
...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...selamat membaca....
...__________________...
...S i k a p...
...___________________...
...___________...
...____...
..._...
"Apa yang sedang coba kau lakukan son?" William membuang pandangannya jauh, tak ingin membalas manik mata seseorang yang duduk tepat didepan sana. Mamah atau sebut saja pemimpin utama dari organisasi 12 bintang, lelaki tua berusia setengah abad. Meski kulit sudah banyak ditutupi oleh keriput, hal tersebut tidak dapat menghilangkan aura karismatik yang dia pancarkan. Benar-benar sosok idola untuk sebagian orang, terutama di dunia para mafia.
William sedikit terkejut, pagi ini ketika dia membuka matanya—dia sudah diseret paksa oleh beberapa anak buah yang bekerja langsung dibawah kemando mamah. Rasanya baru kemarin lelaki itu menyerahkan berkas pengunduran diri ke-kantor utama. William ingat kalau seharusnya mamah sedang melakukan perjalanan keluar negeri dan akan kembali 3 minggu lagi tapi siapa kira belum lewat beberapa jam dari penyerahan berkas tersebut William sudah mendapati email berisi 'aku akan membunuh mu' sebagai balasan lalu keesokan harinya malah berakhir begini.
Berdiri dengan posisi siap sambil dipandangi oleh lelaki tua yang duduk tepat diatas singga sana-nya. Argh! Gerah, benar-benar gerah. William ingin sekali cepat-cepat keluar dari sini. Manik mata serupa dengan milik William terlihat menjelajah dari ujung kaki hingga ujung kepala. Mamah berpikir sebelum memulai percakapan antara dirinya dengan sang putra.
"Apa yang membuat mu berpikiran ingin berhenti dari industri ini son?" tanya mamah ramah, dari nada lembut itu tersiratkan makna dalam berisi kemarahan dari sang lelaki tua.
Glek!
William menelan saliva kasar. Sial, mau tak mau dia menoleh—membalas tatapan mamah; pimpinan utama dari organisasi 12 bintang.
Sesama manik emerald saling beradu pandang, terjadi keheningan beberapa saat sebelum William memutuskan untuk buka suara. Hela napas gusar sebagai pembuka, mamah diam memperhatikan.
Rona merah naik.
"Istri saya... meminta saya untuk berhenti dari sini," cicit lelaki itu, membuat beberapa anak buah yang berjaga tepat dibelakang sosok mamah tersentak. Mencoba menahan tawa agar tidak terbahak. Alasan apa itu?! Sungguh konyol, hujat mereka dalam hati.
Berbeda dengan sang mamah, lelaki itu tampak terdiam. Dia tak percaya dengan apa yang baru saja putranya ucapkan. Pendengaran mamah tidak mungkin bermasalah, apa yang William katakan?
Istri?
Yang benar saja.
"Aku tidak tahu kalau kau masih melakukan permainan konyol tersebut son, ku pikir kau sudah berhenti 6 tahun yang lalu..." sindir sang mamah atas kekacauan yang William lakukan beberapa tahun kebelakang. Emerald muda itu meringis, dia tahu apa yang mamah-nya maksud.
"Dan aku juga selalu bilang, tidak ada wanita yang lebih baik dari ku William."
Tapi kau pria, batin semua orang yang berada disana. Walau tidak ada yang berani menyuarakan hal tersebut secara langsung tepat dihadapan sang mamah. William mendengus, dia membuang mukanya.
Permainan itu lagi.
"Ayah, berhenti menekan mental ku?!" gerutu William tiba-tiba, sosok lain muncul kepermukaan. Tuan muda manja mereka kembali, menyilangkan tangan ke-dada sambil menampilkan raut wajah dongkol tiada kira.
Mamah terkekeh, suasana tegang tadi berubah menjadi cair seketika.
Dia tampak membolak-balik kumpulan berkas yang William serahkan sebelumnya, lalu melihat beberapa berkas lain yang diletakan oleh tangan kanannya. Terdapat gambar Maki beserta Langa; mereka tidak lain adalah menantu juga cucu dari lelaki tersebut.
"Kau yakin akan serius kali ini son?" tanya mamah bersifat menggoda. William kembali ke-sosok seriusnya. Dia mengangguk, lelaki itu sudah dibuat gila oleh Maki bahkan setelah 6 tahun berlalu—William tidak akan pernah bisa lupa dengan sosok menawan wanita tersebut.
Memikirkannya saja membuat terangsang, apa lagi kalau mereka punya kesempatan lain untuk bermain diatas ranjang. Meski bukan sekarang William harus bersabar, banyak hal yang harus dia selesaikan—jika ingin memulai jenis kehidupan baru serta bebas dari kotoran.
Harus benar-benar sempurna. |
Demi keluarga bahagia.
Sang mamah menantap ragu, berharap kejadian ini tidak seperti kejadian sebelumnya. Ini bukan pertama kalinya William membuat kehebohan dengan cara mengklaim seorang wanita, dia tahu kalau putranya ini terobsesi dengan konsep keluarga. Itu kenapa mamah menciptakan organisasi ini; semata-mata ingin memperbaiki mental sang anak. Tapi dia malah semakin banyak membangun kepribadian gila dan nyaris melupakan siapa dirinya. Mamah menyerah. Semua ini karena wanita itu, ibu dari William—dia merusaknya. Membuat sang anak menjadi hancur sampai membuat mamah turun tangan kedunia hitam untuk memperbaikinya.
"Jika kau keluar dari industri ini? Kau ingin jadi apa son? Kau tahu, selama ini kau hidup dengan uang tersebut. Tidak mungkinkan kau ingin jadi gelandangan? Menantu ku pasti tak suka..." candanya tapi berhasil membuat William berpikir serius. Dia tahu maksud sang mamah, lelaki itu juga sudah memikirkan beberapa rencana cadangan seperti mengelola sebuah toko atau sejenisnya.
Melihat keterdiaman lelaki itu membuat mamah menghela napas panjang. Sesuatu sudah muncul didalam benak lelaki tua itu, dia hanya perlu menyampaikannya kepada sang anak.
"Pikirkan kembali, apa yang benar-benar kau inginkan... aku akan menyetujui proposal mu tapi, hadapi big three sendirian... kau tahu bagaimana mereka bukan? Jangan sampai mati son..."
William tersenyum ketika mendengarnya, dia sungguh merasa senang. Jadi kesayangan diantara semuanya memiliki nilai lebih rupanya, lelaki itu hanya perlu berhadapan dengan 3 saudara tirinya lagi. Para big three yang mungkin tak akan segan menggorok leher William nantinya, meski itu terdengar tidak mungkin.
Ha-ha |
...***...
"Sudah lama aku tidak kemari~" ucap Diana, melepaskan alas kakinya lalu masuk bersama sosok Maki.
Tap!
Tap!
Tap!
Suara derap langkah kaki kecil terdengar dari kejauhan. Wajah Langa muncul menyambut penglihatan mereka. Maki tersenyum ketika Langa berlari lebih cepat lalu memeluk kaki wanita tersebut.
"Selamat datang mah?!" seru Langa senang meski berubah hancur ketika pandangan matanya bertemu dengan sosok lain. Diana tersenyum canggung, dia selalu tidak bisa akur dengan anak temannya itu.
Sejujurnya Diana juga tidak terlalu suka dengan Langa, anak itu punya isi dalam otak yang mengerikan. Kemampuan berpikirnya.
"Jangan hanya melotot kepada bibi Diana, sapa dia Langa..." tegur Maki, terdengar Langa mendecih—walau dia tidak suka bocah nakal itu masih mau menyapa Diana dengan tampang terpaksa.
Diana memaklumi hal tersebut, mereka berjalan masuk menuju bagian tengah ruangan sambil berbincang hangat.
Ditengah percakapan santai wanita tersebut terpikirkan sesuatu, dia melihat Langa yang mulai mengambil beberapa buku karena tidak berminat masuk kedalam pembicaraan kedua wanita tersebut.
"Papah mana Langa?"
Diana tersentak, dia menantap risih sosok Maki. Kenapa harus mencari bajingan itu—ya, walau sejujurnya Diana juga sedikit merasa penasaran dengan wajah suami Maki.
TAPI—!
Argh!
Lupakan.
Langa menoleh dia lalu menggeleng sambil menjawab—
"Papah bilang akan sibuk beberapa waktu terakhir ini mah, jadi papah tidak bisa pulang..." ucapnya lugu.
Maki mengangguk, dia paham—pasti banyak hal yang harus lelaki itu lakukan. Ini sesuai dengan permintaan Maki. Lain hal-nya dengan Diana, dia mendelik tak suka ketika mendengarnya; pikiran wanita itu melayang. Lantas dia bergumam, cukup nyaring hingga mampu didengar dengan baik oleh telinga milik Maki.
"Pasti berselingkuh lagi!"
...***...
...T b c...
...Jangan lupa like, vote, dan comments...
...Terima kasih...
...Ketemu lagi nanti...
...Bye...
...:3...