan pendengaran, lelaki itu tidak mungkin salah dengar. Diantara bisingnya keadaan, William menerapkan konsentrasi penuh terhadap telinga.
Lalu terdengar—
"Ka... ka-!"
Brak!
William membuka cepat daun pintu mobil sewaannya, lelaki itu bergegas—mengindahkan tetesan hujan yang begitu lebat. Menyelinap diantara kerumunan sampai langkahnya tertahan oleh pihak kepolisian.
"Mundur sir!"
Mata lelaki itu bergetar, bau darah semakin kuat merajami indra penciuman.
Tapi apa yang William dapatkan?
Hanya tempat kosong dengan limpahan darah bercampur genangan air hujan.
"Maki?" panggilnya tanpa sadar.
...***...
...T b c...
...Jangan lupa like, vote, dan comments...
...Terima kasih,...
...ketemu lagi nanti...
...Bye...
...:3...