
...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...selamat membaca....
...___________________...
...K e b a k a r a n...
...___________________...
...__________...
..._____...
..._...
Kobaran api dengan bias merah menyala diatas bentangan malam, Maki yang bersembunyi diantara semak belukar mulai mendengar jeritan.
Suara kepanikan, beberapa orang pasti sudah menyadari. Sesuatu yang salah tengah terjadi.
Memanfaatkan kekacauan yang ada Maki berbaur diantara mereka, berjalan santai menuju gerbang tanpa seorangpun peduli terhadap kehadiran sosoknya.
Maki menilik, perlu melangkah lebih jauh lagi; barulah terlihat jalan besar yang menghubungkan tempat ini dengan dunia luar.
Beberapa suara mobil pemadam api terdengar dari kejauhan, Maki menyipitkan mata. Cepat sekali, komentarnya dalam hati. Mulai ber-ancang-ancang untuk berlari.
"Selamat tinggal~" seru wanita itu girang bukan kepalang. Rasanya senang—ini baru namanya KEBEBASAN.
HAHA!
...***...
Yolan terdiam, wajahnya menahan amarah. Apa dia salah dengar? Baru saja ia mendapatkan informasi—berbarengan dengan orang tuanya yang menghubungi.
Sial!
Tidak mungkin percikan api bisa tiba-tiba muncul tanpa diundang. Pasti ada penyebabnya. Yolan menduga, ketiadaan sosok Maki 'lah yang menjadi jawaban. Wanita itu, rasanya Yolan seperti tengah ditipu—padahal dia yang ingin menipu. Secara garis besar lelaki ini dapat menyimpulkan beberapa kemungkinan yang sudah terjadi.
Pertama, Maki—wanita itu, dia berpura-pura mengalami amnesia lalu menipu semua orang dengan panggung sandiwaranya.
Kedua, diparuh waktu wanita bermanik kecoklatan tersebut mendapatkan kembali ingatan miliknya lalu merencanakan sebuah pelarian. Dia ketakutan.
Ketiga, Maki—dia tidak mengingat apapun hanya saja ada pihak luar yang menolong wanita itu untuk pergi dari sana. Dari semua opsi, pemikiran ketiga 'lah yang paling masuk akal. Kenapa? Karena Yolan dibuat kerepotan seharian penuh berkat laporan palsu soal penyusup.
Siapapun yang mencoba mengganggu ketentraman Maki bersama Yolan, lelaki itu akan membuatnya menyesal. Meski Yolan sebenarnya tidak tahu dia sedang melawan makhluk apa, persetan! Pikirnya.
Tapi jika kembali lagi ke- kedua opsi sebelumnya, kemungkinan ada sekitar 45% pemikiran tersebut adalah benar; mengingat bagaimana kepribadian dari sosok Maki. Wanita itu lumayan cerdik, rencana yang dia buat pasti bisa digolongkan dalam kategori rapi. Tidak mungkin meninggalkan jejak seperti ini. Hanya saja—terlalu banyak pertimbangan dari opsi-opsi tersebut jadi Yolan beranggapan opsi ketiga 'lah jawaban yang paling tepat dengan persentase 75% kemungkinan.
"Siapkan mobil, aku akan kembali ke mansion!" ucap lelaki itu setelah memikirkan keputusan. Mari tunda beberapa pekerjaan dan melihat langsung situasi dilapangan, ayah ibunya juga ikut kembali—mereka sedang dalam perjalanan pulang.
Yolan pikir situasi tidak lebih buruk dari apa yang para pelayan ceritakan tapi nyatanya; ini benar-benar buruk. Andai kata saja kalau mereka bukan keturunan orang kaya pasti sudah menangisi mansion mewah itu, tapi lihat saja Yolan—lelaki ini hanya mampu menghela napas panjang. Disusul oleh sang ibu yang sedikit girang meminta mansion baru kepada sang ayah, dasar budak cinta. Dia malah menuruti keinginan istrinya.
Pukul 4 dini hari kalau tidak salah para pertugas kebakaran baru bisa menjinakkan api, bangunan sudah berubah hitam serta beberapa bagian runtuh karena kepanasan. Ditambah taman cantik yang sengaja dirawat ikut dilahap api. Dari penyelidikan sementara yang dilakukan oleh pihak kepolisian dapat disimpulkan kalau penyebab api bukan dari hubungan pendek arus listrik tapi pembakaran luar. Melihat area pertama yang terbakar ada didaerah dengan tumpukan daun kering yang banyak diatasnya.
Yolan rasa dia perlu mengecek cctv bagian depan, jika dugaan para polisi itu benar—kemungkinan besar pelaku pembakaran pasti akan tertangkap oleh kamera pengawas.
"Satu orang ikut dengan ku!" titah Yolan, menunjuk acak para pelayan miliknya. Lelaki itu beranjak dari sana, meninggalkan lokasi bersama pelayan itu. Dia perlu kebagian gerbang depan, mengecek kamera pengawas disana untuk menemukan jawaban.
Tidak lebih dari 1 jam, rekaman yang Yolan minta sudah ia dapatkan. Dengan seksama lelaki itu mengecek tiap menit dari rekaman tersebut. Tak ada keanehan, hanya di-isi-i oleh keheningan; setidaknya sebelum lelaki itu melihat seseorang berpakaian tidur tengah berlari keluar dari sana.
"Dia bahkan tidak menggunakan alas kakinya," komentar lelaki itu terhadap sosok Maki. Berlari bagai diburu oleh anjing. Satu rekaman itu saja berhasil mematahkan opsi pertama yang ia miliki.
Wanita ini, dia tampak seperti mengingat sesuatu.
Maki—rupanya wanita itu sudah merencanakan ide ini dari awal. Meski langkah yang ia lakukan sedikit gegabah.
Menarik.
Yolan rasa dia perlu menangkap dia kembali. Wanita ini pasti belum melangkah terlalu jauh, toh! Tidak mungkin juga dia bisa pergi dari pulau ini. Karena kontrol penuh ada diatas tangan sosok bernotabe orang tuanya.
"Umumkan kalau Hanna menghilang..." satu-satunya cara mencari sosok tersebut adalah—memanfaatkan kekuasaan.
"Aku akan menjemputmu..."
...***...
"Kami baru saja dapat laporan bos, kalau nyonya besar menghilang dan sedang dalam tahap pencarian..."
William sudah menduganya, lelaki itu lantas membuat keputusan.
"Manfaatkan situasi kacau tersebut, kemungkinan Maki bersembunyi disuatu tempat. Lakukan pergerakan dengan rapi lalu laporkan perkembangannya padaku nanti..."
Bip!
Sambungan telepon diputus secara sepihak, William berdiri.
"Langa?" panggil lelaki itu terhadap sang anak yang tengah bermain. Ruang kerja William benar-benar sudah berubah, lelaki bermanik emerald ini mendekat. Langa berdiri, dia merentangkan tangan meminta untuk digendong.
"Ada apa pah?" tanya balik bocah tersebut. Sudut bibir William terangkat. Dia meminta Langa untuk mendekatkan daun telinga miliknya dengan celah bibir lelaki itu. William kemudian berbisik—
"Ayo kita jemput mamah?"
Manik serupa dengan William tersebut berkilat, Langa terlihat tidak bisa mengontrol baik ekspresi wajahnya. Dengan semangat bocah nakal tersebut menjawab.
"AYO! JEMPUT MAMAH!"
Mereka berdua pergi dari sana.
William perlu memesan penerbangan, menggunakan pesawat komersial jauh lebih baik karena sulit untuk dilacak. Tunggu aku sayang~ ucap dewi batin lelaki tersebut.
.
.
.
.
.
Degh!
Maki terdiam, dia melambatkan langkah ketika gendang telinganya mendengar sesuatu. Wanita ini merapatkan tudung kepala yang sengaja dia bawa sebagai persiapan untuk kaburnya.
Gila, satu kata untuk Yolan; yang ia lakukan mirip dengan apa yang sang ayah pernah lakukan.
"Kenapa mereka suka memanfaatkan kekuasaan?"
Untuk apa lelaki itu mengumumkan sosok Maki sebagai orang hilang? Diseluruh siaran televisi serta radio, yang benar saja, sangat tidak berguna.
"Sebelumnya dikabarkan meninggal, lalu sekarang sebagai orang hilang. Apa orang-orang tidak curiga dengan kemiripan wajah milik ku dengan orang mati itu?!" dengus Maki kesal sambil berupaya mempercepat langkah agar bisa pergi dari sana.
Selain menunjukan kekuasaan Maki rasa Yolan sedang memperingati wanita tersebut karena mungkin saja dia sudah menyadari rencana yang Maki lakukan.
Ayo cari sesuatu; yang dapat membuat wanita inj terhubung dengan William. Apapun itu, asalkan suami bodohnya dapat sedikit saja berguna dengan cara menjemputnya dari SINI!
HAH!
Maki muak. Sungguh—
...***...
...T B C...
...Jangan lupa like, vote, dan comments...
...Terima kasih...
...Ketemu lagi nanti...
...Bye...
...:3...