
...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...selamat membaca....
...___________________...
...M e n g h i l a n g...
...___________________...
...___________...
..._____...
..._...
"Permisi?"
Semua orang yang berada didalam ruangan menoleh, termasuk Lohan dan juga William. Mata mereka tertuju pada seorang wanita berpakaian formal; persis layaknya dokter. William ingat sudah menyuruh wanita itu agar langsung ke-ruangan sebelah tempat istrinya berada, supaya dia bisa melakukan pemeriksaan sekilas terhadap kondisi dari Maki. Lalu? Apa yang ia lakukan disini?
"Saya mohon maaf sebelumnya, tapi saya rasa pasien yang anda maksud itu tidak ada sir Willam..." dalam artian dia menghilang. Lelaki bermanik emerald itu tersentak, merasa tidak percaya. Dia melangkahkan kakinya keluar, meninggalkan semua orang.
Tap!
Tap!
Tap!
Gema langkah milik William terdengar, maniknya berkilat. Ketika sampai diruangan tempat dia meninggalkan Maki untuk terakhir kalinya, tanpa basa-basi lelaki itu mengempaskan daun pintu—
Brak!
Sampai menimbulkan suara keras.
Dia menantap sekitar dengan mata yang liar namun naas hanya mendapati ketiadaan. Dimana Maki? Dimana istrinya?!
Kenapa ruangan itu kosong? Dengan selimut yang berantakan!
Sial!
William merogoh cepat ponsel didalam kantong celananya. Bertanya-tanya dengan batin soal kemana hilangnya sosok tersebut. Lelaki ini mulai menghubungi beberapa anak buah yang berjaga diluar, mungkin saja mereka melihat sang istri ketika sedang patroli.
Sambil melakukan hal tersebut, William berbalik. Dia perlu ke-lobby; bertanya pada resepsionis yang mungkin saja menjumpai sosok Maki ketika dia berjalan keluar.
Tanda tanya pasti bermunculan saat orang-orang mendapati sosok William yang kelabakan, tapi dari pada memusingkan pikiran orang lain lebih baik fokus pada pencarian miliknya. Terakhir kali ketika William lengah—Maki malah menghilang sepenuhnya. Lelaki bermanik emerald ini tidak ingin kecolongan lagi.
TIDAK LAGI!
Drtt!
Telepon genggam yang berada ditangan William bergetar, dia baru saja sampai di-lobby. Lelaki itu menilik, salah satu nama dari anak buahnya terpampang jelas dilayar penuh benda tersebut. Tanpa basa-basi, William mengangkatnya.
Kabar apa yang dia miliki untuk William? |
Dari apa yang lelaki bermanik emerald itu tangkap, anak buahnya bilang kalau dia melihat Maki menaiki taksi sekitar setengah jam yang lalu. Cukup lama. Dia juga sudah mengusut soal kemana tujuan taksi yang dinaiki sang istri dari pimpinannya.
"Rumah sakit bos..."
Bip!
Putus William sepihak, tanpa mengucapkan kalimat terima kasih. Lelaki itu lalu menekan menu kontak, dia menghubungi satu-satunya saudara tiri bungsu yang selalu mengganggunya.
Lohan.
"Ke-lobby sekarang!" singkat, padat, dan jelas. Lohan rasa dia akan jadi supir pribadi lagi, kasihan sekali nasip mu nak. Ha-ha. |
...***...
William berlari, entah kenapa perasaannya tidak enak. Setelah mobil yang dikendarai mereka sampai di-parkiran rumah sakit, lelaki itu langsung tancap gas—dia menuju lobby untuk bertanya dimana letak kamar dari Langa; anaknya.
Usai mendapat informasi tersebut, William layaknya orang kesetanan bergegas kesana. Beberapa kali lelaki itu mendapat teguran karena berlari di lorong koridor rumah sakit. Itu berbahaya kata mereka, juga mengganggu pasien lainnya. Persetan!
Masa bodoh.
Daun pintu dengan kode angka yang resepsionis sebutkan tertangkap oleh penglihatan mata lelaki itu. Napasnya terengah.
"Hosh! Hosh~" meski perlahan-lahan coba William stabilkan. Dia ingin melihat, mungkin saja sang istri sedang bersama anaknya. Apapun yang terjadi William akan menegur Maki karena dia tidak bilang apapun jika ingin pergi.
Ini membuat William khawatir.
Sial, jantung lelaki itu berdebar. Lebih kencang dari pada biasanya. Tangan William terangkat, menuju arah kenop pintu—tanpa ba-bi-bu di bukannya pelan daun pintu tersebut.
Kreet~
Terdengar suara dari engsel. Manik emerald itu sebentar lagi akan mendapati sosok manis dari sang istri; Maki tapi baru saja William mendamba—perasaan senang itu luntur ketika manik mata miliknya tidak mendapati secuilpun batang hidung dari sosok yang ia cari.
Maki! Maki?! MAKI!!!
Deg!
Matanya membulat, ekspresinya datar. Lelaki itu masuk menuju ranjang tempat terbaringnya sang anak; Langa. Kenapa sosok itu hanya sendirian?
Menjadi-jadi.
Kecurigaan-kecurigaan aneh bermunculan. Maki, dia jelas tidak mungkin kabur sendirian lagi. Wanita itu mencintai anaknya—sampai dunia terbelah menjadi dua dia tak akan tega meninggalkan Langa sendirian meski harus bersama dengan lelaki yang ia benci hingga kebagian selnya seperti William contohnya.
Wanita pemberani ku.
Kemana kau pergi? Maki. |
Tap!
Tap!
Tap!
Dari kejauhan terdengar langkah kaki, Lohan baru saja menyusuli. Napas lelaki itu terengah, sial. William menilik, sedikit tidak berminat dengan kehadiran lelaki itu. Persetan! Lohan punya kabar buruk.
"Ka! Aku punya berita buruk." ucapnya. Manik William tertarik membalas tatapan milik sang bungsu. Walau begitu dia masih bungkam, menunggu Lohan untuk bicara.
Kabar apa yang lebih buruk selain menghilangnya sosok Maki?
"Hanna dibawa pergi oleh Yolan."
DEG!
"Apa?" lagi-lagi ekspresi meradang itu muncul. Siap memutilasi siapa saja. William mengeram, dia tak percaya. Saat lelaki bermanik emerald ini hanyut dalam kemarahan gerakan kecil dari tangan Langa mengejutkan sosok tersebut.
Bocah bermanik serupa dengan William itu memaksa membuka kelopak matanya. Meski tampak sayup dia bersi keras mengangkat tangan lalu menarik sudut baju yang William kenakan. Spontan lelaki itu menunduk, dia terkejut sosok sang anak yang baru saja siuman. Ada rasa senang menyentil kecil hati lelaki tua itu.
Bibir Langa terbuka, dia ingin bersuara. William menunduk, mendekatkan sedekat mungkin daun telinga kearah mulut sang anak.
"Ma-mamah... dalam B-ahaya..." gumamnya lagi sebelum kembali tertidur.
Glek!
Lohan menelan saliva kasar, dia hanya memperhatikan interaksi antara anak dan ayah tersebut. Sial ini canggung, William mendongak. Membenarkan posisi berdiri lelaki itu.
Benar-benar dingin, cukup lama jeda waktu yang lelaki bermanik emerald ini perlukan sebelum dia buka suara.
"Kerahkan seluruh pasukan, istriku diculik."
.
.
.
.
.
Sama seperti sebelumya, William lagi-lagi membuat kehebohan. Tapi kali ini mungkin ada beberapa bagian yang bisa dikatakan sedikit berbeda, kalau dulu karena keteledoran dari sang penguasa. Dia hanya ingin bermain-main dengan wanita tapi kali ini—ada seseorang yang terlihat tidak memiliki sedikitpun urat takut sedang mempermainkan William.
Argh~
"Ini membuatku kesal..." gumamnya. Mengembuskan asap putih dari celah bibir tersebut. Dia mendongak, menantap langit biru yang tertutupi oleh awan.
Awas saja banci itu! Jika William sudah menemukannya—lelaki ini jamin akan menggantung kepala bajingan gila tersebut di pasar gelap nanti.
"Fush~ Aku tidak sabar..."
...***...
Drttt!
"Hallo ayah?"
"Untuk apa lagi kau menghubungi kami?!"
Yolan tersenyum.
"Bukannya kau bilang tidak ingin terikat hubungan dengan kami lagi, dasar bajingan cilik tidak tahu disyukur!"
Yolan terkekeh, dia bersandar pada boks telepon umum.
"Boleh aku pulang?" ucap dia kemudian, mengindahkan pernyataan sarkas yang baru saja sang ayah lontarkan.
Orang yang mendengar diseberang sambungan sana terdiam, Yolan menilik. Dia tersenyum kecil melihat sosok tak sadarkan diri dari Maki yang duduk diluar boks telepon umum tua tersebut.
"Aku membawa menantu untuk kalian..."
...***...
...T b c...
...Jangan lupa like, vote, dan comments...
...Terima kasih...
...Ketemu lagi nanti...
...Bye...
...:3...