
...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....
...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....
...Terima kasih,...
...selamat membaca....
...______________________...
...B e r t e d u h...
...______________________...
...____________...
...______...
..._...
Aku terlalu takut, hingga bertindak spontan.
Naluri ku bilang; pergi jauh-jauh darinya.
Atau aku tak akan selamat.
.
.
.
.
.
"HOSH! HOSH!"
Deru napas lelah hadir disela bibir, Maki melambatkan langkah kakinya. Dia terengah.
Tap!
Tap...
Tap~
Sampai kaki tersebut berhenti tepat didepan sebuah rumah kosong diujung jalan. Dimana ini? Berapa lama aku berlari? Batin Maki tak tahu, mengedarkan pandangan kesana-kemari.
Hah...
Dia kemudian memilih memasuki pelataran rumah kosong yang terlihat menyeramkan tanpa sedikitpun pencahayaan disana. Berlari dengan kencang tanpa menoleh kebelakang benar-benar menguras tenaganya.
Maki perlu istirahat.
Bersyukur saja tidak ada tanda-tanda kalau William yang berhasil menyusulinya. Maki mengangkat tangan menuju dada, mencoba menetralisir debar jantung yang berdetak sangat kencang. Bahkan napasnya masih terengah.
Deg! Deg! Deg!
Bersandar disudut dinding rumah kosong yang begitu gelap, Maki berjongkok. Menyembunyikan baik-baik tubuh dengan cara memeluk erat kedua kakinya. Lantas dia menenggelamkan wajah diantara lutut tersebut, tubuh wanita itu tidak henti-tentinya bergetar.
Maki kelelahan.
Melawan pengaruh obat serta rasa lapar pula. Luar biasa.
"Ish!" Tiba-tiba Maki meringis. Dia merasakan sesuatu yang sakit merajam kuat permukaan kaki, wanita itu menunduk—menilik kearah kedua kaki yang sekarang ini sangatlah kotor penuh dengan beling serta bercak darah.
Berlari kabur dari tekanan William tanpa menggunakan alas kaki, apa Maki terlalu bertindak impulsif? Tapi mau bagaimana lagi, Maki benar-benar takut. Sensasi meremang yang dihasilkan William saja masih membekas dalam ingatan; wajar dia bergerak repleks meski tahu mungkin saja psychopath itu akan mengejarnya nanti.
Hah~
Maki harap William tidak dapat menemukan dirinya yang menyedihkan ini, agar mereka bisa kembali ke-kehidupan masing-masing. Menjadi tidak saling mengenal satu sama lain.
JEDDARRRR!
"HAH!" Maki tersentak, dia mendongak dengan tubuh yang gemetaran. Bahkan bokong wanita itu sampai mencium tanah menimbulkan suara renyah, dia melihat. Menantap jauh keluar sana; setelah atap pelataran rumah—langit yang gelap semakin pekat karena kumpulan awan hujan bermunculan. Maki dibuat terkejut saat gemuruh guntur bersama petir tiba-tiba hadir, belum sampai 10 detik setelah suara menakutkan itu langitpun menangis. Menjatuhkan berton-ton air keatas permukaan tanah, bangunan hingga pepohonan.
Udara perlahan menjadi dingin, Maki yang terduduk memeluk erat tubuhnya sendiri. Terlihat uap panas setiap kali wanita itu bernapas.
"Ini momen kedua paling menyedihkan dalam hidupku," monolog Maki sembari menantap hujan yang seakan menghukum bumi. Genangan air bercampur tanah muncul perlahan, perlu waktu 15-20 menit genangan itu akan sampai ketempat Maki. Maki memperhatikan dalam diam, dia termenung.
Mengingat-ingat memori lama yang sepantasnya tidak perlu untuk ia ingat.
*DASAR ANAK TIDAK BERGUNA! KAU SAMA SEPERTI IBU MU YANG JALA*NG ITU*!
Maki tersenyum kecut, ya... dia mengakui sifat nakal ini menurun dari sang ibu; sampai-sampai Maki muak dengan dirinya. Berubahpun tak mampu, Maki hanya bisa menikmati hidup yang dipenuhi oleh cibiran ini.
"Apa ini karma yang kau maksud ayah?" Gumam Maki gantung.
Aku terlibat dengan sesuatu yang berbahaya tanpa tahu alasan dibaliknya. Tuhan sedang mempermainkan mu atau sedang menguji mu? Entahlah, Maki tak tahu.
Selama ini, hanya satu hal yang Maki yakini; apapun yang terjadi 'aku akan tetap hidup' meski harus melangkah diatas bara api panas sendirian. Pelajaran hidup yang ia dapatkan dari kedua orang tua menyedihkan yang sudah lama Maki buang.
Berkerja part time, menjadi penggoda, membiarkan beberapa pria meraba tubuhnya demi uang—setidaknya itu jauh lebih baik dari pada membusuk disana. Menantap pertengkaran tidak berarti dari mereka yang orang-orang sebut sebagai orang tua.
"Aku bisa melakukan apapun,"
Termasuk lari dari cengkeraman orang gila itu.
Cukup pergi sejauh mungkin sampai dirinya tak pernah muncul dihadapan William lagi. Maki bisa kembali memulai kehidupan baru nanti dan mungkin dia akan sedikit trauma sembarangan menggoda laki-laki demi mendapatkan uang.
"Hehe~"
Maki berdiri, genangan air sudah mencapai pelataran rumah. Hujan semakin deras, dia harap tidak sampai membuatnya mengambil keputusan untuk masuk kedalam rumah kosong yang menyeramkan tersebut. Meski gelap, disini Maki masih bisa melihat lampu-lampu jalan diluar sana.
Keadaan juga semakin sepi, lalu lalang mobil ataupun kenderaan semakin rendah. Harus kemana dia setelah hujan reda? Tidak mungkin kembali ke flat, William bisa saja masih berada disana.
Haruskah dia mendatangi rumah teman-temannya?
Huh!
Maki tertawa hambar. Pemikiran bodoh, jangan harap mereka mau menerima sosok Maki dengan pintu terbuka lebar. Apa yang bisa dia dapatkan dari orang yang hanya sekadar teman? Tidak ada.
Tak punya uang, tidak juga ponsel, tidak punya tempat pelarian serta dikejar oleh psychopath gila yang mungkin saja hendak membunuh mu.
Luar biasa kau Maki.
Benar-benar LUAR-BIASA.
Sial.
"Ah!" Maki terkejut, dia spontan menoleh saat percikan hujan membasahi ujung baju milik Maki. Tch! Angin membuat arah jatuh dari benda cair tersebut jadi kemana-mana.
Maki menggigil. Perutnya keroncongan.
Dia sesekali menilik kearah pintu dari rumah kosong dibelakangnya. Haruskah wanita itu masuk dan berteduh kedalam? Bisa saja disana sedikit lebih hangat, meski Maki sejujurnya agak takut, itu terlalu gelap. Seandainya ada sedikit saja cahaya, Maki akan merasa tak apa.
"Hosh—!"
"Sial, bos benar-benar marah!"
Maki menutup rapat-rapat bibirnya ketika tanpa sengaja gendang telinga dari wanita itu menangkap suara. Dia meluruhkan tubuh keposisi jongkok sama seperti semula serta melirik dari balik ekor matanya. Ada seseorang yang baru saja berlari lalu singgah disisi lain pelataran rumah, karena terlalu gelap dan suara hujan yang cukup keras hawa kehadiran milik Maki jadi tersamarkan.
Siapa disana? |
Dia melihat diantara keadaan remang-remang, lelaki berbadan besar dengan setelan norak bercorak bunga tengah mengeluhkan sesuatu sambil berteduh. Seperti menyumpah-serapahi orang bertital bos dari belakang. Pengecut. Firasat Maki yang akhir-akhir ini peka menduga kalau lelaki itu adalah sosok yang berbahaya, dia persis seperti preman. Sungguh!
Maki tidak ingin lelaki bongsor itu mengetahui keberadaan dia yang terlihat menyedihkan ini. Tidak lucu 'kan kalau dirinya tiba-tiba ditemukan lalu mendapat pelecehan karena tampang Maki yang sedikit berantakan, kalian mengertikan maksudnya? Apa lagi dalam keadaan mental yang kacau seperti sekarang.
Belum lagi William, jangan menambahi beban mu Maki. |
Mari kabur dari sini. Perlahan‐lahan.
Persetan soal hujan, lebih baik dipeluk oleh kegelapan dari pada dijadikan toilet umum.
Maki merangkak, dengan gerakan sehalus kapas. Dia mencoba menuju sisi lain pelataran rumah agar bisa keluar.
Tapi sayang—
"Bos, saya menemukan istri anda."
DEG!
Wanita itu lebih dulu ditemukan.
...***...
...T b c...
...Jangan lupa like, vote, dan comments...
...Terima kasih...
...Ketemu lagi nanti...
...Bye...
...:3...