
...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...selamat membaca....
..._________________________________...
...R u a n g - B a w a h - T a n a h...
..._________________________________...
...________________...
..._____...
..._...
Bugh—!
Maki terjatuh, Yolan tiba-tiba saja menerjang tubuh wanita itu; memaksanya untuk mundur beberapa langkah hingga membuat Maki oleng kebelakang dan BOOM!
Punggung dari Maki membentur permukaan lantai yang dingin.
Baru lewat 15 detik setelah dentuman keras meja nakas yang menghantam permukaan daun pintu, Yolan sudah melakukan semacam tindakan ekstrem pada wanita bermanik kecoklatan kosong tersebut. Dia menduduki tubuh Maki, menekannya kuat dengan bobot berat badan lalu membekap mulut wanita itu.
"Hmppp—! Mphss!" hanya terdengar sesuatu yang tidak jelas.
Yolan layangkan tatapan dingin, dia sedikit marah atas tindakan impulsif yang Maki lakukan. Tangan lelaki yang massa ototnya mulai terbentuk mencengkeram kuat mulut hingga rahang wanita itu. Membuat Maki meringis kesakitan, ditambah rasa sesak; Yolan yang menduduki brutal tanpa peduli akan menyakiti si empunya tubuh.
"Hanna, kau bisa membunuh seseorang jika terus bertindak begitu..." geram Yolan, memperkuat cengkeraman.
"HMPP! HMPSS!"
Maki menggeleng, terdengar erangan tak bermakna dari mulut wanita yang sedang dibungkam itu. Yolan melihat, kedua manik mata milik wanita ini berair. Dia nyaris menangis, menendang-nendang lantai dengan kaki serta tangan yang berusaha mendorong jauh tubuh Yolan meski tahu semua usaha tersebut berakhir sia-sia.
"Argh! Eghm! Hmpp—!"
Tanpa peduli terhadap kondisi Maki, Yolan kembali melanjutkan; apa yang ingin dia katakan.
"Jangan terlalu banyak tingkah, atau aku akan mengurung mu dilantai bawah tanah! Hanna!" ucap Yolan, sarkas sambil mengempas tangan menjauh dari sana. Terlihat dari sela jemari, terdapat benda lengket bernama saliva memenuhi permukaan telapak tangan.
Yolan berdiri, menjauh dari tubuh Maki. Wanita yang sudah terlanjur menangis dalam diam hanya mampu memperhatikan dari kejauhan, manik kosongnya menantap dingin sosok Yolan yang menjulang tinggi.
"Hiks... hiks..."
Sialan! Wanita ini mengutukmu Yolan. Camkan itu!
Manik kecoklatan milik Maki melihat Yolan mengangkat tangannya menuju bibir lalu menjilat sisa saliva yang menempel disela jari tangan lelaki itu. Lagi-lagi, tindakan Yolan sangat menjijikan. Sungguh. Berhasil membuat Maki menggigil; mual.
Mulai dari sekat jemari hingga ke ujung kuku, Yolan menjilat dengan gerakan pelan; memberi sensasi unik hingga berhasil membuat dirinya sendiri merasa terangsang. Rona merah bermunculan, ah~ dia jadi teringat sensasi kecil ketika pertama kali memilih untuk meniduri sosok Maki.
Sayangnya Yolan sekarang tidak bisa melakukan itu karena kondisi psikis Maki semakin hari semakin buruk. Dia mendapat peringatan keras dari sang dokter agar tidak bertindak macam-macam terhadap anak ayam yang baru saja menetas.
Ha-ha!
Andai kata tidak ada hal tersebut mungkin Yolan akan menggagahi tubuh Maki setiap harinya. Bahkan mengisi rahim tersebut hingga penuh. Kalian pahamkan maksudnya? Haha.
Ya seperti itulah~
...***...
Belum habis dengan kabar salah seorang maid, mereka yang bekerja disana malah dikejutkan soal sang tuan muda yang bertindak ekstrem dalam menegur sosok Maki hingga membuat wanita tersebut terjeremba diatas permukaan lantai yang dingin. Ditambah, dengar-dengar karena dirundung oleh perasaan marah Yolan malah menampar keras pipi Maki hingga menimbulkan bercak kemerahan pada benda tersebut.
PLAK!
Semua berakhir begitu saja.
Saat ini mereka sedang duduk beserberangan satu sama lain diruang makan, hanya terdengar dentingan sendok yang beradu nasip dengan benda dibawahnya; piring. Ditemani seorang kepala pelayan wanita, Maki memakan semua makanan yang disodorkan ke dekat mulutnya tanpa pilih-pilih. Yolan tepat didepan sana, sibuk dengan makanan serta berkas-berkas yang jelas tidak bisa ditinggalkan.
Salah wanita itu, berkat dia banyak pekerjaan Yolan yang tertunda. Orang tua dari lelaki itu juga sudah lama pensiun lalu menghilang dari peradaban, alias pergi ke pulau pribadi dan menikmati waktu berdua dengan istrinya saja. Mau tak mau, sebagai satu-satunya anak dari kedua orang tersebut Yolan 'lah yang harus menangani. Atau mereka akan tiba-tiba jatuh miskin suatu hari nanti. Tidak lucu. Ya 'kan?
Ha-ha |
"Perpanjang rantai bagian leher lalu tambahkan satu rantai pendek yang mengikat kedua kaki, kemudian kurung Hanna diruang bawah tanah" pernyataan mengejutkan baru saja muncul dari celah bibir Yolan. Kepala pelayan wanita yang mendengarnya dibuat terkejut, apa maksudnya?
Tunggu?
Merantai seorang manusia saja sudah jelas merupakan tindakan yang ilegal, ini kejahatan. Lalu untuk apa dia ingin mengisolasi seseorang didalam ruangan yang tertutup? Bahkan pasien rumah sakit jiwa diperlakukan lebih manusiawi.
Srett—!
Yolan berdiri, dia menyudahi acara makan miliknya seusai mengucapkan kalimat tersebut. Bersama dengan beberapa berkas ditangan, Yolan siap beranjak pergi dari sana. Sang kepala pelayan wanita mendekati sang tuan muda, dia menyela—berharap sang tuan menarik kembali keputusan yang baru saja keluar dari mulutnya.
"Tapi tuan?!" cegat sang kepala pelayan. Tolong gunakan sedikit akal pikiran serta hati nurani anda! Jika saja dia boleh menyuarakan hal tersebut.
"Itu hanya akan membuat mental nyonya semakin terganggu—!" ucapnya yang langsung dipotong oleh sosok Yolan.
"Persetan! Lakukan saja sesuai dengan perintah ku atau kau akan kehilangan pekerjaanmu besok Emily." sahut Yolan tegas seraya angkat kaki dari sana, meninggalkan sang pelayan bersama dengan wanita bernotabe istri dari lelaki tersebut; tak lain Maki.
Wanita bermanik kecoklatan yang sedari tadi hanya menjadi penonton, menatap punggung Yolan yang perlahan menjauh sampai dia menghilang tepat ditikungan jalan.
Hah~
Hela napas gusar terdengar dari arah mulut Emily, wanita setengah baya tersebut bergerak—mendekati kembali sosok Maki. Andai saja wanita berlebel nyonya besarnya ini mengerti, mungkin dia akan mengalami perasaan sakit hati. Siapa yang tidak? Jika diperlakukan seperti binatang. Kalau itu Emily, dia pasti sudah berpikir untuk kabur dari sini. Terikat dengan lelaki macam Yolan hanya bisa disebut sebagai kemalangan.
"E... miyl?" (Emily)
Kepala pelayan wanita tersebut dibuat terkejut, baru saja sang nyonya memanggil sebuah nama—meski dengan lafal yang tidak sempurna Emily sudah bisa memahami maksudnya.
"Iya nyonya?" sahut wanita itu sigap. Semakin mendekatkan diri kepada Maki, bisa dikatakan kemajuan. Emosi Maki nampak stabil, wanita tersebut tiba-tiba bersandar. Meminta Emily memeluknya.
Perlu waktu 3 detik untuk Emily mencerna situasi sebelum dia memilih membalas pelukan yang Maki berikan.
"Ak... akhu tidak—idngin," (Aku tidak ingin)
Mengacu pada makna kalau Maki sendiri tidak ingin dikurung di ruang bawah tanah, dengan rantai serta belenggu yang mengikat kedua kakinya.
...***...
...T b c...
...Jangan lupa like, vote, dan comments...
...Terima kasih,...
...ketemu lagi nanti...
...Bye...
...:3...