FreeDom

FreeDom
Bantuan Kecil



...Cerita bersifat fiksi atau karangan saja, jika terdapat kesamaan dalam bentuk apapun—mungkin karena ketidak sengajaan semata....


...Jangan lupa klik like, vote, dan comments diakhir cerita sebagai wujud apresiasi terhadap karya penulis....


...Terima kasih,...


...selamat membaca....


..._______________________...


...B a n t u a n - K e c i l...


..._______________________...


...____________...


...______...


..._...


Jika orang lain yang melihat manik mata Maki, mungkin mereka akan merasakan perasaan kasihan. Bagaimana tidak, Emily baru saja memasang rantai kekang dileher wanita itu. Berlanjut kearea kaki dengan sepasang rantai pendek yang terhubung satu sama lain. Benda tersebut akan menyulitkan seseorang dalam melangkah.


"Maafkan saya nyonya..." gumam Emily; mengungkapkan perasaan bersalah sambil dengan telaten memasang rantai bagian kaki untuk wanita tersebut.


Maki menggeleng, seolah paham. Tak masalah, dia tahu kalau Emily sendiri sebenarnya tidak ingin melakukannya. Hanya karena Yolan yang menyuruh; mau tak mau Emily harus membuang sedikit rasa kemanusiaan.


Ruang bawah tanah yang awalnya hanya gudang disulap sedemikian rupa demi menjamin kenyamanan. Emily harap nyonya besarnya betah terkurung lama disana. Meski sebenarnya kata 'terkurung' sendiri bukanlah sesuatu yang bagus. Jadi begini rasanya menjadi seekor burung didalam sangkar.


Benar-benar tidak nyaman. Sungguh!


"Em?"


Maki yang berada dibibir ranjang menunduk, Emily baru saja selesai merantai kedua kakinya. Wanita setengah baya tersebut tiba-tiba saja bertindak impulsif; dengan meletakkan kedua tangan miliknya diatas pangkuan Maki. Hal ini menarik perhatian dari si empunya kaki, dari manik kosong berwarna kecoklatan tersebut—dia melihat wajah sedih serta tidak tega yang Emily tampilkan.


Maki tertohok, dia satu-satunya maid yang dengan tulus menunjukan perasan kasihan kepada sosok Maki.


Ha-ha!


"Saya harap nyonya tidak melakukan 'sesuatu' lagi..." ucap Emily, dalam konteks menegur sesuatu seperti bunuh diri, merusak barang bahkan sampai menyakiti para maid yang bertugas merawatnya.


"Ehmm..."


Maki mengangguk, jarang-jarang sekali dia mau menurut. Emily bernapas lega, senyum simpul hadir diwajah yang sekarang tak muda lagi. Kepala pelayan wanita tersebut berdiri, membingkai manja wajah milik sosok Maki.


Sebagai orang dewasa, Emily benar-benar tidak tega meninggalkan Maki sendirian diruang bawah tanah. Meski tahu ketika waktu tidur; malamnya nanti sosok Yolan pasti akan hadir dan berbaring tepat disamping tubuh Maki, hanya saja—ini sungguh tidak bermoral.


Tak masuk akal. |


"Nyonya?" panggil Emily kemudian, nadanya sedikit ragu tapi setelah berpikir matang-matang. Yups! Kepala pelayan wanita tersebut rasa dia harus melakukannya.


Maki mendongak, membalas tatapan milik wanita itu. Tangan hangat yang membingkai wajah Maki perlahan menjauh, dilihatnya Emily menyimpan kembali tangan kesisi lain tubuh sambil mencari-cari sesuatu. Dibalik pakaian pelayan hitam-putih yang ia kenakan.


Gerangan apa yang ingin ia cari serta tunjukan pada Maki?


Wanita itu penasaran.


Meski gerakan Emily sangat tipis, samar Maki menyadari kalau sesuatu yang wanita itu cari sudah berada digenggaman tangan miliknya. Wanita setangah baya tersebut meminta Maki untuk mengulurkan tangan, dengan polos ia mengikuti apa yang Emily inginkan. Mengulurkan tangan tepat kearah wanita itu. Emily menyambut.


Benda dingin menyetrum kecil permukaan telapak tangan. Pandangan Maki menunduk, baru saja Emily menyerahkan sesuatu diatas tangannya.


"Ampa... in?" (Apa ini?)


Tanpa sadar Maki bergumam. Sesuatu yang kecil dengan bentuk tak asing, orang-orang selalu menyebut benda tersebut dengan sebutan kunci.


Kunci apa itu?


Lalu—untuk apa kunci tersebut?


Pertanyaan muncul, didalam otak kecil milik Maki yang hanya mampu memuat sedikit informasi. Tiba-tiba Emily menunduk, mendekatkan tubuhnya kearah Maki atau lebih tepatnya meminta agar mereka bisa saling berbisik.


"Hosh~"


Bibir wanita berstatus kepala pelayan tersebut mendekat menuju kearah daun telinga, terdengar untaian kata yang menggelitik. Maki geli.


"Simpan baik-baik nyonya, ini kunci untuk melepaskan kedua rantai tersebut..." bisiknya beberapa detik sebelum menjauh.


Maki mematung, untuk apa Emily memberikan benda ini kepadanya?


Melihat wajah penuh kebingungan yang Maki tampilkan membuat kepala pelayan wanita tersebut terkekeh ditempat.


Maki benar-benar lugu.


Tak terbayang bagaimana ia bisa berakhir diatas telapak tangan milik Yolan yang bahkan Emily ingat kalau lelaki itu dulu hanya ingin berdandan seperti wanita.


"Nyonya jangan berpikir terlalu keras, saya melakukan ini hanya murni karena keinginan..." serta rasa kasihan.


Maki tahu.


"Pastikan agar nyonya tidak ketahuan, simpan baik-baik ditempat yang sulit ditebak..." tambah wanita setengah baya tersebut sebelum mengakhir ucapannya.


"Kalau begitu saya pamit undur diri,"


Terlalu lama disana hanya akan mengundang rasa penasaran, dari seseorang yang mungkin saja tidak mereka harapkan.


...***...


Hanya ada ranjang serta nakas, juga lemari pakaian berukuran sedang didalam ruangan tersebut. Ditambah satu kamar mandi dan toilet, rantai yang membelenggu leher Maki cukup panjang—sehingga dia bisa bergerak leluasa sampai kesana. Tapi langkah Maki tersebut tertahan sekitar 5 meter sebelum pintu keluar utama ruang bawah tanah ini.


Cukup disayangkan.


Tangan Maki terangkat, menuju area leher dengan lingkaran besi disana. Benda itu dingin, sudah berapa lama dia mengenakan belenggu tersebut? Ini mulai terasa tak nyaman. Maki kembali melangkah mendekati bibir ranjang.


Krett~


Bertepatan dengan hal tersebut suara engsel pintu terdengar dari kejauhan. Seseorang baru saja masuk, seharusnya setelah Emily tidak ada lagi maid yang dapat mendatangi Maki di ruangan bawah tanah kecuali itu adalah sosok Yolan.


Tap...


Tap...


Tap...


Dan benar saja, hela napas gusarnya membuat Maki berbalik. Wajah lelah Yolan terpampang jelas dipenglihatan milik Maki.


"Huh—?!"


Lelaki itu berjalan mendekat. Wanita bermanik kecoklatan ini naik ranjang lalu berbaring, tidak memperdulikan sosok bernama Yolan tersebut.


Dia memilih untuk memejamkan mata sampai wanita tersebut merasakan kalau tekanan ranjang tempat ia berbaring turun secara perlahan. Yolan tepat disamping tubuh wanita itu, kepalanya pening. Pasti banyak pekerjaan yang harus ditangani sehingga membuat lelaki itu kelelahan ekstrem.


Maki mencoba acuh, dia menjaga jarak antara tubuhnya dengan Yolan tapi tiba-tiba sesuatu melingkar di perut wanita itu. Kelopak mata Maki terbuka, dia tersentak—kaget. Tidak terima atas perlakukan yang Yolan lakukan dengan mengikis jarak diantara mereka.


Hela napas berat menyapu permukaan ceruk leher milik Maki, hal ini membuat wanita itu merinding bukan main.


"Fsuhhh~"


Kemudian terdengar gumaman samar.


"Maafkan aku Hanna, karena berperilaku kasar. Semua ini aku lakukan hanya untuk mu, memastikan kalau kau berada ditempat yang benar-benar aman. Demi keselamatan mu juga sayang..."


Dari apa?


Kalau Maki boleh bertanya, dimata wanita itu saat ini sosok yang paling berbahaya serta menakutkan adalah dirimu Yolan.


Tidak ada yang lain.


"Ergh! Arghm..."


Maki menggeliat, merasa tidak nyaman. Dia ingin melepaskan pelukan yang melingkar diperutnya tapi tak bisa. Semakin Maki bergerak semakin kuat Yolan mendekapnya.


Karena tidak ingin merasakan perasaan sesak akhirnya wanita bermanik kecoklatan tersebut menyerah. Membiarkan Yolan bertindak semaunya.


Dasar kau bajingan! |


Yolan.


...***...


...T b c...


...Jangan lupa klik like, vote, dan comments...


...Terima kasih...


...Ketemu lagi nanti...


...Bye...


...:3...