FreeDom

FreeDom
Potong



Itu bukan aku, aku tidak pernah melakukan hal seperti itu.


"Tidak pernah!"


^^^Rea—^^^


...____________________...


...P o t o n g...


...____________________...


...___________...


..._____...


..._...


Setiap kali Maki memejamkan mata, bayangan mengerikan soal mimpi buruk yang ia alami selalu bermunculan. Menghantui isi dalam kepala Maki layaknya kaset rusak yang sengaja diputar terus-menerus—berulang tanpa habisnya. Perilaku menyimpang sampai kepribadian rusak, Maki benar-benar tak percaya. Membayangkan kalau sejatinya itu adalah kebenaran.


Dia bukan begitu, dia tidak begitu. |


Memikirkannya saja membuat Maki mual, bergelayut manja demi mendapatkan uang serta berubah menjadi psychopath lalu menyakiti seseorang. Maki goyah, beberapa detik saja hal tersebut masuk kedalam kepalanya Maki sudah dirundung oleh perasaan bersalah.


Dia akan menangis tersedu setelahnya.


Perilaku seperti ini terus berulang, sampai-sampai Yolan membuat keputusan untuk memanggil seorang dokter yang bekerja dibidang kejiwaan. Psikiater istilahnya.


"Tidak apa-apa madam, itu semua hanya mimpi..." Yolan menatap dari kejauhan sang psikiater yang dokter pribadinya rekomendasikan; Ed. Neli kalau tidak salah.


Dia meminta melakukan terapi bicara atau apapun itu, meski dimata lelaki tersebut Neli lebih mirip seperti tengah menghipnotis sosok Maki dengan memberinya sugesti baru serta pandangan berbeda soal mimpi. Menarik.


Berkat dorongan kata-kata yang Neli ucapkan, Maki tidak lagi frontal. Dia lebih tenang sambil mendengarkan untaian kalimat positif yang psikiater itu katakan. Yolan tidak tahu kalau ada teknik seperti itu.


Dia perlu belajar nanti, siapa tahu akan berguna.


"Bukan..." suara Maki tampak bergetar, Yolan ikut mengalihkan pandangan. Neli mengangguk, dia berlaga layaknya seorang ibu—sambil memberi sentuhan-sentuhan hangat psikiater itu percaya; apa yang Maki katakan.


"Tentu saja madam, bukan anda yang melakukan... anda tidak salah. Jangan pedulikan, itu hanya percikan dari bunga-bunga indah yang disebut mimpi buruk."


Maki mengangguk, benar! Ini hanya mimpi buruk, tidak lebih! Pemikiran wanita tersebut tiba-tiba saja berubah kosong. Kedua kelopak matanya menjadi sayu, Maki merasakan perasaan lelah.


Apa ini?


Dia tidak bisa mengontrol tubuhnya sendiri.


Pendengaran yang awalnya aktif perlahan menjadi tuli, segala macam suara tidak lagi dapat terdengar—dibarengi oleh terpejamnya sosok Maki yang langsung ditangkap oleh Neli, sang psikiater.


"Hosh~"


Hela napas lelah terdengar. Psikiater itu membaringkan kembali sosok Maki tepat diatas ranjang, mengangkat kaki serta merapikan pakaian berbahan tipis yang wanita itu kenakan.


Sementara begini, sorak batin Neli menyudahi kegiatan miliknya lalu kemudian memilih untuk berbalik badan. Mendapati wujud lelaki yang masih berdiri diposisi yang sama, Neli merotasi matanya jenuh. Bukan apa-apa, entah kenapa Neli merasa kesal terhadap sosok tersebut. Ditambah penjelasan yang dia dapat sebelum berangkat ke mansion megah ini; Ed bercerita banyak banyak hal yang membuat dia tidak percaya, siapa kira setelah mengeceknya secara langsung. Apa yang temannya katakan ternyata benar adanya. Madam dibelakang punggung Neli ini dia diperlakukan seperti binatang.


Oleh lelaki munafik yang senantiasa berdiri dipojok ruangan dengan tampang khawatir meski Neli tahu—niat sebenarnya hanya ingin mengawasi. Setelah melakuan pekerjaan beberapa maid masuk, kembali memasung sosok Maki dengan belenggu rantai dibawah kaki ranjang. Sungguh tidak berperikemanusiaan, kalau boleh Neli berkomentar.


Sembunyikan emosimu Neli! Wanti-wanti dewi bantin wanita itu. Bersikaplah profesional. Meski rasanya kedua telapak tangan Neli sudah berubah menjadi putih akibat terlalu kuat dikepal. Selain moral serta kemanusiaan, Neli sendiri punya alasan lain kenapa dia merasakan perasaan marah.


"HAH—!"


Sang psikiater menghela napas panjang, berharap tidak terpengaruh lebih jauh lagi oleh api amarah. Setelah melakukan ritual menenangkan diri barulah Neli mau menatap dengan baik sosok Yolan serta melenggangkan kakinya mendekati sosok tersebut.


"Sebaiknya anda berhenti melakukan hal itu—" ucap Neli, menunjuk rantai-rantai yang mengekang leher serta kedua kaki dari Maki.


Yolan bungkam. Neli tahu betul reaksi itu pasti memiliki arti ganda; sebuah pertimbangan yang menjurus kearah penolakan tepatnya. Persetan dasar bajingan!


Sudut bibir sang psikiater terangkat, dia mencoba tersenyum simpul sambil memaki-maki sosok Yolan dalam hatinya; yang tidak lebih mirip dengan pasien di rumah sakit jiwa tempatnya bekerja. Serius.


Neli perlu melaporkan ini nanti.


"Penanganan sementara yang bisa saya lakukan hanya sebatas ini. Saya perlu beberapa berkas tentang latar belakang madam serta pemeriksaan lebih lanjut untuk memberi diagnosa. Lalu saya akan mulai meresepkan obat untuk dikonsumsi madam secara berkala. Perhatikan waktu makan serta jangan menekan dan melakukan perilaku buruk yang dapat memicu ketidakstabilan emosi atau anda akan benar-benar menemukan seonggok daging tak bernyawa di-ke-esokan harinya. Khasus paling parah, madam bisa berpikiran untuk menggigit lidah hingga terpotong." ucap Neli berharap Yolan mengerti, dia sengaja menggunakan bahasa sarkas supaya mudah dipahami tapi apa yang psikiater itu dapatkan malah kebalikannya.


Dia membeku, Yolan tampak berpikir—sejenak sebelum membuat keputusan.


"Sepertinya lebih baik memotong lidah Hanna lebih dulu dari pada hal buruk tersebut terjadi dikemudian hari." Meski hanya bergumam, kalimat yang baru saja keluar dari celah bibir Yolan berhasil membuat Neli terkejut bukan kepalang.


"Eh?"


Tubuh psikiater ini menggigil, dia tidak memiliki riwayat gangguan pendengaran atau semacamnya—jelas kalau dia mendengar dengan baik apa yang baru saja Yolan sampaikan. Dia ingin memotong lidah Maki, sebagai wujud antisipasi.


Ha-ha, itu lucu.


Benar-benar lucu.


"Anda pasti bercanda..."


Glek!


Neli menelan saliva kasar, manik mata milik Yolan terangkat. Dia membalas tatapan tak percaya yang wanita itu tunjukan. Senyum seringai hadir, apa maksudnya?


Gila.


Lelaki ini tak waras.


"Bagaimana menurut mu dok?" Yolan bertanya; dengan tampang polos serta wajah tak berdosa, seperti ada sesuatu yang menggelitik perut Neli.


Dia terkekeh hambar.


Jangan melempar pertanyaan janggal kepada ku, dasar psychopath?!


...***...


Dengkuran napas teratur terdengar, Maki nampak tertidur dengan nyaman diatas ranjang sendirian. Tidak ada siapapun disana. Keadaan masih remang, derap langkah terdengar dari kejauhan.


Tap!


Tap!


Tap!


Hal itu mengusik telinga Maki. Batinnya bertanya, siapa gerangan yang membuat keributan?


"Ini masih pagi..." lenguh Maki, memutar posisi sambil menyembunyikan tubuhnya didalam selimut.


Krett!


Pintu disudut ruangan terbuka, agak kasar. Disusul oleh derap langkah lainnya; lalu—!


Bugh!


Bola mata Maki membulat, dia terkejut bukan main saat merasakan sesuatu yang berat tiba-tiba menindih tubuh wanita itu.


Mau tak mau wanita dengan manik kecoklatan tersebut mengubah posisi serta mencari tahu sumber penyebab dari perisitiwa yang ia alami.


Tangan kecil memeluk pinggang Maki. Terdengar kekehan lucu dari arah mulut seseorang, Maki menunduk—mendapati wujud anak laki-laki yang masih menggunakan piama.


Siapa? Batinnya penasaran, sebelum kedua mata tersebut bersinggungan langsung dengan manik milik Maki.


Degh!


Celah bibirnya terbuka. Terdengar kemudian—


"Mamah!" satu kata penuh makna yang berhasil meluruhkan air mata.


"Lan-ga?"


...***...


...T b c...


...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....


...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....


...Terima kasih...


...Ketemu lagi nanti...


...Bye...


...:3...