
...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...Selamat membaca....
...______________________...
...R e n c a n a - A w a l...
...______________________...
...___________...
...____...
..._...
Maki menilik, tumben sekali wanita itu tidak menjumpai wujud dari lelaki bernama Yolan tersebut. Kemana perginya makhluk itu?
Dari pagi, tepatnya saat Maki pertama kali membuka kedua kelopak mata miliknya dia sudah tidak menemukan sosok itu disamping ranjang. Begitu juga dengan kedua orang tua dari Yolan, entah pergi kemana hanya tersisa beberapa pelayan yang bertugas menjaga serta merawat Maki layaknya orang sakit.
Dilihat-lihat sekilas ini seperti peluang kecil yang telah berikan kepada Maki tapi kalau wanita itu bertindak gegabah, sedikit saja—peluang tersebut bisa menjadi sebuah pisau bermata dua yang siap menusuknya dari belakang.
Terlalu berbahaya.
Apa yang harus Maki lakukan? Menunggu lebih lama lagi atau mengambil kesempatan ini?
Mana yang lebih baik?
"Haruskah aku—?!"
Tunggu?
Ah~
Maki punya ide, sudut bibir wanita itu tiba-tiba terangkat. Sesuatu baru saja muncul didalam benaknya. Entah apa itu yang pasti hanya Maki yang tahu.
HAHA!
...***...
William bersandar lelah disandarkan kursi kantor miliknya, lelaki ini melenguh. Kepalanya pusing; banyak hal yang harus ia pikirkan. Mau itu tentang Maki atau bagaimana cara untuk menyelamatkan wanita tersebut sampai ke-hal-hal remeh lainnya, dia bahkan ditekan oleh sosok mamah. Lelaki itu berkata—
Jangan melakukan apapun William. Dengan sangat tegas.
Berapa kali rasanya William ingin mencoba memberontak, meski selalu berakhir nihil. Dia tidak bisa melawan kekuasan mamah. Jika William bertindak lebih jauh lagi, mungkin saja mamah akan benar-benar marah. Dia pasti berteriak; hanya karena perkara wanita kau ingin menghancurkan keseimbangan?! Sedikit saja salah langkah, tamat riwayat kita.
William tidak menyalahkan argumentasi yang ayahnya berikan, tapi—hanya saja dia sungguh-sungguh ingin menyelamatkan sang istri. Tidak lebih, dia sudah dibuat mabuk kepayang.
Baru saja bertemu, tidak sampai hitungan bulan sosok Maki kembali direbut dari genggaman tangan milik William. Siapa yang tidak kesal coba?!
Bayangkan saja.
Ditambah, beberapa waktu terakhir Langa—anaknya itu berubah menjadi sedikit rewel. Dia selalu menangis merindukan sosok sang mamah, setiap malam berteriak sampai-sampai lelaki itu tidak bisa meninggalkan bocah tersebut sendirian. Atau dia akan menjadi panik lalu—sedikit bertingkah anarki.
Tch!
Salahkan si banci sialan itu!
Berkatnya Langa trauma.
William harus membawa kemana-mana sosok sang anak, termasuk ke-kantor tepatnya bekerja yang jujur sebenarnya dipenuhi oleh anak buah dengan tampang mengerikan.
Rata-rata yang bekerja untuk William adalah mantan kriminal, para preman dan orang-orang yang terbuang serta dikucilkan dari masyarakat. Ada juga yang dipaksa bekerja karena terlilit hutang. Anehnya Langa tidak merasa ketakutan, dia seolah biasa; anak lelaki satu-satunya William memang hebat.
Tak heran, dia bahkan berani menodongkan sebuah pisau keleher sang ayah.
Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.
Ha-ha.
Tanpa sadar William terkekeh, lelaki itu membuka pelan matanya. Langa tengah bersama Lohan, bermain diluar sana entah kemana yang pasti si bungsu psychopath dari organisasi mereka menjanjikan secup penuh es krim rasa coklat kepada bocah lelaki itu. Mungkin saat ini mereka sedang berkeliling mencari mini market atau kedai es krim untuk memenuhi hasrat akan benda dingin tersebut.
"Kau hebat Maki, merawat Langa seorang diri..." gumam William, memuji sedikit kehebatan sosok Maki yang berhasil merawat anak mereka seorang diri hingga sekarang tanpa terkendala sesuatu.
Menyajikan dia sebuah kehidupan yang normal. Berbeda dengan sosok yang William kenal.
Drttt!
Getar telepon genggam menarik perhatian, manik kecoklatan milik William turun; menunduk tepat kearah benda itu. Nama anak buahnya terpampang jelas dilayar telepon genggam tersebut, tanpa ragu William menggapainya.
Bip!
"Informasi apa yang kau miliki?" tanya lelaki itu langsung, beberapa detik setalah menekan tombol terima.
Apa yang ia terima cukup bagus, William dengar 3 dari 25 anak buahnya berhasil menyusup masuk kedalam mansion tempat tinggalnya Yolan bersama keluarga. Hanya perlu menunggu sedikit lebih lama lagi William mungkin saja bisa mendengar kabar baik. Ini tentang Maki, lelaki itu harap dia baik-baik saja.
"Lanjutkan..."
"Baik bos!"
Bip!
Sambungan ditutup secara sepihak. William berdiri, lelaki bermanik emerald ini melirik. Menantap dalam sejenak pemandangan luar dari balik dinding kaca jendela.
Langit biru terbentang luas disana. Lelaki itu kemudian melangkah pergi, meninggalkan ruang kerjanya dengan irama yang konstan.
.
.
.
.
.
"Selamat... tinggal~"
Maki tertawa, manik kecoklatan milik wanita tersebut berkilat. Ada percikan api disana. Dari kejauhan wanita itu bersembunyi disemak belukar, setelah memantik bunga merah dan membiarkan mereka untuk mekar; perlahan-lahan bunga tersebut melahap seisi bangunan.
Ia harap tidak memakan seorangpun korban jiwa.
Ingin tahu apa yang sebenarnya Maki lakukan? Mari mundur beberapa langkah dari sekarang.
"Boleh aku keluar? Aku ingin menghirup udara segar..." tanya sosok tersebut pada wanita berpakaian maid tepat disebelahnya. Maki terlihat bosan, dia lelah hanya duduk diam seharian didalam kamar.
Maid itu tampak berpikir, mungkin sedang mengingat-ingat kembali titah apa yang tuan mudanya telah berikan. Dia rasa tidak masalah kalau ingin menjejakkan kaki ke-taman bagian depan.
Nona muda ini juga pasti merasa gundah, lama-lama terkurung didalam mansion seorang diri.
"Tentu saja nona~" sahut maid tersebut, ramah, berhasil menarik sudut bibir milik Maki.
"Benarkah?!" beo wanita itu lagi-lagi mendapat anggukan dari maid tersebut.
Maki merasa senang.
Tidak ingin membuang secuilpun waktu, wanita itu langsung menyeret maid tersebut pergi dari sana. Suara kuncian terdengar, dibuka dengan sengat pelan. Rasanya—Maki sanggup langsung berlari kencang keluar dari sini.
Tapi tahan.
TAHAN DULU MAKI, LAKUKAN DENGAN SEMPURNA.
Selama ini, dia hanya mendapat akses keluar dari kamar saat Yolan mengajak Maki untuk pergi makan bersama dengan orang tuanya. Tidak lebih. Sampai Maki hafal lorong panjang menuju tempat makan tersebut. Mengesalkan bukan?
Beruntung sekali, entah pergi kemana sosok tersebut bersama orang tuanya—Maki harap mereka tidak pulang dalam waktu dekat.
Waktunya melakukan rencana tahap awal.
Kerahkan seluruh kemampuan otakmu Maki, ingat denah jalan menuju area luar. Bersama dengan seorang maid polos yang kelihatannya baik hati.
Ku manfaatkan kenaifan mu, maafkan aku.
Dan terima kasih.
...***...
"TUNGGU?! BAGAIMANA BISA TERBAKAR?!" teriak William panik, baru beberapa waktu yang lalu dia mendapat kabar baik soal anak buahnya.
Laporan apa lagi yang lelaki itu dapatkan?
Mansion milik banci tersebut terbakar?
Yang benar saja.
"Lalu dimana istriku! Tidak mungkinkan kau akan bilang kalau istriku ikut dilahap api. Yang benar saja?!"
Argh—
Tidak terdengar jawaban dari arah seberang sana. Sudut bibir William berkedut, lelaki itu mencengkeram kuat telepon genggamnya sambil mencoba menahan amarah sebelum ia berakhir dititik muak.
Tiga...
Dua,
Satu.
"Huh~" lenguhan napas lelah hadir setelah itu, wajah tenang yang tiba-tiba muncul malah memberikan kesan sedikit menakutkan.
Celah bibir William terbuka, lelaki itu berkata.
"Cari, cari istriku Maki. Dia tidak akan mati semudah itu. Apapun yang terjadi, wanita gila tersebut akan selalu mengutamakan keselamatan dirinya lebih dari siapapun."
Benar begitu sayang?
...***...
...T b c...
...Jangan lupa like, vote, dan comments...
...Terima kasih...
...Ketemu lagi nanti...
...Bye...
...:3...