
...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...selamat membaca....
...___________________...
...D i s i n i...
...___________________...
..._________...
...____...
..._...
"Terima kasih sir~" ucap Maki ramah, setengah membungkuk lalu berbalik pergi setelah mendapat sahutan hangat dari orang-orang didepan sana.
"Terima kasih kembali atas kerja samanya nyonya..."
Maki mengangguk, wanita itu berputar sambil menghela lega; akhirnya ucap dewi batin wanita tersebut. Dia melangkah pergi meninggalkan area kantor polisi.
"Aku tidak mengira dia akan menuduh balik, wanita membegal? Yang benar saja..." gumam Maki remeh sambil merotasi kedua matanya jenuh. Wanita itu berjalan cepat, dia harus benar-benar pulang saat ini. Maki takut Langa tiba-tiba menangis karena ditinggal terlalu lama seorang diri di Apartement, tapi sebelum itu—mari undur sedikit; sebenarnya apa yang tengah terjadi?
"Dasar jala*ng!" teriak sang penguntit. Sudut bibir Maki berkedut, padahal dia dulu sering sekali diejek oleh kata-kata itu tapi lihat sekarang—ketika dia kembali mendengarnya dari mulut seorang lelaki sampah entah kenapa hal ini berhasil membuat Maki merasa jengkel yang luar biasa.
Ish! Maki mendesis, menampilkan ekspresi datar dengan sorot mata dingin. Wanita itu menunduk—memasang kecil sebuah kuda-kuda sambil mengarahkan mata pisau tepat kearah sang penguntit. Dibalas remeh oleh lelaki tersebut, bisa apa kau? Itu hanya mainan. Begitu kira-kira isi dalam pikiran si mesum didepan wajah Maki.
Kita lihat saja, bisa apa benda yang berada tepat didalam genggaman tangan milik Maki ini. Menusuk perut mu barang kali? |
"Siapa yang kau sebut jala*ng? Dasar bajingan." ucap Maki kesal setengah mempermainkan, lelaki penguntit didepan sana termakan provokasi kecil yang Maki lontarkan; dia jadi bergerak tidak sabaran karena tersentil sedikit harga dirinya. Lelaki itu, dengan wajah geram bersiap menyerah sosok wanita yang dianggap lemah oleh sebagian orang.
Maki menyeringai.
Bogeman mentah atau apapun itu, manik mata kecoklatan dari wanita tersebut dapat melihatnya—banyak sekali celah disana.
Maki terkekeh, menghindari sambaran cepat sang penguntit lalu bergerak memutar; mendekat kearah tubuh bagian bawah sambil berkata.
"Tamat riwayat mu," mengarahkan mata pisau tersebut tepat kearah perut sang penguntit lalu—
"Jlap!"
Bugh!
Dia terjatuh, tepat diantara kaki Maki dengan wajah ketakutan. Lagi-lagi Maki terkekeh, didetik selanjutnya wanita itu kemudian berteriak.
"TOLONG!"
Belum sampai 1 menit kumpulan orang-orang berseragam muncul—setengah berlari dengan napas tersengal. Maki mengadu, mengucapkan bahwa dirinya diikuti lalu ingin dilecehkan oleh lelaki tersebut. Demi keamanan bersama, si penguntit ditahan paksa oleh beberapa polisi begitu juga sosok Maki; mereka perlu melakukan pemeriksaan untuk memastikan kebenaran.
Tapi bagian terlucunya adalah ketika si penguntit tiba-tiba balik menuduh Maki. Dia bilang wanita itu memiliki senjata tajam—dia yang membegal ku, lihat dia bahkan menusuk perut ku. Meski mereka tidak dapat menemukan luka tusuk yang lelaki itu maksud. Pasti dia shock, Maki memperlihatkan kembali pisau lipatnya; menjelaskan mekanisme dari benda tersebut dengan kalimat singkat.
"Ha-ha, ini hanya mainan." ucap Maki sambil menyentuh ujung dari mata pisau. Benda yang sering digunakan untuk beberapa trik permainan sulap, mereka terkekeh—menertawakan kebodohan lelaki itu. Maki hanya bertaruh, dia menyadari kalau posisi mereka saat itu sudah tidak jauh lagi dari arah kantor polisi. Salah si penguntit ini sendiri yang bergerak sembarangan, Maki jadi harus memutar otak agar tidak terluka; dengan cara beracting berani menghadapi sang penguntit—lalu membuat skenario penusukan dengan sebilah pisau.
Maki hanya memanfaatkan jeda waktu dari perasaan kaget si penguntit karena tidak mengira akan diserang dengan benda tersebut untuk memanggil para polisi. Pasti karena terlalu shock penguntit itu jadi tidak berpikir untuk kabur, sisanya jadi tampak lebih mudah. Trik psikologi yang bagus Maki. Setelah melakukan pengecekan di beberapa kamera pengawas, Maki dinyatakan sebagai korban lalu lelaki penguntit itu akan ditahan di kantor kepolisian untuk sementara waktu sebelum selanjutnya akan diproses oleh hukum.
"Hah~"
Akhirnya bebas. Maki berjalan gontai menuju arah area apartement tempat dia tinggal. Beberapa langkah lagi; bangunan itu sudah terlihat didepan mata. Maki mendongak, menantap balkon lantai tempat ia tinggal.
Tunggu? Kenapa benda itu terbuka?
Deg!
Energi Maki seolah terisi kembali, dia berlari masuk melalui loby kemudian menaiki anak tangga menuju lantai tempat tinggalnya. Kenapa pintu balkon apartemen Maki terbuka? KENAPA! Langa tidak mungkin bisa membuka benda tersebut. Kuncian dari pintu itu cukup tinggi, hanya orang dewasa yang dapat membukanya—bahkan ketika Langa memilih menggunakan bangku sebagai pijakan kakinya. Jelas sekali tidak mungkin.
Glak!
Terkunci?
Cepat-cepat dia mengambil kunci cadangan didalam tas lalu memasukan benda tersebut kearah lubang kunci.
Cklek~
Kuncian terbuka, tanpa basa basi Maki melangkah masuk kedalam apartemen sederhana yang sudah ia tinggali bersama Langa beberapa tahun terakhir ini.
"Langa!" seru Maki panik kemudian. Suaranya terdengar gelisah, cahaya yang ada didalam ruangan tampak remang—tidak seperti biasanya. Maki melepaskan alas kaki, berjalan cepat kearea dalam sambil mengecek satu persatu ruangan yang ada. Sial, dia selalu gugup jika tidak berhasil menemukan anaknya.
"Langa?!" Manik Maki berair, dia berhenti didepan kamar sang anak. Dibukanya kasar. Mungkin karena ruangan yang terlalu gelap Maki jadi tidak dapat melihat.
"Psttt!"
DEGH!
Bola mata Maki membulat, dia segera berbalik.
"Siapa disana?!" tanya Maki lantang, merasa yakin sekali bahwa ada seseorang didalam apartement miliknya. Penyusup? Atau apa? Yang jelas itu adalah tindakan kriminal, memasuki rumah seseorang tanpa seizin pemiliknya. Siapapun itu, Maki akan menyeret dia ke-kantor polisi nanti.
"Pelankan suara mu..." ucapnya. Maki menyipitkan mata, penyusup itu berdiri tak jauh dari tempat Maki. Hanya saja karena kurangnya pencahayaan Maki jadi kesulitan melihat wajah dari sang penyusup tersebut. Perlukah Maki menghidupkan lampu? Atau dia ringkus saja penyusup itu dengan beberapa trik sama seperti kejadian yang lalu; kemudian meminta bantuan kepada para tetangga.
Mana yang bagus?
"Kau bisa membangunkan anak kita."
Hah? Maki mematung. Tunggu? Apa dia tidak salah dengar? Penyusup itu bilang 'anak kita' anak siapa yang dia maksud?
Anak Maki?
Terdengar kekehan kecil, sosok yang bersandar di dinding dengan tangan menyilang itu menegakan tubuhnya—dia mulai berjalan mendekat. Tanpa sadar Maki tersentak, antara takut dan penasaran. Dia mundur beberapa langkah.
"Aku baru saja bisa menidurkannya setelah cukup lama menenangkan perasaan panik dari anak kita karena sang mamah tak kunjung pulang."
Eh?
Perlahan wajah si penyusup terlihat.
DEG!
Detak jantung Maki terdengar kacau.
Bugh~
Tubuh wanita itu merosot, matanya melotot. Tiba-tiba saja kedua kaki yang menopang tubuh Maki menjadi lemas. Dia mendongak memperhatikan lekat lekuk wajah serupa sang anak yang berada tepat didepan mata. Menjulang tinggi memberikan kesan suasana ngeri.
"William?" panggil wanita itu tanpa dia sadar.
"Yes my honey~ I'm here..."
...***...
...T b c...
...Jangan lupa like, vote, dan comments...
...Terima kasih...
...Ketemu lagi nanti...
...Bye...
...:3...