
"Omong-omong?" Maki menoleh, Diana bergumam tepat disampingnya. Wanita itu terlihat tengah berpikir, apa gerangan yang ingin dia tanyakan.
"Bagaimana kabar dari anak mu? Langa?" Maki terdiam, perlu beberapa saat dia berpikir sebelum menjawab pertanyaan dari wanita tersebut. Saat ini mereka sedang bertugas dibagian belakang cafe, mendapatkan pekerjaan membersihkan area sana.
"Syukurnya dia baik-baik saja Diana, aku sempat khawatir kalau Langa tidak terbiasa ditinggal sendiri. Bahkan aku kepikiran untuk mendaftarkan dia ke-taman kanak-kanak, jika itu bisa." tutur Maki memberi jawaban. Diana tampak menopang dagunya dengan ujung tongkat pembersih lantai.
"Kurang satu tahun lagi supaya Langa bisa mendaftar yah?" gumam Diana, Maki mengangguk. Melanjutkan kegiatan membersihkan meja bar bagian belakang.
"Tapi Hanna?" beo Diana lagi, wanita yang menjadi objek bicara menoleh. Maki menatap jenuh, bisa lakukan pekerjaan mu? Baru setelah itu kita bicara—kira-kira seperti itu raut muka yang terbaca pada wanita bermanik coklat tersebut.
"Kalau Langa dimasukan kedalam taman kanak-kanak, bukannya dia akan merasa bosan? Maksudku—lihat saja isi dalam otaknya. Terlalu pintar, tidak mungkin dia suka berkumpul dengan anak-anak lain yang hanya bisa bernyanyi. Aku yakin dia pasti menampilkan ekspresi jenuh sama seperti wajah mu~" ucap Diana bernada goda diakhir kalimat miliknya. Maki menghela napas panjang, merasa lelah dengan teman disampingnya.
Wanita bermanik kecoklatan itu mengangkat bahunya acuh, menggulung lap meja yang ada ditangannya lalu mencambuk pelan sosok Diana sambil berkata—
"Kembali bekerja!"
Diana terkekeh, sambil tertawa wanita tersebut melanjutkan pekerjaan miliknya. Sudut bibir Maki terangkat, dia merasa senang dengan kehidupannya saat ini. Dulu, tak pernah sekalipun wanita itu membayangkan—bisa memiliki seseorang yang benar-benar pantas dipanggil sebagai teman.
Maki berhutang budi pada Diana, dia satu-satunya sahabat sekaligus keluarga pertama yang mau menerima sosok menyedihkan Maki dikala itu.
Masih segar dalam ingatan, awal mula pertemuan mereka. Antara Maki dan Diana.
Saat itu kalau tidak salah Maki berada dipertengahan musim gugur, udara jadi sedikit lebih dingin dari pada biasanya. Maki yang sedang tersenyum senang sambil mengelus-elus pelan perut buncitnya tidak akan pernah mengira. Bahwa rencana sesungguhnya dari sang ayah adalah—
"Bunuh."
Membunuh putri kandungnya, keji. Maki benar-benar merasa jijik, menangis darahpun percuma. Bodyguard yang dulu berbicara soal pengampunan ternyata hanya berdusta. Dia menunduk malu, ketika Maki memohon ampun kepada orang-orang tak berhati yang ingin merenggut paksa nyawa miliknya.
"TIDAK! TIDAK!"
Maki menggeleng, ayahnya berbalik—benar-benar tidak peduli. Meninggalkan Maki dengan sekumpulan orang yang berperan sebagai algojo, kalian bercanda.
Hiks... hiks...
Dia hanya menginginkan hasil akhir. Cepat, cepat! CEPAT BUNUH JALA*NG ITU!
Semua kebaikan saat itu hanyalah ilusi semata. Dia menempatkan hati Maki dalam keadaan tenang—membuatnya sedikit merasa senang setelah mendapatkan belas kasihan lalu ketika Maki sudah berada titik akhir kau mulai mempermainkannya sesuka hatimu. Begitulah cara sang ayah membalaskan dendam pada mantan istrinya.
Hahaha |
Tidak masuk akal.
Dengan melukai sang anak.
"APA! APA SALAH KU PADA MU BAJINGAN?!"
"AKU MEMBENCI MU! AKU MENGUTUKMU SIALAN."
Maki mencoba memberontak semampunya, dia melindungi satu-satunya harta karun didalam tubuhnya. Sang anak, tidak. TIDAK AKAN KU BIARKAN SATU ORANGPUN DAPAT MENYENTUHNYA.
"JIKA AKU MATI, KU PASTIKAN KALIAN SEMUA—!!! Argh?!" teriakkan Maki tertahan, sesuatu membuat kepalanya pusing. Belum sempat menyelesaian kalimat, wanita itu sudah disambut hangat oleh kegelapan.
Apa aku akan mati?
"Nona..."
Charen? Maki mencoba membuka kedua kelopak mata yang saat ini terasa berat. Apa yang dilakukan pelayan kepercayaan dari sosok sang ayah? Apa dia juga—ingin menyakiti Maki dengan anaknya?
Tanpa sadar Maki menggeleng, dia menitikan air mata dengan raut muka sedih bukan kepalang. Wanita itu menggapai tubuh Charen, memohon ampunan serta belas kasihan dari pelayan tersebut. Tolong! Jangan sakiti anak ku. Melihat tampang menyedihkan dari nona muda yang pernah dia layani ketika kecil, membuat hati pelayan itu tersayat. Sebegitu bencinya 'kah lelaki bernama ayah tersebut hingga bersikukuh ingin membunuh darah dagingnya.
"Dengar nona, beberapa pelayan yang pernah melayani anda berusaha mencoba menahan anak buah gila dari tuan besar. Anda tidak punya banyak waktu, lari nona. Lari! Lari sejauh mungkin hingga kaki-kaki anda seperti menghilang dari tempatnya."
Itu kalimat terakhir yang dapat Maki ingat, lalu setelahnya—Maki hanya mendengar berita terbunuhnya para pelayan yang menolong dirinya kabur ketika itu. Beberapa hari kemudian, Maki mendengar lagi kabar pengumuman soal meninggalkannya putri tertua dari keluarga asia.
Dirinya sendiri. Betapa konyol.
Entah mayat siapa yang lelaki gila itu gunakan, dia membayar seseorang untuk melukis diatas wajah seonggok daging tak bernyawa. Sial. Maki kasian.
Tapi—
ARGH! PERSETAN.
Maki tak tahu lagi, Maki muak. Saat ini dia benar-benar tidak memiliki tujuan. Harus kemana dia berlindung. Bahkan ketika sesuatu didalam perutnya semakin membesar. Dimana ini? Kenapa dia kesini?
Wanita bermanik kecoklatan tersebut dirundung oleh perasaan putus asa. Dia lalu bertemu dengan sosok Diana. Tepat disamping pohon tua, ditaman yang sepi peminat—Maki layaknya orang gila; meringkuk diantara dedaunan. Dia mendongak.
Seseorang yang Maki kira hanyalah orang lewat tiba-tiba berhenti tepat dihadapan sosok Maki. Dia mengulurkan tangan halusnya kepada wanita itu, menunggunya untuk menggapai benda tersebut.
Maki yang sudah berada dititik kehancuran, menyambut tangan itu dengan linangan air mata.
Sial, kenapa aku menangis?
"Kau kelelahan Hanna?" tanya Diana tiba-tiba, Maki menggeleng. Dia bergumam kalau dirinya baik-baik saja.
Mari lanjutan pekerjaan.
"TCH!"
Jam berapa ini! Maki berlari panik, hari ini pelanggan cafe lebih padat dari pada biasanya. Jam kerja Maki spontan bertambah, seharusnya dia bisa pulang pukul 8 malam tadi tapi dia baru bisa pulang pukul 10 malam. Luar biasa. Lihatlah sekarang? Dia gila-gilaan berlari seperti orang kesetanan; mengejar bus terakhir yang beroperasi pada malam hari ini.
"Hah~" Maki bernapas lega, ketika dia berhasil mendaratkan bokongnya diatas bangku penumpang. Tinggal menunggu benda ini sampai ke tujuan, Maki memejamkan sebentar kelopak matanya.
Dia berharap Langa tidak menangis ketakutan menunggu sosok sang ibunda yang terlambat datang.
Citttt—!
Suara rem terdengar, penumpang baru saja turun. Maki membuka kembali kedua kelopak matanya. Benar-benar sepi hanya tersisa 3 penumpang termasuk dirinya yang berada didalam bus tersebut. Maki sejujurnya tidak masalah dengan keheningan yang tercipta tapi—dia yakin sekali orang yang duduk tepat dibelakangnya sedari tadi seperti tengah memperhatikan sosok Maki.
Dia laki-laki.
Wanita dengan manik kecoklatan tersebut menampilkan ekspresi datar, dia meraba sesuatu didalam tas pundaknya. Banda kecil dengan ujung yang tajam; pisau lipat yang selalu ia bawa kemana-mana.
Jika lelaki itu berani macam-macam, Maki jamin dia akan mencongkel kedua mata lelaki tersebut hingga lepas. Camkan saja itu!