FreeDom

FreeDom
Kebebasan



...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....


...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....


...Terima kasih,...


...selamat membaca....


...____________________...


...K e b e b a s a n...


...____________________...


...___________...


...____...


..._...


"Berapa banyak anak buah ku yang ikut?" tanya William langsung, Lohan menoleh. Suara daun pintu mobil ditutup dengan keras. Lelaki itu berpikir, kalau tidak salah—


"Lima belas orang," jawab Lohan kepada William.


Tetesan air hujan dari pakaian yang William kenakan membanjiri bangku penumpang, lelaki bermanik emerald tersebut memberi isyarat agar anaknya Langa tidak mendekat dan menjaga jarak.


"Kerahkan mereka semua, selidiki apa yang sebenarnya terjadi!"


"Yes bro..." sahut Lohan patuh. Sejak kapan kau jadi bagian anak buah milik William? Ini menggelikan, andai saja firasat buruk itu tidak muncul mungkin Lohan akan membantah.


Lelaki yang merupakan anak bungsu dari organisasi tersebut mulai banting setir, mereka pergi dari sana. Membelah hujan dengan kereta tanpa kuda.


.


.


.


.


.


"Kecelakaan lalu lintas, sebuah mobil menabrak seorang wanita." ucapnya.


Kening William berkerut.


"Rinciannya?" Anak buah tersebut menahan napas, sebelum akhirnya kembali bicara. Berbeda dengan William yang menantap kosong pemandangan diluar kaca jendela hotel, Lohan sedari tadi memperhatikan anak buah milik kakaknya itu yang tampak ketakutan. Bagai rusa kutub, tak heran dia gemetaran. Beberapa waktu belakangan bos yang dia layani kembali menggila dan nyaris menghancurkan satu kelompok organisasi mereka. Atau bisa juga dia ketakutan karena ditatap intens oleh mu Lohan, kelompok yang sampai sekarang tidak memiliki satu orang pun anggota. Ingat khasus pembantaian? Catatan kriminalitas yang Lohan lakukan setara dengan penjahat kelas atas. Meski sebenarnya lelaki itu hanya menggantikan peran algojo dan menghukum anak buahnya yang sudab sepantasnya untuk mati.


Kesampingkan sikap gila lelaki itu ketika marah. Ha-ha!


"Seorang wanita tiba-tiba melangkah ketengah jalan, beberapa orang sudah berusaha memanggilnya tapi dia tak bergeming lalu kemudian mobil dengan kecepatan tinggi muncul dan menabrak wanita itu." ucap sang anak buah. William terdiam, otaknya merangkai simulasi dari informasi yang ia dapatkan.


Lelaki bermanik emerald itu ingin kembali bertanya, tapi suara daun pintu yang terbuka mengalihkan pandangan serta fokus semua orang. Siapa lagi kalau bukan Langa? Si pengganggu kecil mereka.


William bergegas bangkit dari duduknya, lelaki itu mendekat untuk bertanya; ada apa gerangan ia kemari? Tapi pandangan Langa malah tidak tertuju pada William.


Sang anak buah gemetaran, mata yang serupa dengan milik bosnya meneliti dari atas hingga kebawah dengan tatap datar. Bibir Langa terkunci rapat, apa yang bocah lelaki itu tengah pikirkan?


"Ciri-ciri?" gumam Langa kemudian. Apa maksudnya? Tiga kepala orang dewasa disana dibuat berpikir. Anak buah William yang pertama menyadari kalau pertanyaan dengan nada serupa bisikan itu ditujukan padanya langsung menjawab.


"Wanita tinggi dengan kulit pucat—"


^^^"Tanpa alas kaki dan hanya menggunakan pakaian tidur ditambah tudung kepala. Benar begitu?"^^^


Sambung Langa mengejutkan semua orang, alis William berkerut. Dia mendekati sang anak dengan tatapan intens sambil memperhatikan raut muka dari bocah tersebut. Langa mengenalinya, hanya ada satu jawaban yang terlintas dibenak milik mereka.


Dan itu adalah—


"Mamah..."


Maki. |


DEGH!


"Selidiki ambulan yang membawa tubuh Maki dari sana, cari tahu rumah sakitnya! SEKARANG!" titah William langsung, mendapat anggukan dari sang anak buah. Tanpa basa-basi lelaki itu angkat kaki, pergi dari guna menjalankan perintah.


Sama halnya dengan William yang cepat membuat keputusan, Lohan langsung mengambil laptop miliknya. Membuka website aneh lalu berselancar didalam sana, dia perlu meretas beberapa kamera pengawas yang ada di pulau kecil ini.


"Jangan sampai kehilangan sosok mamah lagi..." ucap Langa sedih sembari menantap dari kejauhan aktivitas yang tengah sang ayah serta pamannya lalukan.


Semoga beruntung. |


...***...


Dingin.


Deg!


Kenapa semuanya terasa dingin?


Deg!


Apa yang sebenarnya terjadi?


DEG!


Disini gelap, benar-benar gelap.


DEGH!


Siapapun, tolong aku.


BEDUM!


"Ergh?!" Maki membuka pelan kedua kelopak mata yang masih terasa berat. Benda-benda asing banyak menempel ditubuh, apa ini? Kenapa Maki tidak bisa menggerakkan tubuhnya?


Semua terasa berat, bahkan sekadar menggerakkan kelopak mata; berhasil membuat Maki keletihan. Langit-langit yang terlihat berwarna putih tulang, dimana aku? Batinnya penasaran sebelum kembali terpejam.


Dilalap oleh sang kelam.


.


.


.


.


.


"Keadaan nyonya lebih baik dari pada sebelumnya, saya harap anda memperhatikan pola makan nyonya—jangan sampai dia melewatkannya,"


Lelaki itu mengangguk, bersama dengan sang dokter; mereka menantap dari kejauhan sosok Maki yang bersandar lemas dikepala ranjang. Tatapan mata milik wanita tersebut benar-benar kosong, dia hanya memandangi rumput-rumput hijau dibalik jendela kaca berlapis tralis panjang.


Lewat berapa bulan Maki mendapatkan perawatan, mulai dari tidak bisa bergerak sampai akhirnya dia dapat bangun dengan sendirinya. Hanya saja wanita itu tampak tidak terlalu merespon hal-hal yang ada disekitarnya.


Dia selalu menantap kosong dari kejauhan, hasrat kehidupan wanita itu seperti lenyap entah kemana. Dari pemeriksaan berkelanjutan Maki mengalami hantaman kuat dibagian kepalanya, itu membuat Maki mengalami geger otak. Banyak hal yang dia lupakan, bisa dibilang wanita tersebut amnesia total.


Dia bahkan lupa caranya untuk bicara.


Hanya bisa termenung membisu diatas ranjang sambil memperhatikan semua orang, yang bahkan tampak asing dimatanya.


Beberapa kali Maki mengalami overventilasi hingga membuatnya kejang serta gangguan panik. Banyak dokter yang menangani Maki secara khusus; sekarang Maki tidak lebih seperti boneka hidup yang tidak bisa melakukan apapun.


"Kalau begitu saya pergi dulu..." ucap dokter itu lagi, sosok yang berdiri disamping lelaki berpakaian putih tersebut mengangguk.


"Terima kasih dokter..."


Sebelum benar-benar beranjak dari sana, sang dokter kembali bicara.


"Sampai bertemu lagi dipemeriksaan selanjutnya, tuan Yolan..."


Sudut bibir Yolan terangkat, wajahnya tersenyum ramah. Sambil menyahuti dokter; lelaki itu menampilkan eyes smile andalannya.


"Tentu saja, sampai bertemu lagi dok~"


Tap~


Tap~


Tap~


Suara langkah kaki menjauh terdengar, Yolan berbalik. Menantap miris kearah Maki yang masih duduk diposisi.


Lelaki itu memutuskan untuk mendekat, setelah berdiri tepat disamping ranjang—tangan Yolan terangkat. Menuju surai-surai indah milik Maki. Lelaki tersebut membawa helaian rambut wanita bermanik kecoklatan itu menuju bibirnya. Yolan menunduk.


Kemudian terdengar—


Cup~


Suara samar-samar.


"Salah mu yang membuatku jadi begini Hanna~ aku tidak lebih seperti seorang bajingan yang terobsesi dengan paras cantik serta hati indah mu..."


Maki. |


"Jangan berpikir untuk lari, aku mencintaimu~"


Lebih dari siapapun di-dunia ini.


Termasuk lelaki bajingan bernama William tersebut.


"A... argh... ?"


Yolan menegakkan tubuhnya, Maki terdengar bergumam. Sesuatu yang tidak jelas. Manik mata dari lelaki tersebut ikut menoleh, kearah pandangan yang Maki tujukan.


Ada burung disana.


Beterbangan dengan bebas diluar kaca jendela. Melihat hal tersebut Yolan terkekeh, Maki benar-benar lucu.


Masih mengharapkan sebuah—kebebasan.


Menggelikan. |


...***...


...T b c...


...Jangan lupa like, vote, dan comments...


...Terima kasih...


...Ketemu lagi nanti...


...Bye...


...:3...