
...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...selamat membaca....
..._____________________...
...P e n g u n t i t - 2...
..._____________________...
..._____________...
...______...
..._...
"Permisi, saya ingin berhenti disini..." ucap Maki, mendatangi sang supir. Penumpang lainnya menoleh—merasa terganggu atas keputusan sepihak wanita tersebut. Roda ban dari bus yang ditumpangi Maki melambat, berhenti tepat dipinggir jalan. Ini bahkan bukan pemberhentian terakhir, mengapa wanita itu memilih turun disini? Diarea yang sepi ini.
Taps~
Sesuai dugaan, Maki yang turun dari bus diikut oleh lelaki tersebut. Dia cukup penasaran dengan tindakan apa yang tengah Maki coba untuk lakukan. Ketika wanita bermanik kecoklatan itu turun, dia dengan jelas mengiringi langkah Maki. Decitan ban terdengar, suara pintu bus yang tertutup juga. Perlahan benda besar itu bergerak; menjauhi sosok Maki bersama lelaki mencurigakan yang berdiri tepat dibelakang punggungnya.
Masih dalam keadaan tenang, Maki mulai melangkah pelan. Berjalan senatural mungkin, daerah tempat dia turun memang terkenal sepi. Perlu 20 menitan lagi jika ingin sampai ke-apartement.
"Maaf mamah terlambat," gumam Maki pasrah. Dari gerakan kaki lambat berubah menjadi cepat, Maki hanya berputar-putar untuk memastikan sesuatu.
Dia diikuti. Benar-benar diikuti oleh seseorang. Laki-laki yang duduk dibus tadi, ya Maki pastikan itu. Apa motifnya? Siapa dia? Apakah Maki mengenalnya? Entahlah, penampilan dari lelaki tersebut terlalu biasa.
Bukan anak buah ayahnya 'kan?
Ah~ Maki benci, setiap kali mengingat wajah dari lelaki itu; hanya bayangan buruk yang tersisa dalam ingatannya. Maki tidak bisa menjamin kedamaian ini akan berlangsung selamanya, lelaki bau tanah yang biasa dia panggil sebagai ayah tersebut mungkin saja masih mengejar dirinya. Balas dendam apalah itu, persetan. Maki mauk.
Yang pasti, jika lelaki itu macam-macam lagi—Maki jamin; dia akan meletakan mata pisau tepat dileher pria tua menjengkelkan itu lalu memastikan sosoknya menjadi tak bernyawa. Sekali lagi, Maki muak. Dia tidak ingin disakiti.
Tidak lagi.
Entah dengan siapapun itu.
Ada kantor polisi 3 blok dari sini, gumam wanita itu dalam hatinya. Rencana bagus muncul begitu saja, Maki punya ide. Setelah cukup lama berputar-putar, dia akhirnya mengingat kembali sedikit tata letak bangunan. Ada kantor polisi disekitar sini kalau tidak salah, Maki tidak sengaja menemukan kantor tersebut ketika dia tersesat saat membeli apartement 4 tahun yang lalu bersama Langa.
Seharusnya para petugas masih berada ditempat, tidak ada salahnya menggiring lelaki penguntit yang berjalan 3 meter dibelakang sosok Maki untuk pergi kesana. Jika dia macam-macam, Maki tinggal berteriak sambil mengeluarkan pisau lipat untuk membela dirinya.
Maki pikir itu cukup bagus, dia hanya perlu bersabar meski sayang lelaki yang berada tepat dibelakangnya ini menjadi tidak sabaran. Walau hanya bayangan sekilas, tapi Maki dapat merasakan—lelaki itu; dia mencoba menggapai rambut Maki dari belakang. Entah itu menjambaknya.
Plas!
Maki spontan berbalik, tangan yang selalu bertengger manis didalam tas pundak akhirnya memilih untuk keluar dari tempatnya bersama benda kecil bernama pisau lipat tentunya. Bertemu dengan Diana memanglah sebuah anugrah, selain berteman Maki juga banyak belajar dari wanita itu.
"Perempuan selalu jadi target yang mudah untuk sebuah kejahatan, perampokan, penculikan bahkan pemerkosaan. Kebanyakan perempuan pasti tidak berdaya, tapi! Bukan berarti mereka tidak bisa melawan. Cukup pelajari beberapa trik saja, perempuan mungkin bisa jadi lebih mengerikan."
Maki tidak tahu, mungkin maksud dari kata-kata Diana saat itu hanyalah bercanda. Tapi ketika Maki mendengarnya keberanian wanita itu muncul begitu saja. Diana benar, wanita tidak selamanya harus tertindas. Mereka bisa melawan jika itu diperlukan.
Sudut bibir Maki mencibir, dia menantap hina tepat kearah muka lelaki penguntit tadi. Kemana niat mu pergi? Kau tadi menantap cabul tubuh ku 'kan?! Desis dewi batin wanita itu.
Jelas saja lelaki penguntit didepan Maki ini mengurungkan niatnya. Maki nyaris menyabet tangan milik lelaki itu, jika dia terlambat beberapa detik saja—mungkin tangannya sudah dipenuhi oleh darah. Ha-ha |
Lucu juga.
"Siapa kau? Apa kau dari asia?!" tanya Maki sarkas, sedikit memainkan pisau lipat yang berada ditangannya. Keterampilan yang sudah lama dia pelajari, kalau tidak salah 3 tahun yang lalu.
Jika Maki masih seperti sosok dirinya yang dulu, mungkin dia tidak akan masalah jika ada lelaki yang mendekat lalu meraba tubuh wanita itu demi uang. Tapi ucapkan terima kasih kepada sang ayah, berkat lelaki itu—Maki jadi punya sedikit trauma terhadap laki-laki. Lebih lagi jika modelan lelaki tersebut sama persis seperti ayahnya.
Maki pasti akan membencinya lalu berharap meraka untuk cepat mati.
"Dasar jala*ng!"
Ish!
"Siapa yang kau sebut jala*ng? Dasar bajingan."
Jlap!
...***...
"Siapa yang ada difoto itu?"
Langa menoleh, bocah lelaki berumur 5 tahun itu bersandar nyaman di dada bidang sang ayah dalam sebuah gendongan. Dia menatap objek apa yang sedang ayahnya bicarakan.
"Diana." sahut bocah itu datar. Merapatkan diri dengan tubuh sang ayah. Mendengar sedikit nada kebencian membuat William tertarik. Dia ingin menanyakan dengan jelas siapa gerangan sosok bernama Diana tersebut tapi dering telpon mengacaukan pertanyaan miliknya. Bahkan mengagetkan Langa yang sebentar lagi akan terlelap.
William menahan Langa dengan sebelah tangannya, lelaki itu meraba saku celana untuk mencari benda berisik yang sudah mengganggu tidur sang anak. Panggilan dari anak buahnya.
Apa terjadi sesuatu? William memintanya untuk menjaga Maki dari kejauhan.
"Ada apa?" tanya William ketus. Dia memperbesar volume suara handphone agar tidak perlu lagi repot-repot mengapit benda itu ke telinga.
"Nyonya..." sahut anak buahnya ragu. Itu berhasil membuat Langa menoleh sambil bertanya—
"Ada apa dengan mamah?!"
William mencoba menenangkan Langa, sambil mendengarkan baik-baik laporan jenis apa yang anak buahnya serahkan.
Menarik~
"Papah tidak tahu kalau mamah bisa menggunakan pisau..." gumam William penasaran. Langa merangkul erat leher sang ayah sambil bersandar.
"Itu kenapa Langa meminta papah jangan muncul sekarang, mamah bisa jadi tidak menyukainya."
Alasan yang sedikit masuk akal, meski Maki tidak akan pernah bisa melukai William.
"Semua itu karena Diana," tiba-tiba sang anak mendesis. Tidak salah lagi, William benar-benar mendengar nada kebencian diantara kalimat yang sang anak lontarkan.
"Dia membuat mamah berubah, mamah selalu menyebut Diana sebagai malaikat. Dimata Langa, dia tidak lebih seperti penjahat—"
"Pssst—! Dari mana Langa belajar kata-kata itu? Hm?" tegur William, dia merasa kurang senang ketika melihat sang anak mulai kehilangan kontrol atas dirinya.
"Huh!"
Langa mendengus, dia menyembunyikan wajah ke-ceruk leher sang ayah. Tampak seperti anak yang tengah merajuk, William terkekeh—setidaknya sebelum dia mendengar Langa menggumamkan sesuatu.
"Diana, dia itu laki-laki."
Hah?
...***...
...T b c...
...Jangan lupa like, vote, dan comments...
...Terima kasih...
...Ketemu lagi nanti...
...Bye...
...:3...