
...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...selamat membaca....
...__________________...
...P e n i p u...
...__________________...
..._________...
...____...
..._...
Maki merasakan pelukan erat diperutnya, sosok yang masih terjaga tersebut menilik. Yolan tepat disamping tubuh wanita itu tengah tertidur lelap dengan wajah yang damai sambil mengalungkan tangan miliknya kepinggang Maki. Seenak jidat.
"Huh!" lenguhan lelah terdengar dari arah mulut wanita itu, Maki mendesis. Berharap bisa melepaskan tautan tangan bak ular piton dipinggangnya.
Menjauh dari ku! Dengus dewi batin wakita itu Maki. Wanita bermanik kecoklatan tersebut merotasi matanya jenuh, dia melonggarkan perlahan lilitan tangan dari Yolan sampai wanita itu berhasil lolos dari sana.
Fyuh~
Maki gerah. Beruntung ia bisa melepaskan benda biadab tersebut dari tubuhnya.
Keadaan sekitar remang-remang. Maki memutuskan untuk menurunkan kaki dari ranjang lalu berjalan pelan menjauh dari sana menuju jendela besar berlapis tralis dengan gorden yang panjang. Ditiliknya sebentar, keadaan diluar jendela kamar.
Tenang dan gelap, pukul berapa ini?
Kalau Maki tidak salah mengira mungkin saat ini sekitaran pukul 2 dini hari. Jarak kamar dan pintu gerbang utama cukup jauh, sekilas Maki melihat dan memperhitungkannya. Kembali wanita itu berbalik, kali ini dia menantap lekat sosok Yolan yang masih menikmati bunga-bunga mimpi. Sudut bibir Maki terangkat, dia lagi-lagi mendengus sambil menyisir surai rambut miliknya dengan sela jari tangan—wanita itu bergumam.
"Kau pikir aku apa?" desisnya kesal. Manik kecoklatan tersebut berkilat.
Bahkan terjatuh dari tangga darurat saja tidak membuatku kehilangan ingatan.
Ini hanya pura-pura. |
Keputusan yang bagus, Maki memang tidak sadarkan diri sebelumnya hanya saja ketika wanita itu bangun segala macam informasi merambat masuk dengan cepat. Awalnya Maki gugup, dia harus bertindak apa. Satu-satunya orang yang wanita itu percayai ternyata telah mengkhianati dia. Siapa kira kalau sosok tersebut adalah pria, benar-benar seorang pria.
Selama ini, saat Maki berganti pakaian serta—argh! Maki tidak sanggup membayangkannya. Lelaki itu, dia gila; betapa mesumnya sosok tersebut. Dia bahkan berpenampilan seperti wanita. Untuk apa coba?!
Menjijikan!
Fantasi? Hasrat? Kelainan? Atau apa?!
Maki tidak percaya, dia merinding. Seandainya Maki tak berpikir cepat—entah risiko jenis apa yang akan Maki dapatkan. Bisa lebih buruk dari ini. Yolan memukul kepalanya dengan sebuah batu besar, seperti William; persis meniru sosok sang suaminya Maki memanfaatkan hal tersebut, dia citakan sebuah panggung sandiwara demi menjamin keselamatan dirinya sendiri.
Hal ini akan berhenti dia lakukan setelah wanita itu berhasil mendapatkan celah untuk kabur atau setidaknya dia dapat memberi isyarat petunjuk kepada William. Wanita ini pede, lelaki bermanik emerald tersebut pasti akan mencarinya.
Hanya ada satu opsi yang tersisa, yaitu menunggu dengan tenang sebelum diselamatkan. Maki juga perlu tahu beberapa informasi termasuk niat sebenarnya dari lelaki bernama Diana atau kalau tidak salah dengar—orang tua dari anak tersebut memanggilnya Yolan.
Maki kembali keranjang, alih-alih bertindak gegabah. Dia harus jadi pengamat—jika keberuntungan masih berpihak kepada wanita itu dia pasti akan selamat; sama seperti khasus sebelumnya.
Ini bukan pertama kalinya Maki berdiri diujung tombak, dia harus siap terjun bebas atau tetap bertahan disana jika diperlukan. Dua pilihan sulit yang harus tetap dipilih. Hah~ merepotkan.
"Kau yang memulai permainan ini Diana..." bisik Maki tajam, membaringkan tubuhnya tepat disamping tubuh Yolan.
*Ku harap semua ini cepat berakhir*. |
Lalu terpejam hingga kegelapan menenggelamkan kesadaran milik wanita tersebut. Maki.
...***...
Satu kata yang cocok untuk Yolan.
Lelaki itu, dia meng-geli-kan!
Sesekali jika ada kesempatan Maki selalu melayangkan tatapan tajam, dia bertindak seolah-olah dirinya benar-benar seorang kekasih. Merawat Maki dengan telaten serta bertingkah serba romantis. Jujur, menggelikan itu terasa hambar. Semua laki-laki yang pernah terikat takdir dengan wanita ini membuat Maki trauma.
Kenapa begitu? Jelas, karena semua lelaki itu adalah seorang bajingan termasuk sang ayah. Maki kebal, tidak ada lagi seseorang yang dapat membuatnya percaya—kecuali kalau memang dibawah perjanjian. Seperti William contohnya, ada pertukaran yang setara antara Maki dengan lelaki itu. Berkat kehadiran Langa posisi Maki jadi lebih kuat—William tidak bisa sembarangan menyentuh atau menyingkirkan Maki, seumpama kalau lelaki itu merasa bosan dengan permainan miliknya.
Dia tak akan bisa. Tidak akan pernah. |
"Hanna?" Maki melirik, gerakan mata wanita itu menuju sumber suara. Yolan baru saja memanggilnya, gerangan apa yang terjadi? Maki sedari tadi hanya melamun—mengindahkan sosok lelaki itu yang tampak senang berceloteh ria, entah soal apa.
Persetan!
"Apa yang kau pikirkan sayang?" tanya lelaki itu lembut. Rasanya ingin muntah, berapa lama lagi dia harus terjebak disini? Sudah lewat sepekan, kenapa tidak ada tanda-tanda kemunculan dari William?
Apa lelaki itu kesulitan bergerak?
Maki punya banyak opsi pemikiran tentang hal tersebut; William, kenapa lelaki itu sampai sekarang belum memunculkan batang hidungnya. Pertama—mungkin karena lelaki bermanik emerald tersebut terjebak dengan perjanjian yang mereka lakukan, kedua— Yolan adalah musuh yang lumayan tangguh, Maki memang tidak mengenali kedua orang tua dari lelaki itu dengan baik tapi dia pernah melihat mereka beberapa kali dilayar televisi. Citra, nama baik, serta status sosial yang tinggi bayangkan saja jika tiba-tiba ada seorang mafia melibatkan diri kepada kelompok ini, kemungkinan terbesar ekor para mafia itu akan terendus oleh pemerintahan. Mereka bisa saja diringkus.
Lalu opsi terakhir, yang mungkin sedikit terdengar tidak mungkin tapi bisa saja jadi mungkin—alasan kenapa William tidak memunculkan batang hidungnya hingga saat ini. Lelaki itu, dia sedang mengabaikan sosok Maki. Istilah lainnya; William membuang wanita itu. Terdengar tidak mungkin bukan?
Ya 'kan?
Tapi semakin banyak hari yang termakan pemikiran tentang opsi ketiga tersebut semakin besar. Entah kenapa Maki jadi merasa sedikit—ketakutan.
Kecewa, serta mungkin putus asa.
Ah~
Aku merindukan putra kecilku, hanya dia satu-satunya lelaki di-dunia ini yang mencintai diriku.
Dengan tulus.
"Ti... tidak ada, kepala ku hanya—sakit..." gumam Maki menjawab pertanyaan sebelumnya yang dilontarkan oleh Yolan untuknya. Tangan-tangan kurus itu terangkat, membingkai wajah Maki.
Wanita itu setengah mendesis, dia tidak suka diperlakukan seperti boneka kaca.
Jangan menantap Maki dengan tatapan penuh rasa kasihan—karena Maki tahu semua itu jelas hanya KEMUNAFIKAN.
"Harus 'kah kita kembali ke-kamar?" tanya Yolan kemudian, mendapat anggukan ringan dari sosok Maki. Mereka berdua berdiri, pergi dari sana dengan langkah yang pelan—menuju lorong panjang berinterior super mewah yang sayangnya Maki sudah hafal.
Dia muak disini, haruskah wanita itu merencanakan sesuatu?
Pergi keluar misalnya? Hm? Patut untuk dicoba.
Maki menginginkan sebuah kebebasan.
Supaya dia bisa bertemu dengan Langa.
Anak satu-satunya.
...***...
...T b c...
...Jangan lupa like, vote, dan comments...
...Terima kasih...
...ketemu lagi nanti...
...Bye...
...:3...