FreeDom

FreeDom
Mimpi



"—miss?!"


Siapa yang kalian panggil?


"KEMBALI KEMARI, MADAAM!"


Apa?


CITTT!


Silau.


BRUAKKK!


Eh?


Bugh!


"Ar... argh?"


Merah, semuanya perlahan menjadi merah. Kenapa kalian mengerumuni ku?


Deg!


Sakit.


Rasanya sakit.


Apa yang terjadi?


Degh!


"Ka... kau—?!"


BADUM!


Siapa itu?


...___________________...


...M i m p i...


...___________________...


...__________...


...____...


..._...


Deg!


"ARGH! Hosh! Hosh! Hosh!" Maki membuka kelopak mata cepat, apa yang terjadi? Wanita itu baru saja terbangun dari tidur dengan keadaan penuh keringat dingin yang membanjiri sekujur tubuh. Wajah sosok tersebut tampak pucat, napasnya terengah. Dengan tampang horor Maki menilik dari balik ekor mata menuju kearah samping.


Tangan wanita itu terangkat, mencengkeram kuat baju tidur hingga kainnya kumal. Maki merasakan detak jantung miliknya yang terdengar berantakan.


Deg! Deg! Deg!


Tidak karuan, panjang pendeknya.


Lagi-lagi pertanyaan yang sama muncul. Apa yang terjadi? Sambil menantap dalam sosok Yolan yang terlelap tepat disamping.


"Kau... kau—?!" desis wanita itu tiba-tiba. Manik kosong miliknya tampak seperti menyiratkan sesuatu, semacam kemarahan tanpa alasan yang jelas serta hanya ditujukan kepada Yolan seorang.


Wanita ini lalu bangkit, rima napas serta degup jantung mulai kembali stabil tapi sayang kepalanya pusing. Dia tidak betah berada dekat dengan lelaki itu. Terakhir kali yang Maki ingat—tentang Yolan hanyalah pengalaman buruk; ketika ia muntah tanpa sengaja tepat didalam mulut lelaki tersebut. Anehnya Yolan malah terlihat sedikit kegirangan.


Menjijikan. Maki merinding, tiap kali mengingat hal tersebut. Bagaimana bisa lelaki asing ini tidak keberatan melakukannya? Maksud Maki, menelan semua sisa makanan yang ada didalam lambung dengan wajah terangsang.


Dia psychopath.


Gila, benar-benar tak waras.


Maki menyandarkan kepalanya kedinding, tidak jauh dari ranjang—manik kosong miliknya menantap dalam ujung-ujung kaki yang menapak tepat diatas lantai yang dingin. Pikiran wanita bernama Maki tersebut melayang.


Siapa aku?


Siapa dia?


Kenapa aku bisa terperangkap disini?


Bagaimana dengan masa lalu ku?


Apa hubungan diantara kami?


Kenapa aku takut?


Tidak! KENAPA DIA MENAKUTKAN?!


Bruk~


Maki merosot jatuh. Kedua kakinya menjadi lemas, tak mampu menahan berat badan. Wanita yang masih menempelkan keningnya kedinding mengalami lecet kecil disana, sebab Maki membiarkan benda tersebut terseret begitu saja hingga tubuhnya jatuh.


Bugh...


Bugh...


Bugh...


Disusul oleh suara janggal yang terdengar samar kemudian, Maki membenturkan kepalanya kedinding dengan pelan serta disengaja. Pikiran wanita tersebut campur aduk, sampai-sampai dititik dia sendiri tidak tahu apa yang sedang ia pikirkan.


Semuanya kacau. KACAU BALAU.


Apa yang kau inginkan Maki?


Dia menggeleng. Bergumam—


"Ti... ak, taaHu..." (Tidak tahu)


Apa yang kau inginkan Maki?


Dia lagi-lagi menggeleng, ketika pertanyaan yang sama muncul kembali. Terngiang didalam kepalanya, seperti setan—meniupkan bisikan halus yang menyesatkan.


APA YANG KAU INGINKAN MAKIA!


Tidak tahu! |


"Bae.. bas," (Bebas)


Kening Maki berdarah, lecet yang seharusnya tidak seberapa kini malah semakin luas. Dengan kulit yang sedikit terkoyak serta warna merah diarea sana. Maki menbatu, bersanding bersama dengan perasaan lelah.


Ini melelahkan.


Maki lelah. Dia lelah berpikir, manik kosongnya menilik tepat kearah sosok Yolan yang masih saja terlelap dengan wajah cantik.


Kenapa aku membenci mu?


Tanya dewi batin wanita itu. Tiap kali Maki melihat wajah lelaki tersebut, Maki selalu merasakan perasaan seperti tengah disulut oleh api pembakaran.


Aku membenci mu.


Mengucapkannya tanpa dipinta, memikirkan tanpa disuruh.


"Ak... au Bean...si—" (Aku benci!)


Maki berdiri. Berjalan pelan mendekat kearah bibir ranjang, tempatnya semula—disamping tubuh lelaki itu.


Ujung kaki berhenti disana. Maki mematung, memandangi lagi wajah Yolan.


JEDAR!


Dibarengi oleh suara gemuruh nyaring tepat diluar kaca jendela kamar. Sepertinya sebantar lagi akan turun hujan, mungkin saja badai. Maki tidak terpengaruh. Kaki wanita itu terangkat, naik keatas ranjang lalu—


"ARGH!"


Dia menerjang kuat leher Yolan, sampai-sampai membuat pemilik tubuh dari lelaki tersebut terbangun. Matanya melotot, menantap tak percaya kearah sosok Maki yang menjulangi tubuhnya; meletakan kedua tangan ringkih seolah ingin—atau memang sedang mencekiknya.


"Ha... nna!" Yolan memberontak, dia berusaha memanggil sosok Maki yang terlihat sedang kehilangan akal dengan pandangan yang kosong sambil menahan diri untuk tidak menyakiti tubuh wanita itu.


Tch!


Yolan berdecih, mengapa tenaga wanita tersebut semakin kuat. Maki menantap dingin lelaki yang berada tepat dibawah tubuhnya, menikmati semua raut jelek dari lelaki tersebut.


Rasakan itu!


RASAKAN ITU!


KAU—


KAU MENCOBA MENYAKITI ANAK KU.


DEG!


Maki membeku, melihat ada sedikit kesempatan Yolan langsung memanfaatkan hal tersebut. Dia memutar tubuh Maki dengan pelan—membenturkan wanita tersebut keatas bantal lalu membenamkan wajahnya disana dengan satu tangan saja.


Yolan kira Maki akan memberontak, sama seperti yang ia lakukan—atau persis seperti Maki yang hidup dimasa lalu mereka. Tapi nyatanya tidak. Seratus tiga puluh derajat berbeda dari apa yang Yolan pikirkan.


Wanita aneh yang tiba-tiba menyerangnya dengan perasaan impulsif itu terdiam. Bahkan nyaris tidak menimbulkan suara, apa yang terjadi?!


Dengan panik, Yolan membalik tubuh Maki kembali. Membawa sosok tersebut agar bisa dilihat oleh mata telanjang miliknya.


"Hanna?!" panggil Yolan, dia melihat manik kosong Maki yang semakin menghitam. Naik keatas dengan pandangan penuh rasa putus asa, ada air mata yang sempat jatuh disana. Bantal tempat Yolan membekap wajah Maki barusan terlihat sedikit basah.


Sial! Apa yang terjadi dengan wanita ini! Batin Yolan bertanya-tanya. Membawa tubuh Maki yang sudah tidak berdaya, sebelum wanita tersebut kehilangan lagi kesadaran miliknya.


Maki perlahan terpejam. Ditelan oleh kegelapan.


"Hanna?"


...***...


Semilir angin lembut membelai wajah Maki, wanita yang duduk tepat diatas ranjang tampak menikmati pemandangan dari balik kaca jendela kamar yang sengaja dibuka. Gorden bergoyang. Banyak orang bermain sana, ada juga para perawat yang berbaur dengan dalih mengawasi—berhasil menarik sudut bibir Maki untuk naik keatas.


Dia tersenyum.


Wanita tersebut mengelus perutnya yang kian hari kian membesar. Sesekali dia membayangkan, suatu hari ketika sosok didalam rahim wanita itu keluar—Maki akan menggandeng tangan kecil miliknya dengan hati-hati serta mengajak sosok tersebut untuk bermain.


Sepanjang hari.


Maki berjanji memberikan satu kehidupan yang baik untuk mu.


"Anak ku..."


Langa.


Deg!


"TIDAK!!!!!"


.


.


.


.


.


"Apa yang kau pikirkan?" Yolan bertanya, lelaki itu tampak memperlakukan Maki sama seperti biasa. Lelaki ini abai terhadap kejadian semalam. Persetan soal Maki yang mencekiknya. Walau tahu wanita tersebut tidak akan menjawab pertanyaan yang Yolan ajukan.


Lelaki ini masih hobbi berbicara. Ber-monolog tepatnya.


Ini menyenangkan.


Persis seperti berbincang dengan sebuah mainan boneka.


...***...


...T b c...


...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....


...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....


...Terima kasih,...


...ketemu lagi nanti...


...Bye...


...:3...