FreeDom

FreeDom
Short Story - Pengantin



...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....


...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....


...Terima kasih,...


...selamat membaca....


...____________________...


...P e n g a n t i n...


...____________________...


...___________...


..._____...


..._...


"Hosh~" embusan asap putih baru saja keluar dari arah celah bibir Lohan. Lelaki itu mendongak, banyak yang sudah terjadi dalam hidupnya. Semenjak kematian mamah ditangan sang putra tersayang; siapa lagi kalau bukan William—Lohan jadi sedikit tidak bersemangat. Dia bahkan memutuskan untuk keluar, bukan berarti tidak mau dibimbing oleh sang saudara tiri hanya saja motivasi Lohan masuk kedalam organisasi 12 bintang adalah karena lelaki paruh baya tersebut.


Lohan, si bungsu paling nakal—dia berutang sepotong roti dengan ayah dari William. Hal ini yang membuat Lohan selalu berkeinginan mengabdikan diri kepada sosok pria itu. Tapi sekarang sudah lain cerita, Lohan sendiri tidak menaruh dendam pada William; dia hanya sedikit ingin menjauh dan melakukan semua hal sendirian. Solo player memang cocok untuk Lohan, teringat akan masa muda—saat lelaki dengan rambut gelap itu masih menjadi seorang anak gelandangan. Kelaparan setiap harinya, bertemankan para tikus yang selalu berkeliaran disudut gang.


Ketika itu hujan, Lohan yang sekarat karena rasa lapar ditolong dengan tatapan iba serta sepotong roti ditangan.


"Seharusnya kau bisa hidup lebih lama—" Lohan bergumam lalu terkekeh. Dia yang menantap langit indah New York dari atas balkon apartemen memilih berbalik, muak. Membuang rokok dari tempatnya; membiarkan benda tersebut jatuh dengan bebasnya.


Dari pada berdilema tentang masa lalu yang telah lewat lebih baik melakukan pekerjaan.


"Target ku hari ini seorang reporter media masa yang menghebohkan dunia karena dia berhasil menguak sebuah fakta. Tch! Kasihan, kau berurusan dengan orang yang salah..." Lohan bergumam, melenggangkan kaki pergi menjauh dari sana.


Waktunya menjalan misi.


.


.


.


.


.


"Akhirnya bajingan itu kembali..." (?)


...***...


Lohan melepaskan sarung tangan miliknya, lalu menyimpan benda itu kedalam saku bagian dalam dari celana. Misi lelaki tersebut sudah selesai, dia bahkan membereskan dengan baik jasad dari reporter malang yang salah berurusan dengan seseorang.


"Jangan menaruh dendam pada ku kawan~" monolog Lohan sendiri, lalu terkekeh sebelum beranjak pergi dari tepi laut sana. Dia sampai mau repot-repot ke daerah ini untuk membuang jasad reporter tersebut.


Notifikasi handphone sedari tadi berbunyi, pasti kliennya puas. Mentransfer banyak uang kedalam rekening lelaki itu; waktunya pulang—ucap dewi batinnya kesenangan.


Lohan menjadi pembunuh bayaran memang karena uang, dia dulu ingin lepas dari kemiskina tapi kalau sekarang lain cerita. Walau dia membunuh seseorang tidak secara acak atau bisa dikatakan sesuai permintaan saja Lohan sendiri menikmati pekerjaan miliknya. Melihat seseorang merintih kesakitan dengan bola mata yang dicongkel, lidah yang dipotong atau isi perut yang dikeluarkan selalu berhasil membuat Lohan kesenangan.


Meski permintaan menjadi pembunuh bayaran tidak sebanyak seperti ketika dia masih menjadi anggota organisasi 12 bintang, tapi tak apa. Lohan sendiri sudah mulai berpikir ingin merintis kehidupan baru yang cukup dekat dengan kata normal.


Tadi pagi Langa, keponakan tercintanya mengirimi dia gambar beserta kabar kalau Hanna sedang mengandung seorang anak yang tidak lain adalahnya adik baru dari bocah tengik tersebut.


Walau difoto yang Langa bagikan sosok Hanna tidak terlihat bahagia, dia tahu betapa gila kakak tirinya itu. Poor Hanna, ups! Maki. Ha-ha!


Kapan aku juga memiliki pasangan?


"Eh?" Lohan terdiam, dia menghentikan langkah saat lelaki tersebut sudah mendekati area tempat parkir mobilnya berada.


Bisa-bisanya aku berpikiran aneh! Keluh Lohan dalam hati. Mengacak-acak surai rambut hitam di kepalanya.


"Tidak mungkin ada wanita yang tahan dengan ku... huh~"


Mereka pasti cepat mati; karena kau muak melihat mereka hanya selalu saja menangis ketika kau menculik dan mengurungnya. Tak heran, Lohan melempar belati hingga menembus kepala para wanita itu, hanya Hanna seorang; wanita yang bisa menggaet hati kecil milik lelaki tersebut.


Sayang, dia istri seseorang.


Tch!


Lohan membuka agak kasar pintu mobil, dia ingin kembali ke apartemen lalu tidur.


Dalam hitungan detik, benda dengan roda disetiap sisinya tersebut sudah tancap gas—pergi dari sana.


...***...


Beberapa hari ini Lohan memilih untuk tidak menerima job, dia ingin bersantai sambil merancang sebuah skenario hidup baru yang ingin dia jalankan. Meski itu hanya sekadar uji coba, kalau Lohan bosan—dia bisa kapan saja kembali kedalam dunia hitam.


Lelaki yang sekarang berjalan sambil mengenakan hoodie serta celana pendek tersebut menilik dari balik ekor matanya.


Cahaya remang dari basement membuat Lohan tidak dapat melihat dengan jelas. Dia mengeratkan pegangan pada kantong belanja berisi bahan makanan serta kunci mobil miliknya.


Lelaki ini tidak salah, dia merasakan ada seseorang yang tengah mengikuti langkah kakinya. Walau tanpa suara, Lohan cukup yakin terhadap ke-peka-an insting terhadap sekitar yang sudah lama dia asah.


Sial. Lohan sekarang tidak membawa belati kesayangan bernama Mei-mei dihoodie-nya. Perlukah lelaki tersebut menggertak lebih dulu? Jika dia bersenjata, Lohan tinggal merebutnya. Lagi pula disini sepi. Penghuni apartemen yang menjadi tetangga Lohan pasti duduk manis ditempat kerja mereka.


Lalu soal kamera pengawas, lelaki ini tinggal meretasnya.


Tap...


Tap...


Tap...


Langkah Lohan melambat, sampai dia berhenti disatu titik. Pergerakan mencurigakan dari seseorang yang lelaki ini tuding membahayakan dirinya semakin terlihat dengan jelas. Lohan mengedarkan pandangan liar; kesana kemari untuk menentukan lokasi dari sang penguntit.


"Ketemu..." bisiknya, serupa dengan bisikan. Sosok itu bersembunyi dari balik pilar besar milik basement. Langkah yang bagus, dia berhenti ketika Lohan berhenti melangkah juga.


Meski masih bisa dikatakan seorang amatiran, dia lumayan peka terhadap situasi yang mendera dirinya.


Ini sama saja seperti presentase 50 : 50 yang mana Lohan dapat menjadi pemangsa atau dimangsa. Kita lihat siapa yang menjadi musuh kita.


Degh!


Slap!


Lohan cepat-cepat menghindar, sesuatu seperti jarum baru saja melesat dan nyaris mengenai bola mata miliknya.


Bagai seorang assassin (walau sebenarnya dia memang pembunuh) Lohan menyamarkan keberadaan tubuh lalu bergerak secepat mungkin. Sial, dia marah. Ada seseorang yang tengah mempermainkan sosok Lohan dan lelaki ini tidak menyukainya.


Akan aku bunuh! Bagaimanapun caranya!


Dia merasakan kembali seperti ada jarum yang sengaja dilempar dengan kecepatan tinggi. Lohan meninggalkan belanjaannya diatas tanah lalu menjadikan ujung kunci sebagai senjata.


Hanya perlu waktu beberapa detik saja, sosok itu berhasil menemukan sumber masalah.


"Kena kau!"


Wanita dengan alat aneh ditangan cukup terkejut, Lohan tiba-tiba saja muncul tepat didepan matanya dengan hasrat membunuh yang begitu kuat.


Mencoba kabur, namun naas sesuatu yang kasar menjambak keras surai rambut miliknya.


Terdengar ringisan sakit, Lohan melihat—wanita itu menampilkan tatapan penuh rasa dengki. Dia merebut senjata wanita ini lalu mencekik dia cukup kuat dari arah belakang.


Lucu juga, melihatnya berusaha seperti ikan yang dipaksa hidup di dataran.


"Siapa kau? Siapa yang mengirim mu?!" tanya Lohan sedikit penasaran, tapi sayang wanita lemah tersebut memilih untuk tetap bungkam.


Bugh!


Lohan membenturkan wanita itu kesalah satu dari pilar yang ada disana. Masih sama, dia menutup rapat bibirnya dengan tatapan penuh kebencian tiada tara yang diperuntukan untuk Lohan.


Sial~


Semakin menarik saja.


Kira-kira? Kalau lelaki ini menjadikan wanita tersebut sebagai miliknya—apa dia akan bertahan lama? Lebih lama dari pada yang lainnya.


"Hei? Mau jadi pengantinku?" bisik Lohan, mengerikan.


...***...


...End...


...Jangan lupa like, vote, dan comments...


...Terima kasih...


...Bye bye~...


...:3...