
...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...selamat membaca....
...___________________...
...B o d o h...
...___________________...
...__________...
...____...
..._...
"Sedikit ketenggara, tiga kilometer dari flat bos..." ucap lelaki bongsor tersebut, dia menahan tubuh Maki dengan bobot badannya. Lelaki itu menduduki Maki lalu membungkam mulut dari wanita itu dengan telapak tangan besar miliknya. Manik mata Maki berkaca-kaca, dia merasa sangat direndahkan.
Sial.
"Hmpp!"
Beberapa kali mencoba menggeliat, tapi lelaki bongsor tersebut malah semakin menekan tubuh Maki. Rasanya sakit, seperti ditekan hingga remuk.
"Istri anda terlalu berusaha," tutur dia lagi. Maki menatap nyalang, apa yang tengah si bongsor ini katakan.
Tiba-tiba dia mendekatkan telepon genggam kearah telinga Maki, terdengar jelas suara William tepat diseberang sana.
"Patahkan saja kakinya, lama-lama aku muak bermain kejar-kejaran."
Deg!
"Anda dengar itu..." bisik lelaki bongsor itu sambil menyeringai, dia memutuskan sambungan telepon. Tinggal menunggu William datang menjemput wanita yang digadang-gadang adalah istrinya itu; Maki.
Maki menggeleng, tangannya terangkat—dia berharap dapat menyingkirkan antek dari William ini meski berakhir sia-sia. Kau hanya buang-buang tenaga. Belum lagi tekanan tubuh yang menghimpit Maki ke tanah membuat dia kesulitan bernapas.
Genangan air bercampur lumpur itu sudah menelan sedikit tubuh Maki. Kenapa hujan semakin deras, jika terus begini akan terjadi longsor didaerah dekat lereng.
"Percuma anda memelas nona, anda sudah terikat dengan bos kami..." ucap lelaki bongsor itu lagi. Dia memasukan telepon genggam kedalam saku bajunya lalu mengambil seutas tali yang selalu dia bawa. Spesialis penculikan.
Bekerja dengan bos itu menyenangkan, dia bebas menculik wanita-wanita sombong dimanapun lalu mencicipi tubuh mereka sesekali. Meski baru kali ini dia melihat kalau bos-nya menginginkan seorang wanita untuk dijadikan satu-satunya miliknya.
Maki merasakan mulutnya tidak lagi dibungkam, walau sebenarnya lelaki itu tengah mengikat kedua tangan Maki dengan tali; setidaknya dia bisa bernegosiasi.
"Saya mohon lepaskan saya sir..."
Permintaan semu yang sangat sungkar untuk dipenuhi. Maki merasakan jeratan tangannya semakin kuat, dia meringis. Lebih kencang lagi dari pada itu bisa membuat permukaan kulit Maki terkoyak.
"Sejujurnya saya kasihan, tapi mau bagaimana lagi nona... anda salah berurusan dengan seseorang. Setidaknya saya tidak menuruti permintaan untuk mematahkan tulang kaki anda," tutur dia sembari berdiri; menjauh dari tubuh Maki. Giliran mengikat kedua kaki wanita itu maka tugasnya selesai; kira-kira apakah dia akan mendapat bonus tambahan dari William? Mungkin. Hal itu membuatnya tak sabar.
Maki mengubah posisi berbaring menjadi duduk, dia bersandar tepat disamping dinding sambil memperhatikan lelaki bongsor itu yang hendak membelit kakinya. Maki tidak ingin, dia tidak mau.
Apapun yang terjadi—DIA TAK SUDI BERTEMU LAGI DENGAN WILLIAM.
Haha, seperti dendam kesumat. Pokoknya Maki tidak ingin lagi terlibat dengan lelaki bermanik emerald tersebut, persetan dengan waktu-waktu sebelumnya atau dengan wanita asing yang seharusnya Maki tolong. Sebagian orang sudah menganggap Maki gila, jadi yang perlu dia lakukan cuma satu. Lari untuk memulai semuanya dari awal.
Maki meringis saat tanpa sengaja lelaki itu menyentuh permukaan telapak kaki.
"Anda cukup brutal," komentar si bongsor yang ngeri-ngeri sedap melihat luka dikaki wanita itu. Apa dia mengalami mati rasa? Membiarkan kakinya robek karena pecahan kaca, bahkan berjalan diatas tanah kotor yang tak terbayang seberapa perihnya nanti luka tersebut.
Tidak.
Tidak mungkin.
Maki sudah cukup lemas, dia benar-benar dalam keadaan tertekan juga kelelahan ekstrim. Saat lelaki itu ingin menjerat kaki Maki yang satunya, bagaimana kalau?
BUGH!
"Argh?!"
Maki cepat-cepat berdiri. Dia memilih menendang tiba-tiba kepala si bongsor itu dengan kakinya sampai menimbulkan suara renyah. Sedikit terhuyung lelaki itu meringis, dia bukannya kesakitan tapi kaget. Bisa-bisanya wanita itu kepikiran melakukan hal tersebut disaat wanita lain hanya pasrah dan ketakutan.
Tanpa menoleh, Maki berlari menerobos hujan dengan tangan terikat serta tali yang menjutai; melingkar disalah satu kaki. Melawan angin, Maki bergerak semakin jauh hingga punggung miliknya ditelan oleh kegelapan. Lelaki bongsor tersebut mendesis, mencoba mengejar sambil berkata—
"Harusnya ku turuti saja perintah bos untuk mematahkan kaki mu nona!" ucapnya geram dengan gurat marah yang teramat kentara.
...***...
Lelaki tadi bilang kalau dia berada di tenggara. Kemungkinan yang Maki ingat adalah jalan menuju pedesaan, menjauhi kota. Ada lereng curam disini. Maki harus berhati-hati karena minimnya pencahayaan. Tidak lucu kalau dikemudian waktu ketika dia salah melangkah malah terbangun dialam baka. Karena ricuhnya suara hujan juga membuat Maki tidak bisa memastikan, apakah dia masih diikuti oleh si bongsor tadi.
Maki harap tidak,
CITTTT!
"Hah!" Maki terperanjat, dia spontan menutup matanya saat tiba-tiba ada mobil muncul dan hampir menabrak tubuh wanita itu. Beruntung dia berhenti beberapa centimeter sebelum mengenai Maki.
Dari mana benda ini muncul, pikir Maki penasaran. Dia jelas sekali tidak melihat cahaya lampu dari mobil tersebut, kecuali jika memang ada belokan tajam yang menyamarkan benda tersebut. Hanya ada satu, area yang potensial dan sering terjadi kecelakaan. Itu tepat didekat lereng curam.
Oh ya? Omong-omong—orang normal akan keluar untuk memarahi Maki yang berlarian ditengah jalan pada waktu larut malam. Kenapa ini berbeda? Sial, Maki jadi paranoid sendiri. Tanpa sadar wanita itu memundurkan kaki ketika tiba-tiba daun pintu mobil itu terbuka. Ini terlalu lambat.
Belum sampai 5 langkah mundur, beberapa mobil serupa muncul—mengejutkan sosok Maki. Dia terpejam saat cahaya terang menusuk langsung retina mata. Berputar mengelilingi Maki kecuali bagian pagar pembatas jurang dengan jalan.
Maki seperti penjahat yang tengah dikepung. Sial, dia bahkan tidak pernah membayangkan akan berada pada situasi gila ini. Sungguh!
"Sudah bermainnya..." ucap seseorang yang entah kenapa Maki sudah hafal tone suaranya. Maki menoleh, sosok yang baru saja keluar dari mobil lalu bersandar didekat pintu sambil memberikan senyuman remeh. William.
Maki mendesis. Dia benar-benar merasa tidak senang bertemu dengan lelaki itu.
"Sebenarnya," tutur Maki gantung. Dia memberikan tatapan nyalang.
"Kenapa kau membuat ku seperti ini?"
Seperti ini yang bagaimananya? beo William dengan alis terangkat.
"Bukannya itu salah mu, membuat segalanya menjadi kacau." sahut William. Maki terdiam. Lelaki itu menyeringai.
"Padahal aku tidak melakukan apapun, atau menunjukan niat sebenarnya yang ingin ku lakukan. Kau saja yang terlalu banyak berpikir lalu mencoba untuk kabur setiap saat. Aku tidak bilang ingin menyakiti mu bukan? Semua asumsi bodoh dari otak kecil mu membuat kau jadi tampak menyedihkan seperti ini. Maki."
...***...
...T b c...
...Jangan lupa like, vote, dan comments...
...Terima kasih...
...Ketemu lagi nanti...
...Bye...
...:3...