FreeDom

FreeDom
Pukulan



...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....


...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....


...Terima kasih,...


...selamat membaca....


...___________________...


...P u k u l a n...


...___________________...


..._________...


...___...


..._...


Maki mundur beberapa langkah, perasaan wanita itu tidak enak. Dia mencoba menjaga jarak. Setelah menampilkan ekspresi dingin sosok yang berdiri tepat didepan sana menyeringai. Ada apa dengan Diana?


Maki sedikit takut dibuatnya. Sial.


Pikiran-pikiran negatif mulai menerobos masuk, bukan karena tidak percaya tapi gelagat yang Diana berikan terlalu mencurigakan. Untuk apa dia menyeringai? Ada sesuatu yang lucu? Hingga pantas menarik kecil sudut bibir dari wanita itu?


Jelas tidak ada.


Glek!


Maki menelan saliva kasar, pukul berapa ini? Batinnya bertanya-tanya. Kenapa trotoar yang mereka lalui sepi pengunjung, bahkan jalanan disamping mereka sunyi sekali. Apa keputusan membawa Diana keluar dari area rumah sakit adalah sebuah kesalahan? Maki rasa mereka hanya berjalan beberapa meter keluar dari gedung rumah sakit sekadar mencari mini market, tapi kenapa rasanya jarak kedua benda tersebut sangat jauh. Dimana bangunan rumah sakit?


Deg!


Lagi-lagi ini hanya perasaan, muncul atas dasar dugaan. Sepertinya jalan yang dua orang ini lalui bukan jalan yang seharusnya, kenapa Maki bilang begitu? Sederhana, karena wanita tersebut tidak memperhatikan. Dia hanya mengikuti langkah kaki Diana, terserah wanita itu ingin kemana; membawanya. Maki terlalu sibuk dengan opsi-opsi tak berdasar yang bergelayut manja didalam otak, sial! Ini kesalahannya.


Tanpa sadar Maki menggigit pipi bagian dalam, dia gugup. Kepalanya berputar; mengingat-ingat lagi letak dan posisi mereka kembali. Trotoar ini tampak asik, penampilan jalanan juga.


SIAL! SIAL!


Dimana aku?!


Kenapa bangunan rumah sakit lenyap dari pandangan? Maki mencengkeram kuat cup es krim ditangannya, sampai benda dingin itu tumpah membanjiri jemari tangan. Dia mencoba bersikap santai, seolah menunggu jawaban dari Diana yang terlihat? Hm?! TIDAK WAJAR.


BICARA SESUATU! SIALAN?! MAKI TAKUT.


"Haha..." terdengar tawa hambar.


Serius, demi Tuhan. Kenapa dengan wanita itu? Dari menyeringai lagi lalu tertawa. Apa ada semacam kata dari mulut Maki yang terdengar lucu? Dia tidak melawak.


"Bukannya kau yang bilang—?!"


"Aku tidak pernah bilang apapun pada mu Diana." potong Maki cepat, dia langsung menyambar perkataan Diana. Sosok itu mau bilang kalau Maki 'lah yang telah memberitahukannya. Kau pikir wanita bermanik kecoklatan ini pikun! Jelas-jelas Maki masih ingat, rincian soal kejadian kemarin malam didalam otaknya.


Yolan melunturkan senyuman, dia kembali menantap datar. Sanggahan Maki membuatnya tidak senang, kenapa kau sedari tadi mengerutkan kening sayang? Apa yang tengah kau pikirkan hingga membuat kau seserius itu?


Yolan membuang cup es krim yang berada ditangannya, kebetulan ada tong sampah berjarak beberapa langkah dari sana. Lelaki itu bad mood, dia tidak suka Maki berpikir terlalu keras—pada sesuatu yang seharusnya tidak perlu untuk dipikirkan.


Kepala dari wanita gadungan itu berputar; mencari semacam ide tentang apa yang harus dia lakukan setelah ini. Maki sudah curiga, haruskah dia terus berakting atau lebih baik melakukan sesuatu yang? Agak ekstrem.


Toh! Cepat atau lambat Maki pasti akan mengetahui jati diri sebenarnya dari sosok Diana.


Berhubung tidak ada apapun disini, pengganggu, kamera atau semacam saksi mata? Yolan rasa tidak masalah kalau dia ingin bertindak impulsif. Ikuti kata hati. Tubuhnya meremang.


Dia menilik, Maki masih saja menantap kaku. Di-sisi lain Maki itu tampak lucu, bisa juga cerdik dan licik tapi kadang dia juga bisa terlihat lugu. Apa istilahnya? Naif? Terlalu mudah percaya pada orang lain?


Argh~ sejenis itu. |


Ada batu besar disamping tong sampah. Yolan tersenyum, simpul.


"Kau ingin mengharapkan jawaban apa dari ku Hanna?" tanya Yolan, dia sengaja menjatuhkan sendok es krim tidak pada tempatnya. Mata Maki mengikuti setiap gerakan dari sosok yang masih memunggunginya, Yolan berjongkok. Memungut sampah sendok es krim miliknya.


Maki melonggarkan cengkeraman pada cup es ditangan, banyak lelehan es cair bersarang diantara jemari tangan. Lengket. Benar-benar lengket.


"Aku mengharapkan sebuah kejujuran," tutur Maki. Ikut mendekat. Dia ingin membuang cup es krim ditangannya. Terdengar lagi kekehan janggal, baiklah Maki anggap orang ini sedang dalam tahap gila.


"Diana, jujur aku tidak ingin sedikitpun menaruh curiga. Kau adalah satu-satunya sosok yang bisa ku anggap sebagai keluarga. Jadi—" ucapan Maki terputus, dia merasa tidak kuat; mengutarakan segudang spekulasi yang kedengarannya saja tidak mungkin. Tak masuk akal!


Ini Diana! Maki sudah mengenalnya dengan baik selama beberapa tahun.


"Baiklah..." sahut Yolan gantung. Dia berdiri, menantap dalam sosok Maki dengan manik tesenyum.


"Jika kau ingin sebuah kejujuran..." sambungnya menggunakan suara asli. Maki tersentak; dia melotot, menantap horor ketika gendang telinga wanita tersebut tidak sengaja mendengar nada suara yang—sedikit asing ditelinga!


Tunggu?


TUNGGU DULU!


Serak dan basah.


Persis seperti pria.


Maki bergetar. Menantap tak percaya. Haruskah dia mundur? Menjaga sedikit jarak dari? Lelaki—tersebut?


"Aku menyukaimu Hanna... mau jadi milik-ku?" ungkapnya bernada ceria. Belum sempat mencerna baik-baik, sitausi janggal terjadi. Tangan Yolan terangkat, ada batu besar didalam genggaman tersebut. Maki menghindar—ketika si gila ini mau menghantamkan benda itu ke-keningnya.


Ha-ha, tidak lucu. Sungguh.


Lebih baik kabur. Maki berbalik, siap angkat kaki. Ambil seribu langkah untuk pergi tapi siapa kira tiba-tiba saja surai rambut milik wanita bermanik kecoklatan itu dijambak. Kuat sekali.


"ERGH!"


Beberapa helai rontok.


Maki tersentak, keseimbangannya kacau. Wanita itu terjatuh—


Bugh!


Menimbulkan suara renyah.


Dagu dan pipi tergores, sedikit dari kerikil juga pasir melukai wajah cantik wanita ini. Maki meringis, sial! Dia memaki. Menilik nyalang kearah sosok Diana yang menduduki punggungnya, menekan tubuh itu dengan bobot berat badannya. Posisi tiarap menyulitkan Maki untuk memberontak, terdengar tawa jahat dari arah mulut teman. SALAH! LEBIH TEPATNYA MANTAN TEMANNYA.


"Maafkan aku Hanna..." bisik Diana setelah puas tertawa, Maki merasa tidak ada secuilpun nada penyesalan dari kalimat yang wanita gadungan itu katakan. Dia seolah bercanda, sial! Maki kesal.


"Argh!" Terdengar geraman sakit dari celah bibir Maki, Diana menjambaknya lagi dengan sebelah tangan yang bebas. Membuat tubuh Maki melengkung, lelaki itu mendekatkan telinga Maki menuju bibirnya.


Lalu kembali berbisik.


"Ini tidak akan sakit~ aku berjanji..."


BUGH!


Degh!


Maki melongo, wajahnya menghantam lembut permukaan datar dari trotoar. Perlahan-lahan kesadaran dari wanita itu menghilang, kalian ingin tahu apa yang terjadi?


Ini berkat lelaki gila yang menghantamkan batu besar tepat kebagian belakang kepala Maki. Menimbulkan perasaan sakit serta guncangan psikologis pada wanita itu, lambat laun kedua kelopak mata milik Maki tertutup.


Sebelum benar-benar rapat ditelan oleh kegelapan, Maki masih sempat mendengar sesuatu. Dari arah mulut lelaki itu.


Kata-kata paling menjijikan dari Diana.


"Benar kataku 'kan? Sama sekali tidak sakit..."


PERSETAN!


Dasar orang gila?!


Kalau William tahu apa yang kau lakukan pada Maki, kau pasti akan mati. Karena dia tahu William itu tak suka melihat barang miliknya dirusak oleh orang lain.


Karena dia mencintai mu Maki. |


Meski dengan cara yang sedikit salah. Ha-ha!


...***...


...T b c...


...Jangan lupa like, vote, dan comments...


...Terima kasih...


...Ketemu lagi nanti...


...Bye...


...:3...