FreeDom

FreeDom
Rona



...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....


...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....


...Terima kasih...


...Selamat membaca...


...____________________...


...R o n a...


...____________________...


...____________...


..._____...


..._...


Maki bergegas angkat kaki dari sana, suara derap langkahnya terdengar begitu keras; dengan wajah yang menampilkan rona kemerahan.


Bisa-bisanya wanita itu mengalami yang namanya perasaan tersipu malu, Maki tidak pernah berpikir kalau mengetahui sisi mesum seorang lelaki akan membuat hati kecilnya tergelitik. Ini menggelikan, haha.


Bercanda.


Beberapa detik setelah rona kemerahan tersebut muncul wajah Maki kemudian berubah, kembali menampilkan ekspresi dingin dengan manik mata yang begitu kosong. Tangan kanan Maki terangkat, bergerak menuju surai-surai rambut miliknya. Wanita itu menyeka ribuan benang tipis diatas kepalanya dengan sela jari tangan.


Hela napas panjang terdengar, Maki membuang pandangan sambil mengeluarkan suara semacam decihan.


"Tch!"


Manik mata milik wanita tersebut berkilat, seperti tengah memikirkan sesuatu—Maki terdiam ditempat. Otaknya sedang berusaha menerjemahkan semua informasi yang ia dapatkan, perihal Langa beserta lelaki berstatus suaminya.


Maki percaya kalau Langa itu anaknya, hanya saja—keyakinan soal wanita tersebut terikat benang cinta dengan sosok William terasa sedikit dibuat-buat. Kenapa begitu?


Karena hati Maki sama sekali tidak merasakan yang namanya perasaan berdebar. Tidak seperti ketika dia mendengar perkataan Langa, atau ketika dia merasa kesakitan saat mengetahui bocah bermanik emerald itu menangis dihadapannya.


Alasan lain yang Maki miliki adalah; dia tidak ingin terjebak dengan lelaki beringas yang sifatnya melebihi bajingan sama seperti sosok Yolan. Memikirkan pria banci itu saja membuat Maki menggigil kedinginan, apapun yang terjadi—dia tidak pernah mau bertemu lagi dengan bajingan gila tersebut.


Cinta?


Bullshit!


"Omong kosong..." Maki mendesis, wajahnya benar-benar gelap. Pemikiran soal cinta yang ada didalam pikirannya berbeda dengan konsep awam orang-orang yang berbicara tentang cinta.


Dari kecil, kata cinta tidak ada didalam kamus wanita itu. Entah karena apa Maki 10 tahun kebelakang bisa terjebak oleh lelaki bernama William tersebut, Maki hanya tipikal yang menyukai tampang serta uang. Jadi sangat mustahil kalau sosok itu mau disatukan dengan cinta, kecuali ada momen tertentu yang membuat Maki berada dititik putus asa dan mendambakan indahnya delusi dari sebuah cinta.


Meski, lagi-lagi itu terdengar sangat mustahil.


Maki meletakkan tangan didagu, lagi-lagi hanyut dalam pikirannya sendiri. Tak menyadari sosok Langa yang tiba-tiba saja muncul dari sudut ruangan sana. Menantap penasaran pada sang mamah yang terlihat seperti tengah berdiri mematung ditempat.


"Mah?" panggil Langa, sekali. Tapi tidak disahuti oleh sang empunya nama. Maki mengerutkan alis, banyak hal yang masih membuatnya sibuk didalam otaknya.


Karena merasa diabaikan, Langa menggembungkan pipi sambil menampilkan raut cemberut. Dia berjalan mendekat, menyilangkan tangan kedada lalu mencoba memanggil sosok Maki sekali lagi.


"Mamah?!" sedikit lebih keras serta lantang dari pada sebelumnya. Hal ini membuat Maki tersentak, dia spontan mendongak. Menantap sekitar dengan sorot mata dungu—mencari-cari objek yang telah membuyarkan isi dalam pikiran miliknya.


Masih tidak menyadari sosok Langa, bocah lelaki yang memiliki manik mata serupa dengan William tersebut menarik kecil sudut pakaian yang Maki kenakan. Wanita dengan manik kecoklatan tersebut menunduk, merasakan sesuatu yang janggal tengah menarik ujung bajunya.


Belum sampai 3 detik, kedua pandangan mereka bertemu; antara Maki dengan sosok anak kecil dibawahnya—Langa.


"Hei? Ada apa nak?" tanya Maki spontan, nada suara wanita itu berubah menjadi lembut dengan tampilan wajah hangat. Entah kenapa tiap kali melihat bocah ini hati Maki selalu menghangat.


Dia merasa nyaman.


Maki meletakkan tangan dipipi Langa lalu membingkai wajah tampan milik bocah itu. Langa terdiam, sejenak sebelum memilih angkat suara.


"Mamah yang kenapa? Dari tadi Langa lihat mamah seperti tengah melamun saja disini..."


Maki meringis, apa yang anaknya ucapkan benar. Maki seperti patung yang sengaja diletakan di taman. Menarik perhatian dengan tanpa melakukan apapun selain diam. Haha. Lucu.


Wanita itu menggeleng, dia menunduk—mensejajarkan pandangan dengan bocah didepannya sambil berkata.


"Mamah baik-baik saja..." ucap Maki, tiba-tiba terbiasa memanggil dirinya dengan sebutan mamah.


Hal kecil tersebut sedikit menyetrum hati Maki, dia merasakan getaran yang sama lagi berkat bocah ini. Langa, sepertinya anak itu terlahir sebagai anugerah.


Iri, Maki sejatinya benar-benar iri. Tapi bukan berarti hal tersebut membuat dia serakah lalu menginginkan pengakuan, prinsip Maki sederhana.


Jika dirimu sampah, jangan buat pemilik yang membuang mu kembali memungutnya.


Dia terlalu rendah, untuk memiliki dirimu lagi. Jangan ladeni manusia buta, dia hanya tahu kalau berlian itu batu.


"Lalu kenapa mamah melamun?" tanya Langa. Wanita yang mendengarkan pertanyaan polos tersebut menarik kecil sudut bibirnya; menampilkan sebuah senyuman sederhana yang begitu indah.


"Mamah hanya memikirkan kegiatan apa yang ayah mu sedang lakukan..."


Langa memiringkan kepalanya, bingung.


Dia melihat sosok papah yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan masih mengenakan sebuah kimono.


"Papah?" beo bocah itu.


Maki yang menggunakan alasan tersebut mengangguk, dia terpaksa membawa-bawa nama William. Maaf saja.


"Memangnya apa yang papah lakukan di-kamar mandi?" tanya Langa lagi, kali in dengan suara yang sedikit lebih lantang. Sosok si empunya nama terkejut, ada baru saja keluar dari kamar mandi lalu melihat pemandangan aneh antara sang anak dengan istrinya yang tengah bisik-bisik.


"Apa yang kalian bicarakan?"


Deg!


Maki terkejut, suara berat tiba-tiba saja muncul tepat dibelakang tubuh wanita itu. Cepat-cepat ia berbalik, menampilkan ekspresi gugup.


Sial.


Lelaki yang hanya mengenakan kimono mandi tersebut menyipitkan kedua mata, menampakan ekspresi curiga.


Serius, apa yang tengah kalian bicarakan?


Aku? Kamar mandi? Batin lelaki itu. Kepalanya berputar, berusaha menerjemahkan. Hanya ada satu hal yang William lakukan di-kamar mandi, yaitu?


Matanya melotot, lelaki bermanik emerald tersebut menampilkan wajah tak percaya kearah sosok Maki.


"Sayang? Kau menceritakan hal yang tidak perlu pada anak-anak..." William menggeleng, betapa mesumnya sang istri.


Dituding macam-macam, Maki lantas menggelengkan kepala dengan kuat. Bibirnya terbuka, dengan suara keras dia berkata—


"Tidak! Aku tidak bercerita sesuatu tentang itu?!" Menjurus kearah yang tidak-tidak.


William merotasi matanya lucu.


"Benarkah~" ucap lelaki didepan Maki dengan nada yang menggoda.


Maki mengangguk.


"Benar!" sahutnya lagi.


William mengalihkan pandangan kearah sosok Langa. Bocah bertampang polos itu akhirnya memilih buka suara; dia berkata.


"Mamah bilang sedang membayangkan kegiatan apa yang tengah papah lakukan di kamar mandi."


Tungg—!


APA!


"Langa!" sela Maki dengan wajah yang benar-benar merona. Sial, ini memalukan.


...***...


...T B C...


...Jangan lupa like, vote, dan comments...


...Terima kasih...


...Ketemu lagi nanti...


...Bye...


...:3...