FreeDom

FreeDom
Mencekik



"Maaf... Ini mungkin akan sedikit sakit—" Maki merentangkan rantai ditangannya, wanita tersebut melayangkan tatapan remeh.


"—tapi ku harap kau jangan sampai mati."


BUGH!


...____________________...


...M e n c e k i k...


...____________________...


...___________...


...____...


..._...


Yolan terkejut, cepat-cepat lelaki tersebut membuka kedua kelopak matanya. Semacam benda tumpul baru saja menghantam bagian kening milik lelaki itu.


Apa yang terjadi?


Keadaan remang-remang membuat Yolan cukup sulit memahami situasi apa yang tengah terjadi. Dia hanya merasakan ada sesuatu yang menindih tubuhnya, tidak berat tapi tidak juga ringan. Seperti tubuh wanita.


JEDAR!


Berbarengan dengan kilat menyambar, barulah Yolan mendapatkan jawaban. Dia melihat Maki yang tengah duduk menjulangi tubuh lelaki itu, tangan wanita tersebut dililit oleh seutas rantai. Yolan menduga kalau benda tersebutlah yang mencium brutal kening miliknya hingga menimbulkan rasa nyeri serta mengalirkan sedikit tetesan darah karena kulit kepala Yolan terkoyak.


Apa yang kau lakukan Hanna?!


Deg!


Suaranya tidak dapat keluar.


Belum sempat mencerna dengan baik segala situasi, mata Yolan malah dibuat membola. Dia merasakan sesuatu yang dingin mencekik lehernya.


Sebuah rantai berada disana, dengan sisi kanan-kirinya dipegang kuat oleh Maki. Yolan mencoba memberontak tapi naas tubuh lelaki tersebut benar-benar terasa lemas.


Apa yang terjadi?! Jerit dewi batin lelaki itu. Sekujur tubuh seakan mati rasa. Mengenyampingkan persoalan, Yolan sendiri dirundung oleh tanda tanya besar.


Bagaimana wanita dungu ini bisa melepaskan diri dari rantai yang membelenggu dirinya?


Tidak mungkin benda tersebut tiba-tiba putus layaknya sebuah benang. Jelas tidak mungkin, pasti ada seseorang—Yolan yakin yang membantu sosok Maki.


Melepaskan diri dari ikatan rantai.


"Lihat wajah menyedihkan mu itu," Maki terkekeh, semakin semangat menarik rantai ditangannya hingga cekikan dileher lelaki tersebut semakin kuat.


Raut muka Yolan tampak memerah, antara kesulitan bernapas serta tengah menahan amarah. Andai saja Maki tidak diam-diam mengambil satu suntikan berisi obat bius dari Ed setelah pemeriksaan fisik terakhir yang ia lakukan, Maki yakin kalau dia akan kalah telak dari lelaki tersebut. Walau dosisnya kecil, setidaknya ini bisa memberi efek lumpuh pada lelaki yang berada tepat dibawah wanita itu; Yolan.


Maki mendekat, wanita dengan manik kecoklatan kosong tersebut berbisik.


"Sekali lagi ku katakan—" ucapnya gantung. Menarik kuat rantai dikedua tangan.


"Erghh! Ehmm! Argh!" lungahan tak jelas terdengar, Yolan memberontak. Sepertinya perlahan efek dari obat tersebut sebentar lagi akan menghilang.


Mirip suara keledai, komentar Maki yang melihat Yolan berusaha dengan keras.


"Jangan sampai mati."


BADUM!!!!!


...***...


Maki berjalan dengan pelan, dia menyusuri lorong yang panjang. Gemuruh guntur bersama kilat saling bersahutan, tepat diluar mansion sana. Keadaan memang remang tapi hal tersebut tak membuat Maki gentar. Dia terus melangkah bersama dengan gaun tidur berbahan tipis yang dihiasi sedikit oleh bercak darah.


Hosh~


Wanita ini bermain agak brutal. Setelah puas mencekik Yolan hingga lelaki tersebut nyaris meregang nyawa, Maki mulai melayangkan tinju kearah wajah lelaki itu. Tentu dengan tangan yang masih dilapisi oleh rantai; seperti knuckle. Memang damage yang diberikan cukup besar dan itu berlaku juga untuk sebaliknya.


Tangan Maki bengkak, lukanya lebar dengan bentuk melingkar bahkan sampai meneteskan cairan berwarna merah yang orang-orang sering sebut sebagai darah.


Tes...


Jemari wanita tersebut gemetar, Maki menghentikan langkahnya. Wanita tersebut mematung, tepat disamping jendela besar berlapis tirai yang sengaja dibuat. Mansion ini agak unik, rasanya wanita itu seperti dibuat berputar-putar.


"Hosh~" hela napas panjang terdengar.


Ada sedikit rasa penyesalan karena telah melakukan hal mengerikan itu pada Yolan meski tapi tiap kali Maki mengingat semua penganiayaan yang dirinya dapat; wanita tersebut akan merasakan gejolak amarah yang begitu besar.


Membakar hingga ke-ubun-ubun.


"Kau membuatku mengingat orang tua ku..." Maki bergumam.


JEDAR!


Kilatan baru saja lewat. Wanita itu bergeming, celah bibirnya terbuka.


"Dan aku membencinya."


.


.


.


.


.


"ARGHHH!—"


"Angkat teleponnya tuan?!" Neli menggigit kuku jari tangannya gugup. Dia baru saja mendapat panggilan darurat untuk kembali ke-mansion tapi apa yang dia dapat diluar dugaan.


Para pelayan serta maid berhamburan, mereka kebingungan—merawat luka dari sang majikan yang sekarang bahkan tidak bisa membuka kedua kelopak mata.


Ed bahkan seperti orang gila, melakukan perawatan pertama demi mencegah kematian. Sebenarnya Neli nyaris tidak peduli, tapi karena panggilan mendadak yang dilakukan kepala pelayan secara acak membuat Neli harus bergegas kesana sampai dia mendapatkan sedikit informasi yang tidak terduga. Kembali lagi.


Tut...


Tut...


OH AYOLAH! Neli mendesis, sebal. Dia sudah mau repot-repot menjauh dari kerumunan orang-orang heboh tersebut demi menyampaikan seberkas informasi, tapi kenapa tuan yang ingin sekali dia hubungi malah tidak bisa dihubungi. Ini menyebalkan.


Tut—?


Bip!


Ah! Syukurlah! Neli bersorak. Sambungan telepon miliknya akhirnya terhubung.


"..."


Persetan! Ini bukan waktu yang tepat untuk mendengar kemarahan dari mulut sang majikan.


"Nyonya—" Neli berucap gantung. Sosok diseberang sana terdiam, sebentar sebelum kembali mengajukan pertanyaan.


"..."


"—nyonya Makia menghilang!"


Bip!


Sambungan diputus secara sepihak. Akhirnya, meski diluar rencana setidaknya Neli dapat bernapas lega, ia lantas mendongak.


Langit-langit ruangan dari mansion besar ini tertangkap dalam penglihatan wanita itu. Neli lalu bergumam,


"Pastikan anda mengirim bayaran saya tepat waktu, Tuan Will."


Baiklah!


Waktunya pergi dari sini.


...***...


"Hosh~" asap putih baru saja keluar dari celah bibir seseorang.


Terdengar kekehan lucu setelah itu. Dia membuang abu pada ujung rokok disela jari tangannya, sambil menopang sebelah dagu lelaki tersebut berkata.


"Kau selalu hebat dalam urusan melarikan diri sayang..."


Ah~


Maki.


Krett—!


Suara daun pintu yang terbuka terdengar dari kejauhan, William menilik. Seseorang baru saja masuk kedalam ruangan miliknya, mendekati dia yang berdiri diarea balkon sana.


"Ada apa boy?" tanya lelaki bermanik emerald itu. Dia membuang asal rokok ditangan, membiarkan benda tersebut jatuh dengan bebasnya seraya berbalik. Bersandar pada pembatas balkon; menunggu sang anak mengutarakan maksud dari kedatangannya kemari.


"Mamah menghilang?"


William tertawa, bocah yang berada tepat didepan sana tidak terlihat seperti anak berusia 9 tahun.


"Kau menyadap pembicaraan papah?"


Langa bergeming, wajahnya benar-benar datar. Dia nyaris tidak peduli pada respon sang ayah yang terlihat sedikit marah. Hal ini membuat William berpikir kalau Langa benar-benar mirip dengan sosoknya dimasa lalu.


"Berhenti menunda pencarian mamah, pah! Langa sudah menunggu hampir 2 tahun,"


Bersabar?!


Huh!


Dimana Langa belajar membentak? Ini menyebalkan, melihat sang anak tumbuh dengan pemikiran yang sama gilanya seperti William membuat lelaki itu frustrasi.


"Bahkan kita sampai repot-repot membunuh kakek demi mendapatkan kekuasaan yang papah inginkan, jangan membuat Langa membenci keputusan yang papah lakukan."


CEPATLAH!


William merotasi matanya jenuh; dia tahu, anaknya sekarang benar-benar muak. Dasar bocah tengik, bukan hanya kau saja yang merindukan sosok Maki.


Tch!


"Bajingan cilik..."


"Kalau mamah mendengar, Langa yakin mulut papah akan dipukul dengan belakang panci penggorengan."


Dasar tukang adu.


...***...


...T b c...


...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....


...Jangan lupa klik like, vote, dan comments...


...Terima kasih...


...Ketemu lagi nanti...


...Bye...


...:3...