FreeDom

FreeDom
Adaptasi



...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....


...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....


...Terima kasih,...


...selamat membaca....


...____________________...


...A d a p t a s i...


...____________________...


...___________...


..._____...


..._...


"Jadi maksudmu, kau dan aku dulunya adalah teman kerja lalu kita akhirnya memutuskan untuk berkencan?" beo Maki, menunjuk Yolan dengan sendok ditangan. Lelaki yang duduk didepan wanita tersebut mengangguk, waktu sarapan pagi kali ini benar-benar damai.


Beberapa maid bahkan dibuat bernapas lega, jarang-jarang melihat pemandangan seperti itu saat pertama kali nyonya mereka menjejakkan kaki ke-mansion besar ini; hampir semua di-isi-i oleh adegan kekerasan. Yolan juga memberi peringatan kepada seluruh pekerja untuk tutup mulut, berlaga 'lah seperti biasa.


Supaya tidak menimbulkan kecurigaan atau efek kupu-kupu lainnya yang tidak diinginkan.


Maki ber-oh ria, tak ingin lagi melanjutkan pembicaraan dan lebih fokus pada makanan yang menjadi menu sarapannya. Meski begitu, isi bagian dalam kepala Maki melayang—wanita tersebut tengah memikirkan sesuatu.


Apa yang Yolan ucapkan terkesan terlalu dibuat-buat; itu menurut Maki—dia menyuap sesendok makanan kedalam mulut. Kenapa demikian? Itu karena Maki merasa, dia bukan tipikal yang mau bekerja. Lebih mudah mendapatkan uang dengan cara menggoda laki-laki dan mengambil barang berharga yang mereka miliki, dari pada harus banting tulang mengumpulkan pundi-pundi uang. Jika memang Maki berubah pasti ada suatu alasan sehingga orang binal sepertinya mau bertobat. Entah apa itu, Maki yang sekarang tidak mengetahuinya.


Mungkin hal ini berkaitan dengan dia yang menggunakan nama samaran. Kalau tidak salah Yolan memanggil wanita itu dengan sebutan Hanna.


Banyak tanda tanya bergelayut manja didalam otaknya, pertama-tama lebih baik untuk memulai 'adaptasi' toh! Walaupun Maki tidak bisa mengingat ingatan 10 tahun kebelakang, setidaknya Maki saat ini adalah sosok dengan ingatan semasa remaja. Dia tidak bodoh dalam artian sebenarnya.


"Lalu? Status kita saat ini apa?" tanya Maki tiba-tiba, mengenyampingkan piring yang isinya ludes dimakan oleh wanita itu. Maki kenyang.


Yolan mengangkat pandangan miliknya, terdapat jeda waktu sebelum lelaki tersebut buka suara.


"Menurut mu?" sambil menunjukkan jemari manis dengan cincin polos disana. Maki mengalihkan pandangan, dari bibir Yolan menuju kearah jemari yang Yolan tunjukan. Maki tidak berkomentar, kenapa? Karena dia tidak percaya.


Firasat wanita tersebut bilang, kalau Yolan sendiri tengah berbicara omong kosong dengan maksud menipu sosok Maki. Tapi lebih baik mengikuti alur yang sengaja lelaki itu ciptakan.


"Benarkah?!" ucap Maki semangat, seolah dia tak percaya dengan nada yang sedikit gembira. Melihat respon positif dari sosok Maki membuat Yolan tersenyum, apakah impian miliknya akan menjadi kenyataan?


Hidup bahagia bersama wanita tersebut.


Entah kenapa, seperti ada kepakkan sayap kupu-kupu yang menggelitik permukaan perut Yolan. Ah~ sial, dia merasa BA-HA-GI-A.


...***...


Beberapa hari terlewati, Maki akhirnya kembali ketempat dia semula. Maksudnya wanita tersebut tidak lagi terperangkap didalam ruang bawah tanah, meski Yolan masih memasang rantai dikedua kakinya dengan alasan tak masuk akal.


Jangan membuat Maki tertawa, lelaki tersebut bilang kalau Maki sendiri sering mengamuk jadi hanya untuk berjaga-jaga sementara waktu Maki harus dirantai sebelum Neli bilang kalau wanita tersebut sembuh secara total.


Jelas-jelas Maki yang sekarang memiliki kesadaran penuh 100% terhadap dirinya sendiri. Tidak mungkin apa yang Yolan katakan itu benar, tapi tak apa. Lakukan adaptasi sebaik mungkin dan dapatkan sebanyak-banyaknya informasi yang diperlukan sampai ketitik cukup.


Maki menantap dari kejauhan, terlihat pemandangan indah dibalik jendela berlapis tralis dikamar. Langit kekuningan, sebentar lagi waktu malam akan datang. Lebih baik Maki bersiap.


"Mari lakukan rencana."


Degh!


.


.


.


.


.


JEDARR—!


Pencahayaan dibuat remang, kilatan diluar sana sesekali masuk—dalam hitungan detik memberi kesan siang didalam kamar tersebut.


Kreet~


Terdengar daun pintu dibuka, Maki menilik dari balik ekor mata miliknya. Sosok Yolan baru saja masuk, dia menggunakan pakaian kimono sambil mengelap rambutnya dengan sebuah handuk.


Lelaki itu berjalan mendekat kesisi lain ranjang tempat Maki berada.


"Belum tidur?" tanya Yolan sedikit lebih keras dari pada biasa, bising diluar sana hampir menenggelamkan suara miliknya. Maki menggeleng, dia menunjuk pemandangan luar yang benar-benar heboh. Gemuruh guntur saling bersahutan. Yolan salah tangkap kalau Maki tidak bisa tertidur karena dia ketakutan. Dengan semangat lelaki tersebut menaiki ranjang, melempar asal handuk ditangannya lalu memeluk tubuh Maki.


Kesannya sedikit sensual. Maki mendesis kecil karena merasa terkejut serta tak nyaman, meski dia tidak ada niatan untuk mendorong tubuh bajingan itu untuk menjauh.


"Jangan takut sayangku Hanna... lebih baik kita tidur," gumam Yolan sembari menjilat gemas area tengkuk dari Maki, hal ini membuatnya terangsang secara sepihak.


Ah~ Yolan ingin sekali menggagahi tubuh Maki saat ini, tapi dia tak bisa. Peringatan yang Ed serta Neli katakan membuat lelaki tersebut harus menahan dirinya. Untuk sementara waktu.


Bersabarlah Yolan!


Sabar.


Berbanding terbalik dengan Yolan, sosok Maki sendiri menilik lelaki tersebut dengan ekspresi yang horor. Wajahnya benar-benar dingin serta sedikit, merasa jijik.


"Hah... Ini memuakkan~" Maki berbisik, tanpa suara. Dia mengikut apa yang Yolan inginkan; berbaring bersama diatas ranjang sambil berpelukan.


Kedua kelopak mata terpejam.


Tanpa waktu lama, kedua insan tersebut jatuh kedalam indahnya kegelapan.


BADUM!!!


...***...


Clik!


Bugh~


Suara rantai jatuh tepat diatas permukaan lantai, Maki menggerakan pergelangan kakinya. Benar-benar terasa bebas. Wanita tersebut terkekeh, dia berdiri dari bibir ranjang—berjalan mendekat menuju kearah jendala kamar.


Pukul berapa ini?


Langit masih hitam diluar sana, bahkan tanda-tanda hujan akan reda tidak kelihatan. Sosok Yolan sendiri terlelap damai diatas ranjang berbalut dengan selimut tebal.


Gemuruh guntur bersahutan, Maki lalu berbalik. Menantap dari kejauhan sosok lelaki bernama Yolan yang mengaku sebagai suaminya. Sudut bibir Maki terangkat, tawa remeh muncul kemudian.


Dengan tatap merendah wanita tersebut bergumam.


"Kau pikir aku percaya semua omong kosong yang kau ceritakan padaku?" ucap Maki berakhiran kalimat tanya. Wanita tersebut tertawa.


"Aku memang kehilangan ingatan 10 tahun kebelakang tapi rasanya masih segar, penganiayaan yang kau lakukan disini. Pada tubuh yang bahkan tidak bisa bicara serta mengingat apapun—" gantung. Maki melangkah mendekat, mengambil rantai dibawahnya dengan pandangan yang sulit diartikan.


"Persetan soal hubungan kita, aku hanya membenci bajingan gila seperti mu."


Maki menaiki ranjang, menjulangi tubuh Yolan sambil membawa rantai berbahan besi ditangannya.


"Maaf... Ini akan sedikit sakit tapi ku harap kau jangan sampai mati."


BUGH!


...***...


...T b c...


...Jangan lupa like, vote, dan comments...


...Terima kasih...


...Ketemu lagi nanti...


...Bye...


...:3...