
...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...selamat membaca....
...__________________...
...M e m b a l a s...
...__________________...
...__________...
...____...
..._...
"Jika kau ingin memenuhi hasrat milik mu soal membangun sebuah keluarga atau apapun itu, aku akan membantunya—menjadi istri boneka yang sangat kau inginkan. Tapi dengan satu syarat, keluar dari pekerjaan kriminal mu; berhenti dari organisasi mafia itu dan buang jauh-jauh masa lalu mu karena aku tidak ingin Langa memiliki seorang ayah penjahat. Lakukan dengan sempurna jika kau ingin memiliki keluarga yang bahagia." ucap Maki lantang, penuh dengan nada berani disetiap kalimat yang ia ucapkan.
William terdiam. Lelaki itu sejenak membeku—dengan sorot wajah yang sulit untuk diartikan, dia menatap dalam manik wanita yang duduk tepat didepan matanya; Maki. Menjelajahi tiap jengkal hingga rasanya mampu menembus kebagian terdalam dari jiwa yang Maki miliki.
Deg!
Deg!
Deg!
Debar jantung wanita itu mulai terdengar seperti pacuan kuda; tidak karuan rasanya. Sial—Maki berubah gugup. Apa yang dia utarakan tidaklah salah. Dia hanya ingin membicarakan apa yang ingin dia bicarakan. Tidak lebih. Tapi? Kenapa William malah menatap dirinya sedemikian rupa dengan wajah yang begitu mengerikan?
Degh!
Maki melotot, perasaan terancam muncul.
SRETT—!
Dia spontan berdiri, suara geseran kursi tempat ia duduk terdengar cukup nyaring. Tiba-tiba saja atmosfer berubah berat, sial. Maki merinding. Keringat dingin banjir diarea tengkuk wanita itu. Dengan tampang was-was dia berdiri tepat dibelakang kursi; siap melempar benda itu jikalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Glek!
Maki menelan saliva kasar, tch! Benar-benar merasa takut. Jemarinya dingin, padahal William hanya duduk diam memperhatikan sosok Maki dari seberang meja sana, tanpa menaruh minat sedikitpun untuk melakukan sesuatu. Cukup diam, hanya itu—tidak lebih.
Tapi respon tubuh Maki terlihat agak sedikit berlebihan meski bukan hanya dirinya saja yang merasakan kengerian tersebut. Sosok Lohan dengan menggendong Langa tiba-tiba saja masuk, berlari ketempat duduk William seraya menodongkan belati pendek tepat keleher saudara tirinya.
Lohan mendesis, setengah menggeram dengan sorot mata yang begitu tajam.
Mereka semua beradu pandang. Apa yang terjadi? Suasana ini terlalu tegang, sulit untuk dijelaskan lewat kata-kata.
"Apa yang kau lakukan Lohan?" tanya William kemudian, melirik pelan si bungsu dari organisasi mereka. Maki mencengkeram kuat pegangan kursi dibawahnya, dia serius akan melempar benda tersebut jika diperlukan. Lalu, sedikit pertanyaan—kenapa si bodoh ini malah membawa Langa kemari?! Argh! Situasi akan berubah jadi berbahaya jika diteruskan.
Tch! Sial!
Putar otak kecil milik mu Maki! |
Pikirkan sesuatu, kau yang memancingnya ke- topik pembicaraan soal berhenti jadi mafia atau apapun itu.
PERSETAN!
Maki muak.
"Jika kaka tidak menginginkan Hanna, berikan saja pada ku."
Hah?!
Apa lagi ini! Bicara apa lelaki bernama Lohan tersebut? Lima detik barusan. Memberikan? Apa yang dia minta? Maki bukan barang! Berhenti memancingnya—kau hanya membuat William menjadi semakin marah. Lihat urat-urat leher yang menandakan kekesalan itu! Sudah mulai banyak bermunculan. Arghh! Maki pusing. Dia ingin menangis, meratapi nasip sialnya. Kenapa harus terjebak dengan situasi janggal ini?! Dengan mereka berdua lagi.
SIAL.
"HEH!" William mendengus, dia berdiri. Maki dan Lohan tersentak, merasa kaget. Mencoba menerka-nerka apa yang mungkin lelaki bermanik emerald itu lakukan. Maki bahkan tidak perlu waktu lama untuk mengenal dengan baik sosok sebenarnya dari William, wanita ini sudah bisa menebak kalau kepribadian lelaki itu; gampang meledak jika berkaitan dengan topik tertentu. Misal tentang dirinya.
Bukan karena terlalu pede, hanya saja ini hasil observasi yang Maki dapatkan. |
Dia meminta Langa untuk mengalungkan tangan ke-lehernya dengan erat supaya tidak terjatuh.
Taps~
Garis lurus yang terpampang jelas diwajah William tertarik keatas, dia tersenyum—simpul kepada wanita bernama Maki yang berdiri tepat didepan sana. Langa mendongak, menatap penasaran kepada sosok sang ayah meski otak pintarnya sudah dapat menebak apa yang terjadi.
Maaf mah, kali ini Langa akan berpihak kepada papah. |
Tahu apa bocah nakal itu?!
Ergh!
Ketika ujung kaki milik lelaki itu membentur ujung kaki milik Maki, wanita itu mendongak. Mensejajarkan pandangan antara dirinya dengan William. Perasaan gugup semakin gila. Ditambah Langa yang tampak menempel seperti cicak pada William, membuat Maki tak dapat berkutik. Lidahnya kelu.
Sebelah tangan dari lelaki bermanik emerald itu terangkat, memilin kecil surai rambut milik Maki. Mereka berdua beradu pandang satu sama lain, mengabaikan sosok Lohan yang tampak tidak terlihat berdiri disana.
Belum ada pembicaraan, William masih terlalu asik memainkan ujung rambut dari Maki sebelum emerald tersebut tiba-tiba berpindah pandang—membalas tatapan nyalang dari manik kecoklatan milik wanitanya.
Hah~
William terkekeh, hal itu semakin membuat Maki tertekan. Dia mencoba berani, tak gentar menghadapi William meski lelaki itu masih dapat melihat jiwa pengecut yang selalu ingin melarikan diri dari wanita tersebut.
Ha-ha, ini lucu.
Tapi mempermainkan istrinya terlalu lama hanya akan memperkeruh hubungan mereka dimasa depan.
Terlihat celah bibir William terbuka, pandangan Maki berpindah. Jarak mereka menipis. Tunggu apa yang ingin lelaki itu lakukan?
Maki spontan memejamkan mata erat, tiba-tiba sesuatu yang besar menarik tengkuk miliknya. Mendekatkan secara paksa wajah Maki kepada William, wanita itu menjinjit. Embusan napas panas menggelitik permukaan daun telinga milik Maki, kelopak mata itu terbuka dia melirik dari balik ekor matanya dengan tampang yang horor.
Apa yang coba kau lakukan?
Maki kira William akan menciumnya.
"Hehehe..." kekehan janggal menyusul setelah itu. Bisikan halus terdengar. Maki nyaris kesulitan bernapas, posisi dirinya sangatlah tidak nyaman. Ditambah sosok Langa yang terlihat memperhatikan interaksi antara kedua orang tuanya.
Seperti bertanya—dengan wajah polosnya kepada mereka, 'mamah dan papah sedang apa?' begitu. Maki canggung. Wajah wanita itu memerah.
Sial.
"Aku terima kesepakatan mu sayang~" bisik lelaki itu kemudian. Membuat bola mata Maki membulat dengan sempurna. Ada nada merendahkan yang terselip diantara kalimat pelan tersebut.
Huh!
Maki melirik tajam, rasa canggung berubah menjadi sedikit kesal. Dia melemparkan tatapan tajam—tak mempedulikan jarak mereka yang semakin mendekat. Tipis.
Tambahan, Lohan benar-benar membusuk di ujung ruangan tanpa ada yang memperhatikan. Dia sepenuhnya terabaikan. Hihi |
"Aku akan berhenti dari pekerjaan ku tapi selain kau, aku juga memiliki syarat yang harus dipenuhi—" ungkap William gantung. Deru napas Maki menyapu pelan wajah lelaki itu, hati kecilnya tergelitik; merasa cukup senang akan hal tersebut.
"Kau harus benar-benar menjadi istri boneka yang patuh mencintai diriku meski dalam kemunafikan. Jangan pernah berpikir untuk lari karena aku tidak akan mungkin melepaskan dirimu, Maki. Kecuali dengan kematian. Demi Tuhan, aku bersumpah sayang~"
Karena—
Kau yang bilang, tidak ada sesuatu yang gratis di-dunia ini; termasuk cinta. Bukan begitu Maki?
HAHA |
...***...
...T b c...
...Jangan lupa like, vote, dan comments jika kalian suka...
...Terima kasih...
...Ketemu lagi nanti...
...Bye...
...:3...