FreeDom

FreeDom
Bentuk Pertahanan



"Lan-ga?"


Maki membuka matanya pelan, langit-langit ruangan bawah tanah yang tidak lagi asing menyambut penglihatan wanita itu. Dia baru saja bergumam, menyerukan satu nama.


Langa.


Siapa 'kah itu? Batin wanita tersebut penasaran. Gemericing rantai yang berada dileher layaknya sebuah kalung terdengar, Maki baru saja mengubah posisi tidurnya menjadi setengah bersandar dikepala ranjang.


Berapa lama ia tertidur?


Kenapa kepala Maki terasa pusing? Wanita bermanik kecoklatan tersebut dengan sorot pandang kosong—menilik, ada seseorang tepat disamping.


"Siapa?"


Tengah berbaring dengan lelap seakan itu memang tempatnya.


...___________________________...


...B e n t u k - P e r t a h a n a n...


...___________________________...


...______________...


...______...


..._...


Yolan cukup terkejut ketika dia pertama kali membuka kedua kelopak mata pada pagi hari ini. Bukan apa-apa, sosok yang biasanya masih terlelap kini lebih dulu bangun dari pada lelaki itu. Menyambut Yolan dengan keadaan normal seraya meminta sosoknya untuk melepaskan semua rantai yang membelenggu.


"Bisa tolong lepaskan ini?" ucapnya, menarik rantai dengan maksud menunjukan bahwa dia risih terhadap benda tersebut. Mau tak mau Yolan beranjak dari tempat tidur, mendatangi sambil mengeluarkan sesuatu yang biasa disebut sebagai kunci untuk melepaskan sosok Maki.


"Akhirnya~" lenguhnya. Merasakan kembali yang namanya kebebasan. Wanita itu merenggangkan otot-otot serta melakukan pemanasan ringan, Yolan termenung; memperhatikan dari kejauhan. Pikiran lelaki tersebut melayang—memikirkan berbagai macam kemungkinan. Situasi apa ini? Jangan-jangan Maki sudah kembali ke-dirinya sendiri?! Menemukan eksistensi tentang siapa dia sebenarnya!


"Han-na?!" panggil Yolan gagap. Tanpa sadar dia menelan saliva kasar, mencoba menggapai bahu Maki. Yolan lihat ada jejak luka akibat rantai dileher wanita tersebut, ia meringis—sakit. Apa yang telah aku lakukan? Tamparan kecil menyentil hati Yolan. Meski dia tidak akan menyesal telah melakukan hal tersebut pada satu-satunya wanita yang ia cintai. Dia 'kan bajingan? Ha-ha |


Anehnya Maki tidak bereaksi terhadap panggilan tersebut. Dia acuh tak acuh, fokus dengan apa yang ingin ia lakukan; pemanasan. Hal ini membuat Yolan geram, dia mencoba memanggil kembali wanita tersebut sambil membalikkan tubuh Maki supaya langsung menghadap padanya.


"Hanna!"


Maki tersentak, mulut wanita itu terkunci rapat sambil melayangkan tatapan heran kearah sosok Yolan. Apa yang lelaki ini inginkan dari Maki? Kira-kira begitulah yang wanita bermanik kecoklatan tersebut pikirkan. Dia mendorong Yolan agar menjaga jarak dengan dirinya, bicara cukup dengan mulut; tidak usah sampai mengkikis jarak satu sama lain hingga menimbulkan kesan intim.


"Aku bukan Hanna..." ucap Maki tenang. Berhasil mengundang keterkejutan dari diri Yolan, apa lagi yang ia maksud? Lelaki ini tak paham.


Celah bibir Maki lalu terbuka.


"Nama ku Makia..." ungkapnya, lagi-lagi dalam keadaan super tenang.


...***...


"Kemungkinan saja ini adalah kepribadian yang madam sengaja ciptakan. Untuk pertahanan diri karena terlalu banyak mendapat tekanan yang merusak kestabilan emosi miliknya." Neli mengungkapkan opsi setelah selesai melakukan pemeriksaan.


Maki cukup normal bahkan bisa dikatakan sehat, ini sungguh khasus yang langka—selama Neli bekerja dibidang kejiwaan, baru kali ini rasanya dokter tersebut menangani khasus seperti ini.


Unik, benar-benar unik.


"Anda tidak merasakan perasaan janggal atau semacamnya 'kan madam?" tanya Neli kembali untuk memastikan. Maki mengangguk dengan mantap. Wanita yang duduk dibibir ranjang itu mengayunkan kedua kaki seraya menunggu Yolan berbicara dengan sosok yang Maki tebak adalah seorang dokter. Dilihat dari gelagat serta pakaian formal yang ia kenakan.


"Saya juga punya opsi lain tuan—" Apa yang Neli ucapkan tertangkap oleh pendengaran wanita tersebut. Maki rasa, tidak masalah untuknya menguping; dalam artian ikut mendengarkan perihal apa yang terjadi pada dirinya sendiri. Ya 'kan? Lagi pula Maki juga penasaran.


"Bisa jadi ini adalah sosok asli dari madam, maksud saya—maaf! Anda bahkan tidak bisa menemukan latar belakang madam secara sempurna. Kemungkinan ini bisa saja."


Masuk akal. Tanggap Yolan, ikut memikirkan beberapa kemungkinan yang Neli katakan.


"Jadi maksudmu? Dia yang sekarang bisa jadi adalah jati diri sebenarnya atau juga sosok delusi yang sengaja diciptakan untuk mempertahankan kewarasan..." Itu points yang Yolan dapat. Neli mengangguk, meski hanya kemungkinan tapi presentase-nya nyaris 50 : 50 jadi hal itu patut untuk dipertimbangkan. Neli juga harus cepat-cepat membuat laporan, supaya bisa bergerak lebih efektif serta efisien. Sejauh ini dia hanya berperan sebagai pengamat.


Jangan membuang waktu lagi, tuan sedang menunggu. |


"Kalau begitu saya permisi," ucap sang dokter kepada sosok Yolan. Dia merasa tugasnya telah selesai, hanya perlu melakukan pemeriksaan ringan secara berkala saja sampai Maki bisa dikatakan kembali sehat. Neli juga menyarankan pada Yolan agar memanggil Ed untuk merawat luka lecet disekujur tubuh wanita itu. Bukan karena Neli tidak bisa, hanya saja peralatan medisnya yang tidak memadai a.k.a wanita itu lupa membawanya. Ha-ha! Mendapat panggilan mendadak dipagi hari bukanlah hal yang lucu.


Neli salut pada temannya Ed yang bisa bekerja dibawah tekanan psychopath gila ini. Dia tidak berperikemanusiaan.


Yolan mengangguk, mengiyakan izin pergi dari tempat yang Neli paparkan. Tanpa basa-basi wanita tersebut angkat kaki dari sana. Tanpa menoleh, membiarkan sosok Yolan bersama dengan madam.


Nyonya Maki. Batinnya.


...***...


Maki hanya memperhatikan dari kejauhan, dokter tadi sudah lama pergi dari sini. Tersisa sosoknya bersama dengan lelaki bernama Yolan, dari analisis yang Maki lakukan.


Ada potongan puzzle kosong pada dirinya. Maki jujur tidak dapat mengenali sosok Yolan yang memanggil dengan sebutan Hanna. Maki juga sempat bertanya, tahun berapa saat ini pada sosok Neli dan jawaban mengejutkan membuat Maki sedikit bisa menarik kesimpulan.


Dia sekarang berada 10 tahun dari ingatan terakhirnya. Karena beberapa alasan, Maki enggan angkat suara. Pasti ada sesuatu yang terjadi pada dirinya sehingga harus menggunakan nama samaran.


Maki rasa, lebih baik jadi pengamat sebelum membuat keputusan. Yolan berbalik, lelaki tersebut nampak frustrasi. Dia mengacak-acak surai rambut dengan sela jari tangan.


Kedua mata tersebut bersinggungan.


"Ku rasa lebih baik kita sarapan?" ucap Maki kemudian, tanpa pikir panjang demi mencairkan suasana.


"Hah~" terdengar Yolan menghela napas panjang. Terdapat jeda waktu beberapa detik sebelum dia memilih untuk menyahuti.


"Kau benar sayang, lebih baik kita sarapan..." sahutnya, kemudian. Yang berhasil membuat Maki merinding.


Apa-apaan itu?!


Ada apa dengan lelaki tersebut? Rasanya Maki sedikit merasa jijik.


...***...


...T b c...


...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....


...Jangan lupa klik like, vote, dan comments jika kalian suka....


...Terima kasih,...


...ketemu lagi nanti...


...Bye...


...:3...