FreeDom

FreeDom
Kamera



...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....


...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....


...Terima kasih,...


...selamat membaca....


...___________________...


...K a m e r a...


...___________________...


...__________...


...____...


..._...


Tap!


Tap!


Tap!


Suara entakan kaki terdengar nyaring, menggema disepanjang lorong yang ada. Maki menoleh kesana-kemari; pandangan wanita itu benar-benar liar, mencari-cari satu objek yang sudah dia hapal bentuk juga deskripsinya. Lohan tepat dibelakang wanita itu, mengiringi setiap langkah cepat yang Maki lakukan. Sial, keringat dingin banjir ditengkuknya, tak mengira kalau wanita bermanik kecoklatan tersebut akan bertindak se-impulsif ini.


Pantas saja Maki memaksa Lohan untuk bicara, pertanyaan selalu sama. DIMANA WILLIAM! Hanya itu, bak diteror oleh hantu Lohan yang tutup mulut terpaksa harus buka suara. Mau tak mau dia bicara—membocorkan keberadaan dari sosok saudara tirinya; William.


Lohan pikir Maki hanya ingin tahu dimana lelaki itu, serta situasi apa yang dia alami. Tapi—lagi-lagi tidak ada yang bisa menduga apa yang Maki pikirkan. Pagi-pagi sekali Lohan sudah diseret sadis oleh wanita itu. Dia berteriak, 'antarkan aku padanya! SEKARANG!' seperti supir pribadi Lohan mengantarkan Maki ketempat William berada. Kantor pusat, area berkumpulnya big three beserta saudara tiri lainnya. Sial dia pasti akan dapat teguran karena mengajak orang luar masuk kesana.


Maki juga bertanya beberapa hal soal jalan, lantai, atau dimana letak pastinya dari William sampai wanita itu hafal. Dia tampak tidak ragu lagi dalam mengambil langkah, ketika pintu besar berwarna silver tertangkap jelas dipenglihatan Maki tanpa basa-basi wanita itu langsung mendobraknya masuk.


BRAK!


Terdengar suara pintu dibuka kasar hingga membentur dinding bagian belakang dari benda tersebut. Semua mata tertuju pada Maki, Lohan bersembunyi. Dia tidak ingin dituduh sebagai pelaku yang melepaskan hewan liar ke-perusahaan.


Maki mengedarkan pandangan jauh, matanya menyipit. Dimana William? Desis dewi batin wanita itu. Kesal. Berbarengan dengan hal tersebut, suara geseran kursi terdengar.


SRETT—!


Sosok William berdiri, memanggil panik.


"Maki?! Bagaimana—?!" Belum sempat menyelesaikan ucapannya William beserta big three dikejutkan dengan tindakan tak terduga dari wanita tersebut.


HAP!


Manik mata kecoklatan itu berkilat. Dia merogoh pisau yang sengaja ia bawa, Maki berlari. Menaiki meja lalu menarik kasar kerah baju William sambil menodongkan pisau tepat keleher lelaki itu.


Plas!


Semua orang berdiri, spontan mengeluarkan senjata yang mereka miliki kecuali William. Dia hanya mengangkat tangan dengan isyarat seperti tengah menyerah, Lohan terkesima dibalik pintu tempat ia bersembunyi.


Maki benar-benar tangguh, tak heran Lohan tertarik. |


William terkekeh, agak canggung sambil bertanya.


"Sayang, ada apa dengan mu?" tanya-nya. Manik William melirik dari balik ekor mata, lelaki itu sedang mencari cara untuk menjauhkan benda tersebut dari leher.


Tapi sayang, tiba-tiba saja suara isak tangis terdengar. William membeku, dia mendongak menatap lekat wajah wanita yang tidak lain adalah istrinya.


"Hiks... hiks..."


Tanpa memperdulikan apapun lagi, lelaki bermanik emerald itu mendekat. Menggapai tubuh Maki lalu membiarkan benda tajam yang berada ditangannya menancap dangkal dileher William.


Tes~


Darah mengalir dari sana.


"Dimana kau saat itu! Kau bilang akan menjamin keselamatan ku dan anak ku, asalkan aku patuh dengan semua perintahmu tapi—DIMANA KAU SAAT ITU?!" teriak Maki nyaring, para big three menurunkan senjata mereka; sedikit menjaga jarak dari pasangan gila tersebut.


William bungkam, dia menantap tajam sosok Lohan yang sedang bersembunyi. Apa yang terjadi? Batinnya penasaran. Berdalihpun percuma, William hanya bisa menerima tiap pukulan serta makian yang wanita itu lontarkan.


Dia benar-benar tak paham. Situasi apa ini?! Ada yang bisa tolong jelaskan pada William!


"Gara-gara kau tidak ada, Langa sekarat." Sampai gendang telinganya mendengar kalimat tersebut.


"Apa?" beo lelaki itu gak percaya.


Tunggu dulu? Maksudnya?


...***...


Sosok tersebut mengepalkan tangannya kuat, William benar-benar geram bahkan sampai urat leher dari lelaki itu bermunculan. Apa yang dia dengar dari Lohan menenggelamkan sedikit demi sedikit kewarasan milik lelaki itu, dia jelas tak percaya. Siapa yang berani menyakiti anaknya.


Andai saja Maki tidak bertindak dengan cepat mungkin mereka berdua sudah kehilangan anak.


Tch!


Omong-omong saat ini Maki sedang terlelap di ruangan lain karena kelelahan menangis dihadapan semua orang. Setelah keributan selesai barulah William dapat mencari tahu, apa yang sebenarnya terjadi. Dia menyeret Lohan keluar lalu memaksa lelaki itu untuk bicara. Karena tidak ingin mendapat pukulan kosong Lohan lebih memilih untuk mengungkapkan apa yang dia ketahui, ini dari sudut pandang ketika dia mendengar cerita dari Maki. Lelaki itu tidak sempat mengumpulkan informasi karena wanita bernotabe istri dari saudara tirinya ini sudah menyeretnya pergi dari pagi.


William mendengus setelah mendengar semuanya, mata lelaki itu memerah. Lohan yakin kalau dia tengah mencoba menahan amarah yang bergejolak agar tetap aman terkendali. Lain cerita dengan William satu dari big three yang mendengar ikut berkomentar.


"Mungkin saja itu salah satu dari musuh mu Will, kau tahu... mereka 'kan menaruh dendam soal dirimu yang memonopoli jalur pengiriman suplai wanita ke-bebebrapa negara..." ucap kakak ketiga. Yang lain bungkam, tidak ingin ikut campur.


Opsi tersebut sudah dipikirkan matang-matang oleh William meski begitu rasanya terdengar mustahil, karena eksistensi dari Maki sendiri sudah lama menghilang dipermukaan. Ayah mertuanya 'lah yang mengarang cerita soal sosok Maki yang telah lama mati, jadi tak mungkin. William sendiri juga tidak pernah mengumbar soal keberadaan istri serta anaknya, dia teliti dalam bertindak. Jadi sekali lagi, dipertegas—itu tidak mungkin.


"Lalu bagaimana mana kondisi anak ku saat ini?" tanya William, Lohan menjawab. Kondisi Langa sendiri sudah jauh dari kata bahaya, hanya saja dia belum sadarkan diri. Dokter bilang kalau dorongan psikologi anaklah yang membuat bocah itu tak kunjung membuka-kan mata. Efek trauma, dia takut.


Hela napas gusar terdengar, William lagi-lagi menggeram. Dia berusaha mencari semacam petunjuk agar lelaki itu dapat dengan segera melimpahkan amarah miliknya kepada sang pelaku. Sial! Sial!


Pikirkan sesuatu?!


Seseorang!


Apa saja!


ARGH!


Deg!


"Tunggu?" William bergumam, sesuatu muncul didalam kepalanya—lekas lelaki itu mengambil laptop miliknya diatas meja. Dengan lihai tangan tersebut mengobrak-abrik isi dalam benda itu. Dia ingat sebelum memilih menampakkan diri dihadapan sang istri Langa pernah menyarahkan sesuatu. Bocah nakal itu meminta William untuk memasang beberapa kamera pengawas disetiap inci ruangan.


Dan William melakukannya.


Dengan cepat dia menghubungkan akses laptop ke kamera pengawas. Ditatap dalam setiap tayangan ulang yang ada, lelaki asing tiba-tiba masuk setelah Maki keluar. Berjalan menuju kamar tempat Langa berada seolah dia tahu dengan benar tata letak dari ruangan apartemen tersebut, terdengar sesekali gumaman—tak terlalu jelas dari arah mulut lelaki itu.


Wajahnya tertutup rapat, Lohan yang ikut memperhatikan dari kejauhan merasa sedikit familiar. Dia seperti pernah melihat lelaki itu tapi dimana?


Sampai keduanya tersentak, Lohan mematung lain cerita dengan William. Dia mendesis—


"Yo-lan!" ucapnya meradang.


...***...


...T b c...


...Jangan lupa like, vote, dan comments...


...Terima kasih,...


...ketemu lagi nanti...


...Bye...


...:3...